
Sebuah drone, pesawat kecil tanpa awak berputar-putar di atas langit Jogjakarta, entah siapa yang mengendalikannya dan drone mulai terbang menuju ke arah sebuah Rumah Sakit.
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, di sebuah ruangan yang luas dan di dominasi dengan dekorasi warna putih, ada 3 ranjang yang berjejer rapi dengan 3 anak manusia yang sedang berbaring di atasnya, drone mulai masuk ke dalam ruangan tapi anehnya 3 pemuda itu tidak melihat dan seakan-akan drone dengan kamera itu tidak kasat mata.
3 anak manusia dengan tampilan yang tidak biasa karena di sekujur tubuh mereka penuh dengan luka dan perban di berbagai bagian, membuat miris siapapun yang melihatnya.
Wajah mereka tampak pucat dan lesu, terkadang mereka bertiga bergantian mengeluarkan suara rintihan rasa sakit yang memilukan dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
Pemuda yang berada di ranjang tengah dengan susah payah menoleh ke kiri dengan sangat pelan-pelan melihat pemuda tambun yang tampak putus aja rebahan di ranjang dengan mata kosong melamun menatap plafon rumah sakit.
"Dek Za, gimana keadaan loe udah bisa rebahan dan gak tengkurep lagi?". Pemuda yang bernama Udin bertanya dengan suara parau.
"Ma semua Lang tulang diriku kit sakit cak, baru Li kali ini diriku hancur babak belur seperti ini". Tanpa menoleh Reza menjawab dengan suara yang tidak kalah parau nya seperti orang yang tidak minum beberapa hari.
"Sorry dek Za ini semua salah gua". Udin berucap lirih dan tampak bersalah.
"Bukan salah dirimu cak, diriku juga salah karena terlalu percaya diri kemarin.. Ta kita terlalu meremehkan lawan dan tidak mendengarkan nasehat Pendekar rajawali".
"Pendekar rajawali? Bimo maksud kamu Dek Za?".
"Iya cak Din harusnya ta kita tidak gegabah dan nunggu Bimo ikut serta".
"Ya apa boleh buat dek Za". Udin mendesah pelan, "Nasi udah menjadi bubur juga yang penting kita masih selamat dan nanti bisa balas dendam jika sang pendekar rajawali balik dari perjalanan dinasnya".
"Iya cak Din semoga dia cepat Lik balik, ngomong-ngomong dia sudah sampai Blora belum ya?".
"Seharusnya sih udah tapi loe tau Bimo kan? enggak mungkin perjalanannya akan baik-baik saja".
"Hehe.. Uhuk-uhuk, benar juga dirimu cak.. Dia kan tipe orang yang akan selalu di ikuti dengan masalah". Reza tertawa pelan dan langsung terbatuk.
"Pelan-pelan Dek Za jangan dipaksain ketawa, jadi batuk kan loe.. Ada darah yang keluar gak dari mulut loe?". Udin tampak khawatir.
"Tenang aja cak, udah gak ada darah kok saat diriku batuk.. lagian jika bicara tentang sahabat satu kita itu jadi pengen tertawa diriku".
"Eh dek Za loe sadar gak?".
"Sadar apa cak Din?".
"Soal Bimo setelah gua ingat-ingat ya, walau dia seperti magnet yang selalu menarik masalah pasti akan ada juga wanita yang tertarik sama itu bocah".
"Bener juga cak, mungkin dia di Blora bakalan ketemu betina baru.. Kita berdoa aja sekarang".
"Berdoa? Berdoa apa? Berdoa untuk keselamatan Bimo di Blora?".
"Bukan cak dengan nyali dan bakat gelut itu bocah yang di atas rata-rata sih bakalan percaya diri dia hadapi apapun".
"Lha terus kita berdoa untuk apa?".
"Kita berdoa agar semua betina di dunia yang kita temui tidak tertarik sama teman kita itu, kalau gini terus bisa jomblo se umur hidup kita dan kering kerontang tanpa belaian kasih sayang".
"Ide bagus itu, kita kan babak belur abis dianiaya massa satu fakultas, katanya doa orang yang teraniaya itu manjur". Udin setuju dengan membawa materi ceramah yang pernah dia dengar.
"Udin, Reza... Aku enggak kalian ajak berdoa?". Suara pelan terdengar ikut bicara yang berasal dari ranjang paling kanan.
"Ri loe udah bangun?". Udin langsung menoleh dengan susah payah.
"Dari tadi aku terjaga Din, setiap memejamkan mata selalu terbayang mimpi buruk kemarin". Rio tampak melas.
"Kasian banget sih dirimu Yo, dirimu baru kali ini ya ngalamin hal seperti ini?". Reza ikut prihatin.
