Preman Campus

Preman Campus
HADIAH


"Kok malah seperti orang kekurangan cairan gitu kamu Bimo, bengong terus dari tadi? Gak masalahkan aku jemput kamu jam 6 pagi".


"Iya Bie terserah kamu aja". Jawab gw pelan putus asa karena udah kagak punya ide lain untuk mencegah Bianca datang.


Gw mau ngikut takdir aja, jikalaupun Bianca bertemu Amora. Gw akan jujur kalau sudah menduakan mereka, inilah resiko yang harus gw hadapi.


"Kok kamu seperti enggak rela gitu Bimo aku jemput! Kamu bener-bener punya rahasia ya di kost yang kamu sembunyikan dari aku?!". Bianca mulai curiga lagi.


"Ya ampun Bie, curiga mulu kamu sama aku! Emang apa sih yang aku sembunyikan? coba bilang apa yang kamu curigai?".


"Siapa tau aja kamu sembunyikan cewe lain di dalam kost kan aku enggak tau?".


Pake bener lagi itu tebakan, berbakat jadi dukun ini kek nya Bianca.


"Bie coba kamu liat wajah dan penampilan cowo kamu ini, apa kamu nyakin ada cewe gila lainnya yang naksir sama aku?".


"Kamu ngatain aku gila Bim?". Bianca melotot


"Itu perumpamaan Bianca, jangan kan menyapa liat aku. Wanita lain kagak ngeludahin wajah aku saat berpapasan aja udah alhamdulliah, bagi sebagian wanita aku ini kagak ada menarik-menariknya jadi kamu tenang aja". Gw menjelaskan semenyakinkan mungkin.


"Baguslah kalau gitu berarti aku enggak takut lagi kamu direbut cewe lain". Bianca tersenyum manis dan tampak bahagia.


"Iya kecuali ada cewe gila lainnya yang mirip kamu yang dekati aku".


"Gak mungkin ada lah, kan cuma aku satu-satunya wanita yang tau tentang kamu luar dalam". Bianca sangat percaya diri dan cuma gw balas dengan senyuman lembut nan hangat.


"Jadi kamu gak curiga lagi kan Bie? Jikapun kamu sembuh dari kegilaan dan buang aku di tengah jalan enggak ada yang mungut juga kok".


"Dari awal aku enggak curiga sayang, cuma penasaran aja ada apa di kost kamu hingga kamu larang aku kesana".


"Kamu liat saja besok pagi ada apa di kost aku dan lihat sendiri".


"Ok besok pagi jam 6 aku pasti sudah sampai kost kamu, ngomong-ngomong kamu biasanya sarapan apa? Biar aku masakin dari rumah".


"Serius Bie kamu mau masakin aku sarapan?". Gw melihat Bianca enggak percaya.


"Seriuslah sayang, kamu beberapa kali udah ngerasain masakan aku kan? aku udah belajar masak dari SMP saat ada waktu luang". Bianca membagakan dirinya sendiri.


"Iya masakan kamu lumayan Bie, no 3 terenak menurut aku".


Senyum di wajah Bianca langsung memudar berganti lagi dengan muka masamnya yang dia tampilkan. "Kok no 3 Bim, harusnya kan no 1! gimana sih kamu enggak pernah puji aku dan jadiin no 1".


Gw ingin tertawa melihat wajah kesel Bianca yang bibirnya sedikit mengerucut ke depan itu.


"Bimo kok malah tersenyum kamu, seneng ya liat aku marah?! cepet bilang siapa no 2 dan ni 1 itu? Ingin bertemu aku sama mereka". Bianca bicara serius tapi anehnya tetep aja cantik dia dengan ekpresi wajah kek gitu.


Sialan kelihatannya bener-bener udah sayang ini gw sama Bianca.


"Jawab Bimo jangan liatin aku seperti itu terus".


"Eheemm! Emang aku liatin kamu kek apa sih Bianca sayang?". Gw nahan kagak maju dan gigit itu bibir Bianca.


"Kamu liat aku seperti srigala yang lagi liat mangsa empuk dan tak berdaya". Bianca langsung mengutarakan apa yang ada di fikirannya.


