Preman Campus

Preman Campus
MILIKKU ADALAH MILIKMU


"Amora kamu tau gak?". Gw bicara dan menatap Amora serius.


"Tau apa sayang?".


"Sebenarnya aku itu sangat mengidolakan ayah, dia adalah pria terkeren yang pernah aku temui, Dari kecil aku selalu lihat bagaimana dia memperlakukan bunda dengan segala perhatiannya dan kasih sayang besar yang dia berikan".


"Mungkin bagi sebagain orang yang lihat, ayah aku akan tampak lebay Amora tapi di mata aku itu berbeda dan saat beranjak dewasa aku mengerti memang seharusnya seperti itu seorang pria memperlakukan wanitanya".


"Seorang pria harus bisa melindungi wanita yang dia cintai dan memberikan semua yang terbaik yang dia bisa dan aku ingin seperti itu Amora, kamu mengerti kan maksud aku?".


Amora terdiam, bibirnya terkunci rapat dan kagak bersuara dan menjawab. Entah apa yang difikirkan Amora saat ini, gw kagak tau.


"Dulu aku juga sempat iri sama pria-pria di luar sana yang memberi jatah bulanan sama pacarnya untuk uang perawatan sayang". Gw melanjutkan bicara dan tersenyum.


"Dan aku berjanji sama diriku sendiri dulu, jika suatu saat nanti aku punya cewe aku ingin ngelakuin seperti itu, hehehe".


"Terima kasih sayang atas semua perhatian dan kasih sayang kamu ke aku, jujur aku sangat bahagia sekali, aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia".


"Berarti kamu mau dong aku kasih uang bulanan dan aku beliin mobil Amora?".


"Sayang bukannya aku nolak, gaji aku itu sudah sangat lebih dari cukup untuk kebutuhan aku sehari-hari dan untuk aku tabung juga".


"Maaf sayang, kan kamu belum kerja dan masih kuliah, aku enggak mau uang saku kamu itu kamu sisihkan buat kamu berikan ke aku. Merasa jadi wanita terburuk aku jika menerima itu". Amora berbicara panjang lebar menyuarakan pendapatnya.


"Sisa kok Amora uang saku aku dari ayah dan itu lebih dari cukup, aku kan mau jadi cowo yang keren harusnya kamu dukung dan terima pemberian aku".


Amora tersenyum lembut dan terlihat sedang berfikir saat melihat gw.


"Kamu keras kepala sekali sayang, ya sudah aku akan terima uang bulanan dari kamu. Aku dukung kamu untuk jadi keren, daripada buat kamu ceberut aku lebih suka buat kamu tersenyum".


"Nah gitu dong jadi cewe itu harus nurut sama cowonya". Gw mengusap rambut Amora dengan lembut dan dia pun tersipu.


"Ya udah mana no rekening kamu nanti biar aku transfer dari M-banking sekalian uang buat beli mobil".


"Kamu sukanya mobil apa? Dan berapa harganya?".


Amora malah bengong lagi menatap gw. "Sayang cukup dong, harga mobil itu mahal banget. Aku nabung 2 tahun aja belum ngumpul setengahnya untuk beli mobil impian aku".


"Serius kamu nabung 2 tahun enggak ngumpul setengahnya sayang?". Sialan gw jadi deg-deg an seberapa mahal mobil impian cewe gw ini.


"Iya Bimo mana mungkin aku bohong, aku enggak bermaksud meremehkan kamu sayang. Tapi uang saku kamu enggak akan cukup untuk beli mobil".


"Memang berapa ratus milyar Amora mobil impian kamu itu? Itu mobil impor ya?". Pelan gw bertanya karena penasaran.


"Kamu bicara apa sih sayang? Mana ada mobil harganya ratusan milyar!". Amora menatap gw aneh.


"Kata kamu uang saku aku enggak bisa untuk beli mobil? Berarti harga mobil impian kamu ratusan milyar dong?".


Amora langsung berdiri dengan cepat mendengar perkataan gw, Dia memandang gw tidak percaya.


