Preman Campus

Preman Campus
BUNCIT


"Bimo aku datang lagi!". Tanpa mengetuk pintu Putri langsung nyelonong masuk aja buat gw terkejut.


Dia berdiri dekat pintu yang terbuka melihat gw dengan senyum manisnya, dengan pakaian yang menurut gw mewah banget bukan costum dokternya melainkan dress putih selutut dengan aksesoris kalung kecil di lehernya.


Rambut yang dibiarkan teruai kebelakang dengan sedikit poni yang menghiasi keningnya, sungguh terlihat seperti ABG putri saat ini.


Dia masih berdiri aja dengan membawa rantang yang gw nyakin isinya adalah bubur buat yang dia masak untuk gw.


"Main masuk aja Kamu Put, ketuk pintu dulu napa. Buru-buru banget sepertinya kamu".


"Tok..tok..tok.." Dia malah mengetuk pintu yang sudah terbuka.


"Urutannya salah bu dokter! kamu udah masuk ngapain pakai ketuk pintu lagi".


"hehehe, salah ya Bim? kamu mau aku ulangi lagi".


"Enggak usah, telat hadiri pesta nanti kamu kalau mainin itu pintu pintu terus".


"Pesta? pesta apa?" Putri bicara sambil menutup pintu dan berjalan menghampiri gw.


"Bukannya kamu mau hadiri pesta? pakai gaun dan dandan cantik gitu?".


"Aku enggak mau ke pesta Bimo, gaun favorit aku ini. Hanya aku pakai saat hari spesial aja, cocok gak sama aku?".


Gw merasa tersinggung masak hari gw sakit dan di operasi jadi hari spesial buat dia, atau ada maksud lain dari kata-kata dia?


"Kok kamu malah liatin aku gitu? jelek ya aku pakai ini?". Dia terlihat muram


"Cocok dan sangar cantik Put, tinggal tambahin 2 sayap aja itu dipunggung kamu biar jadi burung". Gw bicara dan tersenyum kecil


"Ihhh kok burung sih! bukannya jadi peri atau Dewi gitu ya?". Dia cemberut melihat gw.


"Kalau kamu jadi peri atau Dewi nanti para dewa datang dan ingin bawa kamu pergi gimana, aku kan bisa susah".


"Susah kenapa Bim? kamu takut kehilangan aku ya?". Dia bertanya dengan sangat antusias.


"Ya susah lah kalau kamu pergi yang rawat aku dimari siapa? kan kamu dokter yang bertanggung jawab dan yang operasi aku".


"Traaang!!". Putri meletakkan rantang makanan di meja.


"Itu makanan kamu, aku pulang dulu!".


"Plakk!! saat dia berbalik dan ingin pergi langsung gw raih tangannya dan dia sedikit terkejut dengan kontak fisik pertama kita ini.


"Udah gede juga masih aja ngambekan ini ibu dokter cantik, sorry bercanda aku Put". Gw bicara dan melepas pergelangan tangannya yang gw pegang.


"Katanya kamu masakin aku sendiri ya? buka dong aku mau liat".


"Kamu beruntung tau punya dokter yang baik hati seperti aku". Dia tersenyum dan menyombongkan dirinya sendiri yang terlihat lucu dimata gw.


"Aku udah lapar banget ini Put, cepat dong buka kamu masakin aku apa?".


"Ini bubur Bimo?" Amora bicara sambil membuka rantang makanan.


"Kok kamu tau aku masakin kamu?".


"Iya tadi suster Tia kesini dan ganti cairan infus, aku tanya soal makanan dia bilang kamu akan buat sendiri untuk aku".


"Oh iya, tadi pagi sebelum pulang aku sempat kasih tau suster Tia". Putri bicara sambil mengaduk bubur.


Karena sudah kagak sabar gw coba meraih itu bubur tapi ini dokter malah menghindar.


"Biar aku suapin Bimo, kamu jangan banyak gerak dulu".


"Aku kan udah gede put, malu lah masak makan aja disuapin".


"Harus nurut apa kata dokter ya kamu, biar cepat sembuh".


Bukannya cepat sembuh malah kagak mau pulang gw dari sini jika dokternya kek gini, seperti punya Bini gw. Apa-apa dilayani. Gw bicara dalam hati


"Kok bengong kamu Bim? geser sedikit".


