
"Bie, nyebut Bie! Kamu mau apa?".
Gw mulai berkeringat dingin karena Bianca kagak ngejawab dan masih saja berjalan ke arah gw yang ketakukan di atas ranjang.
"Bie tolong jangan pandang aku kek gitu, dagingku enggak enak sumpah! lagian cuma kulit dan tulang doang ini dagingnya cuma dikit itupun cuma di pantat doang, pasti kamu enggak kenyang nanti".
"Bim fikiran dan imajinasi kamu sungguh sangat liar. Siapa juga yang mau makan kamu?". Bianca menjawab pelan.
"Tatapan kamu itu yang liar liat aku Bie, terus apa arti tatapan itu jika kamu tidak mau makan aku? Jangan bilang kamu mau ambil kesucian aku?". Otak gw sudah kemana-mana melihat dan merasakan gelagat aneh dari Bianca.
"Bimooo!!". Suara Bianca sedikit meninggi tapi dengan wajah semerah pantat bayi dan pelan dia duduk di samping gw.
Auto gw sedikit menjauh memberi ruang untuk setan penggoda ketika mereka nanti hadir ditengah-tengah kita.
"Kamu itu ya fikirannya kemana-mana, aku kan udah bilang mau bicara sama kamu". Bianca berucap pelan sambil liatin gw tenang.
"Kan kamu yang dorong aku untuk berfikir aneh-aneh, ada akibat ya ada sebab". Gw bicara dengan percaya diri dan kagak mau disalahkan.
"Kebalik Bimo". Bianca bicara menahan ketawa.
"Apanya yang kebalik? Perasaan yang ganti baju kamu bukan aku".
"Plak". Bianca memukul lengan gw pelan dengan gemas.
"Kata-kata kamu barusan itu yang kebalik, harusnya kan ada sebab dulu baru akibat". Bianca tersenyum lebar mengoreksi ucapan gw.
"Itu kan pelajaran SD masak kamu lupa". Bianca menambahi.
"Emang itu kok yang bener". Gw kagak mau ngaku salah tengsin dong.
"Emang benar itu yang diajarkan guru waktu kelas 4 dulu". Bianca kembali menyakinkan gw
"Ya berarti guru kita beda Bie". Jawab gw dengan alasan lainnya.
"Emang ya kamu itu, dikasih tau yang bener malah enggak mau". Bianca cemberut.
"Bianca tida selamanya yang benar itu baik terkadang kesalahan itu lebih indah jika melihat dari sudut pandang yang berbeda".
"Alesan kamu Bim, bilang aja malu karena salah. Pakai muter-muter segala".
" Nah itu kamu pinter". Gw ternsenyum lebar "Udalah jangan bahas itu intinya kenapa kamu tutup dan kunci itu pintu?" Gw bicara dan menunjuk pintu yang terkunci rapat.
"Biar enggak ada yang dengar pembicaraan kita lah Bim". Jawab Bianca datar
"Nanti malah menimbulkan salah paham ini Bie, enggak enak aku".
"Salah paham apa? ini kan rumah aku sendiri, bebas dong aku". Bianca bicara dengan wajah polosnya.
" Senior Bianca, Benar ini rumah kamu tapi kan junior ini orang luar, masak di dalam kamar sama pemilik rumah, dan pintu kamu kunci rapat gitu, kamu enggak takut jika ranjang yang kita duduki ini nanti bergoyang akibat kita khilaf?".
"Ini di luar Campus jangan panggil aku senior Bimo, terus kenapa kalau bergoyang? ranjang aku kokoh kok enggak bakal ambruk juga". Bianca bicara dan mengedipkan satu matanya dan itu sangat-sangat ber damage kuat bagi diri gw yang lemah ini.
Auto megap-megap ini mulut dengan nafas yang kagak teratur.
"Kamu kenapa Bim kok keringetan? Kamu sakit ya?". Bianca menyentuh kening gw yang membuat ini tubuh bergetar hebat.
"A a apan si si sih Bie! e e enggak jelas ka ka kamu". Grogi plus tegang menjadikan kata yang keluar dari mulut gw kagak bisa terkontrol.
"Hehehehe, kenapa Bimo, kamu takut. Kok tegang gitu". Bianca terlihat sangat puas ngeliat gw.
"Kamu ngerjain aku ya Bie?".
"Emang cuma kamu yang bisa ngerjain aku, aku juga bisa adik junior". Bianca menampilkan senyum kemenangannya.
"Udalah Bie, nyuk kita keluar. Kamu ngerjain aku nya di luar saja sambil kita makan. Asisten rumah tangga kamu tadi suruh aku bujuk kamu untuk makan".
"Tunggu Bimo kita bicara dulu". Bianca memegang baju gw disaat gw mau beranjak.
"Bukannya kita udah bicara ya? Kan kamu udah bicara dan ngerjain aku".
"Bukan itu Bimo, aku mau bicara soal lain sama kamu". Bianca berucap pelan dengan ragu-ragu.
