
"Berhubung kamu udah liat, enggak mau kenalan dulu kamu Bie sama dia? Biar lebih akrab gitu". Gw sedikit bercanda dan menggoda Bianca
"Kyaaahh!! Bimo mesum!". Masih dengan menutupi kedua matanya dia berbalik badan.
Sialnya mata gw langsung di suguhi 2 bongkahan pinggul yang terlihat begitu sintal dan kecang. Semakin sesak aja ini celana gw ngeliat itu.
"Bie, cowo kamu ini normal tau! Mana mungkin kagak bereaksi saat liat cewenya cuma pakai kostum kek gitu, ini kan salah kamu juga. Apa mungkin kamu sengaja itu?".
Bianca kembali berbalik badan cepat. "Mana mungkin aku sengaja. Cewe kamu ini kan masih polos Bim, kamu aja yang suka traveling fikirannya".
"Bie, imanku ini kagak sekuat yang kamu fikirkan tau. Ganti baju dulu sana aku tunggu disini".
"Tapi kan aku udah biasa pakai seperti ini kalau di rumah". Bianca mencoba memprotes
"Ya sekarang jangan biasakan lah, di rumah ini banyak laki-laki walaupun mereka anak buah kakak kamu kan tetep aja cowo normal, gak rela aku tubuh indah kamu di lihat gratis kek gitu".
"Bimo, kamu cemburu ya?". Bianca tersenyum menunjuk gw.
"Siapa yang cemburu!". Gw segera menyangkal
"Hayoo ngaku aja, kamu cemburu kan?". Bianca kembali duduk di ranjang dan mendorong-dorong gw pelan.
"Aku enggak cemburu, kan tadi aku bilang gak mau tubuh kamu di lihat secara gratis, kalau mereka beli tiket ke aku dulu ya boleh".
"Bimoo!". Bianca berteriak, dorongan kecil dan lembut tadi menjadi kuat dan brutal.
"Duuukk!". suara kepala belakang gw membentur bagian atas ranjang Bianca yang terbuat dari kayu asli.
"Aaaaaa!! Bundaaa!!". Gw langsung teriak kesakitan dan berguling-guling di ranjang Bianca.
"Bimo maaf-maaf, kamu enggak apa-apa kan?!" Bianca bicara dan menyentuh punggung gw.
Gw kagak ngejawab masih aja tengkurap sambil memegangi kepala belakang.
"Bim kamu enggak apa-apa kan? Maaf".
Gw berbalik badan dan ngeliat muka Bianca dengan masam, keknya mau ngebunuh gw ini betina. Gw mengumpat dalam hati
"Bimo kok liatin aku gitu? Kamu benar-benar marah ya?".
"Menurut kamu?!".
"Bimo maaf, aku enggak sengaja". Bianca berucap dengan Raut wajah penyesalan.
"Kamu dengar sendiri kan tadi suaranya Bie, untung aja kepala aku dilapisi tulang dan kulit, kalau terbuat dari kaca udah ambyar pasti ini".
"Seperti lagu ya Bim, ambyar".
"Aku enggak lagi bercanda Bie!".
"Iya-iya, Bimoo udah dong marah ya. Aku minta maaf". Bianca merengek kek anak kecil sambil goyang-goyang badan gw yang masih terlentang di atas ranjang.
"Tadi kamu tendang senjata aku sekarang kamu hantamkan kepala ini ke kayu, jadi penasaran nanti bakalan kamu apain lagi tubuh ini Bie". Gw menyindir
"Bimo o o.. jangan marah, Bie minta maaf". Bianca berganti jurus, sekarang minta maaf dengan menampilkan wajah gemesinnya.
Sialan luluh juga ini gw, liat itu pipi Bianca yang mengembung kek gitu.
"Bimo kamu senyum liat aku, berarti udah gak marah kan?". Bie tampak bersemangat.
"Iya mana bisa aku marah lama-lama kalau wajah kamu gemesin kek gitu".
"Makasih sayang, aku janji enggak akan sakiti kamu lagi".
"Kagak usah pakai janji segala, sekarang jadilah cewe yang baik hati dan bantu cowonya bangun". Gw merentangkan 1 tangan ke depan.
"Siap bos!". Biaca tersenyum lebar dan meraih tangan gw.
"Kyaaahh". Dukk!!". Teriakan manja bianca saat gw tarik dia kencang hingga kening kami berbenturan.
"Bimooo, sakit". Bianca mengeluh diatas tubuh gw.
