
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
"Terimakasih Nick untuk makanannya. Makanannya sungguh lezat sekali." Puji Dara dengan tersenyum manis.
Hati Nick berdesir pelan melihat senyuman itu. "Sama-sama Dara. Kalau kau ada waktu, kau bisa datang kemari. Akan aku berikan menu terbaru di restauranku."
Dara mengangguk.
Sean tidak tahan dengan suasana seperti ini. Sean tidak suka di abaikan terlebih lagi diabaikan oleh istrinya. Sean benar-benar tidak menyukainya. Padahal, Sean lebih tampan daripada Nick. Lebih kaya dan berkuasa daripada Nick. Nick itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan dirinya. "Tidak perlu repot-repot Nick. Istriku setiap hari selalu makan enak. Bahkan lebih enak daripada makanan di restaurant milikmu."
Dara tersenyum canggung ke arah Nick. "Nick kami pulang terlebih dahulu." Pamit Dara.
Sean tersenyum menang. "Iya kami pulang terlebih dahulu Nick. Nanti malam kami akan ada proyek besar-besaran. Proyek tunggal putra." Ucap Sean dengan menatap wajah Nick yang tampak terkejut. Sean ingin menekankan jika Dara, istrinya adalah miliknya. Hanya miliknya seorang dan tidak akan ada yang bisa merebutnya. Bahkan Nick sekalipun.
Dara merasa bingung. Sejak kapan dirinya melakukan perjanjian untuk proyek tunggal putra? Sejak kapan?
Nick tertawa renyah menanggapi perkataan Sean tadi. Nick jelas mengerti akan maksud di balik perkataan Sean.
"Selamat untuk melakukan proyek tunggal putramu Sean. Itupun jika bibit mu itu adalah bibit unggul. Aku ragu akan hal itu jika bibit mu termasuk ke dalam bibit unggul. Apakah sekali tembak akan langsung jadi?"
Hal itu sontak membuat emosi Sean terpancing. Apakah sekarang Nick meremehkan bibit unggulnya. Dasar Nick sialan! Bibit Daddy-nya saja bibit unggul. Jadi jelas juga bibitnya adalah bibit unggul!
"Jangan meremehkan bibit seorang keluarga Crishtian, Nick. Bahkan aku jamin bibit ini bisa menghasilkan seorang anak yang tampan seperti Daddy-nya." Jawab Sean dengan sarkas. Tidak terima jika bibit unggul yang selama ia banggakan malah dilecehkan seperti ini.
Sedangkan Dara hanya bisa mengelus dadanya agar bisa untuk bersabar dengan bahasan absurd dua laki-laki disekilingnya. Apakah ini yang pembahasan seorang anggota mafia yang paling ditakuti seluruh dunia? Bahkan, ini pembahasan paling konyol yang pernah Dara dengar.
"Oke. Kapan kita akan pulang?" Ujar Dara dengan menghela nafasnya kasar.
Sean menyeringai tipis. "Sepertinya istriku sudah tidak sabar untuk melakukannya Nick. Jadi kami pulang terlebih dahulu. Selamat menikmati malam mu dengan kesendirian dan penuh penasaran. Jangan kau fikirkan tentang apa yang akan kami lakukan nanti malam. Karena nanti malam akan menjadi malam yang sangat panjang bagi kami berdua."
Setelah itu Sean segera mendorong kursi roda istrinya. Meninggalkan Nick yang tengah berdiri di depan restaurant Arpuna. Ternyata semakin menarik juga. Lebih dari apa yang aku duga, ternyata respon Sean begitu cepat.
***
Dara dan Sean sekarang berada di dalam mobil. Sean yang duduk di bangku kemudi, sedangkan Dara duduk bersebelahan dengan Sean.
"Kenapa tadi kamu mengabaikanku?!" Kata Sean dengan nada yang tidak terima ketika tadi selama di restaurant, Sean tidak dianggap sama sekali keberadaannya. Padahal selama ini tidak ada yang permah berani mengabaikannya. Tapi, Sean lah yang selalu mengabaikan orang yang di sekelilingnya. Apa mungkin ini adzab untuk nya? Eh bukan, apa mungkin karma?
Helaan nafas keluar dari mulut Dara. Yang awalnya menatap lurus kedepan langsung beralih menatap ke Sean yang tengah memberengut kesal di sebelahnya.
