My Possesive Husband

My Possesive Husband
190. NGIDAM (Bagian 1 | 6 Bulan)


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Enam bulan telah berlalu. Perut Dara mulai membuncit. Hal itu benar-benar terlihat menggemaskan di mata Sean. Dan selama kehamilan Dara, Sean benar-benar berubah menjadi sosok menggemaskan yang terkadang menyebalkan.


Hampir selama 4 bulan Dara latihan tembak-menembak. Namun, sekarang sudah tidak lagi. Mengingat usia kandungannya sekarang sudah menginjak ke 5 bulan.


"Sayang.." Ujar Sean memanggil istrinya yang tengah tertidur memunggunginya. "Sayang.." Panggil Sean lagi dengan menggoyangkan lengan istrinya. Berusaha untuk membangunkannya. Namun sayang, bahkan Dara tidak mengubrisnya sama sekali. "Aku lapar." Ucap Sean dengan mengusap perutnya. Entah kenapa Sean sekarang sering lapar di tengah malam. Saat semua orang tertidur maka Sean akan kebangun karena kelaparan. Jam telah menunjukkan pukul satu dini hari. Sean tidak kunjung tidur ketika otaknya sekarang di penuhi dengan buah mangga. Sean benar-benar memakan buah mangga Asia sekarang juga.


Lalu, dengan perasaan kesal Sean menyibak selimutnya dan turun dari ranjang. Diambilnya ponsel miliknya yang terletak tidak jauh darinya.


Sean akan menelfon Darren. Meminta bantuan Darren agar membelikan buah mangga Asia saat ini juga.


"Ada apa Sean?"


Sean tersenyum senang ketika panggilannya langsung di angkat oleh Darren. "Belikan aku buah mangga sekarang." Titah Sean dengan suaranya yang terdengar tegas, tak terbantah.


Dor Dor Dor


Bunyi tembakan terdengar di seberang sana. "Shitt! Dasar bedebah sialan." Umpat Darren.


Sean mengernyitkan keningnya. Jangan bilang jika Darren sedang menjalankan tugasnya. "Sedang apa kau Darren?" Tanya Sean mencoba untuk memastikannya.


"Aku sedang membersihkan tikus-tikus tidak berguna. Aku tidak bisa membantu mu Sean. Aku sedang sibuk." Ucap Darren dengan menatap lurus ke arah lawannya. Tangannya tak berhenti menembak lawannya. Sudah hampir 50 orang telah ia kalahkan. Setelah itu di matikan nya telfon miliknya. Darren tidak ada waktu untuk menanggapi Sean sekarang.


"Sial! Kenapa malah dia yang mematikan telfonnya!" Dengan kesal Sean duduk di ats ranjang. Sean tidak suka di abaikan!


"Sayang, aku lapar." Adu Sean ke istrinya lagi. Namun, tampaknya istrinya lebih tertarik tidur daripada menanggapinya. Bolehkan Sean menangis sekarang? Hatinya tiba-tiba terasa nyeri ketika melihat istrinya yang lebih memilih tidur daripada memilih dirinya.


Sean menghela nafasnya kasar. "Lebih baik aku menelfon Nick. Biasanya dia tidak akan tidur di jam segini." Gumamnya pelan. Jemari dengan lincah mencari nomor telfon Nick.


Senyuman tersungging di bibirnya ketika mengetahui nomor yang ia tuju terhubung.


"Nick belikan aku buah mangga Asia sekarang." Titah Sean langsung. Bodo amat dengan sapa menyapa. Sean tidak peduli itu.


Namun, bukan malah jawaban yang ia terima. Tapi suara desahan yang ia dengar.


"Ahh.. Ahh.. Damn it! Kau nikmat sekali Ra!" Umpat Nick disela kegiatannya. Mengabaikan suara Sean. "Maaf Sean. Aku tidak bisa.. Ah.. Sial! Aku menginginkan mu lagi!"


"Jangan kau angkat telfon mu Nick jika sedang bercinta!"


Setelah mengatakan itu Sean lantas mematikan telfonnya.


