
"Maaf para warga sekalian pertunjukan tanpa tiket udah selesai silahkan kembali ke rumah masing-masing". Jono dengan suara tegasnya berbicara kepada para warga yang masih berkerumun.
1 detik, 2 detik dan sampai detik ke 3 tidak ada satupun warga yang beranjak pergi, mereka diam tapi dengan senyum aneh memandang uang yang masih berceceran di tanah dan gua secara bergantian yang seolah-olah perkataan Jono kagak mereka dengarkan dan gubris sama sekali.
Gua kagak tau mau menangis apa ngakak saat ini, mungkin ada banyak faktor yang membuat para warga ini masih diam di tempat kek lagi upacara bendera 17 Agustus.
Gua kagak mau bicara banyak merendahkan ataupun menghina dan gua lebih memaklumi saja saat ini, gua berjalan ke arah pria yang tadi menghampiri Jono dan gua saat di teras rumah mbak Suci.
"Kalau gak salah nama loe Tresno kan?". Gua bertanya dan memegang pundaknya.
Pria depan gua langsung tampak grogi dan dengan cepat menjawab. "Bukan bos nama saya bukan Tresno tapi Sastro, teman dan sahabat Jono".
"Hehehe sorry, Sastro ya? jangan panggil Bos dan panggil saja Bimo dan gua juga tau kamu teman dari pria kagak guna ini". Gua melirik Jono sekilas yang tampak masam dan cemberut itu wajahnya.
"Gua bisa minta tolong kagak sama kamu bro Sastro?".
"Minta tolong apa mas Bimo? Silahkan bicara dan pasti akan saya bantu". Sastro langsung menjawab mantap.
"Tolong hitung ini ada berapa warga yang masih di sini".
Sastro tampak bingung untuk sesaat setelah mendengar permintaan gua tapi dia segera mengangguk dan mulai berjalan ke depan dan mulai menghitung.
Semua warga tampak bingung tidak terkecuali dengan keluarga Mika dan mbak Suci yang masih diam sejak tadi.
"Bim loe punya kerja sambilan di pemerintahan ya? Kenapa malah ngelakuin sensus penduduk sih loe". Jono bicara setengah berbisik dan menyenggol lengan gua.
"Udah kagak usah banyak bacot loe! Lagi sebel gua sama loe.. kecuali duit masukan semua barang gua ke dalam tas lagi Sono!".
"Iya-iya gua masukin lagi". Masih dengan cemberut si kampret mulai memasukan barang-barang gua kembali ke dalam tas.
"Mas Bimo semua sudah saya hitung dan total ada 40 warga". Sastro segera memberikan hasil dari hitung cepatnya.
"40 ya?". Gua mengangguk paham dan langsung meraup asal uang di tanah dan mulai menghitung.
"Sastro ini 8 juta bagikan setiap orang 200 ribu". Setelah menghitung uang segera gua sodorkan ke Tresno.
"Serius ini mas?". tangan Sastro sedikit gemetar saat menerima uang dari gua, matanya melebar tidak percaya saat ini.
"Iya serius tapi kamu bagikannya jangan disini, bawa kemana gitu yang penting menjauh.. nanti kalau udah kelar kamu kesini lagi buat ambil hadiah dari saya".
"Baik mas baik!". Sastro tampak bersemangat dan para warga yang mendengar perkataan gua juga bersorak gembira.
Berbagai ucapan terima kasih langsung gua dengar dari warga yang wajah nya penuh senyum saat ini hanya gara-gara uang 200 ribu doang.
"Iya sama-sama semuanya, anggap saja ini hadiah dari perkenalan diri dari saya Bimo.. Jika para bapak dan ibu punya anak wanita enggak usah repot-repot buat ngenalin ke saya, saya sudah punya incaran sendiri". Gua melirik ke mbak Suci yang mukanya bersemu merah dan langsung berpaling menghindari bertatapan mata dengan gua.
Gua menepuk bahu Sastro dan dia langsung mengerti.
"Baik semuanya ayo ikut saya ke lapangan desa". Sastro berteriak dan berlari kecil yang langsung di uber sama semua orang yang berkerumun, meninggalkan gua, mbak Suci, Jono dan keluarganya.
"Ahhh akhirnya pada pergi juga itu para warga.. Merasa di demo gua saat dikerumuni banyak orang seperti itu". Gua mendesah pelan dan merentangkan pinggang ke kiri dan ke kanan.
