
Gw berada tepat di depan Nissa dengan jarak diantara kita cuma sejengkal. Hidung gw yang kagak mancung-mancung amat bisa mencium harum parfum bunga lavender dari tubuh dia.
"Kamu mau apa?" Dia bicara menunduk tanpa melihat gw.
Gw udah beri dia kesempatan untuk kabur dengan cuma diam saja di depan dia. Tapi ini anak sungguh berani dan bertanya lagi.
"Bukannya seharusnya gw yang bertanya mau kamu sebenarnya apa?. Gw mau pergi lu tahan terus dari tadi.
"Gw kan udah bilang kagak minat lagi masuk organisasi yang kamu pimpin ini dan berharap kita kagak bertemu lagi, apa kurang jelas gw bicara? dan apa harus gw berbisik manja ke telinga kamu?".
Nissa masih menunduk, gw liat wajah dia berubah sedih. Gawat apa gw bicara terlalu berlebihan ya.
"Kamu tadi bilang ingin masuk rohis karena saya? apa kamu tidak berminat lagi?". Dia bicara masih dalam posisi tidak berani melihat mata gw.
Sialan gw musti jawab apaan ini kagak gw sangka dia akan bertanya seperti itu. Kalau pertaanyaan biasa gw bisa obrak-abrik otak gw untuk mencari jawabannya. Kalau pertayaan itu gw musti cari jawaban dimana? di Hati?! Gw bingung sendiri.
"Sebelum gw jawab pertaanyaan kamu, gw akan tanya 1 hal ke kamu dulu!".
"Tanya apa?". Nissa menjawab cepat
"Kenapa di gerbang campus tadi pagi kamu beristigfar saat liat gw? Gw cuma berdiri kan di sana tidak bicara aneh ke kamu, cuma kita saling pandang saja".
"Apa kamu liat gw sebagai makhluk tak kasat sehingga beristigfar seperti itu?"
"Bukan, bukan seperti itu!". Dia menjawab cepat lagi.
"Saya beristigfar untuk diri saya sendiri karena telah berdosa". Dia menjelaskan
"Sorry sepertinya gw enggak ngerti kamu bicara apa, dosa apa yang kamu maksud?"
Dia diam saja seperti sedang berfikir mencari kata untuk menjawab.
"Saya telah melakukan zina mata saat melihat kamu". Jawab dia dengan suara pelan banget.
Gw kagak ngerti apa yang dia bicarakan yang gw tau zina ya tubuh, ini kenapa ada zina mata juga. Anak kyai emang beda. Gw bicara dalam hati
"Zina mata? apa itu? kita kan kagak bersentuhan dan juga itu tempatnya di pinggir jalan bukan di atas kasur kenapa bisa zina?". Gw ceploskan sekalian
"Astafirlahalazim,kenapa kamu bicara vulgar seperti itu?".
"Tu kan kamu beristigfar lagi?! kita memang tidak cocok"
Dia mendongak menatap gw sekarang, reflek gw mundur karena jarak kita sangat dekat dan juga gw agak silau sama kecantikan wajah dia.
"Zina mata itu saat kita memandang lawan jenis dengan fikiran dan berfantasi aneh-aneh". Dia kembali nunduk setelah bicara
Kaki gw langsung terasa lemes mendengar itu, rasanya gw pengen teriak panggil Reza dan Udin yang ada di luar untuk masuk bantu gw biar kagak pingsan dengar arti dari dari Zina mata itu.
Jadi kesimpulannya dia nafsu dong setiap liat gw.
"Jawaban gw soal pertanyaan kamu secara tidak langsung kamu sudah tau jawabannya kan?". Gw mencoba tenang dan berbicara
"Apa maksud kamu?"
"Bukannya kalau gw masuk rohis kita akan sering bertemu dan pasti kita akan saling perpandangan, apa kamu mau nunduk aja kek gini saat kita bicara nantinya? Karena takut dosa?".
