
"Mbak beli pulsa mbak?". Gua ulangi sekali lagi teriakan gua untuk memastikan kagak salah dengar dengan jawaban yang pertama tadi.
"Iya sebentar, masih mandi.. Tunggu ya?".
Jawaban dari dalam rumah terdengar lagi dan ternyata tidak ada yang salah dengan indra pendengaran gua, wanita itu memang benar sedang bermain air.
Kebanyakan orang termasuk gua paling kagak suka jika disuruh menunggu apalagi disuruh menunggu yang enggak pasti, gua rasa semua orang tidak akan suka dengan itu.
Tapi terkadang menunggu juga bisa menjadi kegiatan mengasyikkan dan membuat diri penasaran seperti yang gua lakukan sekarang.
Tidak pernah terbesit di dalam benak, gua bakalan nunggu bini orang mandi.
Apa itu wanita lagi mandi bareng suaminya yang kekar dan menakutkan itu ya? Gua bertanya pada diri sendiri.
Segera gua buang pikiran yang sudah berhayal terlalu jauh dan gua duduk di kursi plastik sambil mengeluarkan rokok dari saku.
Gua sulut dan gua nikmati pelan-pelan asap yang masuk ke dalam paru-paru sebelum gua hembusan keluar lagi.
Hp di dalam saku gua rasakan bergetar bertanda ada pesan atau panggilan dan setelah gua cek itu adalah pesan dari Bianca.
Gua kira isi pesannya akan membahas soal VCS tadi malam, ehh ternyata gua salah.
Bianca mengirim pesan cuma mau ngingetin gua agar kagak lupa dengan pesanan dia, oleh-oleh yang dia minta saban hari saat gua akan ke Blora.
Kalau kagak salah ingat dia minta ulat jati atau apa gitu dan juga belalang goreng, 2 makanan yang katanya khas dari daerah Blora sini.
Setelah membaca pesan dari Bianca akhirnya gua sadar memang enggak ada yang sempurna di dunia ini.
Gadis dengan postur dan wajah idaman para pria tidak disangka suka dengan makanan extrem seperti itu.
Gua cuma membalas dengan gambar jempol tangan dan segera memasukan lagi hp ke saku.
Rokok yang dari tadi gua diamkan segera gua sedot panjang hingga mulut penuh dengan asap dingin dari L.A ice bercampur rasa kopi hasil karya si Jono.
"Maaf, lama nunggu ya?". Suara terdengar lagi dari dalam rumah.
Segera gua berdiri dan menengok, "Enggak kok m.. Uhuk-uhuk.. Uhuk-uhuk..!". Belum kelar bicara gua langsung terkejut dan tersedak asap rokok karena melihat wanita yang baru aja kelar mandi melihat gua hanya dengan balutan handuk putih yang kagak seberapa besar.
Handuk itu hanya menutupi area dada yang besar dan area aset pribadinya doang, paha sampai kaki ter ekpos dengan sangat jelas.. putih dan mulus dengan hiasan butiran air di sana.
Rambut panjang yang masih basah itu tampak mengkilap hitam menambah kesan erotis yang saat ini gua saksikan.
"Kamu enggak apa-apa? Tersedak apa kok sampai batuk seperti itu?".
Bukannya malu dengan kondisinya yang setengah Te.la.n.jang, wanita itu malah bertanya dan datang menghampiri gua yang masih dalam keadaan bego karena antara terpesona dan takut tergoda dan tiba-tiba khilaf datang.
Dia berdiri di depan gua yang lebih tepatnya hanya terhalang oleh etalase kaca konter yang hanya sepinggang.
"Oh seperti itu pantas saja kamu memandang sumber air ya, haus ternyata".
"Apa mbak?!". Gua gelagapan dan langsung mendongak melihat wajah wanita di depan gua, yang teryata tersenyum misterius penuh arti.
Anjing! Ternyata gini rasanya malu karena kepergok sedang mupeng, mana frontal dan to the point banget itu perkataan.
Gua rasa wanita ini adalah tipe betina yang blak-blak an.
Sialan! Harusnya gua udah ngerti kalau ada yang kagak beres sama ini wanita karena tidak sembarang wanita yang mau memperlihatkan asetnya kepada pria tidak dikenal seperti kemarin sore.
"Anu mbak.. Maaf anu nya saya anu.. itu apa namanya anu".
"Pelan-pelan bicaranya jangan grogi dan gagap seperti itu, anunya kamu memang kenapa?". Pandangan betina itu beralih dari wajah gua menuju kebawah ke area batang yang udah membesar sejak tadi.
Reflek gua langsung buang rokok di tangan yang masih panjang dan segera menutupi depan batang dengan kedua telapak tangan.
"Anu mbak maksudnya saya minta maaf enggak sengaja liat kesana tadi, maaf". Dengan mata melihat ke arah lain gua berbicara.
"Kenapa minta maaf, lha wong kamu aja enggak salah kok". Jawab dia santai banget kek lagi mempermainkan gua ini betina. "Oya kamu bukannya adek yang kemarin sore itu ya?".
"Oh iya mbak saya yang kemarin sore mau tanya alamat sama mbaknya". Gua menjawab dengan datar dan senang dalam hati karena dia mengalihkan topik.
"Kalau gak salah nama kamu Bimo kan? Masih ingat aku waktu Suci memanggil kamu kemarin".
"Oh iya mbak perkenalkan nama saya Bimo". dengan sopan tanpa niat apapun gua memperkenalkan diri dan menjulurkan tangan kanan ke depan, di atas etalase.
Mungkin disini hanya gua yang punya niat baik dan tidak dengan wanita penggoda di depan ini.
Dia juga dengan cepat menjulurkan tangan kanan nya dan meraih tangan gua tapi yang gua kagak sadari adalah ketiak dia langsung terekspos tepat di depan mata gua seiring dengan terangkatnya tangan, ketiak mulus dengan sedikit ada bulu-bulu kecil di sana.
Gua pernah baca artikel entah dari situs apaan gua lupa, wanita dengan bulu ketiak tipis punya nafsu yang sangat besar dan cenderung tidak pernah puas jika hanya bermain satu kali.
Otak gua langsung traveling lagi saat ini dan semakin cenat-cenut ketika tangan kami berdua yang masih menempel salaman dan dengan sengaja atau tidak istri orang ini menggaruk telapak tangan gua dengan jari-jari lentiknya.
"Uhhh..ahhh..". Tanpa gua sadari mata gua langsung terpejam dan mulut gua mendesah.
"Kenapa dek Bimo? Terlalu kencang ya mbak jabat tangan kamu, Oya nama mbak Rini". Dengan senyum penuh godaan tingkat tinggi dia memandang gua, senyum yang penuh akan kemenangan setelah melihat dan mendengar gua mende sah.
Jika bisa kabur, gua akan kabur saat ini juga.. yang biasanya gua ahli menggoda sekarang gua yang klinyengan karena di goda, skill penggoda gua ternyata masih di bawah dari skill wanita ini.
"Maaf mbak, ini memang tenggorakan saya enggak enak banget". Walaupun dia kagak mungkin akan percaya setelah mendengar desah an gua, tetap saja gua mencari alasan agar tidak terlalu malu.
Dari pada mulut gua kumat lagi segera gua tarik tangan gua yang masih di pegang sama dia.