
Bokap Putri langsung jatuh duduk di lantai ketika sadar akan nama belakang yang gw miliki.
Yang sejak awal pandangan matanya selalu penuh kebencian menatap gw, sekarang berubah menjadi pandangan ketakutakan.
Sorot matanya yang tajam itu seakan-akan layu terkikis oleh hembusan angin Ac kamar ini.
Dan saat ini gw juga bingung sendiri kagak tau musti ngapain menghadapi situasi seperti ini.
Kagak mungkin gw jumawa dan bersikap sombong di depan orang-orang ini karena kekuatan dan power yang dimiliki nama belakang gw ini.
Jika gw melakukan itu berarti gw sama saja dengan bokapnya Putri, yang hanya menghargai orang dengan melihat harta dan kekayaan.
Memang sifat saling menghargai saat ini seakan-akan sudah mulai punah dan rakyat jelata hanya menjadi bahan para penguasa dan orang kaya untuk mencari nama dan simpati.
Gw liat polisi Amir yang menjabat kapolda itu membantu bokap Putri untuk kembali berdiri.
"Amir apakah yang saya fikirkan ini sama dengan yang mau katakan? kamu tidak berbohong kan?. Budi berbicara pelan dan takut-takut melihat gw.
"Benar dan buat apa saya berbohong? apa kamu tau orang tertinggi di Polri menghubungi saya dan membentak agar cepat datang kemari dan saat menuju kesini kamu tau seluruh orang dengan pangkat dan jabatan tinggi di negeri ini juga menghubungi dan mengintimidasi saya".
Bokap Putri semakin ketakutan mendengar penjelasan Kapolda Amir.
"Ehem!". Gw batuk pelan karena tenggorakan gw gatal akibat Reza yang begitu bersemangat suapi gw manggis.
Kek nya udah tenang itu perasaan Reza melihat situasi ini, terlihat bibirnya yang terus tersenyum melihat sambil suapi gw manggis.
Sementara Udin terlihat songgong banget di saat arah angin mulai memihak ke gw, dengan gayanya yang sok jagoan dia menyulut dan menghisap rokok dengan gaya narsisnya.
Gw kan cuma batuk kenapa orang-orang ini pada liat gw dengan pandangan liat setan kek gini.
"Nyet udah cukup jangan suapi gw lagi, masak 1 buah manggis lu masukin sekaligus ke mulut gw! mau liat gw dioperasi lagi lu?!"
"He-he-he.. sorry cak enggak sengaja diriku".
"Tuan muda ini minum dulu". Saat gw melihat Reza, Amir tiba-tiba mengambil air meneral dan berjalan mendekat ke arah gw.
"Terima kasih pak jadi merepotkan saya". Gw berbasa-basi karena ini orang terlihat seperti mencari muka.
"Tidak merepotkan sama sekali tuan muda, jika anda butuh sesuatu bilang saja kepada saya". Dia kembali bicara dengan tersenyum ramah.
"Jika tidak merepotkan tolong tertibkan orang-orang di depan itu dan lorong menuju ruangan ini, saya merasa tidak enak dengan pasien lainya karena ini Rumah Sakit Umum yang menerima pengobatan semua orang tanpa membedakan kasta, bukan begitu tuan Budi yang terhormat?".
Gw bicara dan melihat bokap Putri yang berdiri di belakang Amir kek patung dengan kepalanya yang terdunduk dan dengan cepat dia melihat ke arah gw.
Tanpa berbicara dia menganggukkan kepala dengan cepat berulang kali. Mungkin perasaan dia campur aduk setelah tau identitas gw dan bingung musti berbuat apa.
Mungkin dia berfikir minta maaf saja tidak cukup setelah makian dan hinaan yang dia lontarkan ke gw sejak pertama kali bertemu.
Padahal gw tidak ambil pusing dengan itu, cuma 1 saja yang buat gw marah. Yaitu saat dia bawa-bawa bokap dan nyokap gw.
"Kalian dengar kan! cepat kalian tertibkan lokasi ini dan berjaga di luar". Pak Amir bicara kepada 6 orang polisi yang ada di ruangan ini termasuk 2 orang polisi yang datang bareng bokapnya Putri.
"Siap! laksanakan!" Jawab mereka ber 6 serempak dan mulai berjalan ke luar pintu.
Tidak butuh waktu lama suasana di depan ruangan ini sudah kembali sepi dan kondusif. Polisi Indonesia memang bisa diandalkan, gw cabut fikiran negatif gw tentang mereka yang hanya bisa nilang dan grebek sambung ayam.
