Preman Campus

Preman Campus
SAHABATKU


Semua orang terkejut dengar Bianca panggil gw sayang termasuk bang Anton dan gw sendiri tentunya.


Kemarin kan gw sudah minta backstreet dan Bianca setuju tapi kenapa ini cewe sekarang membongkar hubungan kami di depan orang lain gini.


Apalagi ada Reza dan Udin, bakalan gila gw ini nanti hadapi bacot mereka berdua.


"Sayang kok diam? bagian mana yang sakit? kamu diapain aja sama orang itu?". Bianca enggan menyebut nama Dio.


"Aku gak apa-apa Bie, yang diculik kan si Reza. Badan aku enggak ada yang lecet sedikitpun, kamu tenang jangan panik seperti ini". Gw mencoba menenangkan Bianca di tengah-tengah tatapan semua orang yang ada disini.


"Gimana aku enggak panik? aku kan takut kamu kenapa-kenapa. Apalagi masalah ini tercipta karena aku". Bianca tampak murung.


"Bie kita bicara nanti aja enggak enak didengar banyak orang seperti ini". Gw berbisik pelan di telinga Bianca.


Bianca mengangguk pelan dan mengerti.


"Bang Anton silahkan bawa ponakan abang dan 2 temannya ke klinik, semoga masalah ini bisa berhenti sampai disini dan tidak ada dendam di antara Dio dan 2 teman saya itu".


"Iya Bim ini juga salah ponakan saya, biar saya nasehati lagi dia nanti".


"Kamu berdua bawa orang yang tergeletak di lantai itu dan yang ada di luar sana dan cepat bawa ke rumah sakit terdekat nanti semua biaya biar saya yang urus". Bang Anton memberi perintah kepada 2 orang yang pria yang dia bawa.


"Siap bang!". Mereka langsung beranjak pergi yang satu keluar dan yang satu langsung memapah Tom.


Sementara bang Anton langsung menghampiri keponakannya ke depan.


Dio kek anak kecil saat ini menangis di pelukan pamannya.


"Dio semoga kamu bisa berubah setelah kejadian ini, jangan terlalu menuruti emosi sesaat kamu". Bang Anton berucap lembut sambil mengusap rambut keponakannya.


"Iya paman maaf". Dio berucap lirih.


"Ya sudah sekarang kamu minta maaf sama orang yang kamu culik dan kepada nona Bianca, setelah itu kita rawat luka kamu".


Dio keluar dari pelukan bang Anton, pelan-pelan dia berjalan ke Arah Reza dan Udin.


"Maaf". Dio bicara dan mengulurkan tangannya.


Udin dam Reza cuma mengangguk dan menerima uluran tangan Dio.


Sesaat kemudian dia sampai di depan gw dan Bianca.


Bianca acuh tak acuh dan melihat ke arah lain di saat Dio ada di depannya.


"Bianca maaf aku salah, ego aku terlalu tinggi dan lupa akan daratan tempat berpijak". Dia berbicara dan melihat Bianca sendu.


Bianca masih diam saja dan tidak menanggapi uluran tangan Dio yang masih mengambang di udara.


"Bie maafin gi, enggak baik nolak niat baik seseorang". Gw akhirnya bicara dan menasehati Bianca.


"Tapi sayang?". Bianca melihat gw dan mencoba protes.


"Bie? Enggak mau nurut ini kamu sama aku?". Gw selipkan nada ancaman di ucapan gw.


Dengan cepat Bianca melihat Dio walau masih dalam mode cemberut dia merespon uluran tangan ponakan bang Anton itu.


"Iya aku maafin tapi mulai sekarang kita adalah orang asing, pertemanan kita cukup sampai di sini". Bianca berucap tegas.


Dio hanya menganguk pasrah, senyum penguatkan hati dia tunjukan di sudut bibirnya yang robek.


Pasti sakit banget itu dia punya hati, inilah salah satu alasan gw kagak mau suka ke wanita terlebih dulu dan menyatakan cinta pertama kali. Gw takut cinta gw bertepuk sebelah tangan dan kagak mau merasakan apa yang Dio rasakan saat ini.


"Saya minta maaf". Kali ini Dio mengulurkan tangannya ke gw.