Gw memberi ruang dia untuk duduk di ranjang yang sejajar dengan perut gw.


Putri begitu dekat dengan gw saat ini, pandangan kami beberapa kali bertemu tapi tidak ada 3 detik dia langsung melihat ke arah bubur yang selalu dia aduk di tangannya itu.


"Maaf, kamu sih ngomong terus. Ya udah buka mulutnya!".


"Aaaaa.. " Suara saat mulut, gw buka lebar


Dia menggiring 1 sendok bubur menuju mulut gw, aroma itu bubur sungguh sangat menggoda, tidak sabar rasanya ingin mencecap rasaya.


Saat itu sendok sudah hampir sampai di mulut gw, dengan isengnya malah dia belokkan ke kanan.


"Hehehe, Maaf Bimo meleset". Dia tersenyum bahagia melihat gw yang menatap dia kesel


Ngerjaain gw ini betina. "Gak apa-apa kok, belokin aja terus itu sendok kalau bisa sampai Depok sana".


"Kejauhan Bimo nanti kamu makan apa?".


"Aku makan angin ma udah kenyang!" Jawab gw ngasal.


"Orang udah lapar malah kamu ajak bercanda Put".


"Iya maaf, serius kali ini cepat buka lagi mulutnya".


"Awas ya kalau kamu bercanda lagi, bakalan aku makan itu bibir kamu".


"Ngancamnya kok gitu sih kamu Bim?". Dia terkejut dan tersipu mendengar ancaman gw.


"Makanya jangan ngerjain aku lagi!".


Putri pun suapi gw dengan benar dan lembut kali ini takut gw makan mungkin itu bibirnya, gw kan asal ngomong aja tadi lagian mana berani gw kalau kagak dia dulu yang mulai.


"Ini benaran kamu sendiri yang buat Put?". Gw bicara setelah mencecap dan menelan 3 sendok bubur yang dia suapkan.


"Kenapa Bimo? enggak enak ya?".


"Enak kok, enak banget malah kamu pinter buatnya". Gw berkata jujur karena benar-benar enak ini bubur.


"Kamu suka Bim? nanti biar aku buatkan tiap hari buat kamu". Dia begitu senang saat gw puji.


"Ya enggak tiap hari juga kali Put, masak tiap hari aku makan bubur, kena busung lapar nanti aku".


Putri malah ketawa saat gw bahas busung lapar.


"Kok malah ketawa kamu!".


"Enggak kok lagi bayangin aja perut kamu yang buncit saat terkena busung lapar"


Gw liat dia masih saja tertawa kecil sungguh pemandangan buat gw mau tidak mau ikut tersenyum karena begitu menawannya Putri saat ini.


"Kok kamu liatin aku gitu Bim?".


"Enggak kok aku juga lagi banyangin juga saat perut kamu buncit?".


"Aku kan makannya teratur dan bergizi enggak mungkin kena busung lapar".


"Aku kan enggak bilang buncit karena busung lapar, kan ada buncit karena hal yang lainnya!". Ge mengedipkan satu mata dan melihat perut dia.


Dia tampak berfikir dan mencerna kata-kata gw dan melihat ke arah perutnya.


"Bimoooooo!!!". Putri langsung teriak sebut nama gw.


"Put jangan teriak-teriak, nanti dikira aku buat perut kamu buncit lagi!".


"Bimooooo!!". Putri teriak lagi tapi wajahnya merona merah sepertinya dia tau arti buncit yang gw maksud.


"Hahahaha!, lucu kamu tau gak, kalau lagi salting gitu"


"Kamu bercandanya serem gitu".


"Ya udah enggak bercanda lagi, suapi lagi dong keburu dingin nanti buburnya". Gw menarik batasan dan kagak mau bicara aneh-aneh terlalu jauh sama Putri karena kita baru aja beberapa kali bertemu.


Walau dia mencoba akrab sama gw dan ada tanda-tanda tertarik, gw kagak mau berspekulasi terlalu jauh. Takut kecewa dan malu, gw lebih memilih pasif soal hubungan pria dan wanita biarlah mengikuti arus aja.


Purtri pun kembali menyuapi gw dengan sabar sampai bubur habis tidak tersisa.