Preman Campus

Preman Campus
EGOIS DAN ROMANTIS


Siapa gw? Gw adalah Abimana Pramono pemuda yang lahir dari rahim seorang wanita cantik bernama Shinta Wiratama, pemuda yang tercipta dari benih seorang pria tampan bernama Juna Putra Pramono.


Pemuda dengan wajah pas-pasan dengan PDnya sama sekali tidak mengambil gen dari kedua orang tuanya yang cantik dan tampan.


Pemuda koplak sekaligus begajulan dengan tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, berfikir tidak dengan otak tapi dengan nyali.


Pemuda dengan hobi gelut, mabok dan jika ada waktu luang judi adalah hiburannya untuk mengandakan uang.


Spek bajingan sudah sangat melekat di dalam diri gw mengalahkan KTP sebagai identitas diri.


Sejak dalam kandungan sampai lulus STM gw adalah jomlo akut, karena kagak ada satupun betina yang mau mendekati gw karena rentetan kasus kekerasan yang gw lakukan, di dukung dengan penampilan awut-awutan kek gembel semakin membuat jijik para betina.


Jangankan melirik bersimpangan jalan sama gw aja para betina malah baca ayat kursi, dikira gw setan.


Dari situnya gw pesimis akan cinta dan wanita, hati gw beku sebeku-bekunya dan kalimat sumpah kramat itu pun muncul saat gw lagi numpang buang air besar di SPBU sehabis pulang sekolah.


Gw dalam keadaan jongkok mengambil pulpen dan menulis sumpah di dinding toilet SPBU, Gw enggak akan nembak cewe duluan. 6 kata gw gabung dalam satu baris kalimat yang gw pegang teguh sampai lulus STM.


Sampai hari gw membulatkan tekad untuk mandiri berkuliah di luar kota dan pilihan gw adalah kota paling Istimewa di Indonesia yaitu Jogjakarta.


Kota yang menjungkir balikkan kehidupan asmara gw, kota yang mencairkan bekunya hati ini dan kota yang menghapus kalimat sumpah kramat di tembok toilet SPBU karena di kota inilah gw menyatakan cinta ke wanita untuk pertama kalinya.


Entah kenapa kesialan gw tentang wanita seakan-akan sirna sejak datang ke kota ini.


Satu persatu wanita cantik seksi dan idaman para pria datang memasuki hidup gw tanpa permisi dan assalamualikum.


Datang ke depan gw dengan segala pesona dan kelebihanya masing-masing.


Bianca, Vanesha, Amora, Dokter Putri dan Nissa. 5 wanita spek Bidadari satu-persatu menghiasi hari-hari pemuda dengan spek bajingan kek gw ini.


Entah ada yang salah dari mata atau otak mereka gw kagak tau, yang pasti mereka berbeda dan selalu tersenyum saat melihat gw, hal yang kagak pernah gw jumpai di Kota Jakarta.


Dari kelimanya pun gw belum dengar ada yang baca ayat kursi saat berdekatan sama gw dan sampailah gw pada titik ini, titik dimana 2 hari yang sangat membagongkan terjadi.


Karena hanya dalam 2 hari, 3 dari 5 wanita tercantik di Jogja ini resmi menjadi cewe gw.


Amora nembak gw di dalam kamar kost, Bianca nembak gw di dalam kamarnya.


Dan Vanesha dia sedikit spesial karena dia adalah cewe gila yang mematahkan sumpah keramat gw di tembok toilet SPBU.


Gw tau dan sadar jika yang gw lakukan ini salah tapi kagak mau berbohong dengan perasaan gw sendiri, rasa sayang dan cinta gw sama besarnya untuk ketiga wanita itu.


Gw akan sabar menunggu sampai hari itu tiba hari penghakiman dimana gw akan ditampar di injek dan dilempar batu bata sama semua wanita yang gw cintai karena dosa gw ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Butik shinta pukul 13: 15 menit, dan di dalam ruangan manager lantai 1.


Dua orang berlawanan jenis masih dalam posisi berpelukan erat dan itu adalah gw dan Vanesha yang biasa gw panggil nying-nying.


Sungguh drama pengakuan cinta yang sangat indah dengan segala ungkapan dan kalimat yang gw dan nying-nying ucapkan.


Drama lima langkah menuju kebahagiaan menghilangkan rasa takut dan kekawatiran di hati nying-nying, ditutup dengan 3 nama dan 3 ungkapaan perasaan yang mengubah status hubungan kami berdua.


"Nyong?". Nying-nying berucap lembut banget dengan masih di dalam pelukan cowonya yaitu gw Abimana Pramono si cowo paling beruntung.


"Iya nying?". Jawab gw tidak kalah lembutnya sambil memejamkan mata menikmati sensasi hangat dari sebuah pelukan dan tentu saja tubuh ramping nying-nying sangat pas di dalam dekapan tubuh gw.


"Kita sekarang menjadi sepasang kekasih kan nyong?". Baru ini gw dengar nying-nying bicara malu-malu kek gini.


