
"Jadi gini Bim, bokapnya Putri tadi tampak sangat marah saat melihat yang kamu buat babak belur adalah salah satu dokter terbaik Rumah sakit ini"
"Saat dokter Putri akan mencoba membawa kamu lagi ke meja operasi, dia begitu gigih menghalangi dan memperintahkan agar dokter yang kamu hajar terlibih dulu untuk dirawat".
"Iya cak dia juga bilang dan menyuruh orang untuk membuang dirimu di jalanan saja. Sumpah sampai kesel diriku dengarnya". Reza ikut berbicara
"Terus gimana ceritanya kok gw bisa di operasi sama Putri jika bokapnya menghalangi?".
"Tadi itu drama banget Bim, di depan banyak dokter dan para suster dan juga para perawat, Dokter Putri memohon-mohon agar dia bisa mengoperasi kamu ke bokapnya".
"Tapi Bokapnya tetap bersih keras Bim untuk membiarkan kamu kehabisan darah, gua sampai heran bokap dokter Putri kan juga dokter kenapa bisa sampai se sadis itu".
"Iya cak diriku juga marah! dia sudah mengingkari sumpah seorang dokter yang harus menyelamtkan setiap nyawa tidak terkecuali siapapun orangnya". Reza ikut berpendapat
"Berlete-tele lu berdua nyet! langsung cerita intinya ngapa?!".
"Plin-plan banget loe Bim katanya tadi suruh cerita sedetail mungkin". Udin terlihat kesal
"Jadi gini cak dokter Putri sampai bersimpuh di bawah kaki bokapnya meminta agar dia di izinkan untuk operasi kamu secepatnya".
"Akhirnya bokapnya setuju dan mengizinkan dokter Putri untuk operasi dirimu cak tapi..".
"Tapi apa nyet?! jangan buat gw penasaran anjing!".
Reza malah saling berpandangan dengan Udin seperti minta persetujan.
"Malah saling pandangan lu berdua nyet, cepat bilang!". Gw membentak mereka berdua walau perut gw agak nyeri saat bicara pake urat.
"Bokap nya Putri izinin kamu di operasi lagi jika Putri bersedia nikah sama orang yang loe hajar tadi Bim". Udin berguman pelan tapi gw sangat jelas mendengar apa yang dia katakan.
"Bangsat!".
"Tenang cak, dirimu jangan emosi dulu".
"Sabar Bim, selama belum ada janur kuning melengkung dan undangan belum disebar loe masih ada kesempatan".
"Benar kata kak Din cak, walaupun nanti itu janur kuning udah melengkung pun dan meski undanga sudah disebar juga, dirimu masih bisa kacaukan malam pertama mereka".
"Nyet lu berdua mau nenangin gw apa mau manasin gw sih! gw kesel dan marah itu karena merasa bersalah sama Putri".
"Dokter putri setuju kan demi untuk tolong loe Bemo! harusnya loe cari akal untuk selamatkan dia, jangan cuma merasa bersalah doang!!". Udin tampak marah mendengar gw bicara.
"Iya cak, dokter Putri udah korbankan masa depannya hanya untuk menolong manusia macam dirimu, kamu harus balas budi cari solusi untuk dia".
"Kok lu berdua yang marahin gw nyet?! masak lu suruh gw berfikir dalam kondisi seperti ini. Lagian kagak besok juga kan mereka nikahnya?".
"Pria bernama Arjuna kan udah gw ancurin mukanya dan gw patahin tangannya, kagak bakalan pulih dengan cepat itu orang".
"Ngomong-ngomong lu berdua tau kagak Putri sekarang ada dimana?".
"Dokter Putri sehabis operasi lu langsung disuruh pulang sama bokapnya Bim, walaupun dia menolak dan memohon mau temani loe disini, tetap aja enggak dikasih izin".
"Itu lebih baik nyet jika dia pulang dan kagak ada disini".
"Biadap dirimu cak! abis manis sepah dibuang, kok dirimu senang dokter Putri di kekang gitu!".
"Bukan gitu nyet, salah paham lu maksud gw lebih baik dia kagak ada disini dan liat gw yang akan tabok bokapnya dia".
"Yang borgol gw kek gini pasti ulah bokapnya Putri juga kan?".
"Iya Bim, saat tau dokter calon mantunya loe bikin ancur. Itu orang langsung marah besar lapor polisi dan karena kedaan loe yang kagak memungkinkan untuk dibawa jadi diborgol dulu disini". Udin menjelaskan
"Tapi seriusan cak dirimu mau tabok itu ayahnya dokter Putri?".
Sebelum gw jawab pertanyaan Reza, Suara pintu dibuka dengan kasar dari luar, Firasat gw udah kagak enak.
