
Awalnya jika kagak ada Bianca disini, rencana gw adalah langsung ganti rugi motor Luzy yang dirusak Amora tapi rencana itu melenceng jauh hingga merembet kemana-mana seperti api yang disiram bensin.
Itu semua terjadi karena kehadiran Bianca yang tiba-tiba yang memaksa gw untuk menggunakan jurus pamungkas dari silsilah keluarga untuk mencairkan suasana dan menekan Luzy agar kagak ngebongkar rahasia gw.
"Emm.. Iya beruntung kamu dapat pacar yang hebat dan baik". Terlihat sangat terpaksa itu Luzy menjawab Bianca, mungkin dia sadar dan tau resiko jika ngebongkar rahasia gw.
"Tidak seberuntung itu juga, mungkin sudah takdir". Amora tersenyum kecil memandang gw, "Dulu aku itu benci banget tauk sama ini anak". Bianca menyenggo lengan gw pelan.
"Benci?". Luzy berguman pelan dan tampak binggung.
"Udah Bie enggak usah ngegosip dan bicara macam-macam". Gw buru-buru menghentikan Bianca sebelum dia bercerita lebih jauh lagi.
"Aku kan mau puji kamu Bimo, bukan nge gosip". Bianca mengelak.
"Aku enggak haus pujian! Lagian teman kamu ini kan lagi sibuk? gak baik kalau kita ganggu". Gw mencoba mengalihkan perhatian.
Oh iya! Bim kamu tau gak?". Bianca terlihat mengingat sesuatu secara tiba-tiba.
"Aku enggak tau Bie". Jawab gw cepat karena merasakan sinyal bahaya yang terkandung dalam itu pertanyaan.
"Ihh.. Bimo kan aku belum nanya? Kok udah jawab enggak tau". Bianca langsung cemberut masam.
"Kamu mau tanya apa emang? capek ini aku baru pulang nobar". Gw beralasan.
"Nobar? Jadi ini kamu baru pulang nobar? sama siapa?". Bianca langsung tampak curiga.
"Siapa lagi kalau bukan sama 2 orang bego Reza dan Udin kan temen aku cuma mereka berdua". Gw dengan nekad ngibulin Bianca di depan Luzy dan teman mekaniknya, gw ingin liat dan ngetes berani kagak mereka mengungkapkan fakta tentang gw.
Luzy terlihat hanya diam saja dan mengalihkan pandangannya mungkin mulutnya saat ini ingin bicara tapi lidahnya kaku karena ditahan sama otak dan fikiran rasional tentang sebab akibat jika dia berbicara.
"Uhukkk-uhukkk!". Mekanik pria disebelah Luzy langsung terbatuk entah dia sengaja atau kagak yang pasti gw kagak seneng dengernya.
"Batuk mas? Biar reda digaruk aja tenggorokannya, mau saya bantuin garuk gak?!". Gw menatap dia tajam penuh intimidasi.
"Ehemm, enggak kok cuma sedikit flu saja saya.. Maaf". Dia langsung menjawab terbata.
"Bimo apa sih kok gitu kamu, temannya Luzy dia". Bianca menyela.
"Kan aku bermaksud baik Bie". Gw tersenyum bodoh.
"Apanya yang bermaksud baik, mau main garuk tenggorokan orang saja kamu ini".
"Hehehe, iya-iya cuma bercanda aku.. Sorry ya mas cuma canda gw". Gw menekan kata-kata saat berbicara kepada teman Luzy.
"Enggak kok, enggak.. Santai aja, saya yang salah karena penyakit batuk saya kambuh di waktu yang tidak tepat". Dia menjawab aneh dengan senyum yang dipaksakan.
"Tu kan dia takut sama kamu, maaf ya Luz cowo aku emang kadang enggak bisa ngontrol ucapan dan sangat blak-blak an". Sekarang giliran Bianca yang minta maaf sama Luzy, mungkin dia merasa enggak enak saat mekanik itu tampak ketakutan.
"Iya gak apa-apa, udah enggak terkejut lagi aku kok". Luzy buru-buru menjawab dan sekilas memandang gw.
"Enggak terkejut? kamu udah tau kalau cowo aku blak-blak an orangnya? Kalian udah saling kenal ya sebelumnya?". Bianca bertanya datar, tapi bagi gw itu terdengar seperti sambaran petir di siang bolong.
Luzy untuk 2 detik juga terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari Bianca.
"enggak lah, hehe.. Mana mungkin aku kenal sama cowo kamu, maksud aku enggak terkejut karena udah terbiasa dengan teman-teman di sirkuit yang sering bicara blak-blak an". Luzy buru-buru menjawab dengan raut wajahnya yang tegang.
"Oh gitu, aku kira kalian udah saling kenal lebih awal". Amora mengangguk paham.
"Oya Bim, Luzy ini pembalap lho.. Keren kan dia". Bianca mengalihkan pandangannya ke gw lagi.
"Serius?". Gw acting terkejut, pokoknya pagi ini skill acting gw keluar terus untuk menghindari bencana.
