
Dengan cepat gw memakai baju dan celana panjang setelah mandi, sedikit pomade gw ratakan di rambut agar kagak kering mahkota kepala gw ini.
Gw mau tampil sekeren mungkin di hadapan Amora, gw coba sisir rambut kesamping dan berdiri di depan kaca, kok jadi kek anak culun gini gw yak! gw berguman setalah melihat hasil sisiran gw.
Gw coba sisir ke belakang semua, malah mirip sama bos mafia. Sekali lagi gw sisir berdiri malah kek antena ini rambut.
Bodo lah! gw acak-acak rambut, kagak perlu jadi orang lain. Tampil apa adanya adalah ciri khas Abimana Pramono.
Gw berjalan munuju pintu keluar dengan langkah pasti dan penuh percaya diri, mungkin Amora sudah selesai masakin gw mie goreng.
Saat akan membuka pintu tiba-tiba gw teringat seseorang yaitu Sasa alias Vanesha bin Nying-Nying.
Itu anak kan ngekost di sini juga, Mungkin dia udah balik dari Apartementnya mbak Rina.
Gw jadi bimbang dan kagak jadi ngebuka pintu, bisa berabe nanti jika gw ngobrol sama Amora dan tiba-tiba Sasa muncul, pasti bakalan tegang banget suasannnya.
Walau ada kemungkinan saat ini Sasa ada di butik untuk kerja, tapi kan kagak menutup kemungkinan juga dia ngambil cuti dan sekarang ada di lantai atas.
Gw mondar-mandir di dalam kamar kek strikaan mencari solusi yang tepat untuk situasi yang gw hadapi ini.
Untuk sekilas berfikir untuk kabur tapi segera gw urungkan karena malu sama nama, masak Abimana Pramono kabur.
"Tok-tok-tok! Bimo kamu ngapain sih lama banget? keburu dingin nanti ini mie nya". Amora mengetuk pintu dan memanggil gw dari depan.
Gw langsung berjalan dan membula pintu dengan cepat.
"Selamat pagi Amora". Gw langsung menyapa wanita cantik yang berpakaian casual di depan gw dan ditangannya memengang mangkok yang berisi mie dengan sendok dan garpu juga tentunya.
Untuk sesaat dia memandang gw tanpa kedip dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan untuk sesaat pandangan Amora berhenti di leher kiri gw.
"Hei cewe?! kok malah bengong kamu, tenang aja sudah hilang lama tanda yang kamu kasih di sini". Gw bicara dan mengelus leher.
"Apa sih Bim, aku enggak ngerti maksud kamu". Muka Amora bersemu dan pandangannya langsung melihat ke arah lain.
"Lagian ini sudah siang, kamu masih mengucapkan selamat pagi saja". Amora terus saja berbicara mungkin untuk menutupi rasa groginya.
"Maklumin saja aku selalu lupa waktu kalau sama kamu kek gini". Gw bercanda agar suasana menjadi riang.
"Dasar gombal, ini sarapan kamu". Amora menyerah kan mangkuk yang dia pegang dan langsung gw terima.
"Thanks, emang berbakat masak kamu". Gw memuji
"Cuma masak mie ma gampang, menu yang lain aku juga bisa". Dia tersenyum kecil mendengar pujian gw dan membanggakan dirinya sendiri
"Iya mirip mirip banget kamu sama ART rumah aku, hehehe". Gw bicara dan mundur masuk ke dalam kamar.
"Bimooo!". Amora berterik dan berjalan masuk.
"Bercanda Amora, btw selamat datang di kamar aku. Ini pertama kalinya kamu masuk di sini kan?".
"Ya ampun Bimo! ini kamar apa sarang lebah, berantakan banget". Amora melihat sekelilingnya dengan pandangan tidak percaya.
"Terima kasih atas pujiannya". Gw tersenyum lebar
"Itu sindiran Bimo! bukan pujian". Amora cemberut saat melihat senyum gw.
"Kita bicara disini tidak apa-apa kan?". Gw berucap dan duduk lesehan di samping kasur.
Amora mengangguk tanpa menjawab dan pandangannya masih menjelajahi setiap sudut kamar gw.
"Sorry gw kagak punya kursi, tadinya ada sih 1 tapi udah patah dan gw buang. Gak apa-apa kan duduk lesehan kamu?".
"Iya gak-apa kok". Jawab Amora pelan
"Tunggu Amora!". Gw hentikan dia saat mau duduk di lantai.
"Apa sih Bimo, katanya kamu suruh duduk?".
"Itu tutup dulu pintunya, ada setan masuk nanti".
"Bukannya harusnya emang terbuka ya Bim? biar aku bisa kabur nanti".
"Kabur dari apa? emang aku srigala".
"Hehehe, iya aku tutup". Amora berjalan dan langsung menutup pintu.
Para setan di luar sana cepet kemari jangan males aja lu pada, kesini dan cepat kerja pintu sudah ditutup itu.Gw bicara dalam hati memanggil para setan penggoda.
"Puk-puk-puk!". Gw menepuk-nepuk kasur. "Duduk sini kamu ya? lantainya belum aku pel soalnya".
"Cepat dimakan itu keburu dingin enggak enak nanti". Dia duduk tepat di pinggir kasur dan menghadap tepat ke gw yang duduk lesehan.
"Kok telurnya cuma satu amora!". Gw melihat dan membalik telur yang ada di atas mie dalam mangkok yang gw pegang.
"Kan kamu enggak bilang mau pakai telur berapa, ya cuma aku kasih 1. Makan saja cepat yang protes".
