Preman Campus

Preman Campus
BIMO IS BACK!


Suasana mungkin terasa mencekam bagi 2 cebong tapi bagi gw ini adalah hiburan yang jarang-jarang bisa gw lihat. Gw seperti nonton di bioskop dengan genre action komedi.


Di depan sana 2 anak cebong sedang siaga penuh saling menguatkan disaat ditatap penuh amarah dan dendam oleh suami dari betina yang mereka goda.


Reza menoleh ke arah gw dengan raut wajah melas minta pertolongan.


Dia hanya menatap gw tidak percaya, saat melihat gw yang cuek dan membetuk tanda hati dengan tangan.


Bibir itu anak melengkung ke bawah seperti mau nanggis, dikira gw tersentuh gitu! tentu saja tidak. Biarlah dulu mereka berada dalam situasi menengangkan seperti itu.


"Kamu tadi bilang apa ha!!". Pria itu berteriak dan menunjuk Udin dengan tanganya.


"Dek Za tadi kamu bilang apa?". Udin bicara dan menyenggol legan Reza.


"Kok aku kak Din? Kan tadi dirimu yang bicara! diriku kan anak yang pendiam".


"Za kamu ngaku aja sama abang nya itu" Udin udah kagak pakai kata dek lagi. Mungkin sudah terlalu panik itu bocah.


"Din! dirimu jangan fitnah diriku ya? orang pendiam juga bisa marah!". Reza juga kepancing sama omongan Udin.


Iya nyet marah aja dan gelut itu orang. Gw memberi semangat walau bicara dalam hati, semoga saja 2 cebong itu dengar.


Tangan keduanya yang semula berkaitan sekarang tampak terlepas dan berjauhan.


"Diammm!!". Pria itu teriak marah mendengar perdebatan 2 anak cebong.


"Iya bang kami diam jika tidak ada urusan lagi, kami permisi dulu, Assalamualaikum". Udin bicara pelan.


"Berhenti! siapa yang suruh kalian pergi ha!". Pria itu kembali menunjuk 2 anak cebong.


"Jangan berani-berani kalian kabur ya?! atau saya akan tenggelamkan kalian di danau itu!". Dia mulai mengancam.


Udin dan Reza seperti patung saat ini dan kagak berani bergerak sedikitpun.


Gw nepok jidat melihat mereka, segitu nurut nya di perintah sama itu orang. Apa mereka takut dengan ancaman seperti itu?


Kan mereka menang jumlah, langsung gelut aja kan pasti kelar masalahnya, apalgi Reza yang badannya besar.


Perlu gw gembleng lagi itu keknya mental mereka masak langsung ciut cuma digertak gitu doang.


"Mas sudah mas mereka tidak salah mas, biarkan mereka pergi". Wanita itu bicara beralih dari belakang ke samping sang suami.


"Kamu juga diam! kamu mau belain mereka ha!".


"Enggak mas, aku enggak belain mereka. Tapi benar mereka berdua tidak salah".


"Saya suruh diam ya diam! apa kamu mau saya tampar lagi hah!!". Pria itu mengangkat tanganya.


"Maaf mas, maaf". Wanita cantik dan seksi itu mundur kebelakang untuk menjauah dari sang suami yang akan memberi dia cap lima jari lagi.


"Kalian para manusia buruk rupa, berani-berani nya kalian menggoda bini orang! sudah bosan hidup kalian ha!".


"Kenapa kalian diam?! jawab banci!".


"Tadi abang kan suruh kami diam". Udin pelan menjawab


"Maaf bang pendengaran saya terganggu, jadi tidak mendengar suara abang". Reza sungguh sangat jenius, alasan yang dia buat sungguh memaksa bibir gw untuk tersenyum saat mendengarnya.


"Bisa-bisanya orang goblok dan budeg seperti kalian menggoda istri saya!".


"Kamu goblok siapa nama kamu hah!". Pria itu bertanya menunjuk cebong no 1.


"Awas kalau kamu berbohong saya akan buat kamu menyesal!". Dia bicara dan menatap tajam Udin.


Gw liat keringat sudah mulai keluar dari pori-pori wajah Udin, semoga aja kagak ngompol itu bocah.


"Jawab goblok!!".


"Udin bang, udin.. nama saya udin". Dengan cepat dia menjawab.


"Apa Udin?! itu nama orang apa nama binatang ha!".


"Benar bang itu nama saya, nama orang!".


"Saya tidak suka dengan jawaban kamu! itu nama orang apa nama BINATANG!". Dia bicara dan menekan kata binatang.


"Jawab!".