"Maaf kalau aku lancang sayang, kalau boleh tau uang saku kamu berapa?". Amora bicara dan menatap gw serius.


"Cuma 100 milyar Amora yang diberikan Ayah ke aku untuk jajan disini". Jawab gw pelan.


Suasana langsung berubah hening dan Amora melihat gw dengan mata lebar kagak kedip.


"Amora kenapa kamu?!". Gw berdiri dan meraih tubuh Amora saat ini cewe oleng dan mau kejengkan jatuh.


"Kamu sakit sayang?". Gw pegang dahi Amora tapi kagak panas.


Amora masih menatap gw dan menggelengkan kepalanya.


"Aku enggak apa-apa sayang cuma terkejut aja kok".


Gw dorong tubuh Amora pelan untuk duduk di bale-bale lagi.


"Terkejut kenapa? Kamu lupa belum pakai CD ya?".


"Terkejut sama uang saku kamu sayang! serius itu kamu bilang 100 milyar?".


"Iya Amora cuma 100 milyar uang saku aku".


"100 milyar kamu bilang cuma?!". Amora begong lagi melihat gw.


"Aku kerja seumur hidup pun enggak akan bisa punya uang segitu sayang. Paling cuma 2 milyar kurang, itupun kalau aku naik jabatan lagi".


"Jadi berapa harga mobil impian kamu itu sayang jika tidak ratusan milyar?".


"560 juta sayang". Jawab Amora pelan sambil nunduk.


"Ya ampun cuma segitu, aku kira ratusan milyar. Percuma aku takut uang aku enggak cukup". Gw tersenyum lebar dan merasa tenang.


"Ok nanti aku transfer dengan uang bulanannya 10 juta cukup kan untuk kamu jajan per bulan?".


"Sayang please jangan buat aku terkejut lagi, ini tidak baik untuk jantung aku". Amora memandang gw dan mengelengkan kepalanya tidak percaya.


"Gaji aku itu cuma 6 juta perbulan dan itupun masih bisa aku tabung, biaya bulanan paling banyak yang pernah aku keluarin itu cuma 2,5 juta sayang. Itu pun saat liburan sama kak lulu".


"Lha terus apa masalahnya itu kan uang kamu dan yang akan aku kasih ke kamu kan uang aku?".


"Sayang 10 juta itu kebayakan, aku kira tadi kamu akan kasih aku beberapa ratus ribu saja untuk aku".


"Amora kamu tau gak berapa uang yang dikasih ayah aku ke bunda setiap bulannya?".


"Enggak! aku gak mau tau! Aku enggak mau tau!". Amora ketakutan dan menutup kedua telinganya.


"Gemesin banget sih kamu sayang!". Gw tertawa dan menarik hidung Amora pelan.


"Sakit Bimo". Amora cemberut melepas tangan gw dari hidungnya.


"Tiiinn-tiinn!". Kami di kejutkan dengan suara klakson mobil dari luar gerbang.


"Sayang itu mobil grab aku udah datang, aku berangkat dulu ya?". Amora bicara dan berdiri dari duduknya.


"Iya hati-hati jangan lupa kirim pesan no rekening kamu ke aku". Gw ikut berdiri.


"Iya nanti akan aku kirim lewat pesan WA, mulai sekarang aku akan nuruti semua perkataan kamu dan semua yang aku miliki adalah milik kamu sayang".


Amora tersenyum kecil melihat gw dengan sendu dan memajukan wajahnya mencium bibir gw tiba-tiba.


Gw yang terkejut hanya bisa diam kek patung saat Amora menyapu bibir gw dengan bibirnya.


"Terima kasih sayang, aku pergi dulu". Wajah Amora memerah melepas bibir gw dan berucap pelan.


"Muaach!". Satu kecupan di pipi gw dari Amora sebelum di berlari cepat keluar gerbang.


Sementara gw masih berdiri bengong dan mencerna kata-kata yang Amora ucapkan.


Milik Amora adalah milik gw? Apa coba maksudnya buat otak gw berkelana aja itu kata-kata.