Preman Campus

Preman Campus
HOMPIPA


Nafas gw memburu walaupun pria itu sudah cidera dan darah masih menetes dari kupingnya, dia tetap masih bisa memberi perlawanan yang begitu sengit, Dia bagai banteng yang berstamina kuda.


Beberapa kali kita melakukan fight jarak dekat saling bertukar pukulan dan tendangan.


Saling mencoba untuk menjatuhkan satu sama lain.


"Buugkkk!!".


"Buugkkk!!".


Bersamaan kami melakukan tendangan ke dada lawan masing-masing.


Gw langsung terpental kebelakang begitu juga dengan pria itu.


Untuk sesaat gw diam untuk mengatur nafas dan mengembalikan stamina, dalam fight berkepanjangan seperti ini gw harus pintar-pintar mengatur pernafasan dan detak jatung, karena itu sangat berpengaruh kepada gerakan dan serangan.


Gw lihat musuh sedang tidak baik-baik saja, terlihat dari keadannya yang lebih memprihatinkan dari gw.


Dia bernafas sangat cepat, walaupun masih berdiri tegak. gw bisa melihat kaki itu terkadang goyang, mungkin tidak lama lagi dia akan kehilangan keseimbangan tubuhnya.


Itu wajar karena darah masih terus keluar dari kupingnya yang gw gigit, kelihatannya kemenangan dan arah angin ada di pihak gw.


Semoga saja terus seperti ini supaya bisa dengan cepat gw mengalahkan dia.


Gw lihat wanita itu cuma menampilkan wajah datar saat melihat suaminya terluka seperti itu.


Dia tidak menjerit atau mengumpati gw seperti kebayakan wanita yang pacar atau suaminya gw hajar.


Gw lihat seperti ada yang salah sama otak wanita cakep itu, karena sekilas gw liat dia tersenyum memandang sang suami.


Kelihatannya ada udang di balik peyek ini di dalam hubungan mereka dan gw sama sekali tidak terkejut.


Dari awalpun gw bisa melihat pria itu tanpa segan-segan memukul pipi mulus sang istri dan gw dengar tadi ini adalah acara bulan madu mereka, mungkin cewe itu terpaksa menikah seperti di sinetron-sinetron dan novel-novel romance sampah yang judulnya buat gw eneg.


Jadi secara langsung dan blak-blak an gw disini berperan menjadi perusak rumah tangga orang lain dengan memberi hantaman ke pria itu.


Gw jadi bersemangat setidaknya harus tendang itu batangnya biar kagak berfungsi, dan gagal bulan madu.


Gw beralih melihat 2 anak cebong Udin dan Reza, dan sudah gw duga mereka akan bersantai di sana melihat gw gelut dengan meminum 1 botol bir, yang mereka gilir dan minum berdua.


"Ngapain dirimu ngelihatin kita cak? cepet selesaikan, lambat banget dirimu". Reza bicara mengomentari durasi gelut gw.


Gw melotot dan menatap dia tajam mengumpat dalam hati, gara-gara siapa coba gw bisa berada dalam keadaan seperti ini, bukannya dia tadi nangis ketakutan kek bayi kenapa sekarang seolah-olah berubah jadi komentator gelut.


"Bim, santai saja jangan derengin Reza. Nikmati aja waktu loe disana dan tetap waspada". Udin bicara setelah menenggak bir di tangannya.


Gw tersenyum, mengumpamti diri gw sendiri bisa-bisanya itu bocah ngomong dan berlagak kek pelatih gelut, bukannya dia tadi ngompol karena ketakuan ya.


"Awaaas!!".


Gw mendengar wanita itu berteriak.


"Cakkk!!". Reza berteriak.


Belum sempat gw menoleh pria yang dari tadi berdiri beberapa meter di depan, sekarang berlari dengan kecepatan tinggi ke arah gw.


"Bugggkkk!! aahhh!!". Dia menabrak perut gw.


"Brakkk!!". Dia mendorong dan karena kuda-kuda kaki gw tidak sempurna. Akhirnya tersungkur dan kami berdua jatuh ke belakang.


Dengan posisi dia yang berada di atas gw. Bang5at! gw mengumpat dalam hati karena lengah sedetik arah angin sudah kagak berpihak sama gw lagi.


Cover dengan kedua tangan segera gw lakukan untuk melindungi wajah dari hantaman yang mulai dia lakukan.