"Iya serius itu motornya, tapi sekarang rusak". Amora menunjuk motor di depan, "Tadi itu aku mau tanya kamu kenal gak sama pasangan gila yang merusak motor Luzy? Dari yang Luzy katakan mereka juga ngekost disini".
"Pasangan Gila?". Gw langsung menatap Luzy dan mekanik pria bergantian yang membuat mereka berdua menunduk layu seketika.
Bianca sayang pasangan gila yang kamu tanyakan itu cowo kamu sendiri sama cewenya yang lain selain kamu. Gw bicara dalam hati mengakui.
Luzy terdiam untuk sesaat memandang Amora dan gw bergantian dengan raut wajah bingung.
"Luz bicara saja, Bimo baik kok orangnya dan jago berantem jika pasangan gila itu balik bila mereka enggak mau tanggung jawab biar dikasih pelajaran mereka sama cowo aku". Bianca menyakinkan Luzy untuk bicara.
Bie udah dong sayang, siapa yang kamu minta kasih pelajaran? Masak aku mukulin diri sendiri. Lagi-lagi gw hanya bisa berbicara dalam diam, memandang Bianca yang enggak tau apa-apa.. Sedikit lucu tapi jika gw ketawa bakalan abis gw disini jadi sebisa mungkin menahan.
"Bimo kamu mau kan bantu Luzy? Kenal kan kamu sama pasangan gila itu?". Tidak dapat jawaban dari Luzy Bianca balik tanya sama gw.
"Kalau bantu sih aku bisa-bisa aja Bie, tapi jika kamu tanya kenal apa enggak. Sorry enggak kenal aku". Jawab gw pelan.
"Mereka kan satu kost sama kamu? Masak gak kenal?".
"Emang kamu liat cowo kamu ini tipe orang yang mudah bergaul? Sejak ngekost disini aku enggak kenal satu penghuni pun disini". Segala alasan yang ada di otak gw ucapkan semua.
"Kalau gitu gimana dong sekarang Luzy? Kasian dia?". Bianca tampak sedih.
"Gini aja deh, biar aku hubungi pemilik kost biar dia kasih tau nama dari pasangan romantis itu gimana?".
"Pasangan gila Bimo! apanya yang pasangan romantis, bercanda kamu enggak lucu deh". Bianca menegur.
"Aku salah ngomong lagi ya? Hahaha, iya-iya sorry". Gw ketawa bego.
"Ya udah cepat hubungi pemilik kostnya biar datang kesini".
"Temen kamu aja diam dari tadi Bie, malah kamu yang bersemangat dan heboh sendiri.. Iya aku hubungi ini tapi aku lapar dari malam belum makan, melilit banget ini perut aku". Gw memegangi perut dan menampilkan wajah melas di depan Bianca.
"Emang kebiasaan kamu ini, buat apa punya banyak uang tapi jika pola makan kamu sendiri enggak kamu jaga.. kamu mau makan apa biar aku belikan?". Walau sedikit bernada kesal Bianca masih sayang dan full perhatiannya sama gw.
"Hehe, aku mau nasi padang Bie asli padang ya". Jawab gw cepat tanpa berfikir.
"Maksudnya? Kamu suruh aku ke Padang gitu sekarang untuk belikan kamu nasi?". Bianca membulatkan matanya.
"Maksud aku nasi padang di rumah makan padang Bianca sayang, cowo kamu ini kalau lagi laper emang bisa jadi goblok tiba-tiba".
"Ya udah aku akan keluar carikan kamu nasi pandang tapi kamu harus janji bantu Luzy dan hubungi itu pemilik kost kamu".
"Iya tenang saja, teman kamu kan teman aku juga". Gw tersenyum lembut dan mengusap pipi Bianca yang membuat dia langsung tersipu malu.
"Apa sih". Bianca merona dan melepaskan tangan gw di pipinya, mungkin dia malu dilihatin sama Luzy dan mekanik pria.
"Luzy aku pergi dulu ya, biar cowo aku bantu kamu.. Jika dia bohong bilang aja nanti sama aku, biar aku kasih pelajaran".
"Iya Bianca terima kasih". Luzy menjawab lembut dan tersenyum kecil, acting Luzy tampaknya semakin membaik.
Bianca keluar menyebrang jalan dan masuk ke dalam mobil yang dia parkir disana.
Gw iringi dengan senyum saat Mobil Bianca mulai melaju pergi, mencari nasi padang buat gw.
Rencana gw untuk mengusir dan menjauhkan Bianca untuk sesaat akhirnya berhasil dan saat ini gw hanya bisa berdoa agar semua Rumah makan Padang di Jogja ini pada tutup.
"Aahhhhh, Akhirnya!". Gw berguman pelan, melepas tas di punggung dan langsung jatuh di tanah.
Gw berjalan gontai ke bale-bale dan langsung rebahan terlentang, ngademin otak yang udah panas dan tegang mulu dari tadi.
"Hei kamu?". Suara Luzy terdengar memanggil, dia memang berdiri tidak jauh dari gw yang rebahan.
"Tunggu jangan bicara dulu lu! Biarkan gw ngademin otak bentar". Gw menjawab tanpa melihat Luzy.
"Kenapa memang otak kamu? panas karena kebayakan berbohong ya?". Luzy menyindir pelan.