"Binatang, itu nama binatang". Jawab Udin lemah sambil menunduk.


"Pantes muka kamu seperti curut, nama kamu aja menjijikkan seperti itu!". Pria itu menghina dan mempermalukan Udin habis-habissan.


Udin hanya bisa diam dan sesekali ngelirik ke arah gw. Nikmati dulu saja sahabatku, itulah realita hidup yang harus kalian alami. Gw bicara dalam hati


Tapi Reza diam saja, sangat menghayati perannya sebagai orang tuli itu bocah.


"Budeg jawab!". Pria itu membentak.


"Maaf bang teman saya tuli". Udin berbicara


"Memang saya percaya ha! mana mungkin orang tuli lancar saat bicara sama wanita".


"saya hitung 1 sampai 3 kalau enggak jawah akan saya buat kamu budeg beneran!".


"Reza nama saya Reza!". Cebong no 2 dengan cepat berbicara.


Payah banget itu anak, percuma gw kagum sama acting tulinya digertak gitu aja langsung ciut.


"Reza?! itu nama kotoran apa nama orang!".


"Jawab itu nama kotoran apa nama orang!". Pria itu bicara dengan nada suara tinggi.


"Nama orang bang, nama orang!". Reza menjawab dan gw liat badan dia bergetar.


"Jawaban kamu tidak seperti yang saya harapkan!".


"Jawab sekali lagi! itu nama orang apa nama kotoran!".


"Jawab!".


"Kotoran bang itu nama kotoran". Reza menitikan air mata saat menjawab.


Udin dengan cepat berdiri di depan Reza menutupi adeknya yang sedang menangis.


Keren itu Udin, sangat memahami situasi dan melindungi Reza.


Walau kaki dia juga bergetar mulu dari tadi gw tetap salut sama itu anak.


"Ha-ha-ha-ha! liat itu pria kotoran yang godain kamu sedang menangis tersedu". Pria itu bicara dengan istrinya yang juga sedang menatap Reza.


"Kamu binatang! tidak ikut nangis juga!".


Udin diam saja tapi sorot matanya tampak berubah, gw tersenyum lebar melihat itu.


Iya nyet harusnya sorot mata lu harus seperti itu sejak tadi, ayo nyet lawan dan jangan takut. Gw bersorak dalam hati.


"Kenapa kamu melotot ha! udah berani kamu sama saya!".


"Minta diculek mata kamu!".


"Sebenarnya salah kami apa? kenapa anda menghina dan merendahkan kami seperti ini". Nada bicara dan suara Udin berubah tolal.


Kakinya yang tadi gemetar pun sekarang normal kembali dengan tegak berdiri dan dibelakangnya ada Reza yang telah ciut nyalinya dan menangis tanpa suara.


"Kamu buta? tidak tau salah kamu dimana?! salah kamu karena kamu hidup dan godain istri saya, ngerti kami binatang!".


"Kami cuma menyapa saja karena sama-sama orang indonesia, jika itu salah kami minta maaf".


"Tidak mungkin kalian hanya menyapa! di otak kalian pasti ingin meniduri istri saya kan?!".


"Oh iya, apa kalian punya otak? binatang sama kotoron seperti kalian kan tidak punya otak! cuma nafsu doang yang kalian punya".


"Tolong jangan buat masalah ini semakin besar, ini negara orang". Udin masih tampak tenang.


"Memang kenapa kalau negara orang! saya tidak takut karena punya banyak uang! Tidak seperti kalian datang kesini pasti jadi TKI ilegal kan? jadi babu disini?!".


"Dia pegang kamu dibagian mana saja tadi?!". Pria itu bicara dan melihat istrinya


"kami cuma salaman dan memperkenalkan diri saja mas tidak lebih". Jawab wanita itu pelan.


"Apa! kamu dipegang sama tangan kotor binatang dan kotoran itu!". wajah pria itu sudah berubah seperti hewan buas yang siap menerkam Reza dan Udin.


Gw berdiri karena udah bosan lihat drama ini, ini juga sudah sore hari. Pak Salim pasti sedang nunguin gw di mobil.


Dan gw juga ngerasa pria itu sudah tidak terkontrol lagi.


Gw rasa udah cukup 2 sahabat gw di permalukan seperti itu, apalagi Pangeran Madura sampai dibuat nanggis kek gitu.


Gw berjalan santai dan bersemangat mendekati mereka.


Udah 6 hari gw kagak gelut dan patahin tulang orang, semoga saja pria songong itu kagak ngecewain gw.


Senyum setan tercetak di bibir gw dan berguman pelan. "Bimo is back!".