
"Amora kamu mulai merasakan benih-benih cinta ya?". Gw berbisik pelan, saat Amora masih beradu pandang dengan luzy dengan intens, gw yang sudah panik semakin tambah panik ngeliat angsa putih seperti sedang menantang banteng betina gelut.
"Ih sayang apa sih, ngaco kamu". Amora mencubit pinggang gw pelan dengan pandangan yang masih lurus ke depan.
"Aku berasa jadi obat nyamuk ini disini, kamu mau duain aku sama itu cewe ya? Udah 2 menit itu mata kalian saling bertemu, apa kalian lagi mengagumi satu sama lain dan janjian lewat telepati? biar aku enggak dengar". Gw mulai mengeluh karena lama-lama disini bisa semakin berbahaya.
"Bukan gitu sayang, aku cuma enggak mau kalah aja.. entah kenapa aku merasa terancam saja sama dia, jika aku kalah dalam adu mata ini.. Rasanya aku akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga". Amora berguman pelan masih dengan beradu pandang dengan Luzy.
"Kamu aja enggak kenal udah berasa seperti itu, itu orang asing bukan musuh kamu.. Udah ahh jangan aneh-aneh ayo kita berangkat sarapan". Gw mengalihkan perhatian Amora lebih cepat pergi lebih baik, itulah yang gw fikirkan.
Kalau cowo sama cowo adu pandang langsung berubah adu pukul itu udah biasa karena cowo memang seperti itu saling kenal lewat salah paham dan adu kekuatan.
Kalau cewe adu pandang kan biasanya langsung berkenalan secara wajar, tapi gw liat Amora dan Luzy saat ini kek orang yang mau adu cakar.
Amora mengangguk pelan dan sementara gw gandeng tangannya dan mulai berjalan menuju mobil, Amora masih saja menatap Luzy tajam begitu juga dengan sebaliknya.
Apa ini naluri cewe nya, Amora tampak sangat waspada banget itu sama Luzy, apa barang berhaga yang dia maksud itu gw?
Luzy masih berdiri disamping motornya bersama mekanik pria, keknya udah sembuh itu motor dari penyakit bengekknya, tapi kenapa masih ngedekem aja dia dimari? Apa jangan-jangan ini betina tungguin gw dan mau pamitan? kek nya itu kagak mungkin. Segala macam spekulasi muncul di benak gw yang buat ini punggung basah karena keringat dingin efek dari tegang.
Pandangan mekanik pria dan Luzy kagak lepas dari gw dan Amora yang berjalan mendekat, karena mobil ada tepat di samping motor.. Mau kagak mau gw harus berjalan kesana.
Firasat gw mulai kagak enak dan sinyal bahaya dari tadi udah kedip-kedip mulu dan gw harus melakukan sesuatu agar bisa keluar dari ini masalah yang pagi-pagi sudah menyambut gw.
Jika Luzy sampai bicara aneh-aneh tentang gw semalam dan dia yang tidur di kamar gw, sudah sangat bisa gw pastikan Amora bakalan gampar gw kiri kanan dan minta putus, belum lagi jika dia nanti nanggis.. Pasti bisa gila gw nanti karena merasa bersalah.
"Maaf mbak, mas permisi". Gw tersenyum ramah berucap dan mulai ber acting, ini adalah satu-satunya ide yang muncul di otak gw.. Pura-pura kagak kenal sama banteng betina.
Mekanik pria itu tersenyum dan membalas anggukan kepala gw.
"Udah gila kamu?!". Luzy berucap lantang dan memandang aneh ke gw.
Amora berhenti karena terkejut mendengar jawaban Luzy, raut wajah dia tampak kesal seketika mendengar gw disebut gila.
"Kamu yang gila! Cowo aku cuma ngucapin salam, kamu bilang gila!". Amora langsung berdiri di depan gw menatap Luzy dengan pandangan tidak suka.
"Luz kamu kenapa kok bicara seperti itu?". Mekanik itu tampak terkejut juga mendengar kata-kata Luzy.
Luzy terdiam dia juga terkejut nampaknya dengan jawaban Amora, dia memandang Gw dan Amora bergantian.
"Sayang jangan marah, mungkin embaknya enggak sengaja itu". Gw langsung nenangin Amora.
"Enggak sengaja apa? Dia bicaranya sambil melihat kamu gitu". Emosi Amora mulai keluar.
Gw bahagia dibela sama Amora tapi keknya ini bukan waktu yang tepat deh karena dalam sekejam mata bahagia ini akan bisa berubah menjadi tanggis nantinya jika Luzy buka kedok gw.
Gw melihat Luzy bagaikan melihat bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan menghancurkan hubungan gw sama Amora.
