
"Sekarang bakal gw tunjukin ke elu apa itu gelut jalanan!".
"Dengan kondisi yang bugar pun mustahil sampah seperti kamu bisa mengalahkan saya, apalagi dengan tubuh lemah seperti itu. Akan saya buat kamu menjadi samsak tinju ini". Dia bicara dan menunjukan kepalan tangannya.
Tanpa menjawab gw tersenyum tipis dan pelan gw berjalan maju.
"Kamu sendiri yang minta!!". Dia bicara dan juga ikut maju tanpa rasa takut.
Dengan cepat dia kembali melancarkan tendangan menyamping khas atlit karate.
"Buaaakk!!".
Suara tendangan kaki beradu, disaat tendangan kaki kanan dia berayun langsung gw adu dengan tedangan kaki gw.
Dia langsung mundur ke belakang dan melihat gw tajam.
Gw masih berdiri tegak. "Kenapa kaki lu sakit! mau ke tukang urut dulu? sono kalau lu mau pergi, biar gw lanjutin bercumbu dengan Putri". Gw bicara dan melihat Putri yang tampak tegang melihat kami berkelahi, tegang tapi wajahnya merah tersipu.
"Anjing!" Dia maju lagi, kali ini dengan melancarkan pukulan lurus kearah gw.
Gw juga langsung mengepalkan tangan dan mengambil ancang-ancang.
"Pruaaakk!!".
Suara 2 tinju berbenturan, dia kembali mundur dan meringis sambil mengoyang-goyangkan tangannya.
Gw masih berdiri di tempat dan menyembunyikan tangan gw di punggung, karena bisa jumawa ini orang nanti kalau liat kepalan tangan gw bergetar.
Saat bertaruh nyawa seperti ini jangan pernah sekalipun menunjukan rasa sakit yang kalian rasakan di depan musuh, bersikap tenang dan kepala dingin adalah kunci.
Apabila semua sudah sesuai rencana kemenangan 100 persen akan berada di tangan.
Gw langsung maju di saat dia masih kesakitan dengan kedua jarinya.
"Buaaakk". hook kiri gw arah kan ke wajahnya tapi dia langsung mengcover dengan kedua tangan tepat di muka seperti petinju yang sedang bertahan.
"Buaakk!!".
"Buaaakk!!".
"Buaakk!!".
Gw gw masih menghujani dia dengan pukulan hook kiri dan kanan bertubi-tubi tapi masih saja belum tempus.
Saat tangan gw akan kembali menyerang dan meninggalkan celah tanpa gw duga dia melakukan counter serangan balikan dengan pukulan bawah ke arah perut gw.
Yang sialnya tepat di bekas jahitan yang masih belum kering.
"Enggggekk!". Gw menahan rasa sakit yang begitu hebat dan mundur 2 langkah ke belakang.
"Ha-ha-ha-ha! segitu aja kem..!". Dia bicara dan langsung terkejut dengan apa yang dia liat.
Ini kan gelut kenapa ini orang ketawa? tanpa fikir panjang dan menghiraukan rasa sakit di perut, gw langsung berlari ke depan dan melancarkan tendangan dua kaki yang mengarah ke dadanya.
"Wusssss!! Braaaakk!!! Bruukkk!!".
Suara dia terjengkang ke belakang dan jatuh di ranjang begitu juga dengan gw yang jatuh ke lantai.
Darah sudah mulai merembes dari perut gw dan mulai netes di lantai.
"Bimoo!!" Putri berteriak saat melihat keadaan gw, dia bergeges menghampiri yang tubuh gw yang masih tergeletak di lantai.
"Bangsaat!!". Pria itu langsung berdiri sebelum Putri sampai ke tempat gw terkapar.
"Jangan kesini Put?!!". Gw langsung berteriak mengingatkan
"Mampus kamu sampah!!". Pria itu mencoba menendang gw yang berbaring di lantai depan dia.
