Preman Campus

Preman Campus
ADU KASEKTEN 2


"Bang kenapa diam bang? Tolong saya bang tolong". Si hitam merengek masih dengan menunjukan tulang jarinya yang menonjol keluar dari daging.


"Tong! jangan merengek mereka kagak mungkin bisa selamatkan elu!". Gw dengan cepat melangkah ke depan.


Mendengar suara gw dia dengan panik berbalik, berbarengan dengan tinju gw yang mengarah ke tenggorokannya.


"Craakk!". Pukulan gw tepat sasaran.


Mata si hitam terbelalak seketika.


"Okk! Okk! Okk!".


"Bruuukkk!".


Setelah mengeluarkan suara aneh dia langsung tersungkur jatuh ke belakang.


Matanya mendelik sampai hitamnya tidak terlihat, mulutnya terbuka tapi tidak mengeluarkan suara.. Dia langsung guling-guling lek uler sambil mulut yang terus terbuka.


"Uhukk..uhukkk..!". Setelah beberapa saat itu orang akhirnya kagak jadi mampus, karena batuk darah segar muncrat dari mulutnya dan bisa bernafas kembali untuk beberapa saat sebelum jatuh pingsan.


Untuk sesaat gw juga menahan nafas tadi itu, sedikit ngeri ngeliatnya tapi inilah dunia adu nyawa jalanan yang sesungguhnya, nyawa selalu jadi taruhannya.. kalau gw kagak fokus dan lengah sedetik saja mungkin yang guling-guling di tanah itu gw bukan si hitam.


Hobi pria sejati yang memacu adrenalin, dengan uang dan jabatan manusia bisa berdiri di puncak dunia, tapi dengan tinju manusia juga bisa menghancurkan puncak itu sendiri.. Itulah pepatah ngasal yang telah gw ciptakan di saat gw pipis di toilet Campus kemarin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tong! Ngapa lu malah diam? Maju sini kagak jadi patahin tulang gw lu". Gw tersenyum tipis berbicara dengan kesombongan tingkat tinggi mencibir si putih yang bengong kek pantung pancoran melihat si hitam yang sudah tergeletak di tanah dan pingsan.


Dia memandang gw dengan raut wajah dan ekpresi ketakukan, pelan-pelan bukannya maju itu bocah malah mundur menjauh dari gw.


"Tong gw disini, buta ya mata lu? Malah mundur". Gw mau ketawa tapi sebisa mungkin gw tahan, wajar juga itu di putih ngeri liat gw.. Kalau otaknya masih berkerja dengan benar pasti ya lebih milih kabur.


"Putih! Pengecut loe Babi!.. Cepat serang dan bunuh itu bajingan kenapa malah mundur?! Cepat maju sebelum tongkat ini melayang ke kepala elu!". Si gendut mengancam sambil mengacungkan tongkat baseball nya.


Si putih tampak tersentak mendengar ancaman dari sang bos, mata dia kembali hidup dan berhenti jalan mundur dia tampak linglung-linglung dan gw merasa ada yang aneh.


"Maju dan balaskan dendam si hitam! tunjukan jika loe pantas masuk geng Cobra". Si gondrong memberi dorongan untuk menghidupkan kembali semangat si putih.


Pria yang tadi ketakukan ngeliat gw sekarang wajahnya datar memandang temannya si hitam yang pingsan, samar-samar wajah itu berubah menjadi raut wajah marah dan penuh akan kebencian yang sangat dalam.. Nafasnya tampak tidak teratur dan sorot matanya langsung berkobar penuh api akan nafsu balas dendam yang sangat membara.


Si putih bener-bener sudah termakan omongon bodoh dari 2 orang dibelakang sana, hasutan dan semangat kagak guna itu menguncang otak pemuda yang gw perkirakan berumur 24 tahun.


Dengan mata merahnya si putih menatap gw dengan nafsu membunuh yang sangat terlihat jelas, mungkin emosi ini anak terlalu labil dan mudah terguncang sehingga bisa bertindak impulsif tanpa fikir panjang.. Inilah contoh nyata manusia yang telah temakan dan dikuasi nafsu.


Nafsu akan mengontrol tubuhnya mengabaikan otak dan fikirannya.


"Bunuh..!".


"Bunuh..!".


"Bunuh..!".


Si putih kek orang kesurupan berjalan dan berguman menghampiri gw.


