Preman Campus

Preman Campus
JUJUR


"Jon ngapain loe liatin gua Mulu? Gua tau gua terlihat tampan jika malam hari kek gini tapi ya loe musti taulah sekarang musti ngapain? masih banyak hal yang harus loe lakukan". Gua bicara dan menepuk punggung Jono memberi semangat.


"Memang gua musti ngapain Bim?". Si kampret menjawab dengan sinis.


"Hehe.. Malah ngelawak adik Jono ini ya tugas loe sekarang bawa hasil karya loe itu ke bengkel lah dan kasih angin". Gua menunjuk motor matic janda yang dari tadi menatap gua dengan penuh cinta.


"Bimo!". Bukannya Jono yang ngejawab malah Suci yang memanggil nama gua dengan suara yang gemas, tatapan cintanya berubah menjadi tatapan ingin menganiaya gua.


"Iya Bimo disini kenapa?". Jawab gua sehalus dan seramah mungkin karena suasana hati gua sedang baik senyum pun selalu gua cetak di bibir ini.


"Apa yang tadi kamu bilang? hasil karya? Jono apa kamu yang buat ban motor aku jadi bocor begini? Setelah aku liat-liat emang tidak wajar, masak bocor langsung dua-duanya". Suci beralih menatap Jono tajam


"Jon ngaku aja deh loe, Emang ya kalau mau nge prank suka kelewatan.. temen sendiri loe kerjain, emang gak ada otak". Gua beralih berjalan ke samping Suci.


"Benar Jon kamu yang lakuin ini? Tega ya kamu sama aku?".


"Bemo! emang kadal loe ya..!! Ci emang aku yang buat ban motor kamu seperti itu tapi itu semua karena perintah dari kadal sebelah kamu itu".


"Bemo! Jangan fitnah gua loe sialan! enak banget loe korbankan gua, otak dari semua ini kan elo!". Jono langsung bicara dengan lantang dan menggebu.


"Hahaha.. imut loe Jon kalau lagi marah kek gitu".


"Mbak?". Gua beralih melihat Suci di samping gua yang udah melotot manja, "Semua ini rencana aku buat nahan kamu di sini, toh kamu juga enggak pengen cepat-cepat balik kan? Terlihat dari tadi ekspresi kamu seperti tidak mau jauh dari aku, benar begitu kan? Apa aku salah dan cuma ke gr an aja?". Gua berucap memandang Suci sambil memiringkan kepala agar rada keren an dikit.


"Dasar kamu ya, ichhhhh.." Suci tampak semakin gemas dan selanjutnya tubuh gua langsung dihujani dengan cubitan manja dari jari-jari lentiknya.


"Ehem!". Jono berdehem pelan, "Pasangan gelo kagak tau kalian ini masih di halaman dan pinggir jalan?". Jono mengingatkan.


Suci langsung sadar dan tampak malu dia.


"Thanks Jon udah loe ingetin, emang udah cocok loe jadi satpam gua". Gua acungkan 1 jempol ke Jono.


"Udah kalian berdua ngobrol di dalam aja sono biar aku yang bawa motor ini ke bengkel, tinggal isi angin doang". Jono mulai meraih dan memegang motor di depannya dan mulai mendorongnya menuju jalan.


"Jon tunggu Jon?!". Gua memanggil si kampret saat dia belum terlalu jauh.


Sayang kamu tunggu di dalam dulu, Jono sepertinya lupa bawa uang itu". Sebelum mendengar jawaban Suci gua langsung beranjak ngejar Jono


"Apalagi si Bimo! Loe mau minta apa lagi dari gua?". Jono langsung aja menebak dan tebakannya langsung benar juga.


"Hehe, tau aja loe Jon kalau gua mau minta sesuatu.. Simpel kok loe jangan cepat-cepat balik ya? Kasih gua waktu sekitar 2 jam an". Gua bicara sedikit berbisik dan menunjukan 2 jari di depan muka Jono.


"Dasar maniak!! Awas aja kalau kamar gua ada bercak-bercak anehnya". Jono mengancam, "Udah sono pergi, waktu loe cuma 2 jam". Tanpa menunggu jawaban dari gua, Jono langsung dorong motor lagi sambil mulutnya yang terus ngeluarin sumpah serapah.


Gua kembali berjalan ke arah halaman rumah dan ternyata Suci masih ada di luar saja kek pecun yang lagi mangkal nunggu pelanggan datang dan nawar.


"Suit-suit, sendirian aja neng? Berapaan ini?". tentu saja gua yang nawar.


