
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Malam telah datang. Bintang bertaburan menghiasi indahnya malam. Namun, tidak membuat seorang perempuan yang berada di dalam kamar itu tertarik untuk melihatnya.
Kamar mewah yang biasanya ramai dengan suara televisi dan candaan kini telah berubah tak seperti dulu. Sekarang hanya tampak lenggang dan sepi. Hanya ada Dara yang tengah duduk diatas tempat tidurnya. Bahkan makanan yang telah diletakkan Afi di hadapannya, tak ia sentuh sama sekali. Masih utuh dan tertata rapi.
Tatapannya kosong bagaikan orang yang tak memiliki kehidupan. Rasa sesal begitu ia rasakan. Raganya berada disini tapi hatinya pergi entah kemana.
Tiada hentinya buliran kristal itu menetes setiap kali ia mengingat Liya. Liya yang telah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Keluarganya sendiri. Kini telah pergi meninggalkannya.
Hanya satu dipikirannya sekarang,
Aku adalah seorang yang hanya membawa malapetaka bagi kehidupan orang terdekatku.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Disana ada Sean, suaminya yang tengah berdiri di tengah pintu dengan membawa satu box salad ditangan kirinya buah dan nasi goreng yang berada ditangan kanannya. Makanan yang merupakan makanan favorit Dara, istrinya. Jadi, tadi Sean meluangkan waktunya disela jam kerjanya untuk membuatnya.
Dengan perasaan bahagia Sean membawa makanannya dan berjalan menuju tempat tidur istrinya.
Sekarang telah menunjukkan pukul 10 malam.
"Sayang, aku membuatkan salad buah dan nasi goreng kesukaanmu untukmu. Kamu pasti suka." Ujar Sean dengan semangat sambil berjalan masuk kedalam kamar.
Diletakkannya makanan yang telah ia bawa ke nakas dekat tempat tidur.
Namun, saat melihat makanan yang masih tertata rapi dan utuh, Sean menghela nafasnya. Mencoba untuk menahan emosi yang mulai menghampirinya. Dengan telaten Sean memindahkan makanannya itu ke meja yang lain bertujuan agar memudahkan dirinya berdekatan dengan istrinya.
Setelah selesai, Sean duduk disisi istrinya.
Digenggamnya salah satu tangan mungil itu yang mulai mengurus. Ditatapnya dengan penuh kasih sayang wajah cantik yang mulai memucat.
"Sayang ayo makan." Ajak Sean. Akan tetapi hanya kebisuan yang ia terima. Istrinya tak menjawab ataupun merespon perkataannya. Bahkan istrinya tak menatap wajahnya sama sekali. Tatapannya fokus mengarah kedepan.
Ditatapnya dengan sendu wajah istrinya. Namun, saat Sean melihat buliran kristal yang mulai jatuh membasahi kedua bola mata cantiknya, dengan lembut Sean mengusapnya.
"Kamu dari tadi pagi belum makan sayang. Ayo makan. Jangan sampai sakit lagi. Kamu boleh marah lagi setelah selesai makan. Tapi kamu harus makan terlebih dahulu."
Hal itu sukses membuat kedua bola mata istrinya bergerak, beralih menatapnya.
"Liya. Liya." Ucapnya lirih.
Sean menahan nafasnya setiap kali istrinya menyebut nama Liya. Rasa sesal begitu mendalam ia rasakan setiap kali istrinya menyebut nama itu dengan keadaan seperti ini.
Diusapnya dengan sayang buliran kristal itu. Membuat wajah cantik itu sedikit terkejut dengan perlakuannya.
Sean mengangguk. "Bagaimana kalau besok kita mengunjungi makam Liya?" Ajak Sean. Karna tadi setelah membahas James dengan Roy, Sean menanyakan letak makam Liya.
Dara mengangguk, mengiyakan. Dara begitu merindukan Liya dan juga kedua orang tuanya. Mungkin dengan mengunjungi makam Liya, Dara akan merasa sedikit lebih baik.
Sean tersenyum. "Tapi kamu harus makan dulu." Lalu, diambilnya sepiring nasi goreng buatannya. Disendoknya nasi goreng itu dan disuapkan ke istrinya. Untungnya, Dara menerima suapan Sean.
Perasaan bahagia menyelimuti dirinya ketika istrinya menerima suapan pertamanya.
Saat Sean akan menyuapkannya lagi, Dara menggeleng kecil.
Sean mengernyit heran. "Kenapa sayang?" Tanya Sean dengan heran.
"Aku mau tidur." Kata Dara dengan tegas. Membuat Sean dengan gelagapan langsung menaruh piring nasi gorengnya. Dibantunya istrinya untuk berbaring.
"Sayang minum dulu."
Dara menggeleng. Setelah itu Dara mengganti posisinya yang awalnya terlentang menjadi memunggungi suaminya.
Sean menghela nafasnya ketika melihat istrinya yang seperti itu.
Karena tak ingin membuang sia-sia nasi goreng miliknya, jadi Sean memakan sisa nasi goreng milik istrinya. Dimakannya dengan lahap hingga habis tak bersisa. Lalu salad buahnya juga ia makan dan ia habiskan. Setelah semuanya telah habis, Sean segera berjalam kedalam kamar mandi untuk gosok gigi dan mencuci wajahnya. Mencoba untuk menimalisir emosinya.
Sean tidak suka bantahan. Tidak suka penolakan. Tapi, demi istrinya, Sean mencoba untuk belajar mengontrol emosinya yang selalu meledak-ledak.
Setelah selesai, Sean segera naik ke atas tidur dan tidur disisi istrinya.
Sudah lama dirinya dan istrinya tidak seperti ini.
Setelah itu, dipeluknya pinggang istrinya dengan possesive. Direngkuhnya tubuh mungil itu agar lebih menempel dengan tubuhnya.
Dikecupnya puncak kepala istrinya.
"Selamat tidur sayang. Have a nice dream my wife." Ucapnya pelan yang masih terdengar dipendengaran Dara.
Dara sedari tadi hanya berpura-pura tertidur. Berusaha untuk menyelami dunia mimpinya, namun tak kunjung bisa juga.
Tak berselang lama kemudian, Dara dapat mendengar dengkuran halus dari suaminnya yang mulai tertidur menyelami dunia mimpinya.
Dara mulai merasakan geli diceruk lehernya karena hembusan nafas suaminya.
Dipegangnnya salah satu tangan Sean yang memeluk pinggangnya possesive.
"Tetaplah menjadi seorang perempuan yang berhati lembut nona. Jangan pernah menyerah."
Dara mengangguk dan tersenyum. "Iya Liya, aku janji. Liya juga harus berjanji harus hidup dengan sebaik mungkin."
Liya tersenyum. "Iya nona. Saya janji." Jawab Liya.
Dara masih mengingat betul perkataan Liya.
Liya apa yang harus aku lakukan? Aku harus bagaimana Liya?
Dikeheningan malam, Dara mendalami pikirannya. Mencoba untuk merenungkan diri dalam pelukan possesive suaminya.
Mencoba untuk mencari tau tata letak kesalahannya. Berfikir tentang apa yang sudah ia lakukan semasa hidupnya hingga ditakdirkan seperti ini.
Namun, nihil tak ia temukan. Sewaktu kecil Dara adalah gadis kecil yang baik dan manja dengan ayahnya. Tumbuh dengan sangat baik dalam didikan yang sangat baik.
Tuhan, apa benar, aku ditakdirkan untuk hidup bersama Sean? Jika memang iya, aku mohon beri aku jalan titik terangnya.
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