Di dalam ruangan ini sekarang hanya ada 5 orang, Gw berserta 2 cebong dan Pak Amir dan bokapnya Putri.
2 orang kekar yang dari tadi berdiri menjaga pintu juga sekarang keluar ikut membantu menertibkan orang-orang kepo itu.
"Tuan Muda ada yang bisa saya bantu kembali?". Pak Amir kembali bersuara dan bertanya.
"Saya memberi pelajaran kepada dokter disini dan membuat mukanya sedikit tergores dan tangannya patah, tolong anda lihat rekaman CCTV jika menurut anda saya bersalah, saya akan mengikuti anda ke kantor polisi".
"Tidak-Tidak! saya nyakin anda tidak salah dan saya nyakin anda hanya membela diri". Amir segera berbicara cepat.
"Tapi menurut teman anda, orang dibelakang itu. Saya salah dan harus dijebloskan ke penjara".
"Tidak-tidak jangan dengarkan dia, disini yang aparat penegak hukum adalah saya. Teman saya ini sudah tua dan pikun".
Gw mau ketawa ngeliat ekpresi muka bokap Putri yang kesal saat dibilang pikun oleh pak Amir.
"Budi kenapa kamu diam saja?! cepat kesini dan minta maaf".
Bokap Putri masih tertegun disana mendengar pak Amir berbicara.
Di ingin melangkah mendekati gw tapi gw liat beratnya harga dirinya menahan itu kaki untuk melangkah.
"Budi apa yang kamu lakukan?! apa harga diri kamu lebih penting dan rela kehilangan semua yang kamu miliki sekarang!". Amir kembali bicara tegas
Gw bergerak dari yang semula senderan sekarang duduk dengan kaki yang masih selonjoran tertutup selimut abu-abu tipis khas Rumah Sakit.
"Tidak perlu anda tidak perlu meminta maaf kepada saya". Gw langsung bicara saat bokap Putri mulai berjalan mendekat
"Saya sudah biasa diperlakukan seperti ini oleh orang-orang".
"Tapi tuan muda dia sudah bersalah!".
"Pak Amir tolong jangan panggil saya tuan muda lagi, saya merasa aneh dengan panggilan itu. Panggil saja saya Abimana atau Bimo seperti kebanyakan orang memanggil saya".
"Jika seperti itu yang anda inginkan dengan senang hati saya akan memanggil anda tuan Abimana".
"Abimana saja pak, jangan pakai embel-embel tuan".
Pak Amir hanya tersenyum melihat gw yang rendah hati ini.
"Apa benar kamu memaafkan saya?". Tiba-tiba bokap Putri bicara pelan dan menunduk tidak berani melihat gw di depannya.
"Jujur saya sedikit tersinggung saat anda membawa-bawa kedua orang tua saya, tapi demi putri anda yang telah begitu baik dan menyelamatkan saya. Saya tidak akan mengungkit masalah ini lagi tapi dengan 2 syarat".
Bokap Putri langsung melihat gw dengan serius dan sedikit cemas.
"Kalau boleh saya tau 2 syarat apa itu?". Dia berucap dengan raut muka tegang.
"Pertama anda harus pecat dokter bernama Arjuna itu dari Rumah Sakit ini, dia sangat tidak layak menjadi seorang dokter dengan sifat seperti itu".
"Baik-baik hari ini juga saya akan memecat dia". Bokap Putri tampak lega mendengar syarat pertam gw.
"Yang kedua saya minta tolong jangan kekang putri anda lagi dan biarkan dia menikmati hidup seperti kebanyakan orang".
"Saya rasa hanya itu yang saya inginkan, apakah anda bisa berjanji untuk menepati nya?".
"Tentu-tentu, saya berjanji tidak akan mencampuri kehidupan pribadi putri saya lagi. Saya juga merasa bersalah".
"Kalau anda tidak keberatan apa bisa menyuruh Putri untuk datang kesini, saya ingin berterima kasih secara langsung".
"Tentu bisa dan sangat bisa! akan saya hubungi putri saya sekarang". Orang tua itu begitu bersemangat.
Dan disaat dia akan menelfon putri dia berhenti untuk sesaat ketika salah satu polisi masuk lagi ke dalam.
"Kenapa kamu kesini? bukannya saya suruh kamu diluar berjaga?". Amir langsung berbicara lantang.
"Maaf komandan! ada yang perlu saya laporkan kepada komandan".
"Kamu mau lapor apa? cepat katakan! tidak tau saya sedang sibuk disini?!".
Gw tercengang mendengar Amir bicara sibuk, sibuk apaan coba dia di ruangan ini?
