
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karena saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Ava, telah mati ditembak oleh Sean. Keadaannya sangat mengenaskan. Darahnya semakin berceceran di lantai. Bahkan darahnya sampai mengotori dinding.
"Ucapkan terimakasih karena aku telah membantu mengurangi rasa sakit mu." Ujar Sean dengan seringai yang tersungging di bibirnya.
"Mata di balas dengan mata. Maka nyawa juga dibalas dengan nyawa."
Suara jeritan tangisan mengisi rumah itu.
Melihat perempuan di cengkramannya mulai menggila, Nick dengan kuat langsung mencengkram kuat rambut Flow, lalu kepalanya ia benturkan ke dinding hingga tak sadarkan diri karena saking kuatnya ia membenturkannya. Bahkan kepalanya mulai mengeluarkan darah akibat benturan keras di kepalanya. Nick tidak peduli jika akibat benturan yang ia lakukan bisa merenggut nyawa gadis itu. "Cih." Ludahnya tepat di tubuh tak sadarkan diri itu. "Dasar jal**g menyusahkan." Ucap Nick seraya membersihkan tangannya dengan menggunakan sapu tangan miliknya yang mengukir indah nama Albert di sana.
Hati Sean seakan mati rasa ketika menghadapi keluarga Raya.
"Dasar baj***an! Apa yang kau lakukan pada putriku!" Jerit Peter. Namun, sebelum berjalan menghampiri anaknya, suara Sean langsung menguntriksinya. "Satu langkah kau beranjak, maka satu nyawa melayang." Ujar Sean dengan berdiri dan bersandar pada dinding dibelakangnya. Sebuah seringai tersungging di bibirnya. Lalu, tangannya bergerak menuju sebuah foto yang tertata rapi di sana. "Raya, Ava dan kau Peter. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika aku bermain-main dengan nyawa kalian bertiga. Namun, sayangnya, yang dua telah mati. Harusnya aku tadi tidak menembakinya."
Peter hanya terdiam di tempatnya.
"Kenapa kau tidak melawan lagi?" Tanya Sean dengan kedua bola mata setajam silet itu menatap ke arah Peter.
"Sebenarnya apa mau mu?" Tanya Peter.
Sean langsung tertawa renyah. "Kau tanya apa mau ku?" Tanya Sean. "Aku hanya ingin membalaskan rasa sakit apa yang aku rasakan. Aku ingin mempertegas kalau kau salah dalam memilih orang untuk bermain-main dengan mu."
"Kau terlalu buta dengan uang. Yang kalian pikirkan hanya uang dan uang hingga tanpa sadar kau menekan Raya untuk bunuh diri. Kau terlalu menuntutnya hingga dia melakukan hal seperti itu. Semua ini sumbernya kalian berdua. Bukan Raya. Jika Raya tidak kau tekan seperti itu, pasti Raya tidak akan melakukan tindakan sejauh itu. Kau tau? Didikan orang tua dan lingkungan sangat berpengaruh besar dalam proses pembentukan kepribadian seorang anak."
Damian tertawa pelan. Membuat Nick dan Darren menatapnya dengan pandangan heran. "Sean, bagaimana jika kita langsung menyiksanya? Aku sudah tidak sabar untuk menyiksanya." Protes Damian yang tidak kunjung mendapatkan jatahnya dalam menyiksa.
"Apa istrimu sudah mengijinkan mu untuk melakukannya Damian?" Tanya Sean. Sean tidak ingin disalahkan jika Sena nanti tau dan memarahinya.
"Tenang saja Sean. Selama kalian tutup mulut maka istriku tidak akan mengetahuinya." Jawab Damian.
"Baiklah. Ku serahkan pada mu Damian. Aku tidak ingin tangan ku kotor jika menyentuh mereka."
Tangan Peter mengepal kuat. Peter merasa terhina dengan perkataan Sean tadi. Lalu, dengan emosi yang melingkupinya, Peter langsung berlari ke arah Sean.
Dor
Namun sebelum meninju wajah Sean, tubuh Peter tertembak.
"Shitt! Kenapa kau menembaknya Darren!" Protes Damian dengan menatap kesal wajah Darren.
"Aku hanya menembak kakinya. Bukan jantungnya." Jawab Darren datar. Bukankah Sean tadi mengatakan jika gilirannya itu bisa datang saat dirinya mengambil waktu yang tepat?
Sedangkan Peter mengepalkan tangannya kuat. Menahan rasa sakit di kaki kanannya akibat tembakan tadi yang telah ia terima.
"Aku akan pergi dulu untuk bertemu dengan seseorang. Kalian urus sisanya. Dan untuk kau James." James yang sedari tadi berdiri dibelakang pintu, langsung keluar dari persembunyiannya. "Kau bisa melakukan apa yang kau mau. Kau boleh menyiksanya dan bergabung dengan mereka bertiga." Ujar Sean dengan mengangkat dagunya, menunjuk ke tiga sahabatnya melalui dagunya.