"Kontak mata terlalu lama saja kamu tidak bisa kan? pasti kamu juga tidak akan bersentuhan dengan lawan jenis juga sebelum menikah bukan? Sedikit banyak gw mengerti prinsip wanita seperti kamu".
"Gw tidak menyalahkan atau menghakimi prinsip seperti itu karena di agama kita memang itu yang harus dilakukan, gw menghormati itu. Tapi itu tidak akan cocok dengan orang seperti gw".
"Kamu wanita cerdas pasti mengerti apa yang gw maksud". Gw berbalik badan dan melangkan pergi dengan keren
"Tunggu! aku bisa beru..
"Braaaaakkk!!".
Saat gw dengar Nissa akan bicara lagi tapi langsung terhenti saat pintu yang gw kunci dari dalam itu di dobrak dari luar.
Pintu itu langsung terbuka lebar kembali.Dan muncul 3 orang berpakaian satpam dari sana.
Mereka melihat wanita di pojokan yang ketakutan dan pria di lantai yang bersimbah darah.
Pandangan marah mereka langsung tertuju ke gw yang berdiri tegak, auto gw senyum dong mereka kan penjaga taman bermain gw ini.
"Kamu! apa yang kamu lakukan!!". Salah satu dari mereka bicara menatap gw tajam.
Anjing baru jadi satpam aja songongnya minta ampun,senyum gw langsung hilang dan Gw langsung siaga penuh. Gw kagak tau kenapa mereka bisa kesini, yang pasti penjelasan apapun yang gw ucapkan mereka kagak bakal percaya dan satu-satunya jalan ya apa lagi kalau bukan gelut dan adu ilmu kanuragan.
Wanita bernama Ana itu langsung berlari ke arah 3 orang satpam yang masih menatap gw dengan bengis.
"Pak cepat tangkap dia, orang itu bukan manusia dia binatang!". Dia berucap mengadu
"Teman saya sudah dia buat seperti itu cepat lumpuhkan dia!". Wanita yang dari tadi di pojokan itu menunjuk pria yang tergeletak di lantai.
"Nona tenang dulu, percaya pada kami. Kami kesini atas aduan dari teman nona yang bernama Salma".
Mereka bertiga langsung melihat ke arah gw dan mulai berjalan cepat seperti pahlawan yang akan unjuk gigi membasmi monster.
"Bimo" Suara Nissa di belakang memanggil nama gw.
Gw terkejut sejak tadi baru ini dia sebut nama gw.
Tapi gw kagak sempat untuk menengok ke belakang karena fokus gw ke arah 3 orang satpam, yang sedang berjalan ke arah gw dengan membawa 3 pentungan hitamnya.
"Berhentiii!!!! Apa yang kalian akan lakukan!!". Saat gw akan berlari maju menerjang dan berduel handicap match 3 vs 1 terdengar suara keras dari pintu.
3 orang satpam itu berhenti berjalan dan menengok ke belakang.
"Pak Rektor!" ucap mereka serempak
"Di pintu sana ada Brotoseno rektor campus dengan betina yang debat sama gw di luar tadi kalau kagak salah namanya Salma, orang yang panggil 3 orang satpam ini kesini.
Di belakang mereka juga ada 2 kepala yang gw kenal yaitu kepala 2 cebong peliharan gw Udin dan Reza.
"Pak saya yang memangil mereka ke sini sebelum saya mengadu ke bapak". wanita bernama Salma bicara
"Ana kamu tidak apa-apa?".
"Aku tidak apa-apa, tapi satria!. Dia menunjuk orang yang udah pingsan di lantai
"Binatang, iblis kamu!! Dia langsung teriak histeris.
"Diaaamm!! apa yang kamu bicarakan!" Pak Broto berbicara lebih keras lagi.
"Pak kenapa anda membentak saya, harusnya anda menangkap pelaku dari semua ini". Salma protes dan marah.
