
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Di mansion pemilik Sang Bos Mafia Crowned Eagle tampak hening dengan aura yang menakutkan. Setelah insiden beberapa menit yang lalu, semua bodyguard dan maid telah berkumpul. Termasuk Liya dan Roy yang sekarang berdiri secara berdampingan karena mereka berdualah yang memiliki jabatan tertinggi di mansion milik Sean.
Sedangkan Sean sedang duduk di kursi kebesarannya dengan aura yang mengintimidasi. Aura menakutkan dan menyeramkan sangat kental terasa. Guci, vas bunga dan barang antik lainnya telah hancur tak berbentuk lagi karena Sean yang telah membantingnya. Sungguh saat mendengar laporan Roy jika istri tercintanya lari dari mansionnya, Sean tidak dapat mengontrol emosinya. Apalagi Dara, istri tercintanya telah memilih kabur dan lari darinya. Sean benar-benar benci itu.
"Jadi, siapa yang membantu istriku keluar dari mansion?" Ujar Sean dengan suara yang menakutkan dengan wajahnya yang datar.
Semua hanya diam tak berbicara. Mereka semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Memikirkan siapa yang telah berani membantu istri tuannya untuk keluar dari mansion.
"Tidak ada yang mau menjawabnya?" Sean berdiri dan menatap semua wajah bawahannya. "Jika tidak ada yang mengaku, maka satu nyawa akan melayang." Ujar Sean sambil mengeluarkan pistol kesayangannya.
Tubuh mereka menegang ketakutan. Termasuk Liya. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Liya ingin mengaku tapi perasaan takut mendominasi dirinya.
Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Dengan perasaan takut, Liya berjalan kedepan. Membuat Sean tersenyum miring sudah menduganya. Siapa lagi jika bukan Liya yang dekat dengan istrinya?
"Saya-- yang membantu nona Dara keluar dari mansion tuan." Kata Liya sambil menundukkan wajahnya.
Roy dan yang lain sungguh terkejut dengan perkataan Liya barusan.
"Kau tau bukan bayaran yang harus diterima dari seorang penghianat sepertimu Liya?" Ujar Sean sambil berjalan berhadapan dengan Liya. Dicengkramnya rahang Liya dengan kuat. "Nyawamu." Sebuah seringai terukir dibibir tipis itu. Membuat penghuni mansion itu langsung terdiam dan membeku ditempatnya. Tidak tau harus berbuat apa.
🐣🐣🐣
Dara bernafas lega ketika sampai di tempat tujuan. Rumah mendiang ibunya dulu waktu semasa hidup karena tidak ada lagi tempat tujuan yang harus ia tuju sekarang selain rumah ini. Dara tidak mungkin untuk langsung menuju bandara. Mengingat jika jadwal penerbangan harus dilakukan besok. Jadi, untuk sementara Dara akan bersembunyi disini. Dengan perasaan senangnya, Dara segera berjalan memasuki rumah itu. Rumah mini yang dulu sering ia kunjungi bersama ayah dan ibunya saat keduanya masih hidup.
Dibukanya pintu rumah itu dengan menggunakan sebuah kode masuk yang memakai tanggal pernikahan kedua orang tuanya.
"Ayah, bunda, Dara pulang." Lirihnya pelan.
Ditutupnya kembali rumah itu. Masih sama. Seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Rumah ini tampak bersih dan rapi karena kedua orang tua menyuruh seseorang untuk merawat dan membersihkan rumah ini.
Setelah itu Dara segera masuk kedalam kamar miliknya. Menaruh tas ransel miliknya ke atas tempat tidur. Dara memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, agar badannya lebih segar.
Dilepaskannya seluruh pakaian miliknya, dan Dara langsung mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pikirannya terbayang-bayang oleh wajah Liya tadi. Entahlah, ada perasaan tidak enak yang membayangi perasaanya. Namun, Dara tidak mau berfikir yang tidak-tidak. Dara mengeyahkan pikiran negatif itu.
"Terimakasih Liya, kamu telah membantuku. Semoga kita bisa bertemu lagi."
Setelah mandi dan sudah memakai pakaian santainya, Dara mengeluarkan makanan miliknya. Dimakannya dengan lahap karena perutnya sudah berdemo sejak tadi. Akan tetapi ingatan akan mediang kedua orangtuanya langsung berputar di otaknya. Dirasa cukup, Dara segera membereskan plastik sisa makanannya dan memutuskan untuk tidur. Badannya terasa lelah karena seharian ini.
Lukanya yang berada di kakinya sudah tidak sesakit tadi. Meskipun Dara tidak bisa lari secara maksimal, setidaknya ia bisa berjalan dengan cepat.
Dibaringkannya tubuhnya ke atas tempat tidur empuk itu. Kedua bola matanya mulai terpejam. Terasa berat.
"Besok aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk pergi ke bandara. Indonesia, tunggu aku. Aku akan kesana." Ucapnya pada dirinya sendiri.
Lalu, Dara mulai tertidur pulas menyelami dunia mimpinya. Menikmati awal kebebasannya.
Sedangkan disisi lain, di mansion milik Sean, suara teriakan kesakitan menggema diseluruh penjuru ruangan.
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