"Bimo kan kamu yang tarik aku". Bianca bicara dan menatap wajah gw lekat.
"Bimo, posisi kita kok jadi aneh gini". Wajah Bianca merona merah.
"Aku kedinginan Bie, abis kamu kerjain di kolam tadi. Peluk bentar boleh kan".
Bianca tampak terkejut dengan permintaan gw. "Peluk kan bisa sambil berdiri Bim, enggak sambil rebahan dan aku di atas kamu seperti ini".
"Kamu enggak nyaman dengan posisi ini Bie?".
Bianca terdiam dengan wajah yang masih berada di atas wajah gw dengan jarak yang begitu dekat.
Walaupun gw bersikap biasa dan normal-normal aja tapi kagak bisa gw pungkiri, 2 gunung Himalaya yang menempel lekat di dada gw itu buat jantung gw berpacu.
Harum badan Bianca juga membuat dunia gw teralihkan, gw berharap waktu berhenti pada detik ini juga.
"Bie, jika kamu enggak nyaman kamu bebas untuk kembali bangun dan mejauh. Aku kan enggak pegang kamu saat ini". Gw mencoba memberi Bianca pilihan sebelum terjadi hal-hal yang buat dia menyesal nantinya.
"Bimo, kamu benar-benar cinta dan sayang sama aku kan?".
"Iya Bie, aku sayang dan cinta sama kamu". Walau enggak tau kenapa Bianca bertanya kek gitu. Tetap saja gw jawab dengan jujur.
Bianca langsung menampilkan senyum indahnya dan tidak lama menengelamkan kepalanya di leher celah leher kanan gw.
"Peluk aku Bim". Pelan gw mendengar dia berucap.
Merasa mendapat lampu hijau dan Bianca memulai lebih dulu, kedua tangan gw lansung meraih pinggang belakang Bianca sedikit menekan mempererat pelukan kami berdua.
Kalau bang Jack liat posisi gw sama adeknya saat ini pasti udah fix bakalan digebukin gw.
Kehangatan dari tubuh sintal Bianca lambat laun mulai menjalar ke tubuh gw, darah berdesir dan nafsu mulai timbul. Jangan bertanya soal batang dibawah sana.
Dari awal dia sudah tengang dan berontak berdiri menantang langit, apalagi dengan posisi intim seperti ini.
Saat Tubuh Bianca ada di atas gw, otomatis di atas batang itu adalah sarang tempat dia seharusnya berada.
Walaupun terhalang kain celana tetap saja empuk dari benda tembem itu masih bisa gw rasakan menempel di tepat di atas satu-satunya bagian tubuh yang bisa gw banggakan.
Kepala Bianca masih tenggelam di celah leher sebelah kanan gw, tangan diapun mulai bergerak naik memegang rambut gw yang masih agak basah.
Lambat laun pelukan kami semakin mengarah ke jalan yang tidak seharusnya.
"Bimooo.. " Bianca memangil nama gw pelan, bulu kuduk gw berdiri tegang karena Bianca berucap di dekat telinga gw.
"Aku sayang banget sama kamu Bim".
Gw tersenyum mendengar itu dan disaat gw mau menjawab tubuh gw tersentak dan menegang seketika.
Gw rasakan benda lembut dan kenyal menyapu leher gw dan tidak salah lagi itu adalah Bibir Bianca.
"Uuhhhh!! Biee apaa yang kamu lakukan?". Gw mengerang ke enakan disaat Bianca mulai menghujani leher gw dengan ciuman.
Bianca menjawab dengan sedotan dan jilatan yang dia lakukan di leher gw.
"Uhhhhh! Bieee.. Enakkkkk". Mulut dan lidah gw udah kagak bisa gw kontrol lagi.
Mendengar rintihan dan ucapan gw, Bianca semakin ganas, Sapuan lidah dan sedotan dia di leher gw semakin ganas.
Bisa kebablasan ini, gw mencoba untuk berfikir jernih disaat nafsu mulai melanda.
Tangan gw yang semula ada di pinggang Bianca, naik ke atas mencoba untuk menarik kepala Bianca agar menjauh.
Tapi tangan sialan ini bukannya menarik malah mendorong lebih dalam kepala Bianca.
Seperti kuda yang dicampuk disaat gw tekan kepala Bianca, dia semakin mengila mempermainan leher gw dengan lidah dan Bibirnya.
"Uuuhhh!! Bieee..pelan-pelan".