Preman Campus

Preman Campus
MENUJU KAMAR BIANCA


"Bimo tidak sakit ketua". Rio buru-buru menjelaskan.


"Alhamdulillah". Nissa mengehela nafas tenang setelah mendengar itu.


"Terus kalau tidak sakit kenapa dia tidak masuk ke kuliah?". Nissa bertanya lagi.


"Saya kurang tau mungkin Reza dan Udin lebih tau detailnya". Rio memandang 2 teman barunya.


Nissa pun mengalihkan perhatiannya memandang Reza dan Udin yang awalnya banyak bicara tapi entah kenapa sekarang mereka jadi pendiam.


"Bimo ada urusan di Blora dan tidak kuliah untuk beberapa hari". Jawab Udin pelan dan mencoba tenang.


"Ke Blora? Blora jawa tengah?". Nissa sedikit terkejut.


"Iya ketua". Sekarang Reza yang menjawab pelan dan irit banget.


"Kalau boleh tau kapan ya dia balik ke Jogja".


"Kita juga kurang tau, dia enggak bilang soalnya". Udin menjawab dan berharap Nissa enggak bertanya lagi dan cepat pergi dari sini.


Nissa mengangguk mengerti dan sekilas wajah cantiknya menampakkan kesedian dan kerinduan.


"Boleh gak aku minta no Hp atau no WA nya Bimo?". Nissa bertanya malu-malu.


Reza dan Udin langsung saling beradu pandang dan saling berbicara melalui kedua mata mereka.


"Maaf ketua bukannya kami tidak mau kasih tapi kami takut Bimo marah".


"Iya ta kita takut sama dia, suasana hati Bimo tidak bisa ditebak soalnya".


Reza dan Udin menjawab bergantian yang langsung membuat Nissa sedikit kecewa untuk sesaat.


"Baik kalau seperti itu tidak apa-apa, saya enggak akan memaksa kalian.. Oya jika memungkinkan kalian boleh ajak Bimo ke acara tahun baru kita nanti".


"Akan kami usahan ketua tapi ta kita tidak bisa berjanji". Reza menjawab pelan.


"Terima kasih kalau seperti itu, saya berharap sama kalian". Nissa malu-malu menjawab.


"Baik saya tidak akan mengganggu kalian lagi, saya permisi dulu.. Assallamualaikum". Nissa mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam". Jawab mereka bertiga serempak dengan ekpresi wajah datar terutama Reza dan Udin.


Nissa berbalik badan dan langsung berjalan keluar pintu dengan cepat.


"Dek Za?". Mata Udin tajam menatap pintu yang tertutup dan memanggil Reza.


"Iya kak Din, silahkan berbicara". Mata Reza tidak kalah tajamnya menatap pintu.


"Air yang diberikan sama ketua Rohis loe itu apa hanya kedok belaka dan ingin menyuap kita?".


"Diriku rasa juga seperti itu kak Din, ketua kita kesini dan pura-pura perhatian sama ta kita hanya untuk bertanya tentang Bimo".


"Enggak gua sangka dibalik wajah cantik dan polos tanpa dosa ketus rohis loe itu bisa menyimpan teknik jurus udang dibalik rempeyek gitu Za". Udin mencibir.


"Tul betul itu kak Din, diriku juga tidak menyangka wanita yang sangat tertutup itu bisa dengan langsung dan terang-terangan bertanya tentang seorang manusia yang Bernama Bimo".


"Dek Za?"


"Iya kak Din, mari kita keluarkan amarah ta kita".


"Loe tau gak apa yang gua rasakan sekarang? Gw merasa seperti abis minum miras mahal tapi di akhir cuma bisa minum air kobokan".


"Sama kak Din, diriku kira tadi Nissa suapi ta kita makanan mewah ehhh ternyata ada racun di dalamnya".


Rio yang bingung mundur 1 langkah melihat dan mendengar Reza dan Udin ngobrol tanpa kedip dan memandang tajam pintu.


"Reza, Udin kalian enggak apa-apa kan?". Takut-takut Rio bertanya pelan.


"Ri loe di jalan di depan dan tunjukan Pria bernama Andi yang ngebully loe itu". Udin berpaling dan memandang Rio tajam.