"Emmm.. Gitu ya? Ok aku ngaku memang aku srigala tapi mangsa yang empuknya siapa?".


"Ya aku lah Bimo siapa lagi".


"Bagian mana coba yang empuk?".


"Jangan pura-pura siapa tadi di komedi putar yang nekan dan ngel.." Bianca berhenti bicara dan terkejut dengan perkataannya sendiri, dengan cepat pula menutup mulutnya dengan telapak tangan plus menatap gw tajam.


"Bimo kamu mancing aku ya?".


"Hehehe, mancing apa sih Bie kamu aja yang bicara sendiri kok aku kamu jadikan kambing guling".


"Hitam Bimo!".


"Iya kambing hitam".


Gw tertawa dan Bianca pun ikut tertawa bahagia dengan lulucon garing gw.


"Jangan harap aku akan lupa pembahasan kita saat kamu mengalihkan pembicaraan dan buat aku tertawa Bimo".


"Pembahasan apa lagi sih Bie, kita tertawa aja lagi sambil nunggu mesin biang lala ini di benerin".


"Tentang masakanlah sayang! Kenapa masakan aku bisa jadi no 3 terus yang no 2 dan 1 siapa? Cepet bilang! Sebelum aku hujani kamu dengan cubitan". Bianca mengancap.


"Aku akan bilang tapi sebagai gantinya hujani aku dengan ciuman aja gimana". Gw mencoba bernegoisasi


"Eehhh.. Kok malah nawar kamu, kita liat aja nanti jawaban kamu buat aku sakit hati apa enggak".


"Mana berani aku buat kamu sakit hati Bie, setidaknya tidak untuk saat ini. Hehehe".


"Oh jadi kamu ada rencana buat aku sakit hati Bimo?". Bianca langsung tampak murung.


"Ya ampun sayang, gitu aja kamu anggap serius, bercanda akunya maaf ya jika kelewatan". Gw bicara dan mengusap pipi Bianca pelan.


"Iya aku maafin tapi jangan di ulangi lagi, aku enggak suka candaan seperti itu". Bianca berguman pelan dan menatap gw sendu.


"Iya aku janji enggak akan ulangi lagi, udah dong jangan sedih. Aku jadi merasa bersalah banget ini".


"Sayang no dua itu bunda aku, masakan bunda itu enak banget dari kecil bunda selalu bujuk aku dengan masakannya jika aku lagi ngambek, masak kamu cemburu dengan bunda aku".


Bianca tampak terkejut dan tersenyum canggung mendengar penjelasan gw.


"Ahh mana mungkin aku bisa bersaing dengan masakan nyonya Shinta Whiratama Pramono, kalau sama bunda kamu aku nyerah sayang dan mengaku kalah".


"Kamu tau bunda aku Bie?".


"Ya tau dong sejak kakak beritahu identitas kamu kan aku langsung browsing di internet cari tau keluarga hebat kamu".


"Bunda kamu cantik banget sayang, lihat dari photo aja aku udah minder apalagi ketemu langsung". Bianca begitu antusias bicara tentang bunda.


"Ngapain minder kamu enggak kalah cantik kok, lagian bunda aku itu baik banget aku sudah cerita tentang kamu ke dia saat di Singapura kemarin".


"Serius sayang kamu ngomong tentang aku?!" Bianca melebarkan matanya menatap gw tidak percaya.


"Serius Bianca, ngapain juga aku bohong".


"Kamu bicara apa? terus gimana respon bunda kamu tentang aku?". Bianca semakin penasaran.


"Aku bicara apa adanya Bie, kalau kamu wanita pertama yang aku kenal saat baru menginjakan kaki di Jogja ini, aku juga bilang kamu pernah tolong aku di Campus".


"Cuma itu aja? Terus bagaimana respon bunda kamu?".


"Dia cuma tersenyum dan tanya lebih jauh tentang kamu dan aku jawab aja kamu itu cantik, baik hati dan ramah. Kalau ada waktu kamu disuruh itu main ke Jakarta, Bunda ingin bertemu katanya?".


