Preman Campus

Preman Campus
BANTAL GULING DAN VAS BUNGA


"Tok-tok-tok! Bie kamu di dalam kan? Buka dong kita bicara sebentar biar aku jelasin semuanya". Gw mengetuk pintu kamar Bianca pelan dan mencoba bernegoisasi.


Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam, segitu marahnya ya ini cewe gw bohongi.


Gw kira wajar dia sedikit marah tapi ini kok aneh, gw merasa seperti cowo yang mau minta maaf ke cewe nya. Padahal kan hubungan gw sama Bianca baru sebatas saling menggoda.


Apa itu anak terlalu baper, apa gw terlalu terbawa suasana saat godaain dia.


Jadi bingung sendiri ini kepala, apa sih yang sebenarnya cewe-cewe itu liat dari cowo suram begajulan kek gw ini.


"Bie ayo dong keluar, mau sampai kapan kamu di dalam? celana aku masih basah kuyup ini! Udah pada mengkerut kulit aku".


Masih kagak ada jawaban dari Bianca. "Bie jika kamu enggak keluar aku pergi ini!". Gw mulai mengancap.


"Duaakkk!!".


"Astafirlah! Bie kamu lempar apaan ke pintu?". Gw terkejut saat mendengar suara dari dalam.


"Kalau mau pergi, pergi saja! Sekalian jangan kesini lagi!". Akhirnya terdengar suara Bianca.


Gw pegang gagang pintu dan ternyata dari tadi kagak di kunci sama Bianca.


"Bie aku masukin kamu ya?".


"Duaakkk!!". Bianca ngelempar barang lagi dan menghantam pintu yang masih tertutup.


"Astafirlah! sorry maksudnya aku masuk kamar kamu ya?". Gw segera meralat ucapan mulut gw yang sempat kepleset.


Tidak ada jawaban lagi dari Bianca, langsung aja gw dorong pintu pelan-pelan dan siaga penuh siapa tau ada benda yang melayang lagi ke arah pintu.


Gw melihat ke bawah dan ada 2 botol body lotion tergeletak disana, gw ambil 2 benda itu yang kemungkinan adalah yang di lempar Bianca tadi.


Gw buka lebar pintu, karena ini rumah orang bisa salah paham nanti kalau ada yang melihat gw di kamar Bianca dengan pintu yang terkunci rapat, gw masih pengen keluar dari sini hidup-hidup.


Mata gw berkeliling mencari betina yang ngambek itu, tapi kagak ketemu itu anak. Punya jurus apaan sih bisa ngilang gitu saja.


Gw amati sekali lagi dengan cermat dan disitulah gw melihat ada yang aneh di atas ranjang sana.


Gw pengen ketawa tapi gw tahan saat liat Bianca menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.


Auto gw berjalan mendekat tidak lupa gw taruh 2 botol body lotion di meja rias Bianca.


"Bie kamu enggak kepanasan di dalam sono?". Gw langsung bicara setelah berdiri disamping ranjang sebelah kiri.


"Kamu jadi kek kepompong tau gak Bie kalau seperti itu". Gw sedikit bercanda


"Bie jawab dong? kamu keluar dari sarang itu dan kita bicara 4 mata".


"Emang aku penting buat kamu!". Bianca menjawab tanpa memperlihatan wajahnya.


"Gak penting-penting amat sih kelihatannya". Gw sambil tersenyum menjawabnya.


Seketika itu pula Bianca keluar dari dalam selimut dengan mata basah menatap gw tajam.


Gw diem kek patung pancoran saat melihat itu, kenapa ini anak masih pakai s3mpak dan BH alias baju renang dan kagak berganti baju.


Gw masih melamun menikmati pemandan pegunungan dan sawah yang masih tertutup kabut itu.


"Bugggkk!!". Bantal melayang mengenai wajah gw.


"Pergi! Aku memang orang yang penting!".


Bianca teriak dan tangannya meraih bantal lagi.


"Buggkk!". Melayang lagi satu bantal dan terkena muka gw.