"i.. i.. Iya baik". Rio terbata menjawab dan langsung melangkah ke depan keluar pintu yang langsung di ikuti Reza dan Udin dari belakang dengan tangan keduanya yang mengepal keras.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Uhukkk-uhukkkk!".


"Uhukkk-Uhukkkk!".


Gw tiba-tiba terbatuk saat mobil Bianca memasuki gerbang Rumahnya dan menuju garasi.


"Tu kan sayang, kamu benar-benar masuk angin dan terkena flu itu". Bianca mematikan mesin mobil dan langsung menghadap gw.


Telapak tangan mulus Bianca terangkat dan nempel di kening gw. "Untung saja cuma masuk angin dan flu, enggak panas dan demam kamu". Bianca tampak lega setelah memeriksa suhu tubuh gw.


"Bie kamu tadi dengar gak? Sepertinya aku dengar ada suara yang mengumpati aku, aku terbatuk karena terkejut itu tadi". Gw bertanya sama Bianca, sejak bersin tadi perasaan gw kagak enak mulu.


"Suara apa sih sayang? Ngaco kamu, kita kan ada di dalam mobil.. Ayo turun biar aku bisa langsung kerokin kamu".


"Tunggu Bie tunggu!". Gw memegang lengan Bianca saat dia akan membuka pintu mobil.


"Kenapa lagi sih sayang, jangan bilang kamu berubah fikiran lagi?".


"Enggak kok, aku mau kamu kerokin tapi aku kawatir gimana jika Joko tau aku masuk kamar kamu, aku musti bilang apa nanti".


"Coba kamu liat itu keluar, mobil kakak enggak ada jadi kamu tenang saja.. Kakak lagi keluar sepertinya". Bianca menjawab tenang.


"Kalau nanti dia tiba-tiba balik gimana?". Gw masih sedikit kawatir.


"Kakak kalau keluar biasanya pulang itu sore sayang.. Udah jangan terlalu kawatir, ayo turun dulu dan masuk". Bianca membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu.


Gw akan percaya saja dengan kata-kata Bianca dan ikut keluar dari mobil.


Kami berdua keluar garasi dan berjalan menuju pintu utama.


Langkah kami terhenti saat melihat seorang pemuda berbaju hitam lari menghampiri dari arah gerbang depan.


"Non Bianca, mas Bimo.. Apa berangkat sekarang?". Pria di depan kami bertanya dengan sopan.


"Siapa Bie?". Gw yang kagak tau bertanya ke Bianca.


"Ini Joni orang yang akan mengantar kamu ke Blora". Bianca memberitau.


"Oh seperti itu, sorry bang salam kenal dan mohon bantuannya saya Bimo". Gw memperkenalkan diri.


"Mas Bimo jangan terlalu sopan, saya sudah tau kok tentang mas Bimo kebelulan saya juga hadir saat penyerangan Apolon ke Rumah Judi dulu dan saya mendengar tentang mas Bimo dari bang Anton".


Kami bersalaman dan gw rada canggung sendiri mendengar itu.


"Jadi kita berangkat sekarang mas?". Joni bertanya kembali memandang gw.


"Bisa tunggu sebentar gak, mau ngobrol sebentar sama Bianca ini". Gw berasalan.


"Oh iya mas, siap! Saya tunggu di depan kalau gitu.. Di pos dekat gerbang, nanti jika mas Bimo sudah siap bisa cepat memberitau saya, saya permisi dulu".


Gw tersenyum dan mengangguk pelan dan Joni langsung berbalik badan melangkah pergi.


"Sayang kita mau ngobrol apa? Bukanya kerokan ya?". Dengan tatapan lugunya Bianca bicara.


"Masak iya aku bilang dan suruh Roy nunggu saat aku dikerokin kamu Bie, bisa salah paham entar dia.. Dan ujung-ujungnya malah jadi gosip".


"Hehehe.. bener juga ya? Ya udah ayuk kita masuk". Bianca tanpa kawatir dilihat orang langsung menggandeng tangan gw dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


Gw hanya Bisa pasrah saat ini berjalan menaiki tangga menuju kamar Bianca di lantai 2.


Semoga kagak ada setan dan sejenisnya lewat, gw kagak tau apa yang akan terjadi jika nanti tiba-tiba gw khilaf.