"Iya Za tapi enggak apa-apa ini juga karena masalah aku dan kalian yang membantu malah ikut kena getahnya".
"Tenang aja Ri, mending sekarang loe ademin aja pikiran loe itu semua akan baik-baik saja saat Bimo balik dari Blora".
"Iya Din, semoga Bimo cepat balik.. Ini jadi gak kita berdoa bersama?". Dengan polosnya Rio mengingatkan 2 orang disampingnya.
"Sepertinya dirimu enggak usah ikut berdoa deh Yo". Reza bersuara tanpa menoleh karena lehernya masih di gips dan dia hanya bisa memandang plafon di atas saja.
"Iya Ri sepertinya kamu enggak usah ikut berdoa". Udin tampak setuju dengan kata-kata Reza.
"Kenapa?". Rio bertanya dan tampak bersedih mendengar penolakan Udin dan Reza, "Kalian berdua belum menganggap aku sebagai teman ya?".
"Bukan gitu Ri, loe udah jadi sahabat kita kok.. bukan begitu dek Za?".
"Tul betul tak ye.. Dirimu udah jadi best friend kita Yo". Reza menjawab dengan ciri khas berbahasanya.
"Lha terus kenapa kalian larang aku ikut berdoa".
"Ta kita berdoa kan agar semua wanita di dunia tidak di embat sama Bimo Yo, ya dirimu tidak termasuk lah".
"Lho kok gitu? aku kan sama jomblo seperti kalian". Rio tampak bingung.
"Sakit bibir diriku bicara terus, dirimu aja cak Din yang ngingetin itu anak apa yang dia lakukan tempo hari saat kita ditraktir pecun sama Bimo".
"Ok dek Za, loe lupa ya Ri sama pecun yang bernama Nita yang marah-marah sama kita di lobi hotel".
"Ingat Din". Jawab Rio pelan dan dia akhirnya ingat dengan masalah lain yang akan dia hadapi.
"Nah loe ingat itu, loe kan udah ngecr**t di dalam rahim itu pecun 9x dan kebetulan dalam masa subur lagi, kemungkinan besar itu pecun bakalan hamil dan loe harus tanggung jawab".
"Jadi Yo dirimu udah ada wanita yang menunggu, doa loe enggak akan pan mempan lagi". Reza menambahi.
"Ok Za aku ngerti, akan aku amin nin aja deh doa kalian berdua". Rio tampak pasrah.
"Nah itu baru bener Ri, loe Aminin aja doa kita.. Dek Za ayo kita mulai berdoa sebelum para suster datang dan tusuk kita sama jarum".
"Sip cak Din mari kita berdoa menurut agama masing-masing".
"Dek Za, perbincangan kita dari tadi itu adem ayem tanpa masalah dan baru ini kita akur kenapa malah buat gua emosi lagi sih loe! Enggak tau loe kalau mental kita sedang anjlok ini".
"Emosi apa? diriku salah ngomong ya?". Reza mau menoleh melihat Udin tapi rasa sakit di leher masih saja menghalangi dan memaksa dia untuk tetap menatap plafon di atas.
"Agama kita kan sama Za! bego loe ya? Apa masih sakit itu pala loe karena hantaman benda tumpul kemarin?".
"Hehe, uhuk-uhuk.. sorry cak diriku kira udah pindah server dirimu.. Ok mari kita berdoa bersama dengan kepercayaan dan agama yang sama pula.. Yo siap aminin dirimu".
...****************...
Tanpa menunggu dan merekam doa 2 pemuda yang putus asa drone kecil itu, segera menuju ke ruangan lain di dalam Rumah Sakit dan lebih tepatnya adalah ruangan operasi bedah tempat dan lokasi target rekam selanjutnya berada.
Tapi sebelum masuk, drone itu merekam dan melihat tanda kamera yang disilang di depan pintu, menandakan di dalam tidak boleh ada kamera.. walau pun drone kecil itu tak kasat mata tapi dia sangat canggih dan menaati peraturan. Dia segera keluar dan terbang kembali ke langit Jogjakarta.
Drone berputar-putar sejenak seakan-akan sedang mencari rute terbaik untuk terbang ke arah target selanjutnya yang ada di list.
Rumah megah nan besar di pinggiran kota Jogja tampak tidak biasa karena begitu banyak penjaga berpakaian serba hitam berdiri di sekitarnya, bagi orang luar yang tidak tau pasti akan dikira itu rumah pejabat tapi sebenarnya rumah itu adalah markas utama dari geng no 1 di wilayah DIY geng Zeuz.
Drone kecil itu perlahan-lahan turun dari atas menuju target yang sedang yang sedang berjemur di tepi Kolam renang, kolam renang sepi dari penjagaan karena itu adalah daerah terlarang.
Drone sempat bergoyang sebentar karena melihat pemandangan yang dia rekam.
Wanita dengan balutan bikini tipis sedang berbaring tenang dengan mata terpejam, wanita itu begitu cantik dan kulitnya seputih susu dan Aset bagian atas dibungkus bikini itu tampak seakan-akan mau berontak karena ukurannya yang besar, sementara aset dibawah pusar tampak tembem dan menggoda, sungguh pemandangan yang sangat menggoda iman bagi pria manapun yang melihatnya.
Pintu masuk ke area kolam renang pelan-pelan terbuka dan muncul wanita setengah baya dengan membawa jus jeruk di atas nampan.
"Non Bianca? Ini non jus jeruknya".
Pelan dengan lembut mata indah wanita yang rebahan itu terbuka dan bibirnya langsung tersenyum kecil kepada wanita setengah baya yang datang, "Makasih Bi". Jawab Bianca lembut.
Bibi itu menaruh jus di atas meja dekat sang nonanya dan segera pamit pergi dengan hati-hati.
Senyum tipis dia bibir Bianca segera mumudar dengan kepergian asisten rumah tangganya.
Dia berdiri dan duduk di tepi kolang renang dengan kedua kakinya yang memasuki air, pandangannya kosong menatap tengah kolam.. Wajahnya cantiknya tampak sendu seperti sedang memikirkan seseorang.
"Bimo? kamu sedang ngapain sekarang di Blora? baru 2 hari enggak ketemu kamu.. rasanya hidup aku sepi banget". Ucap wanita itu lirih dengan mata yang penuh akan kerinduan kepada sang pujaan hati.
"Bimo sekarang aku di kolam renang, walau pun kamu larang untuk aku kesini lagi tapi disinilah pertama kali kamu selamatkan aku dari insiden tenggelam.. ini adalah tempat spesial bagi aku karena disini rasa aku ke kamu mulai tumbuh, Bimo apa kamu disana juga merindukan aku?". Bianca berbicara dengan udara kosong.
Selang beberapa saat Bianca berdiri karena udara dingin yang menerpa kulit putihnya, jika dia sakit dan masuk angin sang kekasih pasti akan khawatir dan dia memutuskan masuk ke dalam rumah, dia mengambil jubah untuk menutupi tubuhnya di bangku dan dengan hati-hati berjalan pergi masuk ke dalam rumah, kenapa Bianca jalannya pelan dan sedikit aneh itu karena area pribadinya masih sedikit perih akibat hantaman benda tumpul berhelm pink milik sang kekasih.
Drone kembali naik dan terbang ke atas langit dan dengan kecepatan penuh terbang menuju ke target selanjutnya.
Drone memasuki halaman rumah sederhana berlantai dua, rumah dengan 4 pintu kamar berjejer di lantai 1 dan 4 pintu juga di lantai 2, kenapa ada begitu banyak pintu karena rumah yang tampak hampir roboh itu adalah sebuah kost.
Dengan cepat drone naik ke lantai dua dan memasuki salah satu kamar lewat sela-selalu lubang udara yang rusak.
Kamera langsung merekam wanita yang sedang duduk melamun di atas kursi dan di depannya ada nasi dan lauk-pauk tampak wanita itu akan makan tapi wanita itu masih diam dan belum bergerak memulai.
Rambut panjang wanita itu basah dan disanggul dengan handuk butiran air menetes di wajah ayu dan manisnya, dia tampak baru saja selesai mandi.
Sekali lagi drone tampak bergetar setelah melihat tubuh wanita itu, kaos ketat pink yang tidak bisa menutupi pusarnya dan hot pant super mini putih yang menampakkan seluruh paha putih mulusnya.
Wanita itu mendesah pelan sambil menarik piring berisi sate di atas meja, dia mengangkat satu tusuk dan memandangnya dalam-dalam.
"Bimo, kamu ingat sate ini gak? Ini sate kuda yang sengaja aku beli sore ini.. Sate yang kita makan bersama, sate yang membuat kita menjadi liar dan hampir saja melakukan itu.. Bimo.. Amora rindu..". Wanita bernama Amora itu bergumam pelan masih dengan jari lentiknya yang memegang sate kuda.
"Bimo kamu cepat balik dari Blora ya? Kamu udah janji mau temani aku mudik ke Magelang". Amora kembali bergumam pelan bicara dengan tusuk sate.
Tidak lama Amora menaruh tusuk sate lagi di atas meja dan segera membuang semua sate ke kotak sampah, dia tidak mau makan sate kuda jika tidak ada Bimo disampingnya.. Dia membeli itu hanya karena mengingatkan kenangan indah bersama yang tersayang.