Pak broto melihat gw dan langsung menghampiri berjalan ke depan.
"Tuan muda, tuan muda tidak apa-apa?! dia bicara sambil menunduk menghawatikan gw.
Suasana hening mungkin mereka kagak sangka Rektor yang selalu bersikap tegas itu akan memanggil gw tuan muda dan begitu takut dan hormat ke gw.
"Pak rektor apa yang anda lakukan?" Salah satu satpam memberanikan diri bertanya.
"Diaaammmm!! Pak Broto langsung berteriak.
"Kalian tidak tau siapa dia haa?! satu ucapan dari tuan muda ini bukan hanya bisa menghancurkan campus ini dan hidup kalian, Kota ini juga bisa hancur!".
Sialan ini Broto berlebihan banget kek nya, apa dia lagi jilat gw ya, setelah tau gw anak sultan.
Semua orang tercengang kembali dan terkejut tidak terkecuali Nissa yang ada di belakang gw, mereka pasti berfikir siapa gw sebenarnya sehingga rektor campus bisa tunduk.
"Iya tuan muda?".
"Tolong jangan berlebihan dan cepat suruh 3 orang satpam itu bawa hama yang pingsan itu ke rumah sakit sebelum mampus kehabisan darah".
"Kalian dengar kan apa kata tuan muda, cepat laksanakan perintahnya! dan jangan coba-coba kalian membicarakan kejadian ini kepada orang lain, kalau itu terjadi kalian dan keluarga akan menyesal seumur hidup".
3 satpam itu terlihat sangat ketakukan dengan perkataan pak Broto. Dan langsung dengan sigap berjalan membawa Satria pergi.
"Pak Broto sebenarnya siapa binatang ini, sehingga anda begitu sopan dan merendahkan diri seperti ini! Dia sudah salah pak harusnya anda menghukum dia". Salma kembali berbicara.
"Jaga ya bicara kamu!! saya nyakin kamu dan Satria juga salah karena sudah menyulut emosi tuan muda Abimama".
"Dan kamu bilang hukum? hukum apa yang bisa diterapkan sama putra pemilik campus sekaligus orang terkaya di negeri ini hah?!".
Sialan ini Brotoseno dia buka identitas gw, dan dia itu lagi bela gw apa sindir gw sih.
Suasana hening kembali tidak ada yang berani bicara.
"Cak? kamu tidak apa-apa cak?" Reza berlari ke arah gw.
"Bimooo!! Udin berteriak lebay dan ikut berlari dari arah pintu.
Gw kira mereka bakalan nontonin gw terus dan kagak kemari.
"Gw kagak ngapa-ngapa nyet". Gw menjawab pelan.
Mereka malah liat ke arah belakang gw dan tersenyum malu-malu.
"Hee kampret lu liat kemana anjing! gw di depan kalian malah lu berdua liat belakang gw".
"Sorry cak ada pemandangan bagus soalnya di belakang kamu". Reza berbicara pelan
"Iya Bim, abis kamu apain itu ketua Rohis kita?".
"Awas lu jangan liat terlalu lama Zina mata nanti". Gw bicara keras dan menyindir cewe di belakang gw.
"Bim kepala kamu berdarah Bim?" Udin melihat darah yang menetes di leher belakang gw.
"Ini nyet dipukul sama gelas tadi".
"Apa!". Mereka berteriak serempak sampai kaget gw.
"Dek Za?!.
"Iya kak Din?".
"Kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan?".
"Tau kak Din". Reza menjawab dengan tegas.
"Kalian mau ap..
Sebelum gw melanjutkan bicara gw udah ada di gendongan belakang si Reza.
"Nyet lu mau ngapain anjing?".
"Udah lah cak jangan banyak bicara,kita akan bawa dirimu ke klinik binatang lagi". Reza langsung berjalan menggendong gw pergi.