"Maksudnya?".
"Iya kek bunglon tadi ada ngerjain aku dan ketawa lebar sekarang malah kamu kek kucing gini pakai malu-malu segala".
"Santai aja Bie, cepat bilang mau bicara apa kamu?". Gw bicara senormal mungkin biar ini cepat kelar karena udah kagak nyaman banget gw dengan godaan tubuh Bianca yang hanya tebalut T-shirt ketat dan hot pants.
Bianca malah menatap gw dalam diam kelihatan tegang banget ini bocah. Perasaan gw jadi kagak enak.
"Kok kamu ragu-ragu gitu Bie? Cepat bicara".
Bianca mengambil nafas panjang dan menghembuskannya pelan dan berhubung gw ada di depan dia, auto nafas yang Bianca hembuskan itu terkena wajah gw yang buat mata gw merem melek jadinya.
Ini cewe lagi hipnotis gw apa lagi bernafas sih, pakai niup-niup udara ke ini wajah. Gw bicara dalam hati.
"Bimoo?". Akhirnya Bianca bicara dan memanggil nama gw pelan.
"Iya Bie, Bimo di depan kamu ini". Gw menjawab dan menatap Bianca serius.
"Bim sebenarnya kamu melihat dan menganggap aku sebagai apa?". Bianca bertanya pelan sekali dan menatap gw dengan kedua mata indahnya.
"Ya ampun Bie, cuma nanya ini doang kamu pakai tutup pintu segala". Gw mengeluh pelan.
"Kalau itu doang ma kamu bisa tanyain di luar dan pasti aku jawab, kagak usah disini juga. Buat aku tengang aja kamu. Aku kira mau ngomong apaan".
"Aku malu Bimo kalau di dengar orang lain".
Aneh banget ini cewe kenapa pakai malu segala coba, pertanyaan remeh gitu ma semua orang bisa jawab.
"Ngapain malu kek aku dong, urat malu aku udah aku putus dari dulu". Gw bicara menyombongkan diri dan tersenyum kecil.
"Bimo cepet jawab, kamu melihat dan mengangap aku sebagai apa?". Bianca kembali bertanya.
"Ya ampun Bie pertanyaan kamu itu enggak mutu banget sumpah, ya jelas aku melihat dan menganggap kamu sebagai manusia lah, emang sebagai apa lagi". Gw menjawab jujur.
Suasana menjadi hening yang tadi Bianca menatap gw malu-malu sekarang berganti dan berubah 380 derajat.
Gw bergidik ngeri ngeliat Bianca yang melihat gw tajam kek mau menerkam gw ini betina.
Dan benar saja, tidak berselang lama pukulan-pukulan kecil Bianca daratkan di legang gw dan di akhiri dengan cubitan kecil yang panas banget gw rasakan di kulit.
"Bie kok kamu malah aniaya aku? kan sudah aku jawab pertanyaan kamu". Gw melakukan protes
"Jawaban kamu Bimo! Aku bicara serius malah kamu bercanda". Bianca cemberut dengan bibir yang sedikit terangkat.
"Nona Bianca yang terhormat, siapa yang bercada? kan kamu tanya, Bimo kamu melihat dan menganggap aku sebagai apa?".
"Ya aku jawab sebagai manusia, tapi kok kamu malah marah? ya udah aku ganti kalau gitu, aku liat dan mengangap kamu sebagai tumbuh-tumbuhan".
"Bimo tolong serius dong, jangan buat aku kesel". Bianca bicara pelan
Ada apa sih ini sebenarnya sama ini cewe enggak jelas banget dari tadi.
"Bie sumpah aku enggak tau kamu kesel kenapa, jika jawaban aku salah tolong benerin dulu pertanyaaan kamu ya. Aku itu bodoh Bie enggak tau apa-apa".
Bianca menatap gw seakan mencari kebohongan di dalam mata gw.
"kamu bener enggak tau maksud dari pertanyaan aku Bim?".
"Iya aku enggak tau". Jawab gw sambil menunduk.
"Bimo liatin aku". Bianca memegang mengangat wajah gw dan kami pun bertatapan. Walau muka Bianca memerah tapi gw liat dia begitu lembut menatap gw.
"Bimo maksud aku itu, hati kamu liat dan menganggap aku sebagai apa?". Bianca melepaskan tangannya dari wajah gw dan segera mundur dan menunduk.
Kenapa gw kagak bisa nafas yak setelah dengar pertanyaan Bianca, badan gw juga kenapa ini kok seperti meriang gini. Ini mata juga kenapa kagak bisa kedip dan terus aja liatian Bianca, Woii urat-urat di mulut kenapa kalian diem? Lurusin ini mulut gw yang bengong.
Saraf-saraf tubuh bang5at kenapa kalian pada melamun anjing! cepat gerak biar gw bisa jawab itu pertanyaan.Gw mengumpat dalam hati.