Kepala gw sampai ikut bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti pukulan ini orang dan terus bertahan dengan kedua tangan yang gw tempatkan dia wajah.


"Mampus kamu Anjing!!".


"Mampus kamu sialann!!".


"Buggkk! Bugkk! Buggkk". Dia mengumpat dan seperti orang kesurupan terus saja menghujani muka gw dengan pukulan.


"Praaaakkkk!! Pyaaarrr!! aaaaaa!!".


Pukulan orang ini berhenti dan gw mendengar seperti ada sesuatu yang pecah di ikuti teriakan orang yang sejak tadi menghantam gw.


Gw langsung melihat dan sontak langsung terkejut di belakang orang yang sedang duduk di perut gw ini, ada Reza yang sedang tersenyum.


"Diriku balik dulu cak!". Dia bicara dan ngibrit balik ke arah Udin.


Serpihan beling botol bir gw lihat ada di mana-mana, darah juga terlihat mengucur dari kepala belakang dia.


Tanpa mensiasiakan kesempatan dengan sekuat tenaga gw langsung pegang leher dia dan melempar ke samping dan usaha gw membalik keadaan akhirnya berhasil.


Gw sekarang duduk di perut dia. Walau kuping nya sudah mau putus dan kepala belakangnya sudah dihantam botol sama anak Madura, ini orang masih bisa menyerang gw dari bawah dengan pukulan ke perut yang dia lancarkan.


Benar-benar tangguh, jiwa bertahan hidup ini orang sungguh mengerikan. Tapi cukup sampai sini saja, gw akan serius.


Gw mengangkat tangan dan dia melihat itu, dengan segera di melindungi wajahnya dengan kedua tangannya sama persis dengan apa yang gw lakulan tadi.


Gw sedikit mundur dan merubah posisi tangan dan sekarang siku gw ada dan atas.


"Duaakk!!".


"Duaakkk!!".


"Duaaaakk!!".


Gw tumbuk wajahnya dengan siku beberapa kali, di tumbukan pertama bertahanan dia sudah lepas karena gw mengunakan siku bukan kepalan tinju.


Gw tidak berpuas diri walau wajah orang ini sudah berlumuran darah.


"Aaaaaaaaaaaaa!!" Dia menjerit histeris kesakitan kek orang gila dengan mata yang mulai berlinang disaat gw dengan gemes menarik telinga dia yang tadi gw gigit.


Gw angkat kaki dan langsung injek sarang burung berserta dua telurnya.


"Aaaaaaaaaa!! toloongg!!". Jeritan memilukan terdengar.


Tapi gw bodo amat, gw kasih dia 1 injakan lagi di sarang burung itu.


Dan sekali lagi di menjerit kesakitan mengulingkan tubuhnya di tanah menjauh dari gw. Dia berputar-putar ditanah sambil memegangi alat bercocok tanam.


Kek gangsing yak itu orang muter-muter kek gitu. Gw melihatnya miris.


Fix udah menang gw ini, udah kagak bisa bangkit dan ngelawan lagi itu orang pastinya.


Karena cidera di berbagai tubuhnya, wajah yang berlumuran darah karena gw hantam dengan siku tadi.


Kuping yang gw gigit dan sarang yang gw injek dan juga kepala belakang dia yang masih mengeluarkan darah akibat aksi heroik anak rantau dari madura, berkat dia gw bisa membalikkan keadaan.


Gw membersihkan pakaian gw dan memeriksa tubuh dan cedera gw tidak terlalu banyak.


Cuma hidung yang tadi kena bogem dan ngeluarkan darah tapi tidak patah dan kulit kepaka yang sedikit robek karena di adu tadi.


Mungkin kaki dan perut gw juga memar karena beberapa kali terkena pukulan dan tendangan tapi tidak gw ambil pusing karena gw udah biasa dan ini cuma memar kecil doang 2 hari juga ilang.


Gw langsung melihat ke arah 2 anak cebong, terutama Reza yang sangat jumawa melihat gw, bertingkah seolah-olah bak pahlawan yang abis menyelamtkan rakyat jelata.


Gw akui tindakan dia tadi sangat membantu gw untuk keluar dari cengraman musuh, gw tersenyum melihatnya ada perasaan bangga disaat itu bocah berani bertindak.


"Gimana cak aksi diriku keren kan?". Reza bicara dan berjalan menghampiri gw di ikuti Udin dari belakang.