"Tap!".


"Tap!".


"Tap!".


"Lu jual gw beli tong!". Gw tersenyum lebar dan ikut melesat ke depan dengan cepat dan penuh semangat, adu kasekten sama orang yang lagi terbalut nafsu membunub itu seru dan menegangkan dan gw sangat menantikan itu.


Jarak diantara kami mulai terkikis dan tinggal sejengkal, si putih menarik tangan kanannya ke belakang mengambil ancang-ancang untuk menyerang.


Begitu juga dengan gw menarik tangan kanan gw kebelakang menyiapkan pukulan.


"Wusssss!". Pukulan dia melesat ke pipi kiri gw seperti rudal yang siap menghatam.


"Wussssss!". Pukulan gw juga melesat ke arah di hidung dia seperti peluru yang siap mengoyak kulit dan daging.


"Bugkkk!". Gw kena hantam.


"Buggkk!". Hantaman gw juga tepat di hidungnya.


Gw terbawa mundur satu langkah ke belakang efek hantaman si putih, nyeri banget rasanya ini pipi.., "Cuiihhhh!". Gw meludahkan darah kecil dari mulut.


Si putih juga tampak terhuyung kebelakang efek hantaman gw di hidungnya, darah segarpun langsung keluar dari 2 lubang alas bernafas itu tapi yang buat gw sedikit terkejut adalah dia tidak menunjukan ekpresi ketakutan ataupun melakukan gerakan menyeka hidungnya.


Itu orang kembali berdiri tegak dengan pandangan yang selalu tertuju ke gw dan dia kembali melesat maju dan siap untuk menyerang dan menerkam lagi.


Terkadang memang jika nafsu sudah mengusai tubuh, manusia akan menghiraukan rasa sakit dalam bentuk apapun dan mereka hanya memiliki 1 tujuan di dalam, dan tujuan si putih ini sangat jelas sekali.


"Wussss!". Kaki kanan dia terangkat dan tendangan lurus dia arahkan ke dada gw.


"Buggggk!". Gw yang tidak sempat menghindar karena kebayakan berfikir dan melamun langsung kena hantam dan mundur jatuh kejengkang ke belakang dalam posisi duduk.


"Bagus putih cepat selesaikan dan balaskan dendam si hitam!". Si gendut teriak bahagia dari belakang.


Si putih kagak berbalik ataupun menjawab dia langsung maju lagi menghampiri gw yang masih duduk di tanah.


Kakinya terangkat lagi kali ini tendangan menyamping akan dia lancarkan ke kepala gw, kena ini tendangan bakalan guling-guling pasti gw, kagak bisa menghindar karena posisi masih kedekem di tanah.


"Mas awaas!!". Si bapak pemilik kios yang dari tadi jadi penonton bayaran berteriak dari belakang gw.


Kaki si putih sudah meluncur dan terangkat di udara 3 detik lagi akan buat pala gw jadi bola sepak.


1 detik kaki mejulur ke depan dan mengambil ancang-ancang.


2 detik sebelum tendangan itu menghantam daging wajah, gw melakukan gerakan cepat sambil masih duduk, gw tendang 1 kaki si putih yang masih menginjak tanah.


Kek bus kehilangan rem tubuh si putih pun langsung oleng karena satu kaki dia di udara dan satu kaki tumpuannya gw hantam.


Bunyi gedebug suara tubuh jatuh pun lansung terdengar, si putih jatuh terlentang.


Gw bernafas lega, ampir aja masuk UGD gw jika tendangan itu tadi kena.


Si putih mencoba bangkit tapi kagak mungkin gw biarkan begitu saja, gw langsung meloncat ke depan dan menaiki tubuh dan duduk di perutnya.


"Buggk!".


"Buggk!".


Gw yang masih menyesuakan posisi, langsung di sambut 2 bogem mentah kiri dan kanan.. Dalam posisi gw tindih si putih masih bisa menyerang gw dari bawah, dia tidak bersura tapi terus saja serang gw.


Wajah gw nengok ke kanan dan ke kiri dengan sendirinya efek pukulannya walau tidak kuat karena posisi dia yang tidak menguntungkan tetap saja gw malu, baru ini gw terombang-ambing kek orang mabok.. Geleng ke kiri dan geleng ke kanan di saat berada di dalam posisi yang menguntungkan.