
"Ini namanya radar hati Put, khusus aku ciptakan untuk mengetahui dimana hati kamu berada".
Kata manis gw ucapkan dan gw kasih bumbu senyum tipis beserta tatapan sendu, kalau Putri kagak baper mampus, kebangetan ini dan bisa gagal rencana gw.
Warna dan ekpresi wajah Putri berubah seketika mendengar racun yang gw ucapkan, bibir tipis itu tidak kuasa untuk tidak melengkung dan tersenyum.
"Put, jangan tunjukin senyum kamu yang seperti ini ke cowo lain ya?". Dengan masih memandang Putri penuh arti gw berguman pelan nan lembut, selembut pantat bayi mungkin.
"Memangnya kenapa Bimo?". Putri dengan wajahnya yang sudah merah merona bertanya malu-malu. Dia tampak menunduk untuk menyembunyikan itu.
Saatnya gw untuk menjawab dan kembali menenggelamkan Putri di dalam lautan racun manis nan romantis agar rencana gw mempunyai peluang sukses yang besar.
"Karena?".
"Karena apa Bimo?". Putri masih dengan menunduk dengan tenang menanti jawaban gw.
Anjir! karena apa yak? Kenapa otak gw tiba-tiba bleng gini, kampret! ini kan situasi romantis kok malah menjurus ke komedi gini sih, bisa ditimpuk Putri ini gw jika jawab ngasal. Gw nengok ke kiri dan ke kanan dengan panik, siapa tau dapat inspirasi untuk menjawab dan kagak jauh gw malah liat ada betina yang memakai make up menor banget.
"Bimo? Karena apa?". Putri mendongak dan memberanikan diri menatap gw.
"Emmm anu Put, karena..
"Bimo? Kamu enggak lagi ngerjain aku kan?". Untuk sesaat Putri melihat glagat gw yang aneh tangannya mulai mengepal dan lambat laun warna dan ekpresi wajahnya kembali normal.
Mampus! Alamat di tabok ini gw.
"Aku enggak mau kamu tunjukin itu senyum ke cowo lain karena senyum kamu itu adalah make up terbaik bagi wanita untuk meluluhkan hati, cukup aku aja yang luluh saat memandang make up alami kamu itu Put".
Kagak ada rotan akar pun jadi, gunakan inspirasi seadaanya. Untung aja gw liat cewe pakai make Up tadi kalau liat cewe lagi boker kan kagak lucu, masak mau bilang senyum Putri kek ta*.
"Bimoo apa sih? Gombal banget kamuuu". Putri kembali tersipu dan kali ini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Selamet.. selamet! Itulah kata hati gw setelah melihat Putri baper lagi dan menutup wajahnya salah tingkah.
Melihat Putri menyembunyikan wajahnya gw mulai menjalankan aksi dan rencana yang tertunda, mumpung perhatian Putri teralihkan.
Gw memang jenius dan pelan tangan mulai menarik nampan di depan Putri dan langsung gw santap lagi ini makanan dengan lahap.
Semoga Putri menyembunyikan wajahnya sampai ketiduran. Itulah doa yang gw panjatkan sambil mengunyah nasi dan melahap lauk dengan cepat.
"Bimo kamu enggak malu godain aku di tempat umum seperti ini?". Putri berguman dan bertanya.
"Ohh euunggak!". Jawab gw dengan mulut penuh makanan.
"Bim suara kamu kok ane.." Putri membuka telapak tangannya yang menutupi wajah dan tertahan itu kalimat setelah kedua bola matanya melihat gw.
"Aahhhh, akhirnya kenyang juga aku Put. Heeeiiikk!". Gw bersendawa dan senderan nikmat sehabis menyantap habis makanan di nampan.
"Bimo?". Putri memandang nampan kosong dan gw secara bergantian.
"Iya Put kenapa?". Jawab gw santai sambil nusuk sisa nasi yang nempel di gigi dengan kuku jari.
"Jangan Bilang kamu buat aku terbang tadi hanya untuk mencuri makanan aku?". Putri tersenyum tapi pandangan matanya saat ini seperti mengeluarkan laser yang langsung nusuk gw.
"Eheemmm!". Gw berdeham dan langsung duduk tegak.
"Sepertinya langit malam ini cerah banget ya Put". Gw berdiri dari kursi.
"Malam itu gelap! Cerah itu siang!". Putri ikut berdiri dari duduknya dengan fokus menggunci gw dengan tatapannya kek uler ngincar kodok.
"Hehe betul juga ya?". Gw tertawa canggung dan mengambil ancang-ancang.
"Iya ambilin bintang yang besar ya Bimo! Nanti biar mantap jika aku gunakan untuk nimpuk kamu! Berhenti gak?".
Gw pura-pura budeg aja dan langsung menambah kecepatan saat mendengar langkah Putri datang mengejar.