"Bemo.. Loe udah gak waras ya?". Jono berucap dan malah memaki.
Gua melihat kesamping dan bukan pandangan Jono saja yang aneh tapi nyokap dia, mbak Suci dan Mila memandang gua dengan tatapan tidak percaya.
Cuma Mika saja yang tampil beda saat ini di gendongan nyokap nya, gadis kecil nan imut itu memandang gua dengan mata kecilnya yang penuh akan bintang-bintang.
"Loe yang kagak waras Jon! berani-beraninya ngatain gua loe". Gua mendengus kesal.
"Gua itu baik bukan gila! Bisa bedain kagak sih loe antara baik dan gila? Lagian gua kasian liat wajah para tetangga loe tadi yang melas dan tidak bisa berpaling dari uang di tanah, ya gua meramal sedikit ya gak apa-apa lah".
"Kak Bimo memang yang terbaik!". Mika menyela dan memberi gua acungan jempol mungilnya.
"Tu Mika aja muji gua, eh loe malah ngatain".
"Udah Jon jangan kamu marahi lagi dia, biarkan dia berbuat sesuka hatinya.. mungkin menghamburkan uang dalam bentuk sedekah adalah hobi teman kamu itu". Mbak Suci yang tadi diam ikut berbicara dan berkomentar.
"Aku enggak tau itu pujian atau sindiran mbak tapi terima kasih, emang aku enggak salah pilih..hehe".
"Enggak salah pilih apa?". Mbak Suci langsung tergagap dan bersemu wajahnya.
"Ya gak salah pilih buat jadikan kamu kakak aku lah, emang mbak Suci mau aku pilih jadi apa?".
"Udah Bemo kagak usah nge gombal Mulu loe, enggak mempan juga itu sama Suci.. Ayo kita masuk ke rumah".
"Iya nak Bimo mari kita masuk dulu, nak Bimo capek kan setelah perjalanan jauh? Ini juga hampir magrib". Nyokap Mika berucap dengan ramah.
"Oh iya Tante silahkan masuk duluan saya mau membereskan ini dulu". Gua menjawab dan menunjuk uang yang masih berserakan di tanah.
"Kak Bimo mau Mika bantuin enggak?". Mika dengan polosnya menawarkan bantuan.
"Terima kasih sayang, kakak bisa sendiri kok.. Mika masuk aja sama Bunda dan kak Mila nanti kak Bimo nyusul".
"Iya kak, ayo bunda kita masuk ke rumah".
"Mika sejak kapan kamu panggil emak berubah jadi bunda?". Jono menyela.
"Kak Bimo kan bilang bunda, aku ya harus panggil emak bunda mulai sekarang". Jawab Mika polos tersenyum melihat gua.
"Baru beberapa menit bertemu aja kamu udah nurut banget sama Bimo, sebenarnya kamu adik siapa sih".
"Loe cemburu ya Jon? Hahaha.. Kagak enak banget itu muka loe dipandangnya.. Mika ya adik gua lah.. bukan begitu Mika sayang?".
"Iya aku adik kak Bimo". Jawab Mika cepat sambil menggoda menjulurkan lidahnya ke Jono.
"Tante tunggu sebentar tante". Mbak Suci berucap mencegah nyokap Mika yang akan berjalan masuk ke rumah.
"Iya Suci kenapa?".
"Itu Tante bungkusan Jono tadi tertinggal di rumah saya dan saya liat isinya makanan dan saya bawa kemari sekalian tadi tapi masih ada di motor, sebentar ya saya ambilkan".
"Oh iya bungkusan gua". Jono langsung teringat.
Mbak Suci dengan cepat mengambil bungkusan di dalam jok motor yang dia parkir tidak jauh dari kami.
"Sate kambing!". Baru saja bungkusan di keluarkan, Mila yang dari tadi terdiam langsung berteriak senang dan berlari menghampiri mbak Suci.
Itu kan masih di bungkus dari mana Mila tau isinya? Gua bertanya bingung pada diri sendiri.
Enggak sengaja gua melihat Mika dan hidung kecilnya yang mungil mengendus dan sesaat kemudian dia juga berteriak senang. "Sate ayam!". Mika dengan cepat turun dari gendongan bundanya dan ikut berlari menghampiri mbak Suci.
Sialan adegan apaan sih ini? Apa jangan-jangan keluarga Jono punya penglihatan super tembus pandang?
Gua semakin terkejut saat nyokap Mika juga tersenyum malu-malu dan bergumam pelan, "Martabak manis".