
"Brukk!! Reza jatuh ke lantai dan langsung bangun dengan sendirinya dan melihat gw seperti tidak percaya.
Udin seperti orang bego menatap gw, mungkin dia merasa pendengarannya terganggu dan salah mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut gw.
2 orang polisi itu pun sama mungkin baru pertama kali ini mereka mendengar kelebihan manusia yang seperti itu, terlihat dari raut muka mereka yang melongo dan menolak untuk percaya.
Untuk sesaat suasana kembali hening dan pandangan semua orang tertuju ke arah bawah badan gw tempat benda bergelantung yang gw bicarakan sebagai sebuah kelebihan.
Termasuk bokapnya Putri dengan wajah yang seperti kompor panas itu dia ikut memandang lokasi batang gw berada.
Rasanya gw pengen teriak saat ini juga, bukannya ini pelecehan seksual massal ya? kalau itu mata para betina gw ma seneng-seneng aja.
Lha ini mata para manusia berbatang juga yang memandang.
"Halo-halo! permisi maaf apa yang anda semua lihat ya?". Gw bicara dan bertanya.
Suasana di luar ruangan terdengar riuh yang tadinya sunyi, mungkin mereka mendengar apa kelebihan gw.
"Kamu jangan main-main dan bercanda sama saya ya! mana mungkin putri saya yang alim bisa menyukai sesuatu yang begitu vulgar!". Bokap Putri sadar dari lamunannya dan kembali memojokkan gw.
"Tadi kan anda tanya kelebihan saya! ya itu yang saya punya, bukankah kelebihan saya sangat spesial tuan? mana punya pemuda tampan dan kaya itu punya aset mewah seperti yang saya miliki ini". Gw bicara menyombongkan batang gw.
Diam-diam gw liat Udin dan Reza memberikan gw 2 jempol mereka dan gw tersenyum melihat itu.
"Saya mendidik putri saya dengan tegas dan santun, tidak mungkin dia berani melakukan berbuatan tidak terpuji itu dengan pemuda seperti kamu".
"Karena didikan anda itulah putri anda merasa terkekang dan tidak bisa bebas! saya bisa menebak cita-cita putri anda waktu kecil bukan dokter kan? tapi karena didikan anda itu dan rasa gengsi anda pula yang berasal dari keluarga dokter mengharuskan putri anda untuk mengikuti jejak anda".
"Tapi dia tidak mengeluh dan senang-senang saja dengan profesi dokter yang saya berikan bahkan putri saya bisa lulus dengan nilai terbaik dan menjadi dokter hebat seperti sekarang, bukannya dia harusnya bersukur punya ayah seperti saya ha!".
"Bersyukur apanya yang bersyukur? bukannya orang tua itu harusnya mendukung semua yang dilakukan anaknya dan membiarkan mereka memilih jalannya masing-masing sesuai keinginan mereka. Apa anda sudah melakukan itu tuan yang terhormat?!".
"Saya tidak peduli karena saya sudah menyiapkan semua untuk putri saya, termasuk jodoh yang cocok untuk dia. Coba lihat kamu sekarang dididik apa sama orang tua kamu hingga bisa menjadi brandalan sampah seperti ini!".
Sontak sumbu emosi gw tersulut saat ini orang bawa-bawa bokap dan nyokap gw.
"Gw udah bicara sopan ya karena umur lu lebih tinggi daripada gw. tapi saat lu udah bawa-bawa orang tua gw, sudah tidak bisa sopan lagi gw sama lu!".
"Kurang ajar!!". Dia bicara dan mau maju ke arah gw dan langsung di tahan sama 2 orang polisi yang ada di samping kiri dan kanannya.
"Nak tolong pakai tutur kata yang sopan saat berbicara dengan orang tua". Polisi di sebelah kiri berucap menasehati gw.
"Maaf pak dari tadi saya kurang sopan apa coba? saya masih diam dan sabar saat orang ini menghina dan mencaci saya, saya juga masih sabar saat dia menghina kedua teman saya yang tidak bersalah ini".
"Bapak-bapak polisi ini lihat dan mendengar sendiri kan apa yang terjadi disini? sejak awal orang ini selalu menyudutkan diri saya dan itu masih bisa saya terima, tapi jika dia sudah membawa-bawa kedua orang tua saya. Jangan harap saya berdiam diri dan berpangku tangan".
Kedua polisi itu diam saja mendengar gw berbicara dengan tangan yang masih memegangi bokapnya Putri.
"Lepas!! berani ya kalian!". Dia menghentakkan tangannya dan melepaskan diri dari kedua polisi yang memeganginya.
"Kalian berdua tidak tau siapa saya ha?!" Kapolda kota ini yang sekaligus atasan kalian adalah teman saya, berani-beraninya kalian menghentikam saya!".
"Sebelum saya marah dan laporkan kalian berdua ke atasan kalian lebih baik cepat seret anak kurang ajar ini dan jebloskan ke penjara".
"Maaf tuan kami harus melihat rekaman CCTV terlebih dahulu untuk memastikan anak muda ini bersalah atau tidak, dari awal kami sudah melakukan kesalahan saat memborgol dia sebelum tau fakta yang sesungguhnya terjadi". Polisi berkumis tipis sebelah kanan berbicara.
"Apa kalian Buta ha! tadi kalian lihat sendiri salah satu dokter saya yang paling berbakat babak belur di hajar sama dia, bukti apa lagi yang kalian inginkan ha!!". Emosi bokap Putri semakin meluap-luap.
"Tuan tenang dulu, mari kita selidiki bersama-sama dan melihat rekamam CCTV dengan begitu kita bisa melihat siapa yang salah dan siapa yang benar". Polisi itu bicara dan mencoba nyakinan bokap Putri yang nama nya aja gw belum tau.
"Harusnya kalian segera menangkap dia dan menjebloskannya ke penjara, bukan banyak omong seperti ini!".
"Maaf tuan kami telah disumpah sebagai aparat penegak hukum untuk melihat segala sesuatu perkara dan kasus, harus melihat dan membawa bukti dari TKP, kami tidak mau salah tangkap dan mencemarkan nama korporasi yang yang menaungi kami".
'Itu hanya alasan kalian saja! dasar polisi pengecut!". Bokap Putri semakin meledak amarahnya.
Gw cuma santai melihat perdebatan mereka. "Nyet lempar gw sebatang rokok dong!". Gw berbicara ke 2 cebong di sebelah gw.
"Serius cak dirimu mau ngerokok di situasi seperti ini?". Reza berbisik di telinga gw.
"Seriuslah cepet mana rokok gw!".
"Kak Din kasih saudara kamu rokok kelihtannya ketagihan di maki dia sama bokapnya dokter Putri".
Udin cuma geleng-geleng kepala melihat gw dan melempar sebungkus rokok beserta koreknya.
Gw ambil 1 batang dan bersiap untuk menyulutnya.
"Heii!! apa yang mau kamu lakukan?!". Bokap Putri melihat dan membentak gw.
"Gw mau ngerokok!". jawab gw enteng dan lanjut menyulut rokok yang sudah terlanjur nempel di bibir gw.
Gw sedot dalam-dalam dan gw hembuskan pelan. "Nyet cariin gw asbak dong!".
"Cak ini kan Rumah Sakit mana ada asbak disini, kak Din pakai telapak tangan dirimu dulu gi untuk asbak rokok si Bemo".
"Enggak sekalian dek Za pakai perut kamu yang bulat itu, lebih mirip asbak kan itu!". Udin menjawab sengit.
"Diamm!!" Bentakan dari mulut bokap Putri mengelegar di ruangan rawat VVIP ini.
"Kamu kira ini Rumah Sakit nenek moyang kamu apa?! begitu sombong dan semena-mena kamu disini!".
"Cepat matikan rokok kamu! ini Rumah Sakit bukan jalanan dan kolong jembatan tempat kamu tinggal!".
"Tanggung masih separuh ini!". Jawab gw simpel lalu menyedot rokok lagi dengan nikmat.
"Kamuuu!!".
"Permisi pak Direktur!".
Saat Bokap Putri ingin melanjutkan caci makinya ke gw terdengar suara dari arah pintu.
Sontak semua orang melihat ke arah sumber suara.
disana berdiri seorang pria muda berpakaian perawat yang di hadang 2 orang yang dari tadi berdiri di dekat pintu.
"Siapa kamu? ada urusan apa mencari saya?! kamu buta tidak lihat saya sedang menagani kecoak disini!".
"Maaf pak direktur ini berita penting, Kapolda DIY beserta jajarannya sedang menuju kemari dan sekarang sudah ada di lantai bawah".
"Ha-ha-ha-ha.. Bagus-bagus, lihat atasan kalian kesini karena kalian tidak becus menghadapi masalah kecil seperti ini!". Bokap Putri bicara kepada 2 polisi yang mulai panik dan berkeringat dingin mendengar Kapolda dan seluruh jajarannya datang dan menuju kemari.
"Dan kamu! lihat saja apa yang terjadi nanti, walaupun kamu memohon ampun saya tidak akan pernah memaafkan kamu!".
"Za, gw pengen makan buah tolong dong kupasin buat gw manggis yang lu bawa tadi".
"Cakkkk!!!".