
Dini hari yang gw perkirakan sudah lebih pukul 1 malam disaat sebagian orang-orang terlelap tidur menyelami alam mimpi yang tiada berujung.
Diwaktu para binatang malam keluar dari sarangnya mencari mangsa, Gw masih berada di atas tubuh manusia yang gw kagak tau nama aslinya.. Bergulat saling memukul dan melukai, saling menghantam untuk menyakiti satu sama lain, beradu ilmu dan skill gelut dan beradu stamina.
Gw menghantam dari atas dia menghantam dari bawah, udara yang dari tadi dingin gw rasakan sekarang panas terasa karena bercampur dengan andrenalin dan keringat yang mulai keluar.
Sudut mulut gw nyeri dan darah mulai menetes dari sana, mungkin juga pipi gw lebab karena menerima hantaman dari bawah berkali-kali, kagak mungkin juga di fight jarak dekat gini gw terus - terusan menghindar karena gw manusia biasa bukan siluman dan ini adalah gelut sungguhan dan nyata.
Walau gw percaya diri dengan kekuatan tapi gw kagak boleh lengah sedikitpun, gw bukan tokoh utama dalam novel yang bisa mengalahkan musuh dengan sekali tendang langsung terbang dan pingsan, gw juga bukan murid dari sekte silat yang bisa ngeluarin jurus di luar nalar dan nembakin meteor dari atas langit.
Gw hanya pemuda biasa yang punya nyali dan keberanian, percaya dengan diri sendiri dan ngelakuin apa yang menurut gw benar.
Pemuda biasa yang mempunyai hobi dan kebiasan aneh, pemuda biasa yang memiliki 3 cewe dan pemuda biasa yang punya tatto bunga mawar di pantat kanan dan s.a.l.i.p di pantat kiri.
Rasa sakit kecil di sudut bibir dan pipi tidak mempengaruhi gw sedikitpun, karena musuh yang juga gw tumbuk dari tadi berada dalam keadaan yang lebih mengenaskan dan lebih memprihatinkan.
Pelipis dia bocor, hidung patah dengan darah yang terus muncrat, beberapa gigi juga menghilang karena dengan posisi gw yang menindih dia, bisa dengan mudah hantam itu mulut berkali-kali.. Kalau ada pisau atau beling pasti bakalan gw robek sekalian mulut dia.
Tidak ada jeritan tidak ada teriakan walau kami sama-sama terluka, yang ada hanya suara nafas yang memburu dan suara pukulan menghantam daging.
Si putih yang tenaganya mulai terkuras mulai mengubah strateginya kedua tangannya menjulur ke atas mencekik leher gw dari bawah, gw auto megap-megap kekurangan nafas.
Dalam situasi kek gini kalau kagak cepat selesaikan ini fight bakalan gw yang mampus duluan.
Dengan keadaan leher gw yang dicekek dengan cepat gw mengangkat siku kiri tinggi-tinggi di udara.
"Yaaaaaaa!". Gw teriak berbarengan dengan siku gw meluncur ke bawah tepatnya ada sasaran yang telah gw kunci yaitu mata dia sebelah kiri, bolong-bolong itu mata.
"Ceprrrookkkk!!". Siku gw dengan keji menghantap kelopak mata dia.
"A a aaaaaaa....!". Cekikan di leher gw terlepas dan akhirnya teriak juga ini bocah, teriakan yang gw nanti-nanti dari tadi.. Entah kenapa setiap dengar teriakan kesakitan musuh, gw berasa sangat bersemangat.. Teriakan itu begitu merdua masuk ke dalam indra pendengaran gw.
Tanpa belas kasih sedikitput terus gw tumbuk mata kirinya dengan siku dan bogem bergantian tanpa kendor dan loss terus, rasa iba dan kasian gw buang jauh-jauh saat ini kalau akhirnya dia buta pun kagak peduli gw... Karena gw juga sudah mulai kalaf dan lepas kontrol.
"Bugggk!".
"Buggkk!".
Gw hantam dan gw hujani pulukan terus menerus, kedua tangannya yang dari tadi berontak mendorong-dorong gw.. Sekarang jatuh tak perdaya dan terkulai lemah di tanah.
Segala lubang di wajahnya mengeluarkan darah segar hingga itu wajah tidak bisa dikenali lagi, cuma mata sebelah kanan saja itu yang masih tampak normal.
"Modal nyali tanpa skill! Jangan harap lu bisa tumbangin gw tong!". Gw memandang dia yang terkulai tidak berdaya.
"Sekarang mending lu pingsan aja dulu nyusul itu teman lu si hitam!".
Gw cengkram rambutnya dan gw angkat kepalanya sedikit dan "Duaaakkk..!". Gw adu dengan tanah membuat si putih pingsan seketika.
"Gitu aja sok-sok an nekad lu! Ilmu masih cetek sok-sok an!". Gw kek orang gila berbicara sendiri sama orang yang sudah pingsan.
Gw langsung berdiri dan bangkit menatap 2 orang di kejauhan yang masih bengong tidak percaya melihat kejadian barusan.
Gw menyibakkan rambut ke atas dengan keren dan suara lantang gw berucap. "Kalian mau maju satu persatu atau barengan?". Kata-kata gw penuh akan intimidasi kuat dengan seringai tidak kenal takut yang gw tampilkan.
Jujur gw masih haus, bukan haus belaian atau haus ingin minum.. Tapi haus akan darah, haus pembuktian untuk berdiri di akhir sementara mereka semua tergeletak di tanah.
Si gendut dan si gondrong saling berpandangan untuk sesaat dan mengangguk bersamaan, seperti sedang bicara dalam diam itu mereka dan hanya mata keduanya yang kedip-kedip.
"Bangsat! Bakalan gw mampusin lu disini keparat!". Si gendut mengacungkan tongkat baseballnya ke arah gw dengan mata yang sudah penuh akan kebencian mendalam.
"Gw kagak akan pernah tidur lelap sebelum pecahin pala loe dengan tongkat gw babi!". Si gondrong juga mengacungkan tongkat basaball ke gw, rambutnya yang panjang bergoyang-goyang mengikuti semilir angin malam.
"Bacot lu berdua anak pecun!". Gw mencaci dan langsung melepas baju menampilkan otot-otot tubuh gw yang terbentuk sempurna, biar lebih fleksibel juga bergeraknya.. Maunya sih gw mau lepas celana juga tapi ada resiko burung gw mengkerut kedinginan jadi gw batalin.
Lagian ini di pinggir jalan raya, walau sepi dan tengah malam masih ada kemungkinan orang lewat.. kalau cuma di liat doang sih masih PD gw gelut sambil telanjang tapi jika direkam dan di sebarin itu yang bisa buat gw dalam masalah besar.
, "Ayo maju kalian berdua tai! kita buktikan pala siapa yang akan pecah duluan". Gw udah kagak sabar dan terlalu bersemangat, jiwa binatang haus darah gw sudah muncul dan keluar saat duel sama si putih tadi, saat ini gw hanya ingin mencari kenikmatan dari merdunya suara tulang musuh yang patah dan jeritan-jeritan keputusasaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tanpa banyak bicara dan ngeluarin bacotan si gendut dan si gondrong langsung maju melesat berlari menghampiri gw dengan senjata tongkat baseball di tangan mereka masing-masing yang terus mengacung.
"Kalian datang untuk berpesta dengan senang hati gw akan ikut memeriahkan". Gw menunduk sedikit mengambil ancang-ancang dan langsung berlari melesat maju menyambut mereka dengan telanjang dada dan bermodalkan senjata tangan kosong.
Jarak semakin menyempit di antara kami, si gondrong berada di depan karena si gendut lari tapi ke beratan bokong jadi tertinggal.
1 meter jarak gw berhadapan langsung dengan si gondrong, dia memegang tongkat baseball dengan kedua tangannya dan langsung mengayunkannya kedepan "Wuunggg!". Tongkat basebal dia ayunkan ke kepala gw.
Gw menunduk dan menghindar maju dan sekarang disambut oleh di gendut yang ada di belakang si gondrong.
"Wunggg!". serangan dia juga meleset mengenai angin karena gw menghindar dengan cara berguling di tanah.
Tanpa membiarkan gw berdiri si gendut berbalik badan dan mengangkat tinggi tongkatnya.
"Trannngg!". Gw berkeringat dingin karena ampir saja batang gw remuk di hantam dari atas, untung gw langsung jungkir balik ke belakang.
"Wusssss! Praaakkkk!".
"Ahhhhhh!".
Dari samping si kurus meyabetkan tongkatnya tanpa bisa gw hindari dan langsung tepat mengenai tulang kering kaki kiri gw.
Gw langsung gelesotan di atas tanah merasakan sakit yang teramat sangat sambil memengangi kaki, walau kagak patah tapi sakitnya minta ampun dan buat gw mengerenyit untuk sesaat.
"Mampus!". Si gondrong mengangkat tongkatnya lagi dan memandang gw yang masih di tanah memegangi kaki.
"Modarr kowe asuu!". Si gendut dengan cepat ikut mengangkat tongkatnya ke atas.
Gw duduk tanah dan sekarang di depan gw ada 2 orang dengan wajah bringas menganggat tongkat baseball dan siap untuk melancarkan serangan.
Posisi gw saat ini sangat-sangat tidak menguntungkan, membuat darah gw berdesir hebat.. Memaksa otak untuk berfikir cepat mencari jalan keluar sebelum itu 2 tongkat baseball buat isi otak gw keluar dan berceceran.
"Hiyyyaaaaaaaa!!!". Di gendut dan gondrong berteriak bersamaan dan mulai melakukan gerakan memukul.
Gw menghiraukan rasa sakit di kak dan otak gw menyala memberi perintah untuk cepat menghindar, 2 pukulan itu sama-sama mengarah ke pala gw, 1 detik.. 2 detik..
Gw jongkok dan melonjat ke depan di bawah kaki mereka berdua.
"Trannggg!".
"Traanggg!".
Detik ke 3, 2 pukulan mengenai tanah tempat gw duduk tadi, 2 orang itu langsung terkejut seketika saat gw menghindar bukan menjauh tapi malah mendekat ke depan di bawah kaki mereka berdua.
Rasain ini bangsat! Gw berteriak dalam hati dan tanpa menunggu reaksi mereka, kedua tangan gw terangkat dan mengepal, meluncur menghantam k.o.n.t.o.l mereka berdua yang masih berdiri tepat di depan gw.
"Aaaaaaaa!". Si gendut teriak melengking kek banci.
"Engggggk!". Si gondrong ngeluarin suara tertahan menahan rasa sakit.
Melihat 2 musuh teralihkan gw langsung bangkit berkilat dengan cepat dan langsung memutar tubuh berdiri di belakang si gendut.
Kedua tangan gw naik dan kunci lehernya dari belakang dengan erat, skill ini gw pelajari dari nonton pertarungan brutal UFC, teknik kuncian leher.
"Aakkk! Adik tolong.. Adik!". Si gendut berontak mengayunkan tongkatnya ke segal arah dengan panik, meminta tolong kepada si gondrong yang masih kesakitan memegangi batangnya.
"Kakaaak..!".
Si gondrong langsung panik seketika di depan kakaknya, melihat si gendut yang matanya mendelik mau mampus karena lehernya gw teken dan gw kunci dengan dua tangan dari belakang.
"Lepasin kakak gw bangsat!". Tanpa fikir panjang si gondrong kembali mengangkat tongkat baseballnya siap mengayun kan dari depan dan mengincar pala gw di belakang si gendut.
Moment kelalaian inilah yang sangat gw tunggu-tunggu, momen dimana musuh melakukan gerakan tanpa berfikir... Momen dimana kemenangan akan jatuh ke tangan gw dengan mudah, momen dimana musuh melakukan kesalahan dan gw bisa memanfaatkannya.
"Wusssshhhh!". Tongkat di ayunkan dari samping oleh si gondrong.
Dengan cepat gw lepas kuncian tangan gw di leher si gendut.
Gw mundur satu langkah ke belakang sambil menarik si gendut sehingga dia menempati posisi gw saat mengunci lehernya tadi.
"Praaaaaakkkkkkk!". Suara tongkat baseball menghantam kepala samping si gendut yang gw korbankan.
"Brukkkkk!". Si gendut langsung jatuh dengan kepala mengucurkan darah, tidak sempat teriak ataupun menjerit dia langsung pingsan, mungkin juga langsung mampus.. Gw kagak peduli juga.
"Kaaakaaakkkk!".
Si gondrong berteriak histeris kek orang gila, meraung-raung dan langsung jongkok di depan tubuh si gendut yang sudah kagak bedaya.
"Kakak maaf". Ucap si gondrong lirih sambil memegangi kepala si gendut yang bocor.
"Hahahahaha, baru ini gw liat orang bego kek lu tong! Tapi gw akui keren itu tadi aksi lu.. Jarang-jarang ada adik yang pecahin pala kakaknya sendiri". Gw tertawa ngakak.
"Ini semua gara-gara kamu anjing!". Dia teriak dan berdiri lagi dan memegang tongkat nya dengan erat, nafsu membunuh lagi-lagi gw rasakan dari sorot matanya.
"Kok gw? Kan lu yang pukul itu pala kakak lu sendiri, jangan fitnah gw ya lu". Gw tersenyum tipis mengejek.
"Gw bunuh loe! Gw bunuh loeee ANJINNNNGGGG!!!".