Cowo cewe kejar-kejaran di taman? Udah basi. Kek gw dong sama Putri kejar-kejaran di Rumah Sakit lebih menantang, kalau ketangkep kagak usah nunggu ambulance. Bisa langsung ngesot sendiri ke UGD.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gw duduk di sofa sebuah ruangan dan di depan gw hanya terhalang meja kaca kecil duduk seorang wanita yang dari tadi cemberut dan memalingkan mukanya dan wanita itu tidak lain tidak bukan adalah doktet Adinda Putri.
Sejak gw nyerah dan tertangkap, Putri tanpa bicara apa-apa langsung di gelandang kesini gw dan bisa gw pastikan setelah melihat perabotan dan bau harum ruangan, ini pasti ruangan pribadi dia.
Apa gw tadi keterlaluan ya? gw bertanya dengan diri gw sendiri dalam diam sambil memandang Putri yang masih tampak kesel.
"Putri.. Putri. Maeeen yuk!". Gw buka pembicaraan dalam misi buat Putri tertawa lagi.
"Main apa? Kurang puas kamu mempermainkan aku?". Jawab Putri sengit.
"Hehehe, aduh putri marah beneran ya? Bimo minta maaf ya?". Gw beranjak dan duduk di samping Putri.
Tampak diam dia dan tidak menghindar ataupun menjawab, pandangan kami bertemu dengan wajah beda ekpresi, Putri datar dan gw tersenyum lembut.
"Putri kok diem? Sumpah tadi itu aku laper banget Put dan kata-kata di awal itu memang tulus aku ucapkan tapi kamu malah malu-malu dan merem, sambil nunggu kamu buka mata ya aku tinggal makan dulu". Gw menjelaskan lembut.
"Kamu itu ya Bim pinter banget untuk berasalan dibalik semua kelebihan kamu ternyata ada sisi yang seperti ini ya?". Putri tampak serius.
"Seperti ini gimana maksudnya? Bimo enggak ngerti, tolong Putri jelaskan?".
"Iya seperti ini, cuek dan gak peka situasi.. Ke kanak-kakanakan dan tidak pernah serius".
"Hehehe, seperti itu ya Put kamu liatnya?". Gw tersenyum tenang.
"Apa aku salah? Bukannya itu yang baru saja kamu tunjukan?".
"Putri yang manis, aku itu hanya manusia fana dan sudah sewajarnya aku punya sisi unik seperti itu".
"Unik?". Putri memutar matanya bingung dan aneh melihat gw.
"Mungkin kamu akan sebut itu sisi lemah ataupun sisi kekurangan tapi buat aku itu adalah sisi unik di dalam diri aku".
"Cuek dan gak peka kamu bilang tadi kan? terkadang aku bersyukur mempunyai sifat unik itu Put karena aku bisa punya waktu untuk diri aku sendiri. Menjadi orang ramah dan peka terkadang itu melelahkan dan bisa membuat orang lain salah paham".
"Kekanak-kanakan yang kedua kan? Apa kamu belum tau Put? Kita harus kekanak-kanakan agar bisa mengerti, hanya dengan sifat itu manusia bisa melihat hal-hal dengan kejelasan sempurna. Ketakutan, kesedihan tidak akan pernah mucul karena di mata anak hanya akan melihat kebahagian dan harapan".
Yang ketiga tidak pernah serius? Apa kamu tau Putri di setiap bait canda yang aku lontarkan dan di setiap larik kalimat yang aku ucapkan terselip ungkapan perasaan yang kamu tidak menyadarinya".
"Jadi seperti itulah aku mendefisinikan 3 sifat yang kamu ragukan". Gw dengan senyum memandang Purtri.
Putri terdiam untuk sesaat seperti mencari sesuatu di dalam mata gw, entah itu cari kebenaran dari kata-kata atau cari kotoran mata.
"Bimo bukannya aku meragukan dan tidak suka dengan 3 sisi berbeda kamu itu, bagi aku kejelasan adalah yang terpenting. Mungkin kamu tau atau mungkin juga pura-pura tidak tau dan mengabaikannya". Putri mengucapkan apa yang ada di fikirannnya.
"Terkadang ketidak tauan bisa menyelamatkan seseorang dari rasa malu Put, sebelum kebenaran nampak aku enggak mau berspekulasi. Apalagi jika itu menyangkut hati".
"Baik jika seperti itu aku mengerti dan untuk menunjukan kamu sebuah kebenaran tentang suatu hal, aku akan tanya 1 hal ke kamu Bimo".
"Silahkan bertanya?". Gw dengan wajah serius berucap.
"Tolong jawab dengan jujur apa arti dari ciuman kita tempo hari itu? apa benar rasa yang kita rasakan itu sama atau ini hanya aku saja yang merasakannya?".