Preman Campus

Preman Campus
BAR-BAR


Perkelahian tidak akan bisa dihindari saat ini, walau gw berada di negeri orang dan di tempat umum sekalipun, jika dia jual pasti akan tetap gw beli, walaupun harus gw kridit nanti jika terpaksa saat keadaan tidak memungkinkan buat gw.


Karena lawan gw saat ini bukan orang sembarangan tapi anggota TNI yang sudah terlatih, karena gw nyakin tentara Indonesia pasti tangguh-tangguh dan sulit dikalahkan jika fight one on one.


Di pinggir danau dan di dekat patung Merlion inilah 2 pria yang baru saja bertemu bersiap untuk saling mengadu nyawa.


Pria dengan profesi membela negara berhadapan dengan mahasiswa gila yang ingin membela 2 sahabatnya sekaligus bernafsu ingin menjadikan istri pria TNI itu menjadi janda.


Anehnya taman yang semula sangat ramai tiba-tiba menjadi sepi dan sunyi seakan-akan aura kami berdua menakuti semua orang yang akan mendekat kesini.


Adu nyawapun segera akan di mulai dan gw sudah siap dengan segala kemungkinan yang ada.


Dia melesat dan siap menerjang, kaki pria itu sudah siap diayunkan untuk melancarkan serangan pembuka.


"Wuuungg!!". suara tendangan kaki kanan yang gw nyakin full akan power, melesat menuju kepala samping gw dan mengenai angin dan terdengar seperti suara lebah di telinga gw.


Reflek gw menghindar ke sisi kanan dengan cepat, telat sedetik saja sudah retak ini otak gw, abis operasi usus buntu masak langsung operasi otak, kan kagak lucu.


Mata dia tajam mengikuti gerakan tubuh gw yang menghindar, seperti elang yang menargetkan tikus buruannya.


Dengan cepat dan bringas dia melancarkan pukulan lurus dengan tangan kanannya, pukulan itu datang seperti kilat cepat dan terlihat sangat kuat.


Gw yang tidak bisa menghindar lagi karena jarak kami yang begitu dekat, mau tidak mau ikut melancarkan pukulan untuk menghalau serangan dia.


Walau gw nyakin akan terpental tapi itu lebih baik daripada pukulan itu mendarat di muka gw.


"Praaakk!!".


Suara dua 2 pukulan tinju bertemu dan saling menghantam satu sama lain, suara tulang berbenturan sungguh membuat ngeri siapa saja yang melihat dan mendengar.


Gw terpental mundur kebelakang 3 langkah akibat dorongan dari pukulan pria itu, tangan gw mati rasa untuk sesaat, tapi langsung gw kepalkan kembali agar otot tangan gw menegang.


Bisa dalam masalah besar jika gw fight dengan satu tangan dengan pria ini.


Diapun terpental kebelakang, tapi hanya mundur satu langkah saja, disini jelas terlihat gw kalah dalam hal power dan kekuatan.


Gw harus putar otak untuk mencari celah dan kesempatan untuk bisa melumpuhkan orang ini, yang terlihat sangat terlatih. Fight lama sangat tidak menguntungkan buat gw.


Walau gw nyakin stamina gw kuat tapi melihat dari profesinya orang itu juga pasti punya stamina kuda.


"Boleh juga kamu, bisa menghindar dan menahan pukulan ini". Dia bicara dan menunjukan tangan kanannya yang mengepal.


"Makasih pujiannya, tapi sorry gw kagak haus akan pujian". Gw bicara setenang mungkin tanpa menunjukan ekpresi kesakitaj ataupun takut.


Gw akan bersepekulasi, yang gw punya disini hanyalah nyali yang tidak akan pernah gentar.


Gw langsung melesat maju untuk menyerang, untuk saat ini gw akan percaya kata orang yang bilang pertahanan terbaik adalah menyerang.


Dia dengan tenang berdiri ditempatnya saat gw siap untuk melancarkan pukulan, dari raut wajahnya tampak kesombongan dan meremehkan gw.


