Preman Campus

Preman Campus
BUNDA


Suasana menjadi hening dan sepi di saat polisi itu mengatakan ada logo dan tulisan Pramono Grup di badan helikopter yang mendarat di atap gedung dan dekat taman Rumah Sakit.


Suara detik jam di dinding seakan-akan terdengar begitu keras seperti mengikuti detak jantung dari orang-orang yang sedang melihat gw saat ini.


Budi Bokap Putri, sekali lagi jatuh dan bersimpuh di lantai, seakan-akan dia membawa beban yang begitu berat. Dia melihat gw dengan pandangan kosong.


Gw kagak tau musti berkata apa saat ini, gw lebih suka adu mulut dan adu argumen daripada berada dalam situasi canggung seperti ini.


"Tuan Abimana, apa orang yang datang itu kenalan atau saudara anda?". Pak Amir bicara pelan, memberanikan diri bertanya sama gw.


"Kemungkinan itu adalah Ayah dan Bunda saya pak Amir, maaf kalau kedatangan mereka begitu heboh". Gw liat pak Amir tegang dan menelan ludah.


"Tidak tidak! anda jangan meminta maaf, suatu kehormatan apabila saya bertemu dengan pasangan pengusaha no 1 di Asia, saya akan pergi dan menyambutnya sekarang juga".


"Pak Amir tidak perlu repot-repot. Saya jadi tidak enak, anda kan polisi dengan jabatan tertinggi di kota ini".


"Tidak repot sama sekali, tidak repot sama sekali!". Pak Amir bicara diulang-ulang sampai punyeng gw dengarnya.


"Saya adalah polisi dan sudah kewajiban saya untuk menyambut dan mengawal tokoh penting seperti kedua orang tua anda, ini adalah suatu kehormatan bagi saya".


Mengawal? Ayah dan bunda kan cuma mau jalan kesini kenapa pakai dikawal polisi segala emang ini rumah sakit ada di Ukraina apa? lagian ayah sama bunda juga pasti sudah membawa orang-orang untuk menjaga mereka.


"Jika itu adalah kemauan pak Amir, silahkan saja". Jawab gw singkat


"Baik terima kasih tuan Abimana". Pak Amir terlihat tegang sekaligus bersemangat dan dia berjalan menghampiri teman nya yang masih bersimpuh di di lantai, lagi liat semut baris mungkin itu orang.


"Budi kenapa kaki kamu begitu lemah? Cepat berdiri kita sambut tamu penting itu! ini kan Rumah Sakit kamu harusnya yang menyambut adalah kamu sebagai direktur".


Bokap Budi melihat ke atas menatap pak Budi tanpa bersuara.


"Malah diam kamu! ayo berdiri".


"Berdirilah tuan dan tolong tunjukan arah jalan ke sini kepada orang tua saya dan juga jangan lupa hubungi putri anda". Gw yang merasa kasihan kagak sanggup lihat bokap Putri yang seperti orang linggung itu.


Dia dengan cepat langsung berdiri. "Baik-baik saya akan keluar sekarang dan juga menghubungi putri saya". Dia berbicara dan terlihat rohnya udah kembali, wajahnya yang dari tadi tegang sekarang menjadi tebih tenang saat mendengar gw berbicara ramah.


"Amir apa yang kamu lakukan ayo kita sambut calon besan saya". Bokap Putri berbicara dan mulai berjalan.


"Uhukk-uhuukk!". Gw langsung terbatuk mendengarnya.


Udin dan Reza di samping kanan gw juga tampak terkejut, kenapa ini orang berubah begitu cepat tadi aja memaki dan ngehina gw.


"Budi kamu jangan tidak tau malu! apa kamu sudah gila berbicara seperti itu?!".


"Maaf-maaf saya tidak sengaja, mungkin ada yang salah dengan otak saya ketika lama duduk di lantai. Maaf tuan Abimana". Bokap Putri ikut-ikut panggil gw tuan, sumpah risih banget gw dengarnya.


"Tidak apa-apa, ucapan adalah doa". Jawab gw singkat dan tersenyum kecil.


Bokap putri terlihat begitu lega melihat gw tidak marah. Siapa juga yang marah jika punya bini kek Putri yang cantiknya kelewat batas gitu.


Mereka pun langsung bergegas keluar untuk menyambut bokap dan nyokap gw, termasuk polisi yang melapor tadi dia juga langsung berjalan mengikuti pak Amir dari belakang.


...****************...


"Kelihatannya dua hari ini kita mimpi indah terus deh Bim! bukan begitu dek Za". Udin berbicara dan menyenggol lengan Reza yang berdiri di sebelahnya.


"Tul betul itu kak Din! kelihatannya dewi fortuner sedang berada di pihak kita". Reza menjawab dengan senyum lebar.


"Yang benar itu dewi fortuna dek Za bukan fortuner".