Dengan senang hati gw sambut uluran tangannya "Cinta memang deritanya tiada akhir tapi cinta juga mengajarkan tentang perjuangan, masa muda kamu masih panjang pasti suatu saat nanti bisa bertemu dengan wanita yang lebih cantik dari orang di sebalah aku ini".


Dio sedikit tersenyum mendengar petuah ngawur dari gw dan cubitan manja Bianca mendarat mulus di kulit punggung gw.


"Din?".


"Iya Za kenapa?".


"Cinta deritanya tiada akhir, kenapa diriku familiar dengan kata itu ya? dirimu pernah dengar gak?". Bisik-Bisik 2 anak cebong yang dari tadi diam aja.


"Itu kata kata-kata jendral Tian Fen alias Pat Kai Za, di jiplak sama sahabat kamu itu". Udin ngejawab dengan keras banget, sumpah malu banget gw.


"Paman kita pergi". Dio berucap lirih melihat wajah Bianca dan beranjak pergi.


"Bim saya pergi dulu, kamu dan nona Bianca tenang saja. Saya akan jaga rahasia hubungan kalian".


Gw langsung lega mendengar ucapan bang Anton, pengertian banget dia.


"Terima kasih bang dan maaf juga karena teman saya sakiti ponakan bang Anton".


"Santai aja Bim memang butuh kejadian seperti ini supaya Dio sadar diri, semoga dia bisa berubah kedepannya. Ok saya pergi dulu, non saya pamit dulu".


"Iya kak nanti biar saya pulang di atar sama Bimo". Bianca menjawab sopan.


Bang Anton mengangguk tersenyum dan pergi menyusul Dio yang telah berjalan terlebih dahulu, semoga aja kagak kehilangan arah tujuan hidup itu anak, sayang banget kalau masa mudanya ancur cuma gara-gara cintanya bertepuk sebelah tangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sekarang di dalam gedung olahraga lama tinggal 4 orang anak manusia.


1 orang wanita menatap gw dengan mata berbinar penuh kasih sayang dan 2 orang pria menatap gw dengan mata tajam dan penuh akan nafsu membunuh. Tidak lain tidak bukan 2 orang itu adalah 2 anak cebong yang baru aja berevolusi jadi 2 anak uler yaitu Reza dan Udin.


Mugkin saat ini mereka sedang menahan diri untuk tidak mengumpat karena ada senior Bianca disini yang sudah menjadi cewe gw.


"Sayang kamu benar kan gak apa-apa? Gimama kalau kita ke rumah sakit dan cek keadaan kamu?". Keheningan menghilang di saat Bianca mengeluarkan suara merdunya.


"Bie jangan aneh-aneh deh, kamu liat kan aku sehat walafiat. Lagian kamu kan lagi sakit nekad banget sih ikut kesini? Katanya kamu percaya sama kekuatan gelut aku?".


"Iya aku percaya tapi cewe mana sayang yang gak kawatir saat tau cowonya lagi dalam bahaya?".


"Terus kamu kesini tadi gimana bawa mobil sendiri atau ikut bang Anton?".


"Ya ikut kak Anton lah mana bisa aku nyetir, kan masih lemes badan aku". Bianca mengeluh dan memegang keningnya.


"Bie mules itu di perut bukan di kepala! Kenapa yang kamu pegang kepala?".


"Mules campur pusing aku, pusing banget ini kepala". Bianca menunduk dan melirik gw.


Pinter banget ini bocah actingnya. "Ya udah nanti aku antar balik".


"Tapi kaki aku juga lemes ini sayang belum sarapan dari tadi nanti kalau pingsan saat jalan ke depan gimana?".


"Kalau pingsan ya gampang tinggal aku ambil gerobak kang kebon Campus dan bawa kamu ke depan". Jawab gw menggoda Bianca yang manja banget.


"Ya ampun sayang tega banget kamu jadi cowo". Bianca melihat gw dengan pandangan tidak percaya.


"Kalau gitu nona Bianca mau abang gimana?".


"Gendong dong! gendong sampai depan". Bianca mengulurkan kedua tangannya ke depan kek anak kecil yang merengek minta di gendong.