Dalam posisi rebahan, gw putar badan dengan full power gw serimpung kaki kiri dia yang berdiri karena kaki yang kanan terangkat yang siap dia tendangkan ke tubuh gw.
"Duaaakkk!". Claaanggg!!".
Dia langsung jatuh menyamping ke kanan dengan kepala yang lebih dulu menatap sisi ranjang yang terbuat dari besi.
"Melihat kesempatan di depan mata, gw langsung berdiri.
"Buaaakkkk!!!". walau kaki gw nyeker tetap gw injek wajah dia.
"Buakkkk!".
"Buaakkk!!".
"Buakkkk!!".
"Craaaakkk!!, Aaaaaaaaaaaaa!!".
Gw injak wajahnya membabi buta, hingga terdengar bunyi retakan dan teriakan kesakitan, mungkin hidung dia patah.
Gw liat wajah dia sudah berlumuran darah yang keluar dari hidung, pelipis dan bibirnya yang gw injek.
Gw melihat vas bunga meja samping ranjang, dengan cepat gw ambil dan langsung gw angkat.
"Bimoo jangann!!".
"Praaaaaanggg!!!".
"Aaaaaaaaaaa!!".
Teriakan Putri untuk menghentikan gw udah terlambat.
Beruntung dia dengan cepat melindungi wajahnya dengan kedua tangannya, tapi tetap saja pecahan vas bunga yang terbuat dari keramik itu sedikit mengenai jidat dan pipinya.
"Bimo cukup!!".
"Diaaaammm!!!". Gw membentak Putri hingga dia mundur ke sudut tembok sebelah kiri karena takut dan terkejut.
Dengan darah yang juga terus keluar dari perut, gw raih tangan kiri dia dan tanpa belas kasih gw putar dengan cepat.
"Craaakkkk!!". Suara tulang bergesekan dan 1 tangan berhasil gw patahkan
"Aaaaaaaa!! tolong sudaah, sudaah! saya menyerah tolong berhenti!!". Dia teriak dan berbicara dengan wajah yang sudah tidak tampak karena sudah ditutupi dengan darah segar.
Apa gw akan berhenti disaat dia memohon? tentu saja tidak!.
"Duaaakk". Gw jongkok menjambak rambutnya dan membenturkan kepala belakangnya ke lantai.
"Tolong cukup, jangan bunuh saya". Dia merintih putus asa.
Gw berdiri dan injek dadanya dengan satu kaki. "Bacot lu anjing!! Kemana kepercayaan diri lu yang mau mampusin gw tadi anjing!"
"Bugggkk!!". Gw tumbuk dadanya dengan kaki.
"Uhuk-uhuk! tolong berhenti ampun! saya masih ingin hidup tolong!". Dia memohon.
Mata gw semakin kabur karena penglihatan gw terganggu karena darah yang keluar dari perut gw.
Gw mundur kebelakang 1 langkah dan sedikit bergoyang memegangi kepala dan perut gw.
"Bimo!!". Putri memanggil gw tapi tidak beranjak dari sudut ruangan sana, mungkin dia ketakutan melihat gw.
Gw tersenyum tipis melihat Putri apa Amora, Sasa dan Bianca akan juga ketakukan seperti itu saat melihat gw seperti ini? Apa mereka juga akan diam saja melihat gw yang kesakitan seperti ini?
"Dokter Putri, dokter Putri.. tolong saya dok, tolong saya!". Pria itu ngesot di lantai menghampiri Putri.
Bekas dan bercak darah terlihat di lantai yang dia lewati.
Putri yang berada di sudut ruangan sebelah kiri hanya terdiam dan bergantian melihat gw dan orang yang ngesot menghampiri dia itu secara bergantian.
Gw berjalan tertatih berjongkok dan mengambil serpihan besar vas yang telah pecah di lantai dan gw pilih yang paling runcing dan terlihat tajam.
Gw berdiri dan gw genggam erat serpihan vas dengan tangan kiri karena tangan kanan gw menekan perut agar darah gw tidak semakin keluar.