"Lapor komandan saat ini ada 2 helikopter yang mendarat di hellipad atas gedung ini". Polisi itu bicara lantang dan tegas.
Hellipad (tempat khusus untuk mendaratkan helikopter)
"Dan satu helikopter lagi mendarat di dekat taman belakang Rumah sakit ini komandan!". Dia melanjutkan laporannya.
"Apa! orang penting mana yang membawa 3 helikopter sekaligus untuk datang kesini?". Bokap putri terkejut dengan laporan polisi itu.
"Budi apa itu tamu kamu?". Pak Amir juga tampak terkejut dan langsung bertanya.
"Bukan! saya tidak ada janji dengan pejabat manapun, saat Presiden datang berkunjung kemari pun hanya naik 1 helikopter saja. Dan kali ini saya tidak menerima pemberitahuan apapun". Bokap Putri menjelaskan.
Amir tampak termenung dan perasaan gw mulai kagak enak.
"Apa itu helikopter militer?". Amir melihat dan bertanya kepada polisi bawahannya.
"Bukan komandan, saya rasa itu adalah helikopter pribadi dan terlihat sangat mewah dengan warna biru yang sangat mencolok".
Amir dan Budi saling berpandangan bingung. Dan perasaan gw semakin campur aduk mendengar polisi itu menyebut warna biru, karena warna biru adalah warna kesukaan nyokap gw, Shinta Wirathama.
"Cak dirimu buat masalah sama siapa lagi jangan bilang kamu juga menghajar anak orang penting?".
"Iya Bim, satu masalah aja baru kelar ini! kamu kedatangan masalah apa lagi?".
Reza dan Udin yang dari tadi diam sekarang berbicara dan mencurigai gw.
"Nyet mana ada gw cari masalah yang ada itu masalah yang cari gw!".
"Lagi pula gw hari ini kan baru gelut 1x dengan dokter sialan itu dan kalian tau itu kan?!".
Amir dan Budi melihat gw dengan pandangan tidak percaya, mungkin di benak mereka kata umpatan keluar dengan sendirinya mendengar gw berucap baru gelut 1x.
"Atau jangan-jangan itu musuh lama dirimu cak? dan datang kesini untuk balas dendam, karena tau dirimu dalam keadaan lemah".
"Sekate-kate lu kalau ngomong nyet, lemah gini masih sanggup gw ini untuk gelut ngelewan 5 orang sekaligus".
"Benar juga Bim kata dek Za, musuh loe kan banyak di kota ini apalagi saat kejadian di tempat kakaknya senior Bianca kemarin". Udin berbicara dan memberi pendapat.
"Apa mereka sekaya itu nyet? samperin gw pakai 3 helikopter sekaligus seperti itu! apa lu tau harga 1 helli berapa?".
Reza dan Udin tampak berfikir dan mencerna omongan gw.
"Benar juga kata yang dirimu ucapkan cak, kalau seperti itu siapa dong mereka itu?".
"Mana gw tau nyet? samperin gi kesana jika lu berdua penasaran dan jika mau berkenalan". Gw menjawab sekenanya.
Walau di otak sudah mencurigai siapa yang datang kemari menggunakan helli itu, gw kagak mau berbicara gegabah. Bisa jadi firasat dan tebakan gw salah.
"Apa kamu tau siapa yang yang berada di dalam helikopter itu?". Amir kembali bertanya kepada anak buahnya.
"Maaf komandan saya tidak tau tapi sekilas saya melihat logo dan tulisan yang tercetak di badan helikopter itu".
"Tulisan apa? cepat katakan!". Budi dan Amir berbicara serempak.
"Ada logo mahkota dan tulisan Pramono Grup komandan". Polisi itu bicara pelan dan pandangan matanya melihat gw.
"Uhuk-uhuk!". Gw batuk karena terkejut dengan ucapan polisi itu.
"Plukk!" seketika Reza melempar kulit manggis ke kepala gw.
"Plakk!!" Udin kagak mau kalah dia juga ngelempar bungkus rokok ke kepala gw.
"Apa sih nyet?! lu kira kepala gw tong sampah!".
mereka berdua hanya diam dan melihat gw tajam.
Begitu pula Amir Dan Budi bokapnya Putri, melihat gw dengan raut wajah aneh. Terutama Budi yang tampak tegang dan takut.
Gw pengen ngumpat dalam hati tapi kagak bisa dan kagak berani juga karena takut dosa mengumpati kedua orang tua gw sendiri.
Gw hanya bisa mendesah pelan dan kembali senderan berbicara dalam hati. "Emang paling bisa itu pasangan bucin mencari sensasi".