"Uhuk-uhuk.." Bianca batuk pelan.


"Serius sayang bunda kamu mau ketemu aku? kamu enggak bohong kan?".


"Iya bunda suruh aku bawa kamu ke jakarta kalau ada waktu luang".


"Kenapa aku jadi tegang ya sayang, Bunda kamu udah tau hubungan kita belum?".


"Bie kamu lupa ya? Kita kan baru jadian tadi siang mana sempat aku kasih tau bunda".


"Oh iya lupa aku sayang, hehehe. Jadi kapan aku bisa ketemu bunda kamu? Udah enggak sabar aku".


"Ya nanti lah Bie ngebet banget kamu, liburan semester nanti aku bawa ke jakarta".


"Liburan semester kan masih 4 bulan sayang, masih lama itu tauk!".


"Gimana lagi mau cuti ngampus kita? Bukannya itu membuat kesan bunda aku ke kamu jadi jelek ya?".


"Bener juga, aku gak boleh ngelakukan kesalahan sedikitpun saat bertemu bunda kamu nanti". Bianca mengepalkan tangannya bersemangat.


"Ha-ha-ha-ha, santai aja kek mau ketemu pejabat aja kamu itu. Bunda aku itu penyanyang kok orangnya".


"Meskipun begitu aku tetap harus bisa tampil sempurna sayang, nanti nilai aku dikurangi lagi sama bunda kamu".


"Ada-ada saja, emang bunda dosen apa pakai beri kamu nilai segala? Tampil aja seperti sekarang ini dan menjadi diri sendiri itu lebih baik Bie".


"Kamu bisa tenang dan bicara seperti itu karena kamu enggak ngerasain apa yang aku rasain sayang". Bianca tampak panik sendiri.


"Emang apa yang kamu rasain Bie? serius amat".


"Cewe ya merasa tegang dan minderlah sayang jika mau ketemu sama orang tua pacarnya, termasuk aku ini".


"Itu sih kamu buat tegang sendiri Bie". Jawab gw santai.


Bianca terdiam dan seperti memikirkan sesuatu dia, mungkin aja lagi susun rencana untuk ketemu bunda nanti. Itupun kalau dia belum tau kalau gw dua kan.


"Haus aku Bie, kamu haus gak? Dingin banget lagi telanjang dada kek gini. Masih belum jadi apa itu mesin diperbaiki". Gw udah kagak sabar.


"Mana aku tau sayang, jangan bicara sama aku dulu. Lagi berfikir ini aku mau bawa apa saat ketemu sama bunda kamu nanti".


"Masih aja kamu bahas itu Bie, masih lama juga. Bawa apapun pasti bunda suka".


"Gak boleh asal dong sayang, hadiah dan oleh-oleh kan menunjukan rasa bahagia dan senang bertemu seseorang, aku harus hati dalam memilih. Kasih usulan dong bunda kamu suka apa?".


"Emmm apa ya? aku jarang kasih kado ke bunda soalnya, bunda udah punya semunya Bie. Apalagi tiap bunda ingin sesuatu Ayah selalu cari saat itu juga".


"Terus aku harus bawa apa dong? Coba kamu ingat-ingat apa yang paling di inginkan bunda kamu". Bianca bertanya dengan menampilkan puppy eyes nya.


"Sebernarnya ada 1 sih Bie yang bunda inginkan dan berharap untuk memiliki secepatnya".


"Nah itu ada, cepet kamu bilang apa itu. Semahal apapun akan aku beli".


"Ini bukan barang yang bisa di beli Bie".


"Bukan barang? Kalau gitu apa dong?".


"Bunda ingin punya itu". Gw bicara dan nunjuk perut Bianca.


"Apa sayang? Ini kan baju". Bianca mengikuti arah jari gw.


"Bukan baju Bie, jika kamu datang nanti cukup bawa perut buncit aja udah happy bunda".


"Bunda ingin segera nimang cucu, kamu santai aja nanti aku bantu kamu untuk buat buncit itu perut. Percaya sama aku beres-beres".