Mungkin inilah kesempatan gw, di saat dia jumawa gw akan jatuhkan dengan menghantam titik vital di tubuhnya.


Dan target gw adalah lehernya, agar dia langsung jatuh saat pukulan gw nanti tepat sasaran. Rencana sudah tersusun rapi di otak gw, sekarang tinggal eksekusi.


Gw sudah mengambil ancang-ancang dan tangan kanan sudah gw tarik kebelakang agar menambah power pukululan.


"Wuusss!!". Pukululan gw lancarkan melesat lurus menuju lehernya.


Gw tersenyum saat tinju gw hampir mengenai sasaran, dan dia tidak bergerak sama sekali.


"Lemahh!!". Dia berguman pelan sambil tersenyum mengejek.


"Plaak!!". Mata gw terbelalak karena terkejut, tidak menduga Pukulan yang gw lancarkan akan ditangkap dengan mudahnya.


Senyum yang tadi gw tampikan menghilang seketika dibawah tekanan orang di depan gw ini.


Tangan gw masih di pegang dia dengan erat, alarm bahaya langsung gw dengar. Kalau tidak menjauh dan menjaga jarak, pasti kena ini gw, dan benar saja.


"praakk!!".


"Buaakkk!!!".


"Braakkkk!!".


Gw berguling-guling di tanah, saat hidung gw kena hantaman pria itu dan tendangannya yang lurus tepat mengenai dada gw hingga jatuh gelinding kek roda yang lepas dari mobil.


"Bimooo!!".


"Cakkkk!".


Dua anak cebong pada teriak, tapi masih berdiri di tempat doang. Kagak samperin gw dan bantu berdiri. Emang temen biadap mereka berdua.


Gara-gara ulah mereka gw jadi guling-guling di tanah kek cacing.


Gw langsung berdiri dan mengusap hidung gw yang mulai berdarah dan untungnya kagak patah.


"Ha-ha-ha-ha! iya bagus ayo berdiri, akan saya ***** kamu seperti bubur!".


"Mas sudahhh!! jangan sakiti orang tidak bersalah!" Wanita itu berteriak dari kejauhan dan tidak berani mendekat di medan perang gw sama suaminya.


"Diam kamu *******! ini semua karena kamu yang buat aku cemburu, dasar wanita murahan tidak tau di untung!".


"Hei babi! kagak usah banyak bacot lu babi, sini mana pukulan dan tendangan lu? cuma segitu doang ha, ?! mending jadi satpam aja lu babi malu-malu in TNI lu!".


"Sampah!! jika itu yang kamu mau! akan saya tunjukan apa itu rasa sakit". Dia melangkah maju.


Saat jarak kami semakin dekat dia langsung melancarkan tendangan menyampingnya.


Gw yang masih berlari maju, menunduk untuk menghindarinya.


Inilah kesempatan gw, gw langsung menerkam dan menekan perutnya dengan bahu dan mendorong badannya, untuk men take down dia ke tanah.


Rencana gw selanjutnya adalah membawa dia ke tanah dan bergulat disana.


Tapi bukannya jatuh, tubuh dia hanya mundur beberapa langkah saja kebelakang karena dia juga memegangi badan gw, sekuat tenaga gw dorong pun dia hanya mundur doang.


Lagi-lagi alarm bahaya berbunyi nyaring di telinga gw.


"Buggghkk!!".


"Buggghkk!!".


"Buggggkk!!".


Serangan siku dia mendarat mulus di punggung gw yang buat gw merapatkan gigi menahan sakit.


Dia langsung tarik badan gw untuk berdiri dan. "Praaakkk!!". Kepala gw dihantam diadu dengan kepala dia.


Untuk sesaat pandangan gw terasa kabur, tapi kesadaran gw segera kembali memberitahu untuk segera berbuat sesuatu, jika kagak mau mampus disini.


Tangan gw yang bebas seketika itu juga langsung meraih rambut kepalanya bukan untuk gw adu dengan kepala gw, tapi sasaran serangan gw adalah kupingnya.