Gw berontak tapi kagak bisa, "Pak Broto jangan sampai mereka menyebarkan identitas saya ke orang lain, jika anda masih ingin jadi rektor di taman bermain saya ini". Gw bicara lebih tepatnya berteriak di atas punggung Reza yang berjalan cepat gendong gw.
"Baik tuan muda, saya akan memastikan itu tidak akan terjadi".
Gw dengar suara broto berteriak karena gw udah ada diluar ruangan dengan 2 cebong yang ketakukan saat liat kepala gw berdarah.
"Nyet lu kagak bener-bener akan bawa gw ke klinik binatang lagi kan?". Gw bertanya si gendongan Reza dan Udin yang berjalan si samping.
"Kagak lah Bim, campus kita ada klinik dan ada perawat juga".
"Iya cak kita kesana saja, kita tau kepala dirimu keras, pasti cuma lecet aja itu".
"Kalau kalian tau kenapa lu gendong gw segala?".
"Sebenarnya kita ingin tampil keren aja cak di depan Nissa!". Jawab Reza
"Iya Bim, dia pasti berfikir kita sangat baik hati dan suka menolong".
"Emang keparat lu berdua, kagak tulus lu bantu gw, turunin gw!". Gw di buat sebal lagi sama 2 cebong bersaudara ini, bisa-bisanya mereka caper manfaatin luka gw.
"Tinggal deket lagi ini cak sampai klinik campus, disitu aja dirimu, diriku gendong".
"Iya Bim di situ aja, loe juga pasti capek kan? Biar lemak Reza sedikit berkurang juga".
"Sialan dirimu kak Din, ini lemak kan udah diriku rawat dengan baik".
"Itu lemak apa kebo nyet, pakai lu rawat segala".
"Dirimu diam saja cak, dan nikmati pemandangan dari atas punggung diriku saja".
Gw cuma tersenyum kecil,setiap sama-sama ini dua cebong, rasanya bisa stres tapi juga gw bisa senang bahagia karena tingkah absurd mereka berdua.
" Oya loe tadi bicara Zina mata Bim? kok loe tau itu kata? bukanya loe kagak ngerti soal agama ya?". Udin bicara bertanya dari samping.
"Oh itu nyet, gw kagak jadi masuk Rohis walau Nissa terlihat ingin gw masuk ke organisasi yang dia pimpin".
"Apa hubungannya cak sama Zina mata?"
"Iya Bim, kenapa loe enggak setuju saja ikut masuk rohis dan bareng-bareng kita?".
"Nanti Ketua rohis lu berdua kebanyakan dosa nyet, karena dia bilang setiap lihat gw dia melakukan Zina mata".
"Brukkk!" Reza jatuhin gw dari gendongan dia dan gw langsung terjengkang ke belakang.
"Nyet, ngapain lu anjing! bokong gw sakit ini! main jatuhin aja loe!".
Gw masih duduk di tanah, di depan gw 2 cebong melihat gw tajam dengan berkacak pinggang.
"Lu berdua ngapain, jangan takutin gw nyet!".
"Kak Din?".
"Iya dek Za?".
"Lebih baik kita bawa dia ke klinik binatang saja deh".
"Iya betul itu Dek Za, itu tempat yang cocok untuk penggoda seperti dia".
Gw merangkak mundur. "Penggoda apa maksud lu berdua, gw kagak ngerasa ngegoda orang. jangan bercanda kalian nyet".
"Tolonng!! tolonnng!!".
Gw teriak dan terus mundur merangkak menjauh dari 2 anak cebong yang terlihat marah sama gw itu.
.
.
.
â– Sorry ya guys kalau alurnya lambat dan banyak dialog, sekali lagi gw adakah penulis amatir disini dan baru belajar nulis, maaf jika tidak sesuai dengan harapan kalian. Gw udah mencoba nulis sedetail mungkin agar setiap kata dan situasi di dalam novel ini bisa kalian visualisasikan kalau ada yang kurang harap maklumâ–