"Aku tidak mengabaikanmu. Mungkin kamu saja yang merasa diabaikan." Jawab Dara dengan tenang dan menatap kedua bola mata yang tengah menatapnya tanpa rasa takut sama sekali.
Tidak ada tatapan yang takut yang biasa menatapnya, hanya tatapan berani dan menantang dirinya. Sepertinya, istrinya mulai sedikit berubah.
Sean diam tidak menjawab perkataan istrinya. Lalu, Sean menyalakan mobil sportnya dan berjalan meninggalkan restaurant Arpuna.
Sedangkan Dara lebih memilih memandang pemandangan di luar kaca mobil.
Sean menghela nafasnya kasar. "Jauhin Nick." Suara tegas dan penuh titah tegas itu membuat Dara langsung menoleh dan menatap wajah suaminya yang terlihat datar dan dingin. "Aku tidak suka melihat mu dekat dengan Nick ataupun dengan pria lain. Apalagi sampai tersenyum seperti itu. Harusnya senyuman itu kamu berikan padaku. Bukan kamu berikan ke Nick."
Dengan reflek karena keterkejutannya, Sean langsung memberhentikan mobilnya ditepi jalan. Apa Sean tidak salah dengar? Ternyata, ada yang berani memerintah Sean sekarang. Padahal Sean paling pantang untuk diperintah tapi lebih suka memerintah.
Dara memutar posisi duduknya agar berhadapan dengan Sean. "Apa kamu tidak bisa menurutinya?" Tanya Dara dengan menatap wajah Sean yang sedikit terkejut.
"Bukan. Bukannya aku tidak bisa menurutinya, tapi--"
"Tapi?" Ucap Dara memotong perkataan dengan menaikkan salah satu alisnya. "Tapi kamu tidak mau melakukannya kan? Bukannya tidak bisa. Tapi kamu tidak mau melakukannya Sean."
Deg
Sean tidak tau harus menjawab apa. Apa Sean bisa melakukannya? Apa Sean bisa keluar dari bayang-bayang kehidupan Raya selama ini?
"Kenapa kamu tidak menjawabnya Sean?"
Sean bungkam dalam kebiasuannya.
Dara menghela nafasnya kasar. "Aku tidak akan menjauhi Nick sebelum kamu melupakan Raya dan semua tentang Raya." Ucap Dara dengan tegas tak terbantah. Jika Sean tidak suka dibantah, maka Dara juga tidak suka dibantah. Jika Sean lebih suka memerintah, maka Dara akan lebih dari itu. Bagaimanapun caranya, Dara akan membuat Sean tunduk padanya. Bukan Dara yang akan tunduk pada Sean.
Sean mencengkram kuat setir mobil. Pikiran dan hatinya sedang berperang hebat. Sean masih mencintai Raya tapi Sean juga tidak mau ditinggalkan Dara pergi.
Akhirnya Sean lebih memilih untuk mengangguk. "Dengan syarat, kamu harus membantuku untuk melupakan tentang Raya."
Dara menatap terkejut wajah itu. Dara kira, Sean akan menolaknya atau bahkan mungkin bisa jadi memarahinya dan melemparkan dirinya ke kaca lagi. Mengingat hal itu saja membuat Dara merasa ngeri dan takut.
"Akan aku bantu Sean. Selama ada kemauan dan niat yang begitu kuat, pasti kamu bisa melakukannya. Aku tidak mau menjadi bayang-bayang Raya dalam kehidupanmu. Aku adalah aku. Raya adalah Raya. Kami berbeda. Kami tidak sama." Ujar Dara dengan tegas.
Sean mengangguk bagaikan anak itik yang menurut pada induknya.
"Ayo pulang. Aku ingin segera beristirahat."
"Baik!" Jawab Sean dengan semangat empat lima.
Setelah itu, mobil sport mewah milik Sean langsung berjalan lagi.
***
Sedangkan disisi lain. Disebuah gudang dengan penuh obat-obat terlarang, ada seorang pria bertato yang sedang menyeringai senang.
Dia adalah James Alergon.
"Penyusup telah berhasil kita masukkan ke dalam mansion milik Sean Crishtian tuan. Dan seperti yang telah tuan rencanakan. Semua telah berjalan lancar."
James mengangguk mengerti. "Kerja bagus."
Kita lihat saja Sean, apa kau akan bisa mempertahankan wanitamu?
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