Preman Campus

Preman Campus
FIGHT MODE


Setelah selesai menyuapi gw, Putri masih disini dan menemani gw ngobrol.


Kami membahas segala hal tentang hobi, makanan kesukaan dan yang lainnya.


Terkadang canda tawa menjadi bumbu di dalam perbincangan kami.


Putri sangat terbuka orangnya dan sangat ceria membuat gw merasa nyaman saat mendengar dia berbicara dengan senyum yang terus menghiasi bibir mungilnya.


"Udah jam 1 siang Put kamu enggak pulang dan istrihat? ini kan hari libur kamu, dan besok harus kerja lagi kan?".


"Aku enggak apa-apa kok Bim, bercanda dan ngobrol sama kamu udah sangat membuat aku terhibur".


"Kan aku Put harusnya yang gombalin kamu kenapa jadi kebalik gini".


"Bimo apa sih, siapa juga yang gombalin kamu". Putri malu-malu ayam bertelur


"Harusnya kamu istirahat Put atau memanjakan diri kamu sendiri biar besok bisa fit saat menangani pasien, aku gak apa-apa kok bentar lagi juga 2 temen aku datang dan temani aku disini".


Gw bicara dan merasa kagak enak karena demi temani gw disini dia relakan hari liburnya yang berharga.


"Enggak apa-apa kok Bim, aku senang bisa temani kamu dan ngobrol seperti ini. Kita bisa mengenal lebih jauh".


"Sekalian nunggu 2 teman kamu itu, nanti aku baru pergi, temen kamu pria kan?". Dia melanjutkan bicara dan menatap gw meminta jawaban.


"Ya pria lah Put, kamu juga kenal sama mereka kok. Kamu ingat kan temen aku yang aku bawa kesini pertama kali dan kamu yang rawat?".


Putri tampak mengingat dan berfikir dan dia langsung tersenyum. "Teman kamu yang ngompol itu ya?".


"Iya namanya Reza itu, tapi nanti kamu jangan bahas soal ngompol ya? kumat gila nanti dia".


"Hehehe, enggak lah pasti kamu kan yang sering ejek dia soal kejadian itu?".


"Enggak sering-sering amat sih Put, cuma kadang-kadang aja saat dia rewel dan enggak mau nurut aku bakalan ungkit hal itu".


"Jail juga kamu ternyata Bim, kalau temen kamu yang satunya, namanya siapa?".


Yang satunya lagi namanya Udin. Yang temani Reza saat di opname disini".


"Oh iya aku ingat, aku pernah ngobrol sama 2 teman kamu itu saat di opname disini".


"Iya mereka juga cerita kamu ngobrol dan nanyain tentang aku kan?".


"Ember banget mereka padahal udah aku suruh tutup mulut". Putri cemberut


"Kan mereka temen aku mana nurut mereka sama kamu".


"Tok..tok..tok..!".


Belum juga Putri menjawab suara ketukan pintu terdengar lagi.


"Itu teman kamu ya Bim?".


"Kelihatannya bukan deh Put, kalau itu mereka pasti langsung nyelonong masuk enggak pakai ngetuk pintu segala".


Tanpa mengetuk lagi, pintu itu langsung dibuka dari luar. Dan munculah lagi orang yang telah sulut sumbu emosi gw tadi pagi yaitu dokter Arjuna dengan pakaian casualnya.


"Dokter Putri disini lagi? saya cariin di rumah dokter kok enggak ada". Dia langsung bicara dan berjalan ke arah gw yang masih berbaring dan senderan.


"Dokter Arjuna kok tau saya disini dan ada apa kok sampai datang ke rumah saya". Putri beranjak berdiri dari yang semula duduk menyamping di ranjang gw.


"Iya tadi saya diberi tahu oleh asisten rumah tangga dokter saat saya berkujung bahwa anda kembali ke Rumah sakit".


"Saya ingin mengajak dokter cari udara segar mumpung kita sama-sama libur kerja, tapi dokter malah disini". Dia melihat Putri dengan mata berbinar dan kagak kedip karena penampilan Putri yang menawan memakai dress putihnya.


"Bukannya dokter terlalu berlebihan memerlakukan teman anda ini, anda sudah menjadi walinya dan membayar semua biayanya, dokter tidak perlu menemaninya lagi, saya kira jasa dia soal penyanderan tempo hari sudah lunas terbayarkan". Dia masih saja nerocos berbicara.


"Tolong dokter Arjuna jangan berspekulasi yang Bukan-bukan, saya hanya menjadi walinya saja karena dia sendirian disini dan jauh dari orang tua, soal biaya operasi dan kamar ini, semua sudah dibayar sama teman saya sendiri". Dengan tegas tapi halus Putri berbicara dan ngebelain gw.


Gw masih dengan posisi senderan melihat dengan santai adegan drama di depan gw ini.


"Dokter tidak perlu membelanya, dari mana fakir miskin bisa dapat uang untuk bayar rumah sakit terbaik di kota ini".


"Lebih baik dokter Putri segera sadar mungkin anda di guna-guna sama ini orang".


"Emang gw dukun bisa guna-guna". Gw berguman pelan sambil melepas infus yang nempel di tangan gw.


"Apa kamu bilang? sejak awal saya sudah tau pemuda seperti apa kamu ini".


"Kamu dekati dokter Putri hanya untuk uang kan? saya sudah tau modus pemuda bau kencur seperti kamu yang mau menaikkan drajat hidup rendahan itu dengan cara mendekati wanita kaya!".


"Betul sekali dugaan lu, gw pengen banget morotin uang Putri. Itung-itung untuk investasi masa depan biar gw kagak makan nasi kotak mulu tiap hari".


"Dasar manusia menjijikan dan hina! dokter Putri dengar sendiri kan dia sudah mengakui semuanya".


"Pemuda lusuh ini begitu urakan dan sangat tidak sopan". Dia kembali bicara dan menghasut Putri yang masih terdiam tapi tampak geram.


"Dokter Arjuna cukup!!". suara Putri meninggi dan wajahnya tampak geram.


"Bimo tidak seperti yang anda fikirkan dia tidak akan pernah kekurangan uang. Anda jangan memfitnah teman saya, saya datang kesini dengan sukarela dan kemauan diri saya sendiri tidak ada paksaan dari pihak manapun".


"Bicara kamu seperti menjadi saksi di pengadilan Put?". Gw tersenyum mendengar Putri bicara.


Putri melihat gw dengan bibir yang menahan senyum saat gw mengomentari bicara dia, tapi kembali berwajah dingin saat melihat pria bernama Arjuna yang berdiri di depannya.


"Ayah anda yang direktur Rumah Sakit ini pasti akan marah jika saya melaporkan kejadian ini".


"Dokter Arjuna mengancam saya?!". Putri tampak tidak takut


setelah infus sudah gw lepas sekarang gw bangun dan duduk di pinggir kasur Putri dan Arjuna melihat itu.


"Kamu mau kemana Bim? biar aku antar ya?". Putri bertanya lembut.


"Enggak kemana-kemana kok cuma pengen duduk aja capek senderan terus".


"Dokter Putri dengar saya atau tidak?! saya akan melaporkan anda ke Ayah anda jika masih disini!". Pria di depan gw ini mulai emosi dengan nada bicara yang mulai meninggi.


"Laporkan saja, saya tidak takut!". Putri menantang.


"Anda tau kan Direktur sangat percaya sama saya, beliau juga sudah memutuskan untuk menjodohkan saya dengan anda, dan sebaiknya anda menuruti dan setuju dengan perjodohan ini".


"Dokter Arjuna tolong berhenti mengungkit hal itu lagi, saya sudah menolak usulan itu sejak lama. Maaf saya hanya menganggap anda rekan seprofesi saja".


Putri bicara pelan sekali tapi saat gw liat wajah itu pria, suara ucapan penolakan putri mungkin bagai petir di siang bolong yang menyerang indra pendengarannya.


"Saya tetap akan setuju dengan usulan direktur walaupun anda menolak". Keras kepala banget ini orang, udah di mabok cinta kek nya dia sama Putri.


"Ehemmm!! Tolong kalian keluar gw risih dengar drama kalian yang kagak tamat-tamat!". Nada bicara gw udah balik normal seperti biasa.


"Bimo ini tidak seperti yang kamu fikirkan, aku enggak ada hubungan apa-apa sama dia". Putri langsung bicara menjelaskan.


Gw cuma diam mendengar Putri berbicara, pandangan gw fokus ke orang yang sedang menatap gw dengan tajam.


"Bimo kamu percaya kan sama aku?". Putri duduk di ranjang dan memegang lengan gw.


Sampai segitunya ini cewe untuk buat gw percaya, padahal hubungan kita kan masih dalam tahap perkenalan.


Sialan emang kenapa gw beruntung banget sih kalau soal betina gini. Padahal kan kagak ada istimewa-istimewanya gw ini.


"Iya aku percaya kok sama kamu Put". Gw tersenyum lembut dan membelai bahunya.


"Infusnya kok kamu lepas Bim?". Putri melihat dan memegang tangan gw.


"Heii burik, lepasin tangan kotor kamu dari dokter Putri, berani-berani nya kamu pegang calon istri saya". Pria itu kembali bicara dan melotot melihat gw.


"Dokter kelam1n! lu kagak liat calon istri lu yanh pegang tangan gw?".


"Bimo aku bukan calon istri dia".


Putri tampak terkejut dan kesal mendengar bacotan gw dan pria itu semakin geram mendengar nya.


"Dasar sampah! saya tidak peduli kamu pahlawan di Rumah Sakit ini, jika saya tidak tendang kamu keluar dari sini jangan panggil saya Arjuna!".


Gw berdiri dan saat Putri juga akan ikut, gw tahan bahu dia untuk tetap duduk di ranjang.


"Iya nanti gw kagak bakal panggil lu Arjuna lagi, tapi bakal gw panggil tai! gimana bagus kan nama yang gw buatkan orang bermuka pantat kek lu!".


Jika Son GoKu di anime Dragonball Z akan mengaktifkan mode Super Seiya saat akan bertempur, Gw disini juga seperti itu.


Mode yang belum pernah gw keluarkan selama gelut di kota ini dan sekarang mode yang bernama Belalang tempur basis 69 ini telah gw aktifkan lagi.


Dan sekarang hanya ada 2 kemungkinan dia atau gw yang akan masuk meja operasi.