Bisa dalam masalah ini kalau gw gendong ini anak sampai gerbang Campus, bisa jadi trending topik nama gw.


"Ehemm!". Saat gw masih berfikir suara batuk kecil terdengar dari belakang Bianca.


2 anak uler berjalan mendekat pelan ke arah gw dan Bianca.


Bianca pun menoleh melihat mereka. "Ya ampun kalian gak apa-apa, kok bisa sampai seperti ini?". Bianca berkata saat melihat keadaan 2 anak uler yang amburadul.


"Bie udah telat kamu bertanya! disini kan mereka korbannya karena makan sama kamu Reza diculik, harusnya kamu tanya dari tadi". Gw mencoba membela Reza dan Udin tapi mereka malah melototin gw.


"Maaf ya Reza, Udin. Aku tadi enggak lihat kalian". Bianca berucap pelan tanpa takut sakiti hati 2 sahabat gw yang sangat rapuh.


"Bie kamu bercanda ya? Walau badan Udin seperti tusuk gigi kamu enggak liat aku bisa percaya tapi masak kamu enggak lihat Reza yang segede angkot!". Gw membela 2 anak uler lagi.


Tapi lagi-lagi mereka malah tampak kesel dan marah, dimana coba salah dari kata-kata gw?


"Maaf senior apa senior Bianca pacaran sama ABIMANA PRAMONO ini?". Udin bertanya lembut tapi saat menyebut nama gw, ucapannya di teken dan melirik gw tajam.


Bianca malah melihat gw saat diberi pertanyaan sama Udin.


"Udah ketauhan juga Bie, jawab aja". Gw berucap dengan pasrah dan berat hati.


"Iya aku sama Bimo pacaran dan baru kemarin siang jadiannya". Bianca menjawab dan tersenyum ramah.


"Oh seperti itu senior, selamat senior tapi boleh kan diriku bicara sama pacar senior sebentar?". Kali ini Reza yang berbicara.


Perasaan gw mulai kagak enak, mendengar perkataan Reza.


"Hehe, kalian ini kalau mau bicara ya bicara aja walau di pacar aku kan Bimo juga sahabat kalian kan?".


"Terima kasih senior". Reza dan Udin langsung berdiri di depan gw tanpa ragu setelah berterima kasih sama Bianca.


"Ka.. Ka.. Kalian ma..ma..mau bicara apa sahabatku?". Baru ini gw minder berhadapan sama 2 anak uler.


"Sahabatku jadi kemarin dirimu pulang dari Singapura dan enggak ngampus karena bertemu sama senior Bianca?". Udin bertanya lebih dulu dengan wajah datar tanpa ekpresi.


"Hehe, iya". Gw menjawab tersenyum canggung dan mundur satu langkah.


"Sahabatku kenapa diriku merasa ada yang janggal ya?". Reza tampak berfikir.


"Perasaan lu aja itu sahabatku, enggak ada yang janggal kok". Gw menjawab sambil mundur satu langkah lagi.


"Oh iya diriku ingat". Reza bicara dan maju satu langkah ke depan menatap gw tajam.


"Ingat apa sahabatku?". Gw bersiap untuk kabur kapanpun.


Bodo amat sama Bianca yang bengong di belakang Reza sama Udin, gw lebih takut sama 2 anak uler daripada Bianca.


"Kan harusnya dirimu sahabatku yang diculik kesini! kan dirimu pacar senior Bianca, kenapa jadi diriku yang menanggung semua beban yang harusnya dirimu pikul?".


"Kita berdua yang tidak tau apa-apa gelut mati-matian padahal enggak salah, ehhh orang yang salah malah enak-enakan jadi penonton". Udin tampak geram.


Sippp waktunya kabur dari sini. "Aduh! Aduh! kenapa aku pengen pipis lagi ya? Sahabatku aku ke toilet dulu ya".


"Wussssss!!". Gw berbalik dan langsung berlari kabur.


"Bemoo! Jangan kabur loe!". Udin teriak dan berlari mengejar gw.


"Cak berhenti cak! Sebelum diriku kumat". Reza ikut mengejar gw setelah berteriak mengancam.


"Sayaang! Kamu mau kemana? gendong aku dulu sayang!". Suara Bianca juga terdengar berteriak.