"Maaf mbak dan mas, mungkin teman saya lagi enggak enak badan jadi ngomongnya ngelantur". Mekanik pria itu berbicara meminta maaf untuk Luzy, nada bicaranya lembut dan dari wajahnya seperti orang yang punya kesabaran di atas rata-rata mekanik ini.
"Siapa yang ngelantur, aku ngomongin fakta kok". Jawab Luzy acuh tak acuh, tersenyum tipis memandang gw dan Amora.. sangat terlihat dia sedang melalukan provokasi meyulut emosi Amora.
"Luz, kamu kenapa sih?". Mekanik itu menyengol lengan Luzy pelan.
"Fakta apa? Bukannya kamu yang gila?! Enggak kenal sudah main hina, sakit kamu!". Amora membalas tidak kalah sengit.
Amora yang biasanya lemah lembut dan lugu plus manja, ternyata bisa marah juga.. dan auranya sangat mendominasi sekali, sampai enggak sadar gw kalau ini benar-benar Amora cewe gw.
"Apa menurut kamu seperti itu?". Luzy menjawab ambigu sekali dan senyumnya semakin melebar.
"Apa maksud kamu? Sayang kamu kenal sama wanita ini?". Amora bertanya dan menarik gw ke depan.
"Mana mungkin aku kenal sayang, kalau kenal dan kami berteman bukannya udah aku sapa dari tadi dan aku kenalin sama kamu". Gw menjawab senormal mungkin dan sangat berusaha agar kagak panik dan terbata, kesalahan kecil saja bisa membuat Amora curiga.
"Benar kan mbak kita tidak saling kenal?". Gw terus berbicara dan bertanya ke Luzy sebelum suasana lebih memanas.
Gw tegang campur panik memandang Luzy yang masih tersenyum jahat, mungkin dia sudah mengerti maksud gw bicara kek gitu.
Suasana hening.. Amora, gw dan mekanik mamandang Luzy menunggu jawaban yang akan dia katakan.
Gw memberi isyarat untuk Luzy dengan berbagai cara dari ngedipin mata sampai gerakin hidung, semua gw lakukan agar Luzy tau dan sadar gw meminta kerja sama dari dia.
"Bukannya kita saling kenal ya? Kamu mau lupakan aku gitu saja?". Luzy menjawab malah menjawab sebaliknya dengan seringai diwajahnya yang rasanya ingin gw tonjok saat ini juga.
"Sayang apa maksudnya ini? Kalian benar-benar saling kenal? Apa jangan-jangan kalian berhubungan?". Amora langsung mengintrograsi gw meminta penjelasan setelah mendengar jawaban Luzy.
"Luz, beneran kamu kenal sama masnya ini?". Mekanik itu bertanya dan terlihat penasaran memandang gw.
"Emmm.. Kenal gak ya?". Luzy pura-pura berfikir dan balik bertanya.
"Sayang kenapa diam ayo jawab ada hubungan apa kamu sama dia?". Amora mulai enggak tenang.
"Aku enggak kenal Amora, jangan percaya sama omongan yang enggak jelas". Gw menyakinkan Amora lembut dan langsung beralih menatap banteng betina.
"Mbak tolong jangan memfitnah ya? ini sudah tidak lucu lagi, kita enggak saling kenal dan tolong jangan bicara macam-macam dan keterlaluan!". Gw bicara dengan ekpresi datar dan penuh akan acaman.
"kok gitu kamu ngomongnya? Bukannya kamu adalah pemulung waktu itu ya yang hampir aku tabrak dengan motor ini? Atau aku salah orang?". Luzy bicara tenang banget, mempermainkan gw keknya ini cewe, apa mungkin dia mau balas dendam karena perbuaatan tidak menyenangkan gw semalam?.
"Kamu bener-bener kurang ajar ya?!". Amora langsung maju dengan cepat dan menghampiri Luzy.
"Sayang.. Sayang..? Jangan!". Gw panik dan langsung tarik Amora ke belakang.
"Lepas biar aku tampar mulut kurang aja dia, berani-beraninya bilang kamu pemulung.. Enggak terima aku!". Amora berusaha berontak tapi semakin kuat gw menahannya.
Luzy masih tampak tenang dan tersenyum di depan sana, keknya senang banget dia dengan drama yang dia buat ini.
"Kenapa kamu marah? Jika cowo kamu bukan pemulung ya berarti aku salah orang dan kami enggak saling kenal". Luzy berbicara dan memandang Amora dengan tatapan mengejek.
"Enak sekali ya kamu bicara seperti setelah ucapan semena-mena kamu itu, minta maaf gak? Minta maaf sekarang!". Amora masih mengebu-gebu.
