My Possesive Husband

My Possesive Husband
148. BERTEMU DENGAN JAMES


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Ceklek


Pintu ruangan kerja terbuka. Disana Elden tengah berdiri di dekat jendela besar dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


Sean menyiapkan dirinya sendiri sebelum mendengarkan semuanya.


"Cepat masuk son. Daddy ingin berbicara serius dengan mu." Ujar Elden dengan suaranya yang terdengar berat.


"Yes dad." Jawab Sean sambil berjalan masuk ke dalam ruangan. Berjalan mendekat hinga berhenti tidak jauh dari posisinya Daddynya.


Lantas tubuh Elden berbalik dan menghadap ke arah Sean. Wajahnya terlihat lelah dan mulai tampak keriput. Namun hal itu tidak menguarangi ke aura ketampanannya. Bahhkan aura instimidasi yang memancar dari tubuh Elden sedari dulu masih sangat kental terasa sampai sekarang.


"Daddy ingin membicarakan soal kejadian waktu itu son. Daddy sudah mencari taunya dengan Uncle Rafael saat kamu pergi berlibur dengan istrimu." Ucap Elden yang memulai membuka pembicaraan serius.


Sedangkan Sean hanya diam dan mendengarkannya dengan seksama.


"Seperti yang Daddy bilang waktu itu, jika di balik dalang keguguran istrimu adalah James Alergon, anak didik ku."


Lalu, wajah Sean yang semula tenang itu langsung berubah datar dengan kilatan amarah yang mulai terpancar dari kedua bola matanya. Tangan Sean mengepal kuat sekarang.


Elden tersenyum tipis dengan memandang wajah anaknya yang mulai emosi. Ternyata, sifatnya benar-benar turun ke anaknya sekarang. Atau mungkin lebih parah dua kali lipat. "Daddy juga tidak pernah menyangka jika James yang melakukannya. Jika James di balik semuanya." Kata Elden dengan menarik nafasnya perlahan sebelum melanjutkan perkataanya. "Jadi, waktu itu Daddy meminta uncle Rafael untuk mencari taunya. Setelah mendapatkan beberapa bukti kuat yang menujukkan jika James pelakunya, maka waktu Daddy memutuskan untuk mencari taunya sendiri bersama Uncle Rafael dengan cara datang ke markas tersembunyi mereka." Ujar Elden dengan menelisik wajah Sean yang terlihat semakin datar.


Jemari Sean mengepal kuat. "Lalu, apa yang Daddy dapatkan ketika ke markas mereka? Dan atas dasar apa dia melakukan semuanya Dad? Apa Daddy sudah mencari taunya?" Tanya Sean dengan menatap datar wajah Daddynya. Sungguh, emosinya siap meledak sekarang. Rasanya, Sean ingin menghancurkan barang apapun yang berada di dekatnya.


Elden menghela nafasnya pelan. Menarik nafasnya perlahan. "Yang Daddy dapatkan ke markas mereka adalah sebuah kebenaran dan sebuah fakta yang tersembunyi. Lalu Daddy juga mendapatkan tembakan di lengan Daddy waktu itu." Ujar Elden dengan menggulung lengan kemejanya hingga di atas lukanya. Dan benar saja, terlihatlah sebuah luka tembakan baru yang masih terbungkus dengan pernan.


Setelah mendengar jawaban dari Daddynya, kedua bola mata Sean langsung menatap lengan Daddynya. Dan benar saja, di balik kemeja lengan panjang Daddynya, disana terdapat sebuah luka tembakan yang diperban. Bahkan Sean dapat melihat bercak darah yang menempal disana. Menandakan jika luka itu masih baru di dapat.


"Siapa yang melakukannya Dad?" Tanya Sean dengan matanya yang menatap tajam. Oke. Sekarang jiwa-jiwa membunuhnya mulai terbangun. Meskipun Daddynya menyebalkan, tapi tetap saja, Sean paling tidak suka jika orang yang ia sayang dan orang terdekatnya terluka seperti itu.


"Tenang son. Daddy sudah terbiasa mendapatkan luka seperti ini dan luka ini juga belum seberapa daripada luka yang Daddy dapatkan dulu. Ini juga bukan James yang melakukannya. Tapi, bodyguardnya. Ternyata masuk ke dalam markas mereka tidak semudah yang Daddy bayangkan. Di markas mereka di jaga oleh puluhan bodyguard yang kuat. Jadi, sempat ada adu tembak waktu itu." Jelas Elden dengan terkekeh pelan. Menertawakan sedikit kecerobohannya.


Sean menggeleng pelan melihat Daddynya. Hanya terdiam di tempatnya. "Tapi tetap saja itu membuat Daddy terluka." Ujarnya dalam hati.


Sean mengibaskan tangannya pelan. "Ya ya Dad." Ujarnya dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Lalu, apa yang membuatnya melakukan hal sejauh itu Dad?" Tanya Sean dengan menatap wajah Daddynya lagi.


"James melakukannya atas dasar balas dendam atas kematian Raya."


Deg


Tubuh Sean membeku di tempatnya. "Balas dendam?" Ujar Sean dengan kening yang sedikit berkerut.


Elden mengangguk. "Kau bisa berbicara empat mata dengannya jika kamu mau." Ucap Elden dengan menatap sudut ruangan yang gelap.


Dan benar saja, disana ada James yang tengah berdiri.


Lantas dengan gerakan cepat Sean langsung meghajar telak wajah James.


Bug


"Dasar brengsek!" Umpat Sean dengan memukul kuat rahang James. Sedangkan James hanya diam dan tidak membalas.


Sedangkan Elden hanya diam menatapnya.


"Daddy pergi dulu. Kalian bisa berbicara secara empat mata disini. Dan untukmu James, lebih baik kau berbicara jujur mengenai apa yang terjadi sebenarnya." Ucap Elden dan mulai berjalan, melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Deru nafas Sean tidak beraturan. Tangannya memcengkram kuat kerah baju James. "Sudah puas kau menghancurkan hidupku?! Sudah puas kau mengambil orang-orang yang ku sayang?!" Bentak Sean dengan suara yang menggelegar.


"Maaf." Lirih James pelan.


"Kau bilang maaf?! Maaf?!" Tatapannya semakin menajam. Di tariknya tubuh James agar berdiri. "Setelah semua yang terjadi, dengan mudahnya kau berkata maaf James?" Lirihnya pelan dengan menatap penuh amarah James.


"Aku sudah merelakan Raya untukmu. Aku sudah melepaskan Raya untukmu James. Tapi ini yang kau balas padaku? Kau menghancurkan kebahagiaan ku. Bukan hanya aku. Tapi juga istriku yang tidak tau menahu mengenai masalah ini. Tapi, kau malah menyeretnya ke dalam rencana busukmu itu!" Bentak Sean dengan suara yang menggelegar memenuhi ruangan. Untungnya, ruangan kerja ini telah di pasang alat kedap suara.


Sean langsung menghajar telak wajah James hingga James terjatuh dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.


Rasa kesal, kecewa dan amarah tercampur menjadi satu. "Apakah masih kurang kau merebut Raya dari hidupku James?" Ujar Sean dengan suara yang terdengar lirih.


***


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