"Iya nying dan lebih tepatnya kita adalah sepasang merpati yang sama-sama takluk dibawah kaki rasa sayang dan rasa saling ingin memiliki". Jawab gw dengan kata manis yang meluncur gitu saja dari ini mulut.


"Nyong?". Nying-nying memanggil nama gw lagi nama yang tercipta dari cara kami berdua bercanda.


"Iya nying kenapa?". Dengan sabar dan penuh perhatian gw selalu menjawab.


"Baru ini aku liat 2 sisi lain di dalam diri kamu, 2 sisi yang membuat aku berubah dengan sendirinya".


"2 sisi lain apa nying? Kok aku yang punya enggak sadar ya?". Gw menjawab dengan candaan.


"Yang pertama baru tadi itu aku liat sisi egois kamu memaksa menarik perasaan yang aku simpan rapat-rapat. Perasaan yang aku pendam agar kamu tidak pernah mengetahuinya dan dengan mudahnya kamu menyakinkan aku dengan kata-kata kamu tadi yang membuat pertahanan yang selama ini aku bangun runtuh seketika".


"Maaf nying, aku juga baru tau soal sisi yang itu. Aku tidak mengira sisi egois itu muncul begitu saja dan membuat kamu terluka". Gw berucap tulus.


"Hati aku sakit tadi itu saat tiba-tiba kamu ungkit soal mantan dan kamu menyinggung soal aku yang kabur dari ungkapan perasaan kamu, kata-kata itu sungguh sangat menohok disaat kamu tidak tau apa yang aku rasakan".


"Maaf!". Ucap gw lirih sambil mendekap nying-nying lebih erat lagi.


"Tapi luka itu tidak seberapa nyong-nyong karena saat ini kamu memberikan aku sebuah kebahagian yang kemarin hanya ada di angan-angan aku saja, kebahagian berada di pelukan kamu bukan sebagai sahabat tapi sebagai seorang kekasih". Nying-nying mendekap gw, mengesek-gesekkan kepalanya di dada bidang gw seperti mencari sebuah kenyamanan.


"Aku berjanji nying-nying sisi egois gw ini tidak akan muncul lagi saat bersama kamu, gw Abimana Pramono dan kamu bisa pegang kata-kata ku ini". Gw berucap sungguh-sungguh.


"Terima kasih nyong, mari berusaha bersama-sama untuk menjaga hubungan ini".


"Tentu saja, tentu saja aku akan gunakan seluruh kemampuan aku untuk menjaga kanu dan menjaga hubungan kita sampai hari itu tiba".


"Hari apa nyong yang tiba?". Nying-nying mendongak ke atas melihat gw dengan 2 bola matanya yang bulat dan dihiasi bulu mata lentik, pipi yang merah merona dan bibir yang setipis kertas berwarna pink.


Hari dimana kamu tau aku mentigakan kamu nying-nying. Hati gw menjawab dalam diam.


"Nyong hari apa yang tibaa?". Nying-nying bertanya lagi.


"Hari dimana kita melangkah ke pelamaninan nying-nying dan bila saat itu tiba kita sudah tidak dapat dipisahkan lagi, karena kita telah di ikat dengan janji suci dan aku enggak akan pernah melepaskan kamu".


Gw melihat kebawah tepat ke wajah nying-nying yang ada di dekapan gw.


Mata dia berkaca-kaca seketika mendengar ucapan gw dan dia tersenyum sangat lembut.


"Aku juga sangat menantikan hari itu tiba nyong". Nying-nying berucap haru dan kamipun berpelukan lagi dengan mesra.


Memang spek bajingan bin bangsat loe Bemo! Gw mengumpati diri sendiri dalam hati.


"Nyong?".


"Aaauuu!". Gw menjerit kecil saat nying-nying mencubit manja punggung gw.


"Sakit nying-nying kita kan sudah saling menautkan hati, kurangi dong nafsu dan keinginan kamu yang ingin selalu menganiaya aku".


"Hehe, aku akan berusaha nyong tapi tidak janji ya". Nying-nying keknya sudah menganggap sakiti tubuh gw sebagai hiburan yang menarik.


"Oya nying tadi kan kamu bilang ada 2 sisi dari gw yang baru kamu tau satu sisi egois dan satunya lagi apa?".


"Sisi yang aku tidak mengira ada di dalam diri kamu nyong, sisi yang bisa melambungkan perasaan setiap wanita termasuk perasaan aku".


"Kamu ajak aku main tebak-tebak an ya nying? mana ada aku sisi seperti itu".


"Apa kamu tidak sadar nyong sisi romantis kamu sejak tadi sangat mendominasi sekali dari kata dan kalimat yang kamu ucapkan begitu manis aku mendengarnya".


"Aku sedikit terkejut dengan sisi kamu ini nyong, yang kamu tunjukan ke aku selama ini hanya sisi lucu dan ceria, cuek dan ceplas-ceplos, misteruis dan sisi slengekan kamu itu".


"tidak aku sangka kamu juga punya sisi romantis juga dan aku merasakan ketulusan dari semua kata-kata yang kamu ucapkan".


"Selama itu bisa membuat kamu senang dan tersenyum bahagia, aku bisa nying menjadi pacar dan pria paling romantis si dunia untuk kamu".