"Ya itu maksud diriku kak Din, salah dikit aja dirimu permasalahkan". Reza tampak cemberut.


"Lu berdua pada ngomong apa sih nyet? kagak ngarti gw, mimpi indah apaan kok sampai bawa-bawa dewi fortuna segala lu berdua".


"Ya mimpi indahlah Bim, dua hari ini kita berturut-turut ketemu sama bokap loe terus".


"Iya cak, kemarin di Campus dan sebentar lagi ini, apalagi sekarang datangnya heboh banget seperti itu membawa tiga helikopter! benar-benar anak sultan dirimu cak".


"Heii upil bekicot! kok malah seneng lu berdua anjing! lu kagak tau gw bakalan dapat masalah ini sebentar lagi".


"Masalah apa sih Bim, mereka kan orang tua loe. Pasti bakalan belain loe lah, bukan begitu dek Za?".


"Tut betul itu kak Din, namanya juga orang tua akan selalu membela anaknya walaupun sifat anaknya blangsak seperti dirimu cak".


"Blangsak mate lu yang blangsak! sekate-kate aja lu kalau ngomong".


"maksud gw itu bunda gw nyet, bunda gw!".


"Emang kena Bim bunda kamu, bokap loe aja ganteng gitu pasti bokap loe cantik juga kan? Bukan begitu dek Za!".


"Tu beeetull itu kak Din, He-he-he!".


"Za lu ngomong tul betul lagi, gw gelut lu saat ini juga! bikin gw emosi aja lu".


"Santai cak jangan emosi dirimu, diriku tau kamu marah karena depresi ayah dan ibu dirimu tampan dan cantik tapi dirimu pas-pasan seperti ini".


"Emang temen b*ngsat lu nyet, hobi banget lu buat gw emosi. Udahlah pada diem lu berdua!".


"Bentar Bim, tadi loe bilang bakal dapat masalah, masalah apa emangnya?".


"Males gw cerita nanti aja lu berdua liat sendiri".


"Gitu aja dirimu ngambek cak? dirimu kan abis operasi usus buntu bukan operasi sedot lemak".


"Dek Za jangan asal ngomong dirimu, mana bisa Bimo di sedot lemaknya!".


"Tumben lu nyet belain gw". Gw tersenyum ke melihat Udin.


"Tenang aja Bim, lagian tubuh loe kan kurus mana bisa disedot lemaknya, kalaupun ada lemak paling di batang loe aja itu".


Reza dan Udin langsung tertawa bersama-sama, sudah kagak ada takut-takutnya lagi mereka sama gw.


Gw cuma bisa menghela nafas panjang, kagak bisa berkutik saat di bully sama 2 anak cebong ini.


Hp yang gw taruh di meja sebelah ranjang, gw dengar bergetar karena memang gw silent sejak semalam.


Gw raih dan gw lihat ternyata itu adalah panggilan telfon masuk dari Amora. Sontak gw langsung bingung, gw angkat apa kagak ini?.


"Din tadi saat lu ke kost gw, ketemu Amora kagak?".


"Tadi gw sih berharap ketemu bekingan loe itu Bim tapi kagak beruntung gua".


"Kagak bemooo! kagakk!!". Udin bicara ngegas.


"Gitu kan cepet pakai muter-muter segala kalimat lu, ini Amora call gw kalian berdua diam aja atau tunggu di luar dan sambut bokap nyokap gw".


"Giliran bicara sama betina aja kita dirimu sisihkan kan cak!".


"Iya Bim, giliran ada masalah aja loe langsung kasih tugas ke kita berdua".


"Berisik lu berdua cepat sana! Biar gw terima calling dari Amora dulu".


Udin dan Reza pun langsung berjalan menjauh ke arah pintu sambil ngoceh kesel.


Gw ambil nafas dalam-dalam supaya rileks dan segera gw geser tombol hijau di layar hp untuk menerima panggilan dari Amora.


"Selamat siang cewe, sedang apakah dirimu siang ini?". Gw langsung berbicara ramah.


"BIMO KAMU ADA DIMANA SEKARANG?!". Amora langsung berteriak nyaring di ujung telfon sana.


"Gw dengar Amora, tolong pelan-pelan aja ya bicaranya".


"Jawab Bimo kamu ada dimana sekarang?".


"Aku ada di Jakarta Amora, mumpung hari minggu ini, aku mudik sebentar". Gw ngibul karena bisa runyam nanti kalau Amora tau gw ada di Rumah Sakit.


"Kamu mudik apa mau kabur?!". Amora langsung bicara melancarkan serangannya.


"Kamu ini aneh-aneh aja, kabur dari apa coba aku? aku beneran kok mudik, tadi pagi mau pamitan sama kamu tapi kagak enak. Pasti kamu masih tidur dan enggak mau ganggu kamu aku".