"Dokter Putri tolong saya dokter! tolong saya!". Dia telah sampai di bawah kaki Putri dan melihat gw ketakukan.
"Bimo tolong cukup ya? jangan kotori tangan kamu lagi". Putri bicara pelan menatap gw dengan mata yang mulai basah dengan air mata.
Gw berjalan pelan tertatih dengan pandangan mata yang semakin buram melihat Putri dan Pria yang ketakutan di bawah kaki dia.
"Gw mau berhenti Put, tapi otak dan tubuh ini seakan kagak mau dengar gw, hanya dengan menancamkan benda ini di lehernya mungkin gw akan berhenti". Gw memperlihatkan potongan pecahan vas bunga di tangan.
"Jangan! tolong jangan bunuh saya, dokter Putri hentikan orang gila itu dokter! tolong selamatkan saya!". Dia panik dan memegang kaki mulus Putri yang buat nafsu membunuh gw semakin berkobar.
"Lepas tangan lu dari kaki dia Anjing!!". Gw teriak penuh emosi.
"Iya-iya saya lepas, saya lepas! tolong cukup jangan sakiti saya lagi tolong!". sambil masih ngesot di lantai dia berbalik badan dan menyembah ke arah gw.
"Bimo cukup ya biar aku rawat luka kamu, tolong jangan buat tubuh kamu semakin menderita".
"Criieeekkk!!"
Terdengar suara pintu dibuka dari luar saat gw akan kembali melangkah untuk menancapkan serpihan vas di leher orang yang bersujud tidak jauh dari gw itu.
"Sahabat super gua daa..!!". Suara yang gw kenal terdengar dari arah pintu masuk.
"Krasakk!!".
Udin menjatuhkan plastik bawaaan dia ke lantai dan melihat gw terkejut.
"Bim?! kenapa loe Bim?! Udin langsung berlari cepat menuju ke arah gw saat dia melihat darah yang keluar dari ini perut dan orang yang sujud memohon ampun.
Badan gw rasanya sudah mencapai batasnya, walau sekuat tenaga gw pertahankan kesadaran ini tetap jasa rasa sakit mengalahkan semuanya.
"Brukkk!!". Sebelum gw jatuh kebelakang Udin lebih dulu menangkap gw dan ikut jatuh ke lantai.
"Bimooo!". Sayuk-sayuk gw dengar teriakan Putri dan langkah kakinya yang menghampiri gw.
"Bimo, Keparat! bangun anjing!!". Udin tampak panik memegangi gw yang terkulai lemah di pangkuan dia.
"Bimo! Please tetap sadar aku akan cari bantuan! Putri jongkok memegang wajah gw dan langsung berdiri lagi untuk berlari keluar ruangan.
"Nyet! lu bawain gw bir kan yet?". Dengan mata yang hampir tertutup gw bertanya, senyum tipis gw tunjukan ke Udin saat melihat samar-samar ini bocah yang mau nangis.
"Iya, gua bawain loe 1 dus bukan, 5 dus kaleng Bir. Jadi loe harus tetap sadar biar kita bisa mabok bareng disini". Udin bicara dan sudah meneteskan air matanya hingga terkena wajah gw yang berada di pangkuannya.
"Nyet jangan sedih, Gw Abimana Pramono ini bukan masalah besar".
"Iya-iya! loe adalah Abimana Pramono sahabat terkuat dan terhebat yang pernah gua punya, tolong bertahan sebentar lagi".
"Nyet tolong kasih kabar ke bokap nyokap gw pakai hp gw di ranjang itu". Gw berguman pelan dengan sisa-sisa kesadaran
"Iya-iya! akan gua beritahu ayah sama bunda kamu, tolong Bim tetap sadar. Gua mohon".
"Nyet! gw ngantuk, lu jangan sedih ya? gw mau tid..." pelan-pelan mata gw tertutup sebelum melengkapi kata yang akan terucap.
"Bimooooooo!!!!".