Dengan cepat mulut gw maju dan langsung gw gigit sekuat-kuatnya kuping kanan dia.


Adengan ini persis seperti disaat Mike Tycon menggigit kuping Alexander Holifiel di pertandingan tinju legandaris itu.


"Aaaaaaaaaaa!!". Dia langung berteriak kencang disaat gigi runcing gw menancap di kupingnya.


"Bugghkk!!"


"Bugghkk!!".


"Bugghkk!!".


Perut samping gw dia hujani dengan pukulan, tapi bodo amat, gw tetap bertahan dengan gigitan di kuping dia.


Dia terus saja berusaha melepaskan diri dengan berbagai cara dari pukulan ke perut dan ke kepala.


Tapi gw masih kuat dan kagak bakal menghindar sebelum kuping ini lepas dari kepalanya.


Darah asin mulai gw rasakan masuk ke mulut, kenyalnya telinga ini orang juga gw rasakan.


Disaat dia terus mendorong kepala gw agar lepas gigitan, mulut gw semakin banyak terisi darah yang muncrat dari telinga yang gw gigit.


"Duaaakk!!". gw langsung gw hantam pelipis dia dengan siku disaat gw melepaskan gigitan.


"Buaaggkk!!". Dia mundur kebelakang tapi masih sempat untuk menendang dada gw, hingga mundur kebelakang beberapa langkah.


"Cuihh!! cuuih!". Gw langsung mengeluarkan darah dari mulut, darah dari teliga pria itu.


Gigi gw rasanya penuh akan darah gw terus meludah untuk menghilangkannya.


Gw juga usap mulut gw pelan untuk menyeka darah yang menempel di pinggir mulut.


"Aahhhhhh!!! bang5at!! anjing!!". Pria itu berteriak dan mengumpat dengan penuh amarah sambil memegangi telinga dia yang gw gigit.


Telinga itu robek separuh dan terus saja mengeluarkan darah segar tanpa henti.


Kepala gw juga berdarah akibat benturan kepala tadi, tapi cuma kulit kepala gw saja yang mungkin robek sedikit, kagak gw pedulikan luka kecil seperti itu.


Demi meraih kemenangan cara apapun akan gw lakukan walaupun cara kotor dan menjijikan sekalipun. Karena ini adalah pertarungan jalanan tidak ada wasit dan tidak ada aturan.


Walaupun terkesan bar-bar dan sadis, gw bodo amat. Lebih baik musuh gw yang menderita daripada gw yang kesakitan.


Gw kagak akan setengah-setangah juga, gw akan serius sampai musuh tidak berdaya.


"Bimooo!!".


"Caaakkkk!".


2 anak cebong lagi-lagi teriak saat liat kepala gw mengeluarkan darah, tapi mereka masih saja seperti tadi. Cuma suaranya doang yang datang ke Gw, tapi badan dan tubuhnya masih berdiri di tempat.


"Kagak usah teriak-teriak kalian berdua nyet! ganggu aja aja kalian, cukup nonton dan nikmati acara ini sambil minum bir sana".


Mereka berdua terdiam dan saling berpandangan, gw merasa 2 anak cebong ini bakalan buat gw emosi sebentar lagi.


Dan benar saja dugaan gw, saat mendengar anak Madura berbicara.


"Kak Din, diriku ambil bir dulu ya? kamu tunggu disini dan nonton Bimo dulu".


"Iya dek Za, cepet! gua juga haus ini lihat Bimo berantem".


"Cak, jangan buru-buru menang ya dirimu! tunggu daku ambil bir dulu". Reza bicara melihat gw dan langsung berlari ke bangku yang kita duduki tadi.


Gw bengong dan berubah jadi patung dadakan mendengar percakapan mereka berdua.


"Aaaaarrrrr!!" emosi gw memuncak melihat 2 cebong dan gw langsung melesat kembali menghampiri pria yang masih kesakitan memegangi kupingnya yang terus mengeluarkan darah.


Hanya satu tujuan gw saat ini, yaitu hantam orang itu sambil membayangkan menghamtam 2 anak cebong.