"Kamu seriusan mudik dan bukan kabur dan lepas tanggung jawab?".


"Lepas tanggung jawab dari apa emangnya? enggak ngerti aku sama arah pembicaraan kamu".


"Jangan pura-pura lupa ingatan deh Bim kamu! aku udah ingat semuanya soal kita berdua semalam, kamu jangan coba-coba menghindar ya?".


"Oh soal itu ta, harusnya kan yang bilang gitu aku Amora bukannya kamu gini".


"Apa maksudnya? aku enggak ngerti?".


"Kamu jangan pura-pura lupa ingatan juga deh! kamu ingat kan apa yang kamu lakukan ke aku semalam itu".


Amora malah terdiam dan tidak menjawab. Gw merasa ingin tertawa sekarang, andai gw biasa lihat wajah dia. Pasti lucu banget ekpresi nya sekarang ini.


"Amora kok kamu malah diem? kamu tau gak hal yang kamu lakukan ke aku semalam itu enak! ehh.. jahat maksudnya". Sialan salah bicara kan gw.


"Ihhh Bimo, jangan buat aku malu". Suara Amora terdengar manja.


"Malu apanya semalam aja kamu enggak punya malu saat aniaya aku, ini ni masih ada bekas gigitan kamu di leher aku. Sungguh beringas sekali kamu Amora".


"Itu kan salah kamu juga Bimo masak aku aja yang kamu salahin, siapa yang semalam tawarin aku makan sate kuda? kan kamu".


"He-he-he.. Nona Amora yang cantik! semalam aku kan cuma nawarin kamu aja enggak suruh kamu makan sampai 19 tusuk".


"Terus gimana kita Bimo?". Amora bertanya dengan lembut.


"Adegan di kamar kamu juga apa kamu ingat Amora? saat kamu buka baju dan mendorong aku ke atas ranjang?".


"Iya aku ingat semuanya". Suara Amora kembali terdengar pelan.


"Kamu juga ingat kan saat kamu terlelap di atas tubuh aku di saat aku sudah pasrah menanti serangan dari kamu yang kagak datang-datang?".


'Hhehe, iya aku ingat semuanya maaf".


"Enggak perlu minta maaf Amora kita udah sama-sama dewasa dan jika kamu tanya aku menyesal apa enggak? aku akan menjawab enggak, kalau kamu gimana?".


"Aku juga enggak menyesal Bim, tapi saat aku bangun dari cari kamu enggak ada, aku merasa kamu pergi dan enggak mau bicara sama aku lagi". Suara Amora terdengar sedih.


"Kamu tenang aja nanti saat aku balik ke kost lagi, kita bicarakan ini berdua".


"Kamu jangan lama-lama ya di Jakarta Bimo".


"Kamu tenang aja mungkin rabu atau kamis aku udah ada di pelukan kamu". Gw sedikit bercanda.


"Iya akan aku nantikan moment itu". Amora menjawab pelan yang buat gw panas dingin.


Dari arah Pintu gw liat Udin dan Reza berlari menuju gw.


Gw segera memberi sinyal mereka untuk diam dulu dengan meletakkan jari telunjuk gw di bibir.


"Amora udah dulu ya, bunda sudah siapin makan siang. Aku makan dulu ya? kamu disana juga harus makan pasti tenaga kamu terkuras kan gara-gara semalam".


"Ihhh Bimo, jangan bahas itu lagi. Ya udah kamu makan dulu sana dan ingat kabari aku jika ada apa-apa".


"Siap komandan!". Jawab gw lantang dan diikuti suara tawa oleh Amora.


panggilan telfon kami pun terputus dan gw bisa bernafas lega.


"Nyet lu berdua ngapain sih nari-nari gitu? kemasukan semut ya pantat kalian?".


"Ini bukan saatnya bercanda cak? orang tua kamu sudah di lorong itu dan berjalan menuju kemari".


"Iya Bim, bawa banyak pengawal juga bokap sama nyokap loe".


"Nyet lu cepet pindah ke samping kanan gw, dan jangan bicara apa-apa nanti. Biar gw aja yang ngomong".


"Mana berani juga Bim kita bicara sama bokap dan nyokap lu".


"Iya cak kita akan jadi patung aja".


Udin dan Reza bicara dan langsung berjalan ke sisi kanan gw sama seperti di saat gw hadapi bokapnya Putri.


Suara langkah kaki gw dengar semakin mendekat.


Dan tidak lama gw juga mendengar suara orang berlari seperti tidak sabar ingin segera melihat gw.


Seketika muncullah sesosok bidadari anggun nan cantik dengan postur tubuh yang masih seperti Abg berdiri di dekat pintu melihat gw dengan air mata yang mulai berlinang.


"Bundaa!". Gw langsung berseru memanggil, ya itu adalah Shinta Wirathama bunda gw.


"Bimoo sayanggg!!".