"Sial! Kenapa Sean baru ingat jika sahabatnya itu suka sekali dengan one night stand." Gerutunya.


Yang terakhir adalah Damian. Semoga saja Damian bisa membantunya.


Di telfonnya nomor Damian. Namun, bukan jawaban yang ia terima.


"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Harap dihubungi beberapa saat lagi."


Dan Tut. Panggilan langsung mati.


Dengan perasaan kesal Sean langsung membanting kasar ponsel miliknya ke dinding kamar hingga hancur berkeping-keping.


Dara yang mendengar benda hancur langsung terbangun karena terkejut. Kedua bola matanya langsung tertuju ke punggung lebar suaminya yang memungginya. "Kamu belum tidur?" Tanya Dara dengan suara khas bangun tidur.


Dara yang melihat itu tersenyum. Namun, kedua bola matanya langsung membola ketika melihat ponsel suaminya yang hancur berkeping-keping di lantai.


"Kenapa ponsel kamu banting Sean?" Kedua bola matanya menatap galak suaminya. "Ponsel itu baru kamu beli beberapa hari yang lalu. Kenapa kamu banting lagi." Kesal Dara. Nadanya mulai naik, memarahi suaminya.


Sean terdiam. Tangannya mengepal erat. Kepalanya menunduk, menghindari tatapan tajam istrinya. Hingga, tanpa Sean sadari buliran kristal jatuh membasahi kedua bola matanya.


"Sean lihat aku." Titah Dara ketika melihat suaminya yang tidak kunjung menatapnya. Bahkan sekarang masih jam setengah dua pagi. Ada apa lagi dengan suaminya. "Lihat aku." Dengan gemas Dara langsung menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya. Diangkatnya kepala suaminya agar mau menatap langsung kedua bola matanya.


Dara tertegun di buatnya. Suaminya menangis? Tapi, menangis karena apa?


"Maafkan aku." Lirih Sean. "Jangan marahi aku." Ujarnya lagi.


Deg


Dara tertegun di buatnya. Jadi suaminya menangis karena dirinya?


Perasaan bersalah menyelimuti hati Dara. "Jangan menangis hubby. Aku tidak memarahi mu. Maaf karena aku tadi sudah membentak hubby." Ujar Dara dengan mengusap air mata suaminya. Kenapa jadi suaminya yang sensitif? Harusnya kan dirinya lah yang menjadi sensitif.


Sean mengangguk. Tidak menjawab perkataan istrinya.


Dara tau, pasti suaminya sedang ngembek padanya. "Suamiku ingin apa?" Tanya Dara dengan suaranya yang terdengar sangat lembut.


"Aku ingin memakan buah mangga Asia sekarang juga." Jawab Sean dengan memasang wajah yang sangat menggemaskan.


Dara langsung tertawa renyah. Kenapa ngidamnya suaminya sangat aneh-aneh. Bahkan kemarin Sean juga ngidam nasi goreng super pedas dengan 50 cabe. Jika mengingat itu, Dara ingin minum air putih. Dara bisa membayangkan bagaimana rasanya memakan nasi goreng super pedas itu. Namun, anehnya suaminya malah menambah dua porsi lagi. Dara berharap, semoga saja anaknya nanti tidak bermulut pedas gara-gara Daddynya yang suka makan pedas di masa kehamilannya. "Ini masih dini hari sayang. Tidak ada yang menjual buah mangga Asia di jam segini. Lebih baik kita tidur aja, oke?" Bujuk Dara dengan mengecup pipi suaminya.


Jika melakukan hal ini, Dara jadi membayangkan jika Dara sekarang sedang berperan menjadi seorang suami. Sedangkan Sean berperan menjadi seorang istri.


***


- Aku mau buah mangga sekarang juga!



- Ini masih dini hari Hubby. Kita tidur aja oke?



Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘


@eldencrishtian


@lexacrishtian


@garvincrishtian


@seancrishtian


@daracrishtian


@kenzocrishtian


@crownedeagle_03


@nickalbertreal


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