Gw pun mulai menggulung mie dengan garpu dan segera masukkan ke dalam mulut dan itu gw ulangi terus sampai mie dan kuning telur lenyap dan tidak tersisa.
"Alhamdulliah, udah kagak pada demo lagi cacing di perut". gw menaruh mangkok di lantai.
"Kok putih telurnya enggak kamu makan Bim?". Amora bicara dan melihat putih telur yang masih utuh.
"Sorry ya dari tadi enggak tawari kamu minum". gw mengambil 2 kaleng bir dan berjalan kembali duduk lesehan di depan Amora.
"Bimo kamu ya, masak aku kamu kasih bir?". Amora cemberut melihat kaleng bir yang gw taruh di depannya.
"Cuma itu doang yang kadar alkoholnya paling rendah". Jawab gw santai.
"Emang enggak ada minuman yang lainya gitu, air putih atau cola?".
"Clang!". Gw membuka caleng bir menyesap busa yang keluar dan minum dengan cuek di depan Amora.
"Aku enggak pernah ada tamu cewe Amora jadi enggak ada minuman seperti itu, nanti aku belanja deh jika suatu saat kamu main kesini lagi".
"Jadi setiap hari kamu minum seperti ini terus?". Amora mengangkat kaleng bir di depan dia.
"Terkadang juga aku minum air putih jika di luar, tapi kalau di sini aku minum ini".
Amora hanya diam dan menatap gw, mungkin dia terkejut tapi bodo amat inilah gw apa adanya.
"Dikurangi ya Bim minumnya, enggak baik untuk kesehatan kamu".
Gw cuma menjawab dengan senyum kecil, karena kagak mau bicara dan berbohong.
"Amora kamu kenal aku sudah berapa lama?". Gw bertanya saat dia hanya diam dan memamdangi gw.
Dia tampak berfikir. "kurang lebih 3 bulan sejak kamu ngekost disini kan?".
"Apa kamu merasa mengenal aku sepenuhnya dalam 3 bulan itu?".
Dia terdiam kembali dengan mengeleng pelan sambil melihat gw sendu.
"Amora gw bukan seperti kebanyakan cowo lainnya. aku suka berantem dan minum, setiap bicara pun aku selalu ceplas-ceplos, dan orang yang sangat keras kepala".
"Aku adalah tipe cowo yang akan dibenci setiap wanita".
"Kamu salah Bimo, kamu itu baik banget. Melakukan segala hal dengan cara kamu sendiri walau itu terlihat tidak biasa tapi di mata aku itu sangat keren dan satu lagi kamu itu unik". Dia tesenyum mengucapkan kata yang terakhir itu.
"Kok kamu bisa menyimpulkan seperti itu? baik dari mana coba aku".
"Kalau kamu tidak baik, enggak akan bantuin aku saat dianiaya mantan aku dulu. Jika kamu tidak baik tidak akan lindungi aku dari Preman di tempat makan tempo hari, dan juga kamu berantem untuk lindungi supir taksi yang mengantar kita kan?".
"Kalau tidak baik, apa coba itu namanya Bimo? kamu juga selalu buat aku tertawa dan bahagia dengan perhatian dan kekoyolan kamu itu".
"Dan kecuekan kamu itu semakin buat aku penasaran dan aku selalu berfikir kok ada ya cowo seperti ini, mungkin kamu tidak sadar tapi kamu memiliki semua hal yang bisa membuat wanita kagum".
"Apa aku seperti itu Amora? kok aku enggak tau ya?".
"Kamu bukannya enggak tau Bimo tapi terlihat kamu memang tidak mau tau, menurut kamu itu pasti biasa aja kan? tapi bagi semua orang yang mengenal kamu pasti bisa melihat betapa luar biasanya kamu".
Gw garuk-garuk kepala walaupun kagak gatal, kenapa di mata Amora gw kayak superhero yang baik hati dan pembela kebenaran ya.
"Kamu juga sangat menghargai dan menghormati wanita Bim". Amora bicara dengan wajah merah dan menunduk.
"Maksud kamu apa, menghargai apa?". gw langsung bertanya karena kagak ngarti yang dia bicarakan.
Dia malah diem aja dan terus menunduk.
"Kamu bisa mengontrol diri dan tidak mengambil kesempatan di saat kemarin itu". Dia bicara pelan.
Gw berfikir sejenak dan otak gw langsung nyambung ke adengan dimana Amora yang bernafsu mencumbu gw karena efek dari sate kuda.
"Kamu dengan gentle tidak melangkah lebih jauh disaat aku terus saja..
Dia berhenti bicara, mungkin dia terlalu malu untuk melanjutkannya.
"Jujur Amora baru pertama kali aku dalam posisi seperti itu dan tidak tau apa yang musti aku lakuin, aku udah pernah bilang kan jomblo sejak dalam kandungan".
"Soal ini juga kan yang kamu mau bicarakan? soal insiden tempo hari itu?".
Dia menatap gw dan mengangguk pelan.
"Sekarang kamu maunya gimana? apa kamu mau mendengar aku minta maaf ke kamu?".
Dia mengelengkan kepalanya.
Ini cewe kok cuma ngangguk dan geleng-geleng mulu dari tadi kagak sakit apa yak itu leher.
"Bimo?". dia memanggil nama gw pelan
"Iya Amora, kenapa?".
"Kamu pernah bilang kan tidak akan nembak cewe duluan?".
Deg!
jatung gw langsung berdetak kagak normal mendengar pertanyaan Amora, perasaan aneh tiba-tiba gw rasakan.
"Hehe, iya karena aku takut di tolak". Jawab gw dengan grogi.
"Kalau gitu Bim, kamu mau gak jadi cowo aku?".