Preman Campus

Preman Campus
RENCANA RENOVASI 2


Suasana di ruang tamu saat ini begitu sunyi walau ada 6 orang yang duduk berhadap-hadapan kek orang yang lagi kondangan.


Gua satu bangku panjang dengan Jono dan nyokap nya, sementara Suci satu bangku panjang pula dengan Ayah dan pamannya.


Jono yang tampak diam dengan tenang saat ini, begitu juga dengan nyokap nya yang tampak bingung malah, seperti orang yang tidak tau musti bicara apa. Gua liat dari awal bertemu memang sedikit pemalu itu Nyokap nya Jono, tipe orang yang takut membuat kesalahan.


Mungkin karena beberapa faktor yang membuat Tante seperti itu dan mungkin salah satunya adalah faktor ekonomi, tidak di kota ataupun di desa dan pedalaman.. Kekuatan finansial seseorang pasti sangat mempengaruhi rasa percaya diri seseorang.


Paman Suci yang yang tampak sedikit berbadan lumayan besar tambun juga diam dan dari tadi tampak memandang gua mulu, mungkin dia terlalu penasaran dengan gua.


Sementara pak Sasmito kagak usah ditanya lagi, dia terus saja pandang gua dengan kedua matanya yang udah kek lampu neon, untuk orang yang pingsan setelah tau gua anak Rama Putra pramono pasti bukan fans biasa itu dia.


Keknya cuma Suci aja yang sedikit normal disini walau dia diam juga tapi sesekali dia curi-curi pandang melihat gua dengan senyuman yang menawan dan saat gua tatap balik, dia langsung menunduk malu-malu dengan wajah merona, kagak tau gua apa yang sedang itu janda pikiran sekarang.


Kali ini Suci kagak seperti tadi pagi yang memakai pakaian tertutup, walau masih pakai jilbab tapi begitu modis doi sekarang.


Dengan celana jeans dan baju katun warna putih lengan panjang yang terlihat sangat hangat.


"Ehem". Gua berdehem pelan memecah keheningan, "Mbak Suci, ini paman mbak yang mandor itu ya?". Walau gua udah tau tetap saja gua bertanya untuk membuka pembicaraan.


"Iya Bimo kenalkan ini paman aku, adiknya ayah". Suci langsung menjawab dengan sedikit senyum tipis yang tercetak di bibirnya.


Untuk menjaga kesopanan kepada orang yang lebih dewasa, gua langsung beranjak berdiri dan mengulurkan tangan sambil sedikit menunduk.. Kagak lupa gua juga tersenyum, "Perkenalkan om nama saya Bimo". Gua memperkenalkan diri.


Kagak gua sangka pamannya Suci juga ikut berdiri dan langsung menjabat tangan gua dengan erat, "Salam kenal juga nak Bimo, saya Yanto.. saya sudah dengar banyak tentang kamu dari mas Siswanto saat perjalanan kesini tadi". Pamannya Suci juga langsung memperkenalkan diri dengan ramah plus embel-embel tau gua segala, emang ember banget itu pak kumis.


"Hehe iya om" Gua cuma bisa tersenyum garing saat ini, "Semoga om Sasmito tidak berkata buruk tentang saya". Gua melepas dan menarik tangan gua kembali sambil bercanda kecil melihat paman dan bokapnya Suci bergantian.


"Hahahaha, nak Bimo bisa saja.. Mana mungkin om jelekkan pemuda baik hati seperti nak Bimo ini". Pak Sasmito langsung tertawa lebar menanggapi candaan gua.


Gua duduk kembali begitu juga dengan Om Yanto, secara kagak langsung suasana mulai mencair karena tawa renyah dari pak kumis bokap Suci dan kami mulai mengobrol dengan santai.


"Masya Allah! Saya lupa buat minuman". Nyokap Jono tampak terkejut sendiri sambil menutup mulutnya, pandanganya tampak tidak enak menatap para tamu di depannya.


"Tidak usah repot-repot tante, seperti sama siapa saja.. tadi ayah sama paman juga sudah ngopi kok di rumah sebelum kesini". Suci dengan santun menenangkan.


"Tapi kan..


"Tidak apa-apa benar kata Suci nanti kalau kebanyakan minum kopi malah tidak bisa tidur saya". Pak Sasmito segera bicara memotong ucapan nyokap Jono yang belum kelar.


"Santai saja kalau haus nanti kita akan ambil sendiri, hehe". Om Yanto ikut menanggapi dengan canda.


Nyokap Jono tampak tenang saat ini mendengar perkataan tamunya dan hanya bisa tersenyum malu-malu dan mengangguk pelan.