"Minta maaf? Kesalahan aku apa coba? Kalau cowo kamu bukan pemulung ya udah, kenapa aku harus minta maaf?".
"Wanita jala**!". Amora mengumpat dan gw terkejut mendengarnya, dia kembali mencoba maju tapi langsung gw peluk dari belakang untuk menahan.
"Kamu itu yang jala**!". Luzy membalas tidak kalah sinisnya.
"Luz sudah luz, disini kamu yang salah.. Kenapa sih kamu biasanya tenang dan enggak seperti ini?". Mekanik itu juga mulai berjaga jika Luzy tiba-tiba maju.
"Mas, mbak tolong tenang saya rasa ini cuma salah paham saja". Mekanik itu mencoba mendinginkan suasana.
"Salah paham apa yang salah paham? Pacar jala** kamu itu sengaja menghina cowo aku!". Amora masih melampiaskan kekesalannya.
"Sayang udah sayang, enggak baik pagi-pagi berantem sama orang asing.. Aku enggak apa-apa kok, udah biasa dihina". Gw nenangin Amora sekali lagi, takut gw ngeri juga Amora jika lepas kontrok kek gini.. Kalau gw lengah pasti udah jambak-jambakkan dan cakar-cakaran dia sama Luzy.
"Kamu kok malah tenang gini? Harusnya marah dong, enggak salah malah dihina.. Ini enggak adil dan aku enggak suka".
"Kan aku udah bilang dari dulu, cuma kamu yang spesial dan melihat aku ramah.. Kalau wanita lain mengumpat dan ngeludain aku sih udah biasa, cuma di hina ini aja.. udah kebal aku".
"Tapi aku enggak terima! aku sebagai cewe kamu harus marah jika kamu direndahkan seperti ini". Amora masih ngotot.
"Aku akan beri belajaran mulut jala** kamu itu!".
"Jala** teriak jala**! Sini kalau berani?!". Luzy terpancing juga emosinya dan langsung maju.
"luzz berhenti luz! Mekanik itu panik juga dan langsung memegangi Luzy.
"Lepas! Biar aku buktikan siapa yang ****** diantara kita!". Luzy berontak.
"Lepas sayang biar aku tampar wanita murahan ini biar dia sadar!". Amora juga ikutan berontak.
Adegan selanjutnya adalah gw dan mekanik pria itu yang sama-sama memegangi 2 wanita yang bersiap adu ilmu kanuragan ini.
Tidak hilang akal Luzy memakai kakinya untuk mendendang, Amora langsung gw angkat dari belakang dan gw bawa mundur.
"Sayang kamu jangan balas nendang sayang, please jangan!". Gw memperingatkan Amora.
"Walau enggak kena, aku akan balas dikira aku enggak bisa!".Amora membantah.
"Sayang kamu kan pakai rok!". Gw berteriak dan Amora langsung mengurungkan niatnya.
"Mas mending mbaknya dibawa pergi saja, biar cepat selesai salah paham ini.. Dan saya minta maaf untuk kesalahan teman saya ini".
"Siapa yang salah! dia yang sebut aku j.a.l.a.n.g duluan, dikira aku enggak berani!".
"Kamu kira aku juga enggak berani sama wanita murahan seperti kamu? Sini maju kamu?". kali ini Amora yang menantang.
"Kamu sini yang maju!". Luzy menanggapi.
"Luz sudah luz, mas kenapa diam saja.. Tolong bawa mbaknya menjauh". Mekanik itu memegangi Luzy sambil memandang gw.
"Mas gimana kalau kita lepasin saja mereka berdua kita liat dan tonton saja siapa yang bakalan menang?". Gw memberi ide gila yang munculnya entah dari mana, semoga saja ada keajaiban dan Luzy minder.
Suasana hening kembali, Luzy dan Amora yang dari tadi berontak sontak terdiam begitu juga dengan mekanik itu.. Dia memandang gw dengan ekpresi tidak percaya.
"Mas bercanda ya? bisa-bisanya bicara seperti itu disaat suasana seperti ini".
"Sayang kamu nyakin menang gak?". Gw mengabaikan mekanik di depan dan bertanya sama Amora.
"Aku nyakin! Aku berlatih karete juga untuk jaga diri". Jawab Amora mantap.
"Ok aku hitung 1 2 3, aku lepas kamu dan langsung aja take down dia". Gw memberi intruksi dan Amora mengangguk mantap.
"Lepas Dre, dikira aku takut cuma karete ini aja.. Aku pukul juga langsung pingsan!". Luzy enggak mau kalah.
"Mas gimana ini mas? Kenapa jadi seperti ini?". Mekanik pria itu semakin panik dan gw bodo amat dan mulai menghitung.
"Satuuu...!".
"Dreee lepas dree!". Luzy bergerak-gerak di dipeluk temannya dari belakang.
"Enggak aku enggak akan lepasin kamu!". Jawab pria itu mantap.
"Duaaaa..!".
"Tiiiii..!"
"Sorry Luz ini untuk kebaikan kamu dan bengkel, juga bisa marah nanti bos jika kamu terluka". Mekanik itu sepertinya ingin melakukan sesuatu.
"Accchhh!". Luzy menjerit terkejut saat tiba-tiba tubuhnya diangkat temannya dengan tiba-tiba.
"Turuin aku dre! Turunin!". Luzy teriak-teriak saat pria yang dia panggil dre itu lari dengan cepat keluar gerbang kost.
"Mau kabur kemana kamu penakut!". Amora berteriak penuh kemenangan disaat Luzy telah menghilang dari pandangan digendong paksa dan dibawa kabur temannya untuk menyelamatkan diri.
"Yuhuu! Kita menang sayang". Amora kegirangan dan berbalik badan langsung memeluk gw erat.
"Iya kamu menang tapi jangan di ulangi lagi ya? Dan jangan terlalu gegabah lagi jika dalam situasi seperti tadi". Gw membelai rambut Amora lembut.
"Bukannya tadi kamu ngedukung aku ya? Tadi kamu tanya aku bisa menang apa enggak? Dan mulai ngehitung untuk ngelepasin aku". Amora melepas pelukannya dan memandang gw lekat.
"Aku bicara gitu tadi untuk takut-takutin mereka sayang, mana mungkin aku biarkan kamu berantem di depan mata aku.. Aku enggak rela kamu lecet, jika pun suasana tadi di luar kendali aku yang akan maju".
"Tapi jika nanti kamu dihina lagi di depan aku, aku masih tetap enggak terima apalagi kalau yang hina kamu wanita semakin enggak terima aku". Amora berucap sungguh-sungguh.
"Aku seneng banget kamu belain Amora tapi aku enggak mau kamu terluka, tenang aja pacar kamu ini udah tahan banting.. Hinaan kek tadi enggak aku masukin ke hati, jika kamu sayang sama aku tolong dengerin apa kata-kata yang aku ucapkan.. Ngerti kekawatiran aku kan kamu?".
"Iya aku ngerti sayang, maaf". Amora berucap lirih sambil menunduk.
"Jangan minta maaf kamu enggak salah kok, lain kali jika ada wanita seperti tadi kita langsung cabut aja dan jangan kepancing, kebersamaan kita terbuang sia-sia hanya untuk mengurusi orang gak penting".
Gw hujani Amora dengan ucapan dan kalimat super lembut.
"Iya sayangku lain kali aku akan menahan diri tapi". Amora tersenyum tipis berpaling dari depan gw dan sekarang langsung berjalan ke arah motor Luzy yang tertinggal.
"Tapi apa sayang? Senyum kamu buat aku takut". Perasaan gw mulai kagak enak lagi.
"Sayang motor ini milik jala** tadi kan?". Amora bertanya tanpa memadang gw.
"Kelihatannya sih seperti itu, memangnya kenapa?".
Amora tampak tersenyum jahat dan dia tampak sendang mencari sesuatu di tanah.
"Jadi sarapan kagak ini kita? Kamu lagi cari apaan sih sayang? Enggak jelas banget".
"Ahhh, akhirnya ketemu". Amora bersorak dan mengangkat batu seukuran kepalan tangan orang dewasa.
"Sayang kamu mau apa?". Gw antara terkejut dan panik.
"Lain kali aku akan tahan sayang tapi tidak untuk yang ini". Amora mundur beberapa langkah dan mengambil ancang-ancang mengangkat batu tepat di depan kepala motor Luzy.
"Jangaaann sayaanggg!". Gw berteriak dan berlari mencegah.
"Wusssss..!". Batu terbang dan gw telat sepersekian detik.
"Praaakkkkk!". suara batu mengenai lampu motor depan.
"Pyaaaarrrrr!". Lampu itu pecah dan hancur seketika
"Ting.. Ting.. Ting..!". Suaran beling jatuh berhamburan.
"Strike!!". Suara Amora berteriak bangga lemparannya tepat sasaran.
"Gedebukkk". Suara gw yang lemas dan jatuh terduduk di tanah dengan ekpresi tidak percaya dengan adegan yang baru saja gw liat.
Cewe yang lagi girang banget setelah melakukan tindakan kriminal perusakan, cewe yang abis ngelempar batu ke motor orang.. Apa dia benar Amora cewe gw?