James menyeringai tipis. "Baiklah. Ternyata kau sudah tau jika aku sedari tadi mengikuti mu Sean."
"Jangan remehkan kami James." Ucap Sean dengan salah satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
Lalu Sean berjalan berbalik keluar rumah Raya.
"Baiklah siapa dulu yang akan menyiksanya?" Tanya Nick dengan menatap wajah Damian, Darren dan James satu-persatu.
"Biarkan aku dulu." Sahut James.
Setelah itu James langsung mencengkram kuat kerah baju Peter. Ditariknya hingga berdiri dan berhadapan dengan dirinya. "Dasar tua bangka sialan!" Umpat James lalu langsung memukul telak wajah Peter dengan kuat. Hingga membuat beberapa gigi Peter terlepas.
Bug
"Ini dari Raya!"
Bug
"Ini dari kedua anak Sean!"
Bug
Wajah Peter langsung babak belur. Luka lebam dan darah menghiasi setiap sudut wajahnya. James tidak pernah main-main dalam memukulnya.
"Jangan kau habis sendiri. Masih ada kami disini." Sela Damian.
"Aku tidak menyangka jika kalian lah yang membunuh Raya." Bisik James tepat ditelinga Peter. "Memohon lah maaf jika kau sudah bertemu dengan Raya nanti di alam baka. Berlututlah dan cium kakinya disana."
Setelah itu James langsung mendorong tubuh Peter ke lantai.
"Baiklah sekarang giliran ku."
Kini Damian yang berjalan maju. Dijambaknya rambut Peter hingga kepala itu mendongak.
Peter benar-benar pasrah sekarang. Mungkin inilah balasan yang harus ia terima. "Maafkan Ayah." ujarnya dalam hati seraya menatap wajah Flow yang tak sadarkan diri. Lalu, tatapannya beralih ke wajah istrinya yang sudah pucat. Tidak ada sumber kehidupan dari tubuh istrinya. Iya, Peter tau jika istrinya, Ava sudah tiada. Sudah pergi meninggalkannya.
Dengan kasar Damian langsung menarik tubuh James dan ia dorong ke kursi. "Bagaimana jika aku mulai dengan mematahkan kedua tangannya lalu beralih ke kedua kakinya." Ujarnya pada dirinya sendiri.
Nick yang melihat sebuah vas bunga langsung ia ambil. Dengan gerakan cepat di jantungnya vas bunga itu ke lantai hingga membuat pecahan vas bunga itu berserakan ke lantai.
Darren menggeleng pelan. "Aku akan pergi dulu. Kalian selesaikan sisanya." Pamit Darren yang di angguki oleh Damian dan Nick. Sedangkan James berjalan menaiki tangga. Entahlah, Nick tidak peduli itu. Yang terpenting sekarang adalah menghabisi keluarga Raya.
"Bagaimana jika kita sayat dulu?" Tanya Nick sambil mengambil beberapa pecahan vas bunga. Digenggamnya pecahan kaca itu.
"Ide bagus Nick." Jawab Damian sambil mengambil pisau lipat kesayangannya.
Sekarang Damian dan Nick tengah berdiri menghadap Peter yang tengah menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Kita mulai."
Dimulai dengan Damian yang langsung menyayat wajah Peter. Senyum kepuasan tersungging di bibirnya.
"Arggghhhh!" Jerit Peter ketika merasakan sayatan pisau di wajahnya. Darahnya mulai keluar dari luka sayatan yang ia terima.
Nick yang mendengar jeritan kesakitan itu semakin bersemangat untuk melakukannya. Disayatnya perut, lengan hinggahampir seluruh tubuh Peter penuh dengan darah.
Peter sudah tidak sanggup dengan rasa sakit yang ia terima. Kedua bola matanya mulai terpejam.
"Sial! Ini sudah tidak menarik." Ucap Damian dengan kesal seraya berdiri dan membuang asal pisau lipatnya. "Kau urus saja Nick. Aku sudah tidak minat."
Nick tersenyum puas mendengarnya. Setelah itu Nick berjalan mengambil sebuah kursi kayu. Diangkatnya kursi kayu dan..
Bug Bug Bug
Dipukulnya seluruh tubuh Peter dengan menggunakan kursi kayu itu hingga mati.
"Rasakan itu. Kau telah melukai perempuan yang aku cintai. Maka kau harus menerimanya sepuluh kali lipat."
Darah Peter hingga muncrat ke wajah Nick. Namun, sayangnya Nick tidak peduli itu. Yang ia lakukan sekarang hanyalah ingin membunuh orang yang menjadi sumber kesakitan perempuan yang ia cintai.
***
- Sedangkan Elden dan Lexa di real life nya. Sedang Bucin 😂 Pasangan paling Uwu kalau di Grup ðŸ˜ðŸ¥³
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
Yang mau ngobrol dengan Visual Psycopath Vs Cewek Galak atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Elden, Lexa, Bram dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain Psycopath Vs Cewek Galak dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman..