My Possesive Husband

My Possesive Husband
153.


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. πŸ™‚πŸ˜Š


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku πŸ€—


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata πŸ€—


Happy Reading


***


"Rasanya aku ingin menghabisi mereka dengan tangan ku sendiri." Ujar Sean dengan kedua tangan yang yang mengepal kuat. Aura membunuh langsung keluar begitu saja dari tubuhnya.


"Ijinkan aku membantumu Sean. Aku juga ingin menghabisi mereka. dengan tanganku sendiri." Kata James menawarkan diri.


Sean berjalan gontai untuk menuju kamarnya.


Wajahnya terlihat kusut dan terlihat lelah. Banyak hal yang terjadi dan terungkap dari masa lalunya. Sean juga terlalu terkejut dengan fakta semua itu.


Sean menghembuskan nafasnya pelan ketika sampai di depan pintu kamarnya.


Setelah dirasa cukup tenang, lantas Sean segera membuka pintu kamarnya.


Ceklek


Pintu kamar terbuka. Disana sudah ada istrinya yang tengah duduk bersendar di sandaran ranjang.


"Kamu kemana saja hubby?" Dara terdiam sejenak ketika meliha wajah suaminya. "Kamu kenapa hubby?" Tanya Dara dengan menyibak selimutnya dan segera berjalan mendekati suami tercintanya.


Sedangkan Sean mulai berjalan masuk kedalam kamar. Tidak lupa juga menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Takut jika ada Mommy atau Daddynya tiba-tiba datang atau mengintip seperti dulu. "Aku baik-baik saja sayang. Hanya sedikit lelah." Jawab Sean dengan tersenyum. Berusaha memperlihatkan jika dirinya sedang baik-baik saja meskipun faktanya sangat berbeda.


Setelah itu, Sean segera melepas pakaian atasnya. Hingga memperlihatkan tubuh tegap dan berotot miliknya.


Lantas Dara langsung berjalan dan mendekati suaminya yang sedang berdiri membelakanginya. Lalu, tanpa ijin Dara langsung memeluk tubuh suaminya dari belakang. "Apa kamu lelah sayang? Butuh sandaran untuk istirahat?" Ujar Dara dengan suaranya yang lirih. Meskipun Sean mengatakan baik-baik saja, tapi tetap saja, Dara tau jika suaminya sedang tidak baik-baik saja.


Dengan lembut Sean memegang kedua tangan istrinya yang melingkar di pinggangnya. Sean tersenyum mendengar perkataan istrinya tadi. Istrinya benar-benar peka dan mengerti akan dirinya. "Iya sayang. Aku butuh sandaran sekarang." Kata Sean dengan membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan istrinya.


Kepala Dara langsung mendongak ke atas untuk menjatap wajah suami tercintanya. Suaminya sungguh tinggi sekali hingga mengharuskan Dara mendongak, guna menatap wajah suami tercintanya.


Dara langsung diperlihatkan wajah sendu suaminya dengan guratan lelah yang terlihat jelas di wajahnya.


"Kamu kenapa?" Ucap Dara dengan suaranya yang lembut. Dengan perlahan tangannya terangkat untuk mengusap lembut wajah tampan suaminya.


Kedua bola mata Sean langsung terkunci denga kedua bola mata indah yang terlihat khawatir. Menikmati srtiap usapan lembut yang dilakukan istrinya di wajahnya.


Akan tetapi, Sean ragu sekarang. Apakah Sean harus menceritakan semuanya? Atau tidak perlu?


Bayangan perkataan istrinya dulu langsung terlintas di ingatannya.


"Iya. Aku percaya padamu Sean." Ujar Dara dengan tersenyum.


Sean tersenyum menanggapi perkataan dari istrinya itu.


"Tapi.."


Sean langsung mendongak dan menatap wajah cantik itu lagi. "Tapi apa sayang?" Ujar Sean dengan alis yang saling bertautan satu sama lain. Sean merasa heran dan tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh istrinya.


"Aku sudah memberimu kepercayaan ku padamu lagi. Jadi jangan kamu kecewakan lagi. Tau kaca yang retak dan hancur berkeping-keping?" Tanya Dara dengan menatap fokus kedua bola mata suaminya itu.


Deg


"Iya aku tau." Jawab Sean.


"Seperti itulah hatiku kemarin. Hancur dan berantakan setelah kamu kecewakan. Tapi, sekarang sudah mulai tertata lagi. Meskipun tidak sama seperti dulu , tapi setidaknya aku mau untuk membentuk dan membangun perasaan dan kepercayaanku padamu. Sekarang sudah mulai terbentuk dan tertata rapi lagi. Meskipun membutuhkan waktu. Tapi setidaknya aku telah berusaha untuk menerima mu lagi. Mau membantumu untuk melupakan masa lalumu. Jadi, jangan kamu kecewakan aku lagi Sean. Karena kaca yang kamu hancurkan beberapa kali tidak akan tersambung seperti dulu lagi."


Perkataan itu masih terekam jelas di ingatannya. Dan Sean tak akan pernah melupakannya.


Dengan perlahan Sean menyandarkan kepalanya ke pundak istrinya. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan keputusan yang telah ia ambil. "Hufftt.." Sean menghela nafasnya pelan.


Dara begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Tidak seperti biasanya suaminya bertingkah seperti ini. Di dalam hatinya bertanya-tanya, "Apakah ada sesuatu yang terjadi?"


"Raya.." Lirih Sean dalam menyebut nama Raya, perempuan dari masa lalu suaminya.


Deg


Tubuh Dara mematung. Jatungnya seakan langsung ingin melompat dari tempatnya.


"Aku tadi bertemu dengan James, selingkuhannya Raya."


Di dalam hatinya bertanya-tanya. "Lalu apa hubungannya Raya dengan kesedihan mu?"


Hening. Dara masih belum merespon apapun yang dikatakan oleh Sean. Masih terlalu terkejut dengan apa yang dibicarakan suaminya. Padahal sejek insiden itu, Dara sudah tidak pernah mendengar nama Raya keluar dari bibir suami tercintanya. Lalu, sekarang apa lagi ini?


Rasa cemburu dan khawatir langsung melingkupi Dara. Dara takut, jika suaminya pergi meninggalkan dirinya karena kedatangan perempuan dari masa lalu. Tapi, bukankah Raya sudah tiada? Lalu, apalagi ini?


"Aku tadi hampir saja membunuh James sayang."


Dan lagi, perkataan suaminya tadi membuat Dara tercengang seketika. "Membunuh?" Ujar Dara dengan suaranya yang lirih.


Dengan pelan, Dara mendorong tubuh suaminya. Dara ingin berbicara dengan menatap kedua bola mata suaminya.


Namun berbeda dengan Sean, Sean yang merasakan dorongan lembut dari tangan mungil istrinya, lantas Sean dengan lembut melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya. Semakin memperat pelukannya di tubuh mungil istrinya.


"Beri aku waktu sayang. Aku ingin tetap seperti ini dulu." Ujar Sean dengan suara yang terdengar lirih.


"Beri aku waktu untuk seperti ini dulu." Pinta Sean dengan nada yang terdengar sedih.


Deg


Apa suaminya masih belum bisa melupakan perempuan dari masa lalunya?


***


Authornya mau liburan dulu. Mau me time dulu ya 😁 Udah lama ngga pernah cuti ngetik 😁 Sekarang ijin dulu ya hari ini. πŸ’• Lanjut lagi besok ya πŸ€—


Jangan lupa ikutan ya😜 Akan aku pilih satu pemenang yang beruntungπŸ˜™



Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❀