My Possesive Husband

My Possesive Husband
135. GELISAH


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


DOR!


DOR!


DOR!


Suara tembakan terus saling bersautan satu sama lain.


Dikeheningan malam, disebuah ruangan yang minim akan pencahayaan tidak membuat mereka memberhentikan pergulatan itu.


"Sialan!" Umpat Elden ketika tembakan meleset dari musuhnya mengenai lengannya. Dipegangannya lengan yang terkena tembakan itu dengan menggunakan salah satu tangannya. Berusaha menahan darah yang mulai merembes keluar. Meskipun Elden sudah terbiasa dengan sebuah luka. Apalagi Elden adalah seorang psycopath. Tapi sekarang terasa sedikit lebih sakit.


Rafael yang melihat Elden terluka juga mengumpat kasar. Posisi yang jauh dari Elden membuat Rafael tidak bisa membantu Elden. Apalagi musuhnya yang berjumlah 5 orang itu terus menembakinya. Sedangkan Rafael hanya bersama Elden. Sepertinya ini terjadi diluar apa yang direncanakan. Rafael juga harus fokus dengan tembakannya sekarang. Jika Elden tumbang, maka Rafael harus menjadi perisai untuk sahabatnya. Meskipun Rafael tau, jika tembakan yang mengenai lengan sahabatnya itu tidak berarti apa-apa. Tetapi tetap saja itu membuat Rafael merasa khawatir.


DOR!


Tembakan tiba-tiba dari musuhnya itu hampir saja mengenai kepala Rafael. Jika sedetik saja Rafael tidak menghindar, mungkin sekarang Rafael sudah tak bernyawa.


Tap


Tap


Tap


Terdengar derap langkah memecah keheningan malam. Membuat Rafael dan Elden langsung terdiam bagaikan patung. Berusaha agar tidak melakukan suara dari pergerakan mereka.


Lima musuhnya itu langsung berbaris dan menunduk hormat. Sepertinya bos dari mereka telah datang.


Rafael yang memanfaatkan kesempatan itu dengan langsung mengisi penuh peluru pistolnya.


Begitupun juga dengan Elden, Elden tersenyum miring dengan mengisi peluru pistolnya juga. Jika sang target telah datang maka Elden dan Rafael harus bersiaga dengan segala persiapannya. Mulai dari persenjataan hingga planing sesuai kesepakatan sebelum berangkat tadi.


Akhirnya, apa yang telah Elden tunggu-tunggu telah datang juga.


"Bos, ada dua penyusup yang masuk ke dalam markas kita. Hampir 25 bodyguard yang menjaga markas telah tumbang karena dua penyusup itu. " Ujar salah satu bodyguard yang merupakan pimpinan dari lima bodyguard itu.


Bos dari mereka mengangguk. Dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, pria tersebut tersenyum miring.


Lalu, tubuhnya berbalik dan menghadap kearah tempat Rafael dan Elden bersembunyi.


"Aku sudah tau jika kalian berdua akan datang. Tapi tidak ku sangka akan secepat ini." Ucap pria tersebut dengan menatap sekelilingnya. Sebuah seringai tipis tersungging dibibirnya.


Elden yang mendengar pekataan itu hanya memasang wajah datar. Elden tau betul pemilik suara itu.


Lalu, Rafael memberi sebuah isyarat pada Elden tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Elden menjawabnya dengan sebuah isyarat juga.


Dalam hitungan ketiga,


Satu.


Dua.


Tiga.


Elden dan Rafael langsung berdiri dan menegakkan tubuhnya. Saling menodongkan pistol satu sama lain. Begitupun juga dengan musuhnya yang dengan sigap langsung menodongkan pistolnya. Lima bodyguard itu langsung membentuk sebuah perisai untuk melindungi bosnya.


Sedangkan Elden dan Rafael hanya menatap datar.


"Cukup basa-basinya James." Ujar Elden dengan menatap datar ke arah James.


Pria tersebut adalah James Alergon. Mantan orang kepercayaan Elden dulu.


James tersenyum miring. "Aku sudah cukup baik tidak membunuhmu. Tapi, kau malah bersikap seperti itu. Tidak kah kau berfikir, jika kau bisa mati kapan saja? Apalagi melihat kondisimu sekarang yang masuk ke dalam kandang musuh." Ucao James dengan menatap remeh ke arah Elden dan Rafael.


"Sialan!" Rafael mengumpat kasar dalam hati. Tidak ia sangka, jika sahabatnya dulu telah melatih seorang penghianat.


"Aku punya beberapa pertanyaan padamu James." Kata Elden dengan menatap sendu ke arah James. Meskipun hanya sekilas. Tapi, Rafael dapat melihat itu. Rafael paham bagaimana rasanya jika menjadi Elden. Membesarkan sosok seorang anak remaja agar tumbuh dengan baik, tapi akhirnya tumbuh menjadi seseorang penghianat yang membahayakan keluarganya.


"Apa kau dalang dibalik semua ini?Apa kau yang telah memasukkan penyusup kedalam mansion Sean? Apa kau yang telah menyuruh penyusup itu untuk menggugurkan calon bayi Sean dan Dara?" Tanya Elden dengan menatap tajam ke arah James.


James menghela nafasnya kasar. Lalu, memakai sarung tangan hitamnya. Kebiasaan yang selalu Elden lakukan turun ke arah James.


"Jika iya apa yang akan kau lakukan Daddy?"


Deg


Jantung Elden terasa berhenti saat itu juga.


"Apa yang akan kau lakukan Daddy? Apa Daddy akan membunuhku?"


Pegangan di pistol Elden semakin menguat.


Rafael juga tidak menduga jika James akan memanggil Elden disaat-saat seperti ini.


***


Jam telah menujukkan pukul 12 malam. Lexa masih tetap setia duduk dikursi meja makan.


Kedua tangannya saling bertautan dengan Roy yang berdiri disampingnya.


"Roy, pa menurutmu suamiku akan pulang malam ini?" Tanya Lexa dengan suara yang lirih. Buliran kristal mulai jatuh membasahi kedua bola matanya. Rasa gelisah dan tidak tenang mulai menyelimuti perasaanya.


Kedua tangan Roy mengepal kuat. "Saya yakin, jika tuan Elden pasti akan pulang nyonya." Jawab Roy. Meskipun tadi sebelum berangkat Elden tekah berpesan padanya.


"Roy, jika aku pulang terlambat atau aku tidak pulang maka aku minta tolong padamu. Jaga istriku. Jaga Sean dan istrinya. Dan jaga cucu-cucuku. Kau tau bukan, sekuat-kuatnya seseorang pasti akan memiliki titik kelemahan."


"Iya Roy. Suamiku paati pulang malam ini." Ujar Lexa dengan menguatkan perasaanya.


Cepat pulang El. Jangan tinggalkan aku sendiri. Jika kau pergi, maka ajaklah aku bersama mu.


***


Sedangkan disisi lain, di villa Sean dan Dara mereka baru saja menyelesaikan pergulatan panas mereka.


Deru nafas mereka saling beradu saty sama lain.


"Apa kau lelah sayang?" Tanya Sean dengan mengusap dahi istrinya yang telah basah karena berkeringat.


Dara mengangguk pelan dengan mulai memejamkan kedua bola matanya.


"Good night and have a nice dream sayang." Ucap Sean dengan mengecup kening istrinya.


***


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