Handuk yang membungkus rambut segera Amora lepas dan tampak lah rambut hitam panjang nan indah, lebih indah dari rambut para bintang iklan shampo Sunsilk.
Amora kembali duduk di kursi dan mulai makan dengan pelan dengan pikiran dan hati yang berkelana ke kota kecil di ujung timur Jawa tengah, Blora.
Drone segera keluar kamar Amora dan kembali terbang ke atas, tidak lama terbang sampai lah di bangunan megah lagi dengan pintu kaca besar di bagian depan dan banyak sekali wanita yang keluar masuk dari sana, di atas bangunan megah terdapat papan nama indah yang bertuliskan Butik Shinta.
drone yang tak kasat mata itu segera masuk dan langsung terbang ke arah sebuah ruangan untuk merekam target selanjutnya di dalam list.
Di belakang meja kerja duduk seorang wanita spek bidadari dengan muka imut dan lesung pipi di wajahnya yang mempesona.
Dia memakai pakaian formal kerja tapi itu tidak bisa menutupi auranya yang menyilaukan mata, tubuh langsing nan sempurna. Dua tonjolan di dada yang tidak begitu besar tapi masih terlihat sangat kencang pertanda belum pernah terjamah dari tangan-tangan nakal, termasuk tangan dari sang kekasih.
Wanita itu dengan senyum indah di wajahnya sedang memegang pulpen di atas buku di depannya.
Entah apa yang ada di dalam benaknya saat ini tapi pelan-pelan dia mulai menulis, mungkin saja dia akan menulis total penjualan di butik hari ini.
Tinta dari pena mulai dia goreskan di atas buku dan huruf demi huruf dia rangkai menjadi kalimat.
Kalimat pertama yang dia tulis adalah kata yang dibaca Nying-nying, setelah itu masih dengan senyum dia mulai membuat simbol hati disamping kata itu dan dia sambung dengan kata Nyong-nyong.
Wanita itu meletakkan pulpen dan memandang mahakarya yang di baca Nying-nying love Nyong-nyong yang baru saja dia buat.
"Nyong-nyong, nying-nying rindu.. Maaf kalau aku selalu marah-marah sama kamu, cepat kembali dan kita habiskan waktu bersama-sama". Wanita itu bergumam lembut dan merebahkan kepala di atas meja kerja, dengan mata terpejam dia membayangkan sang kekasih yang dia panggil Nyong-nyong.
Drone ingin berlama-lama disini melihat dan menemani wanita itu tapi waktu semakin mepet dan sore hari akan segera menghilang.
Dengan cepat drone kecil itu keluar ruangan dan kembali terbang tinggi ke udara.
Drone terbang memasuki wilayah sebuah pesantren yang begitu luas dengan para santri wanita dan pria yang sedang beraktifitas, drone segera meliuk-liuk dan sampailah dia di depan jendela kaca sebuah kamar yang tampak sangat adem dilihat dari luar.
Kamera drone segera fokus ke target Gadis yang sedang bersimpuh di lantai dengan wajahnya yang di balut dengan mukena berwarna biru muda.. walau semua tubuhnya tertutup tapi ada cahaya yang membuat wanita itu tampak bersinar terang.. Wanita blasteran Arab Jawa, wanita yang menjadi trending topik di UGM akhir-akhir ini.. Wanita kalem yang menjawab sebagai pemimpin rohis.
Di depan sang wanita ada tumpuan kayu kecil yang diatasnya ada kitab suci Al-Qur'an, wanita itu melamun dan bergumam kecil samar menyebut sebuah nama dan tidak lama dengan suara merdu dia mulai membaca dan melantukan ayat suci di depannya.
Mendengar lantunan Al-Qur'an, drone kecil di luar jendela itu entah kenapa mulai bergetar hebat, dia terbang ke berbagai arah tidak terkendali dan hawa panas keluar dari mesinnya dan dengan cepat api menyala, akhirnya drone malang itu hangus terbakar tak tersisa, padahal masih ada satu tempat yang belum dia datangi, di list memory.. tempat itu bernama Gadis bermata biru.
...****************...
"Berrrrrrrrrr!".
"Bemo Kenapa kenapa loe, bisa bergetar gitu bibir loe". Jono menunjuk gua.
Bimo kamu sakit? Apa es soda gembiranya terlalu dingin?". Mbak Suci pun ikut bertanya.
"Gua kagak ngapa-ngapa kok Jon, cuma tadi untuk beberapa detik gua merasa kedinginan". Jawab gua pelan.
"Apa mungkin kamu terlalu capek masuk angin Bim enggak biasa perjalanan jauh". Mbak Suci menebak dan tampak khawatir memandang gua.