"Za lu pindah ke kan disamping Udin, cepat!!". Gw langsung suruh Reza menghindar agar gw bisa bertatap muka langsung dengan orang-orang itu.
"Iya cak!". Tanpa bertanya alasannya Reza nurut aja dan berdiri di samping Udin kanan ranjang tempat gw senderan.
Suara langkah kaki beberapa orang gw dengar berjalan masuk dan saat gw liat ada 5 orang disana.
1 orang pria setengah baya dengan sedikit uban di kepalanya, dia memakai setelan jas yang tampak mahal dan sorot matanya yang tajam dia tunjukan ke gw. Mungkin dia berumur sekitar 55 tahunan.
Tapi terlihat tubuhnya yang sangat bugar dan tegap dan wajah yang tidak memiliki kerutan sama sekali seperti masih berumur 40 tahunan.
Gw nyakin itu orang adalah bokapnya Putri, 2 orang di samping kanan dan kirinya adalah polisi dengan seragam lengkap tanpa topi tentunya.
Dan 2 orang berbadan kekar yang gw nyakin adalah orangnya bokap Putri, mereka diam saja di dekat pintu masuk dan memandang lurus ke depan.
Gw dengar juga di depan pintu sana banyak suara yang saling berbisik dan gw nyakin itu adalah suara para pekerja medis di Rumah Sakit ini yang kepo dan ingin tau kejadian di dalam ruangan ini.
"Sudah bangun kamu rupanya ha! cepat langsung bawa dia dan jebloskan ke penjara!". Pria berjas itu langsung berbicara memberi perintah, saat sudah berada di dekat gw.
"Maaf saya salah apa? dan anda ini siapa?". Gw bicara sesopan mungkin walau sudah menebak identitas ini orang.
"Sampah!! kamu tanya salah kamu apa?!". wajah dia merah karena marah dan melotot melihat gw.
Sabar Bim sabar, lu baru aja di operasi 2x hari ini, jangan gegabah dan ciptakan hatrick 3x di operasi. Gw mengambil nafas dan bicara dalam hati nenangin diri gw sendiri.
Kalau gw fit dan bugar ma bodo amat kalau ini orang bokapnya Putri bakalan gw kasih juga karena udah nyolot bicara sama gw. Dan kalaupun 2 polisi dan dua orang di dekat pintu ikut maju pun gw kagak bakal gentar, 1 vs 5 hayuk aja!. DNA dan jiwa petarung gw berbicara.
"Kenapa diam kamu?! takut? apa menyesal? dan mau memohon sama saya!".
"Maaf om sa..
"Saya bukan om kamu.. !!".
Sialan ini orang belum juga gw bicara udah ngebentak gw aja.
"Maaf tuan yang terhormat saya tidak kenal anda buat apa saya takut? lagian tidak ada manusia yang saya takuti di dunia ini kecuali ayah saya".
"Sombong! sungguh sombong, penjara adalah tempat yang cocok untuk manusia sampah seperti kamu!". Ini orang nyolot lagi.
2 orang polisi disampingnya masih saja diam dan masih mengamati situasi.
Tuan saya diam karena saya tidak tau harus bicara apa, kenal dengan anda juga tidak kenapa anda menyebut saya sampah? lebih baik anda duduk dulu dan suruh orang ambil kopi supaya kita bisa kenalan dan lebih akrab".
"Jangan bercanda ya kamu sama saya! asal kamu tau saya adalah direktur Rumah Sakit ini sekaligus ayah dari Putri wanita yang kamu guna-guna itu!".
"Maaf pak anda jangan asal menuduh teman saya walau tampang nya pas-pas an seperti ini tidak mungkin melakukan hal tercela dan menentang ajaran agama seperti itu". Udin yang dari tadi diem berbicara.
Harusnya kan gw senang ya di belalain sama ini cebong no 1, tapi kenapa gw malah ingin ngumpatin ini bocah ya bingung gw.
"Iya tuan, walau sahabat saya ini hobinya gelut dan minum-minuman berenergi diriku bisa menjamin dia tidak pernah bersilaturahmi ke markas para dukun untuk menguna-guna Putri anda".
Reza ikut bicara dan akhirnya gw tau kenapa gw pengen nendang ini 2 cebong bersaudara, mereka mau belain gw apa mau buka aib gw sih sebenarnya.
"Kalian diam!! kalian berdua sama-sama sampah! wajar jika sampah membela sampah!".
"Tolong anda yang sopan tuan, cukup anda hina saya saja, jangan pernah anda menghina teman-teman saya!".
"Ha-ha-ha-ha! bagus-bagus tali bersaudaran sesama sampah memang begitu erat.