
"Ayo cepat jalan!". Gua berasa kek kambing sekarang dengan enggak pakai baju karena baju masih gua ikat di pinggang menahan celana agar tidak melorot.
Rambut gua di Jambak dan di seret jalan oleh polisi yang ingin tampak keren di depan para atasannya ini.
Jono dan Suci mengikuti dari belakang dengan Suci yang tampak menangis lagi dan Jono yang memandang gua dengan prihatin.
Di depan sana sudah tampak para petinggi polisi di kabupaten ini yang ekspresinya langsung berubah saat melihat kami.
Wajah para petinggi itu langsung merah dan gua liat juga ada dari mereka yang basah celananya, mungkin abis jogging.
Salah satu polisi dengan beberapa bintang di seragamnya segera maju dengan cepat menghampiri gua yang masih di seret dan di Jambak.
Sesaat kemudian polisi yang seret gua melepas rambut gua dan berdiri tegak dengan senyum melihat ke depan.
"Lapor komandan!" Dengan hormat dan badan tegak polisi itu siap melapor, "Saya telah...
"Praaaakkkk!". belum selesai bicara dan bibir masih tersenyum dia dapat bogem mentah kuat dan akurat dari orang yang dia panggil komandan.
Polisi itu sempat oleng dan segera berdiri tegak lagi, "Komandan apa maksudnya in..
"Praaakkkkkkk!".
"Bugggggkkkk!".
Sekali lagi bogem mentah meluncur dari depan kali ini di kombinasi dengan tendangan di dada yang membuat polisi yang nangkap gua mundur beberapa langkah ke belakang.
Gua udah menjauh dari tadi dan berdiri di tengah-tengah Jono dan Suci.
"Jon ada uang kagak loe!". Pelan gua bertanya.
"Adalah itu di mobil polisi, uang yang kita ambil tadi". Walau wajah Jono tampak bingung melihat adegan di depan matanya tapi tetap menjawab gua dia.
"Beli cemilan sono, enak keknya nonton pertunjukan ini sambil ngemil". pinta gua sambil tersenyum kecil.
Auto dengan serempak Jono dan Suci langsung menengok memandang gua dengan wajah dan ekspresi tidak percaya.
"Bim apa maksudnya semua ini?". Jono tidak bicara menutupi rasa penasarannya dan langsung bertanya pelan.
"Ini namanya the power of emoticon Jon". Jawab gua santai.
"Emoticon? Emoticon tangan dengan bentuk lobang yang di kirim bokap loe tadi!". Masih dengan wajah terkejut tidak percaya Jono menebak.
"Yoi, emoticon tadi itu bisa juga di artikan dengan OK atau semua masalah sudah beres".
"Bim gua bisikin loe bentar ya?".
"Bisikin apa Jon?". Gua bergeser mendekat kan kuping ke Jono.
Segera bibir si kang tatto berada di depan kuping gua.
"Bim loe tau kagak, setelah gua liat-liat dan teliti memang sifat loe itu mirip kek sifat ASUUUU!".
Kuping gua auto berdengung karena si kampret bilang Asu dengan nada suara yang tebal dan di tekan intonasinya.
"Emang kampret loe Bemo! Bikin gua takut aja, pantes aja loe santai Dari tadi". Jono mendengus kesal, "Percuma gua khawatir nyesel gua". Jono melanjutkan.
"Udah kagak usah protes dulu loe, kalau gua kasih tau dari awal ma kagak ada tegang-tegang nya.. Untuk saat ini kita nobar aja live action di depan kita ini".
Adegan kembali ke depan, dengan wajah merah marah komandan polisi itu berteriak "Kesini kamu bajingan!". Dia menunjuk anak buahnya yang masih tampak linglung setelah kena 2 bogem mentah dan satu tendangan.
Dengan wajah panik dia segera berjalan ke depan tepat di depan orang yang memanggil.
"Komandan saya salah ap...
"Plaaaakkk!". Sekarang tamparan keras mendarat mulus di pipi.
"Kamu! Apa kamu tau apa yang baru saja kamu lakukan hah!". Komandan polisi yang di seragamnya gua liat bernama Sumarno itu berteriak lantang di depan anak buahnya dengan air liur yang muncrat kemana-mana.
"Saya melakukan apa komandan? Saya tidak melakukan kesalahan tapi menangkap tersangka penganiayaan".