"Aku bisa menjadi apapun yang kamu inginkan, bahkan aku siap untuk berubah jadi samsak tinju pribadi kamu disaat kamu kesel dan marah".


"Sebesar itulah rasa sayang aku ke kamu nying".


"Kamu tidak harus berubah jadi apapun yong, aku suka nyong-nyong yang seperti ini karena semua yang ada di dalam diri kamu telah mengalihkan perhatianku".


Suasana berubah hening dan gw berharap waktu melambat disaat gw dan nying-nying masih dalam posisi berpelukan seperti ini.


Rasa lapar di dalam perut yang dari tadi gw rasakan seakan lenyap begitu saja tergantikan perasaan nyaman akan kasih sayang yang nying-nying berikan.


Cacing di dalam perut gw seakan mengerti dan diam ikut terpesona melihat wanita yang mendekap gw erat ini.


"Nyong?". Untuk kesekian kalinya nying-nying memanggil gw.


"Iya nying". Dan untuk kesekian kalinya juga gw menjawab dengan mesranya sambil mata terpejam.


"Kamu enggak sengaja kan nyong?". Nying-nying berucap ambigu sekali.


"Sengaja apa nying?". Gw membuka mata.


Nying-nying malah terdiam mendongak ke atas lagi melihat wajah gw dengan wajah merah meronanya dan dia tampak malu-malu.


"Nying enggak sengaja apa aku, jangan malu untuk bicara dengab pacar sendiri". Gw menyakinkan nying-nying untuk berbicara.


"Posisi kedua tangan tangan kamu nyong? dari saat aku memeluk kamu kedua tangan kamu terus menempel di kedua bokong aku dan kamu meremasnya dari tadi, kamu enggak sengaja kan ya?". Dengan menunduk malu nying-nying berucap pelan.


Gw auto begong seketika. Tangan loe dimana anjing! Gw teriak dalam hati.


Gw mecoba mengerakan kedua tangan gw.


"Uucchh!". Nying-nying malah ngeluarin suara yang kagak gw duga.


Bergerak itu naik tangan setan! pergi dari bokong nying-nying! Bukan meremas!. Gw mengumpat dalam hati.


"Maaf nying maaf! Aku enggak sengaja". Gw gugup seketika dan mengangkat kedua tangan tinggi di udara.


Nying-nying masih diam dan menyembunyikan wajahnya di dada gw, gw was-was kalau dia marah.


Pantas saja oh pantas saja! Dari tadi aku ngerasain sesuatu yang empuk-empuk gitu, tidak taunya malah kedua tangan setan gw berulah.


"Nying maaf ya, kamu marah sama aku?". Dengan masih tangan terangkat di atas gw bertanya kepada nying-nying yang masih terdiam.


"Aku enggak marah nyong-nyong, kan kamu enggak sengaja juga. Tapi lain kali kalau tidak sengaja lagi yang lembut sedikit bisa?". Nying-nying berucap menjawab pelan tanpa memperlihatkan wajahnya.


Nafas gw sesak seketika megap-megap kagak karuan, ucapan nying-nying terngiang-ngiang di telinga gw.


Yang lembut sedikit bisa?


Yang lembur sedikit bisa?


Yang lembut sedikit bisa?


Apa gw meremasnya kekencengan ya tadi? Kan nying-nying pakai celana, apa terasa sampai dalam ya?


"Aku enggak tau maksud kata-kata kamu nying, kamu enggak capek berdiri dari tadi dan berpelukan sama aku?". Gw segera mengubah topik pembicaraan.


Kalau gw terusin bahas gituan bakalan kagak baik juga karena kita berdua berada di tempat yang kagak tepat.


Lagian gw sedikit banyak sudah bisa mengontrol nafsu ini walau kadang-kadang lalai dan lupa, seperti tidak sadar dan contoh yang nyata adalah kedua tangan gw tadi yang jail.


Nying-nying langsung keluar dari dalam pelukan gw, cemberut dengan bibir tipisnya naik keatas dan kedua pipinya langsung mengembung seketika.


"Kamu enggak mau aku peluk nyong? Kamu capek aku peluk?". 2 pertanyan langsung terucap dari bibir nying-nying.


"Mana mungkin aku capek dan enggak mau kamu peluk nying-nying". Gw meraih pundak nying-nying dan memasukan lagi kedalam pelukan gw.


"Aku itu kawatir sama kamu nying karena berdiri terus dari tadi kan kita bisa berpelukan sambil duduk". Gw berucap lembut sambil membelai rambut nying-nying.


"Maaf aku telah salah sangka". Ucap nying-nying lirih.


Gw tersenyum lembut dan gw tangkup wajah nying-nying dengan kedua tangan gw.


"Cuma seperti itu saja tidak usah minta maaf".


Gw tersenyum dan nying-nying pun tersenyum.


Dia memegang kedua tangan gw yang ada di pipinya, pandangan kami dengan lekat bertemu saling mengagumi satu sama lain.


Suasana menjadi hening untuk kedua kalinya, Gw mulai memajukan bibir dan nying-nying pun pelan-pelan mulai menutup kedua matanya.