"Oya langsung saja kita ke pokok pembicaraan tentang masalah renovasi seperti yang Jono dan Suci katakan tadi siang di rumah saya". Om Yanto bicara lagi dan inilah yang gua tunggu dari tadi.


"Ini saya telah membawa semua rinciannya silahkan nak Bimo liat". Lanjut om Yanto mengeluarkan buku kecil dan menaruhnya di meja, dia dorong sampai di depan gua.


Di sini (di dalam buku) tertulis lengkap dari bahan baku renovasi dari pasir, batu, besi dan berbagai alat yang dibutuhkan beserta para pekerjanya, begitu juga dengan semua biayanya sudah tersusun rapi tapi ada beberapa hal yang buat gua mengerutkan dahi karena kagak sesuai dengan apa yang gua inginkan.


"Kenapa nak Bimo, apa ada yang salah? Kalau soal biaya memang itu benar adanya seperti itu, jika ingin nego bisa saja tapi nego di upah pekerja". Om Yanto langsung sadar melihat ada yang tidak beres dari raut wajah gua.


"Kenapa Bim? Apa terlalu mahal ya? Apa kita urungkan saja niat kamu? gua udah sangat berterima kasih kok dengan kebaikan loe, enggak perlu loe bertindak terlalu jauh untuk gua". Jono yang dari tadi diam disebelah gua langsung ikut bicara.


"Bukan seperti om saya tidak ingin nego soal harga, dan loe Jon kapan gua pernah tarik kata-kata yang udah keluar dari ini mulut?". Gua melirik Jono.


"Lha terus kenapa ekspresi loe kek gitu setelah melihat daftar di buku?". Jono tampak bingung


"Iya nak Bimo, om juga bingung.. Apa mungkin nak Bimo ingin menambahkan sesuatu?". Pak Sasmito ikut bicara menebak dan tebakan dia hampir benar.


"Iya om saya ingin merubah berbagai bahan disini yang menurut saya tidak sesuai". Jawab gua langsung ke pokok masalah.


"Bagian mana nak yang tidak sesuai?". Om Yanto langsung berubah serius, mungkin dia kira gua meragukan profesinya


"Ini om soal dinding, genting, keramik, kayu penyangga dan keramik untuk lantai.. saya kira ini tidak cocok dengan yang ada di bayangan saya". Gua menaruh lagi buku di atas meja dan mendorong ke depan om Yanto.


"Maksudnya gak cocok nak? Itu sudah barang dan bahan murah kwalitas terbaik yang bisa saya sarankan, seperti yang Jono katakan tadi siang".


"Paman?!". Jono langsung berucap panik dan langsung menengok ke samping ke arah nyokap ya.


Semua orang kecuali Suci tampak bingung dengan apa yang terjadi.


"Jadi elo Jon! Keknya itu bukan seperti yang gua bilang kemarin deh".


"Sorry Bim.. Gua enggak mau loe terlalu keluar uang banyak, enggak enak gua". Jono berbalik menatap gua serius.


"Jon gua ngerti maksud loe tapi loe tau gua kan? bukannya gua sombong ya tapi jika ada yang Terbaik kenapa kita musti pilih yang biasa saja? Jika ada yang termahal kenapa harus pilih yang termurah? kita kan gak kekurangan uang, menurut gua kwalitas barang yang baik itu adalah barang yang harganya lebih mahal, Bukan begitu om Yanto?".


"Eh.. Apa? Oh iya-iya.. Jika menyangkut bahan bangunan renovasi memang harga barang itu mempengaruhi sebuah kwalitas". Om Yanto tampak tergagap menjawab.


"Tu dengar Jon! Dan mulai sekarang gua hanya mau kasih mika dan Mila hal-hal yang terbaik yang ada di dunia ini, gua kagak mau loe protes lagi jika masih anggap gua saudara". gua menegaskan kata-kata gua.


Suasana tampak hening lagi dan muka si kampret malah tampak melo lagi, begitu juga dengan nyokap nya yang tampak berkaca-kaca.


Suci pun malah ikut-ikutan memandang gua dengan sendu, tampak raut wajahnya yang bangga melihat gua.. Kek guru yang senang melihat muridnya pintar.


Sementara om Sasmito entah ngapain itu orang tapi dua jempolnya dia acungin ke gua, rasanya ingin gua balas dengan acungin balik tapi dengan dua jari tengah.


"Jadi nak Bimo, dirubah ini semua bahan dan materialnya?". Om Yanto segera bertanya dengan wajah tak kalah anehnya.


"Iya om, ganti dengan semua bahan yang paling mahal ada". Jawab gua mantap