"Bimo bicara dijaga dong, disini rumah tetangga pada berdekatan dan bisa dengar apa yang kamu katakan". Suci tampak dewasa banget menasehati gua bukannya membuka harga.


"Iya sorry, yok kita ngobrol di dalam Aja". Gua meraih tangan Suci tapi langsung dia tahan.


"Ada apa lagi sayang?". Gua bertanya lembut.


"Bohong soal?". Gua masih tenang dan santai menjawab.


"Tadi kata kamu Jono enggak bawa uang kok aku enggak liat kamu kasih dia uang dan malah ngobrol, apa yang kalian obrolkan? Atau mungkin apa yang kalian rencanakan?".


"Hehe, ya ampun pacar aku sudah semakin pinter ya?". gua cubit pelan pipi mulus Suci.


"Sakit Bimo, jangan mengalihkan pembicaraan deh.. Ayo jujur apa yang kalian rencanakan?".


"Serius kamu pengen tau?". Gua tersenyum kecil melihat Suci yang tampak penasaran.


"Iya cepat bilang awas ya kalau kamu bohong".


"Kita enggak rencanakan apa-apa kok sayang cuma aku minta Jono untuk jangan cepat-cepat balik saja karena aku mau berdua sama kamu dan Jono setuju dan beri kita waktu 2 jam, gimana? Kita mulai sekarang?". Dengan nada suara genit gua bicara, melihat kiri kanan sepi dan langsung dengan cepat gua cubit bokong sintal janda gua.


"Accchhhh..!". Suci menggelinjang terkejut, wajahnya seketika merona merah tersipu, Tanpa berani memandang gua doi langsung lari gitu saja masuk ke dalam rumah.


"Hehe, buruan gua lagi ngajak main kejar-kejaran.. kek film India aja, apa gua kejar sambil nyanyi aja ini". Gua bergumam pelan dan berjalan mengendus jejak mangsa.


"Kok malah duduk disini sayang?". Gua melihat Suci yang malah duduk di ruang tamu bukannya kabur ke kamar Jono.


"Setttt! jangan keras-keras Bimo nanti Tante, Mila dan Mika dengar". Suci bicara pelan dan menaruh jari telunjuknya di hidung.


Gua mengangguk saja dan duduk di samping dia, "Kenapa malu-malu sih sayang? seperti sama siapa saja kamu".


"Siapa yang malu? kamu itu yang nakal". Suci tampak salah tingkah saat bicara karena dia semakin gua pepet.


"Sayang kamu Cinta kan sama aku?". Gua langsung to the point aja untuk mencari celah.


"Kok kamu tanya gitu Bim? Kamu ragu ya? Bukannya aku yang seharusnya tanya seperti itu ke kamu?".


"Cinta! Aku cinta kamu". Tanpa menunggu lama gua langsung tegas bicara yang membuat Suci langsung terpaku tapi terlihat dia samar tersenyum, senyum bahagia sepertinya mendengar pengakuan gua.


"Aku juga cinta sama kamu Bimo, kamu orangnya menarik dan selalu membuat aku penasan sejak pertama kali bertemu". Dengan serius pula Suci menanggapi dan menjawab pengakuan gua.


"Terima kasih sayang, semoga cinta kita akan selalu tumbuh menjadi lebih kuat untuk kedepannya". Gua bicara meraih dan mengelus tangan calon mangsa.


"Iya semoga kita bisa menghadapi semua hal dan masalah yang akan datang bersama-sama, aku percaya sama kamu sayang".


Untuk pertama kalinya Suci panggil gua sayang dan dia langsung tampak tersipu lagi segera gua alihkan elusan gua dari tangan ke pipinya, "Aku suka dengan panggilan itu". Seperti seorang bajingan terlatih semua jurus yang gua tau gua kerahkan semua agar mangsa terlena dan luluh.


Suci tampak nyaman mendapat perhatian dan perlakuan lembut dari gua.


"Sayang?".


"Iya?".


"Maaf sebelumnya, aku mau jujur tentang suatu hal ke kamu". Detik-detik menegangkan.


"Jujur tentang apa?". Suci tampak serius menatap gua.


"Jujur tentang diri aku, sebenarnya aku itu masih perjaka.. Apakah sayang mau menerima dan mengambil itu, aku nyakin dan akan sangat bahagia jika memberikan perjaka aku ke kamu". dengan suara menyakinkan dan ekspresi sendu melankolis gua bicara dengan kata-taka penuh akan kebohongan tingkat tinggi.