
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Dara menggeleng pelan. "Tidak Roy. Ini semua karna ku. Jika saja aku tidak kabur dari mansion Sean waktu itu mungkin sekarang Liya masih berada di sisimu."
Roy terdiam di tempatnya.
Terlalu banyak kata mungkin yang menjadi simbol harapan...
Terlalu banyak serpihan kaca yang telah pecah dulu untuk mencapai sebuah titik kebahagiaan sekarang..
Dan terlalu tidak mungkin untuk mewujudkan harapan itu..
Orang yang telah mati tidak akan pernah bisa hidup..
Kecuali jika ada sebuah keajaiban..
Jika Roy boleh berharap, bolehkah Liya terlahir kembali dan Roy akan menjaganya dengan sebaik mungkin..
Bolehkah Roy berharap pada keajaiban itu?
Setelah berbicara dengan Roy, Dara merasa sedikit lebih lega. Bebannya terasa lebih tenang daripada sebelumnya.
Penyesalan memang ada, tapi kehidupan akan terus berlanjut. Dara juga tidak ingin berdiam dan menetap karena masa lalu. Tapi, hal itu akan Dara jadikan sebuah pelajaran dan cambukan untuk dirinya sendiri. Dara harus lebih kuat daripada sebelumnya dan Dara harus lebih tegas daripada yang lalu.
Di sebuah taman yang indah dan dipenuhi dengan bunga mekar yang indah, terlihat seorang perempuan tengah duduk di bangku taman dengan kepala yang mengadah ke atas. Menikmati indahnya pemandangan yang sangat memanjakan kedua bola matanya. Tidak lupa juga dengan beberapa bodyguard yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Rasa bosan dan jenuh tiba-tiba datang menghampirinya. Dara ingin jalan-jalan atau setidaknya keluar dari mansion. Namun sekali lagi Dara tidak bisa melakukan itu kecuali sudah ada Sean yang berada disampingnya. Dara juga tidak ingin egois mementingkan keinginannya sendiri.
"Permisi nona." Ucap salah satu bodyguard yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Lantas kepala yang semula mendongak itu langsung menoleh dan menatap bodyguard yang sedang berdiri di belakangnya.
"Iya? Ada apa?" Tanya Dara dengan suaranya yang terdengar lembut.
"Langit mulai mendung. Alangkah baiknya jika kita segera masuk kedalam." Ujar bodyguard itu dengan sopan.
Dara mengangguk, mengerti. "Baiklah. Aku akan masuk kedalam mansion." Kata Dara dengan bangkit dari duduknya dengan sedikit meregangkan tubuhnya.
Bodyguard itu sedikit bernafas lega setelah mendengar jawaban dari Dara.
"Oh iya, apa cemilan yang ada di dalam lemari pendingin masih ada?" Tanya Dara dengan menatap wajah bodyguardnya.
"Saya akan mengeceknya nona. Jika habis, saya akan pergi ke supermarket untuk membelikannya."
Dara tersenyum mendengarnya. "Terimakasih. Kalau mau membelinya, tolong belikan aku makanan yang manis-manis. Seperti yang berbahan coklat atau keju. Terus jangan lupa belikan aku susu cair yang bisa langsung aku minum. Dan jangan lupa belikan aku roti yang berisi misis dan coklat. Oh iya, satu hal lagi, belikan aku makanan yang pedas dan juga beberapa mie instan. Nanti uangnya akan diganti suamiku."
"Baik nona." Jawab bodyguard itu patuh. Padahalkan dirinya akan membelikannya jika stok makanannya sudah habis. Tapi istri majikannya sudah menyebutkan makanan yang harus dibeli. Seperti dirinya harus membelinya sekarang.
"Terimakasih. Dan kalau kau mau membeli cemilan, maka belilah juga dan jangan lupakan belikan beberapa teman kamu yang lain. Nanti uangnya akan di ganti suamiku."
Dara tersenyum dan mengangguk. Setelah itu Dara mulai berjalan meninggalkan taman dengan langkah mungilnya. Sepertinya, nanti malam Dara akan berbicara ke suaminya mengenai latihan tembak-menembak bersama Garvin. Mungkin suaminya akan menyetujuinya. Meskipun peluang presentasenya hanya 1% di ijinkan dan 99% tidak di ijinkan.
***
"Saudara tiri Dad bukan saudara kandung." Ujar Sean dengan dingin.
Elden mengangguk, mengerti ketika anaknya mengingatkannya. Seakan-akan mempertegasnya lagi jika mereka adalah saudara tiri. "Baiklah, Daddy akan pergi dulu." Ucap Elden dengan bangkit dari tempat duduknya. "Tapi Daddy ingatkan padamu, Daddy titip pesan padamu, jangan sampai saling menyerang satu sama lain. Meskipun kalian bukan saudara kandung, setidaknya kalian saling menjaga satu sama lain. Jika kalian saling menyerang satu sama lain, maka hal itu bisa dimanfaatkan oleh musuhmu. Kau tau, lengah sedikit saja maka akan ada pisau yang bisa menusukmu dari belakang. Mommy dan Daddy selalu menyayangi kalian. Ingat Mommymu. Mommy selalu menyayangi kalian berdua. Maka jangan kecewakan dia." Setelah mengatakan hal itu Elden segera melangkah, berjalan keluar ruangan.
Sean menghela nafasnya lega dengan memijat pelan jidatnya.
Ceklek
"Permisi tuan."
Sean yang semula duduk bersandar di sofa langsung menegakkan tubuhnya. Dan lagi, perempuan yang bernama Alice muncul di hadapannya.
"Apa tuan butuh sesuatu?" Tanya Alice dengan menatap wajah bosnya.
Sean menatap kesal perempuan di hadapannya. "Apa kau tidak punya sopan santun Alice? Kenapa kau seenaknya masuk di ruang kerja atasanmu?" Ujar Sean dengan suaranya yang terdengar dingin.
Alice terdiam di tempatnya. Tidak tau harus menjawab apa.
"Lebih baik kau segera keluar dari ruanganku." Ujar Sean dengan menatap datar Alice.
"Tidak. Saya tidak mau." Jawab Alice yang berusaha memberanikan dirinya.
Sean menyeringai tipis. "Kau dipecat."
Deg
"Apa salahku hingga saya dipecat?"
"Pergi dari ruanganku sekarang atau aku akan menggunakan caraku untuk mengeluarkan mu? Saranku. Lebih baik kau keluar sekarang. Aku masih sedikit berbaik hati padamu."
Jemari itu mengepal kuat. "Saya tidak mau dipecat."
"Yang jadi bosnya disini bukan kau. Tapi, aku." Ucap Sean dengan menegaskan kata-katanya.
Setelah itu, Alice langsung berjalan keluar meninggalkan ruangan. Namun, langkahnya langsung terhenti ketika mendengar suara dingin dari bosnya.
"Jika kau ingin bekerja nejadi sekretaris di sebuah perusahaan, alngkah baiknya kau memperbaiki sifatmu."
Dan Alice segera berjalan san menutup pintu ruangan kerja tuannya.
Sean langsung menyandarkan tubuhnya di sofa lagi. Rasa rindu langsung datang menyelimutinya ketika mengingat istrinya.
"Aku sayang padamu sayang." Gumamnya pelan. "Jangan pernah tinggalkan aku."
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