"Iya keren nyet, sering-sering aja gitu lu pukul kepala orang dengan botol biar terasah skill badas lu". Gw menjawab dan memuji.


Dan Reza pun terlihat sangat senang dan berbangga diri.


Mereka sudah sampai di depan gw dengan Reza yang tampak bahagia tapi tidak dengan Udin, dari tadi ini bocah terlihat cemberut saja kagak ikut senang saat gw berhasil menang gelut.


"Din kenape lu cemberut kek gitu? Za kakak lu kenapa?".


Reza melihat Udin tapi kagak ngejawah dia, sialan kenapa lagi sih ini bocah.


"Lu tenang aja Din kagak usah cemberut udah terlihat kering itu celana lu, walau kamu jalanpun enggak ada orang yang sadar jika lu abis ngompol".


"Gua marah bukan karena itu Bim dan tolong jangan bahas dan lupakan saja soal gua yang kencing dicelana ini".


"Iya dah gw bakal lupakan tapi kagak bisa janji gw ya nyet!".


Udin semakin cemberut dengan candaan gw. "Lha terus apa masalahnya nyet? udah ah jangan kek anak kecil cemberut mulu".


"Tidak bisa Bim ini harus diluruskan gua merasa dicurangi" Udin bicara dan melirik Reza.


Dan anak madura malah bersiul ria sambil melihat ke arah lain tidak berani menatap Udin.


"Ada apa lagi sih nyet lu berdua? bukannya tadi akur-akur aja". Gw bicara dan langsung memukul pelan bibir Reza yang masih saja bersiul. "Za? kagak usah acting lu! kakak lu ini lu apain?".


"Tidak diriku apa-apain cak, serius". Reza bicara dan menyakinkan gw.


"Jangan bohong dek Za, loe sudah curangi aku". Udin menatap Reza tajam.


"Din lu dicurangi apaan sama adek lu?".


"Tadi kan kita hompipa Bim, dan yang menang akan bantu loe untuk mukul kepala orang itu dengan botol, kan gw yang menang tapi dia yang lari dan serobot jatah gw".


"Emang anak cebong ya lu berdua masalah gini aja lu debatin dan saling marah dan cemberut, harusnya gw disini yang marah anjing!".


"Marah kenapa cak?".


"Ya marah lah, gw dalam posisi genting tadi lu berdua malah hompipa! mau nolong gw malah kalian undi duli, emang bang5at lu berdua ini".


"Botolnya kan cuma 1 Bim, ya kita undi dulu lah, bukan begitu dek Za?". Udin terlihat sudah akrab lagi sama Reza.


"Tul betul itu cak". Reza menjawab cepat.


"Heei semp*k cina! kalian kan punya otak masing-masing 1 buah, buat mikir kek! kan bisa datang berdua dan bantu gw".


2 anak cebong saling berpandangan dan tersenyum melihat gw.


"Yang penting kan kemenangan ada di tangan kita cak, lupakan sajalah soal hompipa kita".


"Iya Bim, kemenangan sudah kita raih dengan mudah". Udin menambahi


"Dengan mudah mate lu pic3k! lu kagak liat gw tadi hampir mampus, dan siapa bilang kemenangan ada di tangan lu berdua?! jangan ngaku-ngaku disini gw yang berkerja keras!".


"Iya-Iya cak disini dirimu pahlawannya".


"Iya Bim, kita ma apa atuh cuma pemeran pembatu disini. Bukan begitu dek Za?'.


"Gw pites lu Za kalau ngomong tul betul lagi!". Gw segera menyela saat Reza mau bersuara.


"Itu kan ciri khas diriku cak?". Reza cemberut melihat gw.


"Permisi!". Gw dikagetkan dengan suara betina yang dari tadi melihat kita.


Ini cewe kagak liat kondisi suaminya yang masih kesakitan di tanah malah menghampiri gw dan anak cebong.


Gw langsung di dorong 2 anak cebong ke samping dan hampir saja jatuh, mereka berdua seperti Rossi dan Pedrosa balapan ke arah wanita itu.


Sebenarnya emak mereka pada ngidam apaan sih saat hamil itu dua anak cebong, bisa gitu kelakuannya.


"Nuri, dirimu tidak apa-apa kan?". Reza tampak kawatir


"Nuri bagian mana yang sakit bilang sama aku". Udin tidak kalah perhatiannya.


Heii bangsat gw disini yang sakit anjing! gw bicara dan mengumpat dalam hati.