Bukannya gw kagak bisa menggindar, tapi saat ini itu tubuh gw kaku dengan kedua mata yang masih fokus sama 2 benda bulat besar terbalut BH itu yang dari tadi goyang-goyang karena Bianca gerak-gerak di atas kasur sana.


"Kenapa kamu diam haa! Bukannya aku orang yang enggak penting bagi kamu?!".


Bianca meraih guling sambil merangkak ke atas ranjang dengan pose yang begitu menantang. Kek kuda betina yang minta di naiki ini anak.


"Buggkk!". Sekarang guling dia lempar dan sekali lagi tepat terkena wajah gw.


Dengan mata basah dan air mata yang mulai keluar Bianca melihat gw tanpa berbicara.


Untuk menunjukan rasa penyesalan, gw memberi Bianca senyum kecil semanis yang gw bisa.


"Kamu ketawain aku!". Bianca bicara lagi dan langsung meraih vas bunga yang ada atas meja samping ranjang.


"Bie kamu mau ngapain!". Gw panik saat liat itu anak sudah mengangkat vas ke arah gw.


Sialan mau bunuh gw ini cewe keknya. Gw langsung melesat maju.


Dengan cepat meraih tangan Bianca dan mengambil vas bunga sebelum nyasar ke kepala gw.


Gw berhasil dan menuruh kembali vas bunga di atas meja.


"Bie kamu mau bunuh aku ya? Itu vas kan terbuat dari beling bukan busa".


"Dukk!! Dukk!! Dukk!!".


Bianca tidak menjawab tapi langsung Berkali-kali memukuli dada gw saat posisi gw duduk di depannya di atas ranjang.


"Dukk!! Dukk!! Pergi buat apa kamu berdekatan sama orang yang tidak penting seperti aku? Pergi!".


Lama kelamaan pukukan dia semakin melemah dan tangis Bianca pecah tak terkendali.


Nafas dia naik turun dan sialnya mata gw juga ikut naik turun juga mengikuti pergerakan 2 gunung Bianca yang naik turun mengikuti irama nafas dia yang memburu karena menangis.


Bisa mimisan ini gw kalau disuguhi pemandangan gini terus.


Gw raih selimut dibelakang Bianca dengan cepat gw tutupi seluruh tubuhnya.


Dia terkejut tapi bodoh amat langsung gw peluk saja dia.


"Lepas-lepas! ngapain kamu peluk orang tidak penting seperti aku".


Gw diam tapi semakin dia berontak untuk keluar semakin erat gw memeluk tubuh dia.


1 menit kemudian dia mulai tenang dan pasrah di dalam pelukan gw.


"Kamu tau gak Bie, kamu itu terlalu banyak bicara dan tidak mau mendengarkan penjelasan aku". Gw berguman pelan sambil mengelus punggungnya yang tertutup selimut.


"Kamu itu penting banget buat aku, kamu adalah wanita pertama yang menarik perhatian aku saat menginjakkan kaki di Jogja ini".


"Bohong!".


"Serius Bie, aku berkata seperti tadi sengaja memang biar kamu marah dan keluar dari dalam selimut, aku mau jelasin semuanya ke kamu".


"Aku enggak bermaksud untuk bohongi kamu".


Bianca bergerak mendorong pelan tubuh gw untuk melepaskan diri dari dalam pelukan.


Dia menatap gw sendu dengan wajah yang basah karena air mata, begitu juga rambut panjang dia yang awut-awutan tidak teratur.


Jika ada orang melihat penampilan Bianca saat ini pasti akan mengundang salah paham.


Gw sentuh wajahnya pelan dan gw hapus air mata di pipinya, Bianca diam saja dan gw semakin berani merasa mendapatkan lampu hijau. Gw benerin juga rambut dia agar acak-acakan.


"Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh dulu, coba kamu bilang sama aku. 2 teman aku itu bicara dan ngomong apa aja sama kamu?".


"Bimo". Bianca memanggil gw lirih.


"Iya kenapa cantik?". Gw menjawab sambil mengelus pipi Bianca lembut.


"Aku marah bukan karena kamu bohongi aku".


"Terus karena apa?".


"Aku marah karena disaat kamu merasakan sakit dan harus dibawa ke Singapore, aku enggak ada disana untuk menemani kamu".