
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Roy telah tiada.
Roy telah meninggalkan kita semua.
"Argghh!" Jerit Sean. Air matanya meluncur deras membasahi kedua bola matanya.
Di dekap nya tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Sean meraung keras. Tangisnya pecah begitu saja.
"Jangan pergi Roy!" Jeritnya frustasi.
Kenangan bersama Roy berputar di otaknya.
Canda, tawa, sedih, susah telah ia lewati bersama Roy. Terlebih lagi Roy sudah Sean anggap sebagai kakaknya sendiri. Sebagai saudaranya sendiri.
11 tahun bukanlah waktu yang singkat. Roy telah mengabdi padanya selama 11 tahun.
Dara tidak tega melihat keadaan suaminya. Perlahan tapi pasti Dara menyeret kakinya untuk berjalan mendekat. Duduk bersimpuh di belakang suaminya. Dara mengerti apa yang suaminya rasakan sekarang, karena Dara pernah merasakan itu. Dipeluknya tubuh suaminya dari belakang. Berusaha menyalurkan rasa hangat melalui pelukannya. Tangis Sean semakin pecah merasakan pelukan dari istrinya.
"Roy.. aku mohon jangan pergi." Gumam Sean di sela tangisnya.
"Jangan menangis Sean. Please, aku mohon." Lirih Dara.
Tubuh tegap, berotot itu bergetar. "Roy pergi Dara. Dia per--gi. Dia.." Sean menggeleng pelan. Tidak sanggup melanjutkan perkataanya.
Mulut Dara seakan terkunci rapat. Begitupun juga dengan Elden, Darren, Nick dan James. Mereka hanya diam di tempatnya. Tidak tau harus berkata apa.
"Sebanyak dan selama apapun bodyguard bekerja pada ku, mereka tidak akan bisa menggantikan mu Roy. Kau adalah satu-satunya tangan kanan ku. Dan selamanya akan tetap begitu. Tidak akan ada yang bisa menandingi mu."
Deg
Jantung Sean berdetak lebih cepat. Tubuhnya semakin berkeringat dingin. Penglihatannya mulai memburam.
Perlahan demi perlahan kedua bola matanya mulai menutup. Tangan yang semula mendekap erat tubuh Roy mulai terlepas. "Sayang, ini sangat sakit."
Kedua mata Sean langsung tertutup. Dara yang merasakan tubuh Sean mulai memberat langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan pergi!" Jerit Dara.
Elden yang melihat itu langsung membantu Dara.
Sedangkan James langsung mengecek kondisi Roy. Dan benar saja. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari tubuh Roy.
"James cepat kau bawa Roy. Makamkan dia dengan layak di sebelah makam Liya." Titah Elden yang di angguki oleh James. James langsung menjalankan apa yang di perintahkan oleh Elden dengan anak buah James.
Dibaringkannya tubuh Sean di lantai gudang. "Nick bantu aku mengangkat tubuh Sean dan kau Darren bantu Dara berjalan. Jaga dia." Titah Elden yang langsung di setujui oleh Darren dan Nick.
"Jangan pergi. Jangan pergi. Aku mohon. Hiks!" Isak nya lirih. Tangisnya pecah.
"Aku akan membantu mu berjalan." Ujar Darren dan dengan lembut memegang bahu Dara. "Tahan sakitnya." Dengan lembut Darren mengatakannya.
Kini Darren dan Dara berjalan berdua.
Sebenarnya sedari awal aku melihat mu, aku sudah mengagumi mu. Ada perasaan aneh yang hinggap di perasaan ku. Padahal sedari awal aku menganggap perempuan itu hanyalah beban. Namun itu berbeda ketika aku melihat mu. Kau bukan beban. Tapi kau adalah berlian yang patut untuk di jaga dan di lindungi - Darren Kendrick
***
Kini mereka semua tengah menunggu Sean di sepanjang lorong ruangan ICU. Jam telah menunjukkan pukul 3 dini hari.
Elden, James, Damian, Nick, dan Darren. Mereka semua berada di sana. Mereka hanyut dalam pikirannya masing-masing. Sedangkan Lexa kini berada di ruang inap Dara. Menemani Dara yang tengah tertidur karena pengaruh obat bius. Sesampainya di rumah sakit tadi Dara langsung mendapatkan perawatan dan menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kakinya. Untungnya kandungan Dara adalah kandungan yang kuat. Bayi yang berada di dalam kandungannya baik-baik saja. Hal itu membuat mereka yang mendengarnya langsung bernafas lega.
Berbeda dengan Elden sekarang. Kini Elden tengah duduk dengan posisi kepala yang menunduk. Tangannya yang berdarah itu mengepal. Lalu, Elden memutuskan untuk bangkit dari duduknya. "Aku akan pergi mencuci tangan terlebih dahulu." Ujar Elden yang disanggupi oleh mereka berempat.
Di balik wajah datarnya Elden menyembunyikan rasa khawatirnya.
Langkahnya yang gontai itu berjalan menuju ke dalam toilet. Di dalam sana Elden membersihkan kedua tangannya dari sisa darah orang yang ia habisi.
Elden terdiam. Kepalanya menunduk menatap kedua tanganya.
Ini adalah tangannya. Tangan yang sama yang ia gunakan untuk membunuh ibunya dulu.
Sebuah seringai tersungging di bibirnya.
Ini adalah sosok Elden beberapa tahun yang lalu.
Deg
Tidak tau kenapa perasaan Lexa tidak enak. Lantas Lexa memutuskan untuk beranjak dari tempatnya.
Lexa segera berjalan menuju ruangan ICU. "Elden pergi kemana?" Tanya Lexa to the point'.
"Uncle pergi ke toilet untuk membersihkan kedua tangannya." Jawab Nick.
"Nick tolong ikut aku. Tolong jaga pintu toiletnya." Setelah mengatakan hal itu Lexa segera berjalan menuju kamar mandi.
Nick hanya diam menuruti permintaan Lexa.
Kini Nick menjaga pintu kamar mandi. Mencegah orang untuk masuk kedalam kamar mandi.
Lexa khawatir. Khawatir dengan keadaan suaminya.
"Elden!" Kedua bola mata Lexa membulat sempurna. Disana Elden tengah melukai dirinya sendiri. "Elden!" Diambilnya pisau itu dari tangan Elden.
Elden terdiam di tempatnya. Menatap wajah cantik istrinya. Perempuan yang ia cintai sejak di bangku Senior Hight School.
Lexa menangis melihat keadaan Elden. "El kenapa kamu seperti ini lagi? Bukankah kamu sudah janji kalau kamu tidak akan seperti ini lagi?"
Deg
Tubuh Elden membeku bagaikan tersambar petir.
Dengan menangis Lexa mengeluarkan sapu tangannya. Dipegangnya tangan kiri Elden. Diusapnya pelan luka sayatan itu. "Jangan seperti ini El. Sean membutuhkan kita. Anak kita membutuhkan semangat kita. Jika mereka tau Daddy nya seperti ini mereka pasti akan sedih." Dengan kepala yang menunduk Lexa mengatakannya.
"Aku sudah gagal menjadi seorang ayah Lexa. Aku sudah gagal melindungi anak ku. Aku sudah gagal dalam mendidik Garvin." Lirih Elden. Air matanya menetes.
"Hsstt.. Jangan berkata seperti itu. Kamu tidak gagal. Kamu ayah yang hebat El. Jangan berkata seperti itu." Kata Lexa dengan membersihkan darah dari luka di tangan suaminya.
"Aku gagal." Lirihnya pelan.
Lexa terdiam. Hatinya bagaikan di tusuk ribuan pisau ketika melihat suaminya yang seperti ini. Tanpa berkata apa-apalagi lantas Lexa langsung memeluk tubuh Elden.
"Jangan berkata seperti itu. Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik El." Bisik Lexa tepat di telinga Elden.
Di tenggelamkan nya wajah Elden di ceruk leher istrinya. Di balasnya pelukan hangat itu dengan erat. Menuangkan segala kesedihan yang ia rasakan sekarang.
Sedangkan disisi lain..
Damian datang dengan nafas yang memburu.
"Kau darimana saja Damian?" Sela Darren dengan menatap datar ke arah Damian.
Hawa dingin menyeruak dari tubuh Darren.
"Diperjalanan aku di kepung. Istriku juga membutuhkan ku." Jawab Damian. Mengabaikan tatap tajam dari Darren.
James yang mengerti itu menepuk pelan pundak Darren. "Santai. Jangan emosi. Jika kita saling berdebat satu sama lain maka itu semakin di manfaatkan oleh musuh kalian."
Darren menghela nafasnya. Setuju dengan perkataan James tadi. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk saling berdebat satu sama lain.
Lantas Damian memilih duduk di bangku yang tersedia. "Bukankah yang menyerang kita adalah anak buah Daniel Aeron?" Kini Damian memulai pembicaraan. "Bahkan aku tidak habis pikir jika anak buah Daniel sampai menyerang mansion Uncle Elden yang merupakan bagian dari keluarga Garvin, ketuanya."
James mengangguk setuju. "Aku juga tidak menyangka itu." Jawab James menanggapi perkataan Damian.
"Menurutku Derrick mempunyai hubungan dekat dengan Daniel. Tidak mungkin Derrick menyewa anak buah Daniel sebanyak itu dengan keadaan yang tidak mempunyai apa-apa. Apalagi Nick berhasil membuat Derrick bangkrut di semua perusahaanya. Jelas sekali jika mereka pasti mempunyai hubungan yang dekat." Sela Darren. Otaknya yang cerdas mulai bekerja.
"Ya. Kau benar Darren. Pantas saja Sean begitu tidak menyukai Geng Mafia The King Of Blood. Mungkin karena mereka tidak melihat terlebih dahulu siapa yang mereka serang. Tidak memperdulikan teman atau bahkan keluarga dari sahabatnya sendiri." Ucap Damian menanggapi perkataan Darren.
Apakah Sean bisa di selamatkan? Lalu bagaimana dengan hubungan Garvin dan Sean selanjutnya?
Tetap stay terus dengan novel My Possesive Husband ya 🥰
***
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
@nickalbertreal
@raraagathareal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari