Preman Campus

Preman Campus
PAIDI


Meninggalkan Reza dan Udin yang nenangin Rio, gw beranjak berdiri dan memberanikan diri berjalan ke meja resepsionis hotel yang dijaga 3 cewe cakep spek artis sinetron tapi masih kalah jauh mereka dengan 3 cewe gw, jadi kagak ada grogi sama gw sekali berjalan kesana.


Mungkin jika posisi gw masih di Jakarta akan gemetar dan keringetan plus terbata-bata saat bicara sama cewe tapi setelah datang ke Jogja dan kuliah disini dan dikelilingi banyak keindahan dan kecantikan di atas rata-rata, gw jadi semakin terbiasa dan tambah percaya diri.


Gw berjalan semakin mendekati mereka dan gw akan coba tanya apa punya tissue dan air mineral, kalau keluar cari toko atau indomaret kelamaan juga.


3 cewe didepan sana saling berbisik saat melihat gw, berasa jadi artis yang sedang menghampiri fansnya ini gw.


"Selamat malam". Gw berucap sopan dan memandang mereka satu persatu, kagak lupa senyum gw cetak di sudut bibir agar terkesan ramah dan sopan.


"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?". Cewe yang berdiri di tengah dengan wajah oval dan ramput panjang hitam berponi yang menutupi jidatnya menjawab halus salam gw dengan menangkupkan kedua tangannya di depan.


"Anu.."


"Anu apa kak? Kami enggak ngerti jika kakaknya cuma bilang anu aja".


Gw belum selesai bicara ini, baru berucap satu kata, wanita sebelah kiri langsung motong dan nyaut aja.. Dari bibirnya yang tebal bisa gw pastikan kagak sabaran ini cewe, apa mungkin lagi godain gw ya?


"Kakak kok malah bengong anunya kenapa?". Sekarang cewe sebelah kanan yang bertanya, keknya pinter acting cewe yang ini bertanya dengan wajah datar dan sok polos banget, dari matanya dengan jelas gw bisa liat.. Dia pandang gw seperti singa yang menyelidiki dan mengintai mangsanya.


"Kalian berdua diam dulu, biar kakaknya selesain bicara dan jangan dipotong". Cewe tengah berponi berucap pelan, keknya dari 3 orang ini yang waras cuma dia doang.


"Silahkan kak dilanjut bicaranya?".


"Oh iya mbak, anu..".


"Kak? emang kita bertiga udah mirip sama mbak-mbak ya?". Wanita sebelah kiri nyela lagi dan sedikit tidak senang saat gw panggil dengan sebutan mbak.


"Kita itu masih muda kak dan belum menikah, sepertinya enggak sesuai deh kalau dipanggil mbak". Si jago acting sebelah kanan menambahi.


Gw merasa dipermainkan sama 2 betina gila ini, niat pengen buru-buru malah ngajak bermain kata-kata mereka.


"Kak jangan dengerin mereka berdua, silahkan bicara aja ada keperluan apa?". Cewe di tengah kembali ngebela gw dari situasi canggung.


Gw mengangguk pelan mengerti, "Ada tissue dan air mineral gak mbak, tolong dong kalau ada saya pinjam". Gw berucap to the point dengan apa tujuan gw kemari.


Gw melihat ekpresi 3 wanita di depan gw, cewe tengah wajahnya datar dan biasa saja.


Cewe sebelah kiri yang tukang nyolot memandang gw dan memutar mata bulatnya.


Dan cewe sebelah kanan yang dari tadi pura-pura polos cuma tersenyum kecil, gw berasa seperti dalam bahaya liat cewe sebelah kanan ini.


"Minjam apa minta?". Lagi dan lagi cewe sebelah kangan bertanya dan ngerjain gw.


Semakin geram rasanya ini, dari yang santai lambat laun emosi gw mulai naik..


"Minta kalau ada". Jawab gw pelan dan mencoba sabar karena disini yang perlu bantuan itu gw.


"Bukannya kurang sopan ya minta sesuatu tanpa memperkenalkan diri". Si jago acting menyaut.


"Kalian berdua sudah dong jangan digodain terus kakaknya, maaf ya kak kedua teman saya ini suka bercanda orangnya tolong jangan diambil hati".


"Enggak apa-apa kok, saya juga yang salah karena minta bantuan tanpa memperkenalkan diri, kenalkan nama saya Paidi dan saya kesini atas perintah bos saya yang disana itu". Gw menunjuk pungung Reza.


"Jadi kamu benar-bener supir dari pria yang tadi pesan 3 kamar itu?". Cewe sebelah kanan langsung menyela, tatapan dia yang semula mengoda sekarang berubah menjadi tatapan cibiran.


"Iya saya supir merangkap tukang kebun juga dan terkadang juga mulung saya, buat tambahan uang jajan".


Wanita sebelah kanan yang dari tadi acting polos dan lugu sekarang juga berubah ekpresi wajahnya , yang tadi melihat gw sebagai mangsa sekarang menatap gw seperti menatap kuman yang mengganggu setelah mendengar ucapan gw.


"Dewi, sift aku udah selesai dari tadi sepertinya aku ke loker dan siap-siap pulang dulu ya". Wanita itu bicara dengan cewe berponi dan langsung pergi.


"Dewi sift aku juga sudah selesai deh kelihatannya, kamu tunggu disini sampai penganti kita datang". Wanita sebelah kiri memandang gw dengan jijik dan langsung ikut melangkah pergi.


Tinggal gw dengan wanita yang berdiri di tengah berhadap-hadapan dan dibatasi meja resepesionis, dia tampak canggung melihat gw.. Mungkin dia tidak mengira 2 orang temannya akan bersikap seperti itu ke gw. Dengan terang-terangan menghina dalam bentuk sikap dan sorot mata.


Gw sendiri kagak peduli dengan 2 betina yang baru aja pergi itu, terlalu malas gw buat ngurusi cewe dengan spesies lintah kek gitu.


"Kak Paidi butuh tissue dan air mineral kan?". Dengan canggung cewe depan gw bertanya lagi memastikan.


"Abimana Pramono! Loe bisa panggil gw Bimo". Jawab gw singkat dan dengan ekpresi datar dan acuh tak acuh seperti diri gw biasanya.


"Maksudnya kak?". Dia tampak terkejut dengan berubahan sikap gw.


"Nama gw bukan Paidi tapi Abimana Pramono, apa kurang jelas ya kalimat yang gw ucapkan?".


Cewe depan tampak binggung dan sikapnya langsung berubah lebih sopan lagi melihat gw yang acuh tak acuh.


"Iya kak nama saya Dewi, sebentar ya saya ambilkan tissue dan air mineral dulu". Dia dengan cepan melangkah beberapa langkah ke samping, mungkin dia sadar kalau tadi gw ngibulin 2 temannya.


"Ini kak tissue dan air mineralnya". Pelan dia menarih kotal tissue dan air mineral di depan gw.


"Tap! tap! tap!". Gw mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah belakang, dari suaranya keknya itu sepatu pantofel.


"Cak dirimu lama amat sih? Rio udah tenang dan ta kita tungguin disana malah ngedekem disini dirimu, ingat sama senior Bianca jangan macam-macam dirimu". Reza nyusulin gw dan suaranya terdengar dari belakang, dia melangkah dan berdiri di samping gw, menganggukan kepalanya ke Dewi dan tersenyum kecil.


"Macam-macam dengkul mu kuwi! Kagak liat lu ini tissue dan air, sono bawa dan bersihin luka adek lu itu". Gw memberi perintah.


"Terus dirimu? Enggak ikut kesana dan mau tebar pesona disini gitu?".


"Udah cepet bawa sana dulu, kagak usah kebanyakan ngoceh lu".


"Iya-iya, gw pergi". Reza mengambil tissue dan air dan langsung melangkah pergi. "Dasar Bemo liat cewe bening dikit langsung diembat juga". Reza mengerutu sambil jalan menjauh.


"Lu bilang apa nyet? Coba ulangi!".


Reza menengok ke belakang, tersenyum kecil dan menjulurkan lidahnya ke gw terus jalan cepat menuju Rio dan Udin, gw geleng-geleng kepala liat sifat kekanak-kananan kang sate itu.


Gw kembali beradu pandang dengan Dewi. "Thanks ya untuk tissue dan air mineralnya".


Dewi tampak melamun mungkin sedang mencerna apa yang baru saja dia liat dan dengar di depan matanya.