"Prakkkk!". Bogem mentah kembali melayang tepat sasaran dari sang komandan ke wajah sang anak buah.
"Gara-gara ulah kamu yang main tuduh, semua anggota kesatuan kita se kabupaten hampir di pecat secara tidak hormat!".
Muka polisi itu langsung tampak bingung sekaligus pucat pasi, mencerna kata-kata yang baru saja di ucapkan sang komandan.
"Tapi saya salah apa komandan?".
"Bugkkk!". Tendangan di perut langsung di lancarkan sang komandan.
"Masih tanya salah kamu apa!! kamu bajingan! Kamu tau siapa yang kamu tuduh sebagai tersangka?!".
"Apa kamu tau siapa saja yang hubungi kantor kita beberapa saat yang lalu? Dari komisaris jendral pusat, semua petinggi mabes, Mentri pertahanan sampai...
Komandan Sumarno bicara menggebu-gebu tidak melanjutkan perkataannya yang mungkin mengarah ke nama yang lebih tinggi statusnya di Indonesia.
Dia langsung mengalihkan perhatiannya dari anak buahnya yang lemas dan jatuh terduduk, melihat gua Jono dan Suci dengan ekspresi ramah dan tatapannya langsung mengarah ke gua yang tampak berbeda sendiri.
Gimana kagak beda, dengan atasan polos dan tangan di borgol.. Gua mengangkat dagu ke atas dengan keren menjurus ke Jumawa dan songong.
Walau tubuh gua rada kurus tapi semua otot di punggung dan perut gua sangat mengagumkan, plus dengan rambut gua yang acak-acakan menambah kesan pemuda bad boy alami tanpa bahan pengawet ataupun buatan.
"Permisi". Komandan Sumarno berkata lembut sambil berjalan menunduk sopan ke arah gua yang langsung di ikuti semua polisi di belakangnya yang dari tadi diam.
"Tunggu jangan kesini dulu kalian!". Gua kek tukang parkir, menstop para pria berseragam itu yang langsung nurut berhenti di tempat dengan wajah bingung menatap satu sama lain.
"Bim mau ngapain loe! Cepat kelar masalah lebih baik". Jono bicara pelan di samping kanan gua.
"Iya Bimo, benar apa kata Jono". Suci ikut berpendapat walau gua liat di matanya masih ada rasa takut dan bersalah ke gua.
Jono dan semua orang yang mendengar perkataan hampir saja jatuh terpeleset tidak terkecuali para polisi dan Suci.
"Bim.. bisa kagak sifat narsis loe itu loe kesampingkan dulu? loe yang bicara tapi gua yang malu ini Bim".
"Udah tinggal fotoin aja ngapa susahnya sih!".
"Kamu minggir dulu ya, aku mau pose bentar". Gua bicara halus menatap Suci walau pun hati gua masih rada sakit.
"Serius Bimo kamu mau foto Disini dengan penampilan kamu seperti itu?". Suci malah bertanya.
"Emang kenapa penampilan aku? cowo keren tidak harus foto dengan baju dan celana mahal".
"Cowo dengan tingkat kepercayaan diri tinggi seperti aku ini, untuk keren tidak harus foto di resto mahal atau di atas gedung bertingkat.. Cukup di depan kantor polisi dan dengan tangan di borgol itu sudah lebih dari cukup".
"Dan tidak perlu pakai aksesoris perhiasan sewaan ataupun mobil sewaan, cukup dengan sebatang rokok yang nyempil di bibir.. Aku sudah bisa menjadi orang yang paling keren diantara semua orang".
Gua bicara dengan tanpa rasa malu di depan Suci, mungkin dia belum tau sepenuhnya tentang gua.. yang pasti seperti inilah gua, Abimana Pramono.
"Bemo! Udah belum loe bicara omong kosong?! Jadi foto kagak ini, sebelum gua kunyah ini hp loe!".
"Ci kamu minggir dulu aja dan pura-pura aja enggak liat". Jono bicara melihat Suci, yang kampret nya malah mengangguk dengan cepat itu janda, jalan menjauh dan berdiri memejamkan mata.
"Bentar Jon". Gua mengambil bungkus rokok dari saku, gua ambil sebatang dan langsung gua buang bungkusnya walau masih ada isinya.. Begitu juga dengan korek api yang gua buang setelah sulut rokok di bibir.
"Ok Jon, udah siap gua".
gua langsung berpose dengan ekspresi wajah minta di tabok, dagu mendongak dengan aksesoris rokok di bibir.. kedua tangan yang masih di borgol naik ke atas sebatas dada dan acungin jari tengah ke kamera.
"Udah belum Jon? Asep rokok kena mata gua ini".
"Bentar Bim, camera 360 loe mana? kagak ada gua cari.. Apk camera cantik lainnya juga enggak ada".
"Jon kenapa loe malah cari apk gituan di hp gua, emang gua alay.. orang yang kagak percaya diri sama penampilan? udah pakai camera biasa aja".
"Ok, cepat loe pose lagi kek tadi.. memang lumayan keren sih loe Bemo".
Beberapa saat kemudian gua kasih acungan jempol ke Jono, karena hasil fotonya bagus seperti yang gua harapkan.
................
"Ehem!". Gua berdehem mengatur suara sambil memasukkan hp ke dalam saku.
"Kalian mau bicara apa tadi? Silahkan lanjutkan.. Sini deketan". Sifat bajingan gua langsung keluar, sifat yang kagak patut di tiru oleh siapapun.
Para polisi setengah baya itu langsung berjalan lagi mendekat ke gua dengan di pimpin oleh Suwarno.
"Maaf apa benar ini, tuan muda Abimana Pramono?". Dengan sopan dan sangat halus Sumarno bicara memandang gua.
"Iya gua Abimana Pramono, tersangka kasus penganiayaan yang di tangkap anak buah anda, bagaiman sekarang? Apa saya harus masuk ke sana dan di interogasi?". Dengan muka songong gua menunjuk ke dalam kantor.
"Tidak perlu.. tidak perlu.. Saya tau tuan muda tidak bersalah, anak buah saya memang bodoh, tolong maklum dia jadi polisi karena lewat jalur belakang". Sumarno menjawab dengan cepat dan mendapat anggukan dari semua polisi yang berdiri di belakangnya.
"Semua nya serahkan pada kami, tuan muda Abimana bisa beraktifitas dengan tenang di kota Blora ini.. Semuanya akan kami tutupi rapat-rapat". Suwarno melanjutkan bicaranya.
"Apa yang akan kamu tutupi? Identitas gua apa soal gua aniaya orang?".
"Maaf, maaf saya salah bicara".
"Terserah kalian lah, gua udah kagak mau main-main lagi.. cepat lepas ini borgol.. gua laper mau cari makan".
Baik.. Baik". Sumarno langsung menjawab dan berbalik badan, "Kamu! Cepat kesini minta maaf dan lepas borgol di tangan tuan muda". Sumarno berteriak kepada orang yang masih duduk lesu di tanah memandang gua dengan ekspresi ngeri di wajahnya.
Dengan cepat dia berdiri dan berjalan membungkuk menghampiri gua.
Dengan tangan yang gemetar dia membuka borgol di tangan gua.
"Maaf tuan muda, saya punya mata tapi tidak bisa melihat tingginya gunung Semeru". Dengan suara bergetar pula dia bicara sambil menunduk.
"Kenapa bahasa loe jadi kek bahasa novel China gitu, orang mana sih loe! Serius loe polisi indo?".
"Maaf saya salah bicara".
"Sebenarnya sih gua mau bales perbuatan loe di dalam mobil tadi tapi gua udah kagak mood dan loe beruntung saat ini".
"Terima kasih, terima kasih". dengan ekspresi Lega orang depan gua berterima kasih masih dengan membungkuk.
"Oya tadi loe bilang hukum kagak buta kan? yang salah akan dihukum dan kebenaran selalu menang, sekarang akan gua jawab".
"Gua Abimana Pramono, dengan mudah bisa colok dan butakan hukum kamu itu". Gua tersenyum sinis dan berjalan pergi.
"Bemo loe mau kemana?".
"Gua yang udah berjalan dengan gagah hampir aja jatuh dengan pertanyaan konyol Jono".
"Ya pergilah bego! Ayo cari makan".
"Loe salah jalan Bemo! Itu jalan menuju ke sel tahanan, kagak bisa baca loe plang di depan itu".
Sialan! gua mengumpat dalam hati karena gagal keren dan dengan cepat berbalik berlari lewat jalur yang benar ke luar kantor polisi.
"Bemo tunggu!".
'Bimo jangan lari jatuh nanti kamu".
Jono dan Suci berteriak dari belakang dan ngejar gua.