
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Nb : Tolong kendalikan emosi kalian ketika membaca part ini.
Pagi menjelang. Suara burung berkicau bersahutan. Membuat pria yang tertidur di atas sofa merasa sedikit terusik. Direnggangkan tubuhnya yang berotot itu, hingga menimbulkan suara khas bangun tidur. Badannya terasa pegal-pegal karena semalaman Sean tertidur di sofa. Tapi, setidaknya, emosi sudah tidak menguasai dirinya seperti kemarin.
Setelah itu, Sean berjalan mendekati tempat tidur istrinya. Dara, masih tertidur pulas di tempat tidur. Dipandanginya wajah cantik itu. Terlihat damai dan lugu. Diusapnya dengan sayang puncak kepala Dara.
“Good morning sayang.” Ujar Sean sambil mengecup kening Dara.
Lalu, dengan perlahan kedua kelopak mata itu mulai terbuka dengan lengguhan yang keluar dari bibir cantik itu. Dengan sigap, Sean megenggam tangan mungil itu.
“Sayang, kamu bangun?” Kata Sean dengan kedua bola mata berbinar senang. Perasaan bahagia menyelimuti di dirinya ketika melihat adanya pergerakan dari istrinya. Sean begitu merindukan istrinya.
Dara mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Mencoba untuk menyesuaikan cahaya dikamarnya.
“Ayah, bunda.” Lirihnya pelan.
Tubuh Sean mematung mendengarnya. Bukan namanya yang dipanggil tapi orangtua Dara.
“Ini aku sayang. Aku, Sean.” Lalu dikecupnya tangan mungil itu dengan sayang.
Dara yang mendengar suara suaminya langsung terdiam dan memandang wajah tampan yang kemarin ia rindukan. Namun, kata-kata yang Sean ucapkan semalam langsung berputar di otaknya. Raya dan Raya. Masih teringat jelas di ingatannya.
Lalu, ditegakkannya tubuhnya dan melepaskan genggaman tangan Sean di tangannya.
Sean yang melihat perubahan sikap Dara yang seperti tidak biasanya membuatnya merasa heran. Dan Sean mencoba sekali lagi untuk megenggam tangan mungil itu. Namun bukan respon baik yang Sean terima. Tapi tepisan kasar langsung diterimanya. Hal itu sukses memancing emosinya.
“Jangan menyentuhku.” Ujar Dara dengan amarah yang terpancar di wajahnya. Tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Sean yang seperti akan memakannya hidup-hidup.
“Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Aku suamimu jadi aku berhak menyentuhmu kapanpun.” Kata Sean dengan dingin.
Dara yang mendengar perkataan itu langsung tersenyum remeh. “Suamiku? Kamu? Suamiku? Hahaha, lucu sekali.” Jawab Dara tanpa rasa takut. Meskipun badannya masih terasa sakit karena insiden semalam.
Tangannya mengepal kuat. Sean tidak suka dengan perkataan istrinya tadi. “Iya. Aku suamimu. Apanya yang lucu? Itu bukanlah sesuatu hal yang bisa kau jadikan lelucon Dara. ”
“Oh benarkah Sean? Menurutku itu sebuah lelucon. Rasanya aku ingin tertawa sekarang.”
Amarah langsung menyelimuti dirinya. Namun, Sean mencoba untuk mengontrol emosinya. Tidak ingin membuat istrinya terluka. “Aku suamimu Dara. Bersikaplah sopan padaku seperti seorang istri yang bersikap sopan pada suaminya.” Ucap Sean dengan menatap tajam istrinya.
Dara yang mendengar perkataan Sean langsung tertawa. Sungguh lucu sekali. “Hahaha, suamiku? Yang benar saja Sean.” Kata Dara sambil menatap tepat dua bola mata itu. Tidak berpengaruh sama sekali dengan tatapan intimidasi itu. “Tidak ada yang namanya suami melempar tubuh istrinya ke kaca.Tidak ada namanya suami memanggil nama perempuan lain di hadapan istrinya.”
Deg
Sean tertegun dengan perkataan Dara. “Tidak ada perempuan lain selain kamu. Aku suamimu. Jadi aku milikmu.”
Sekali lagi Dara tertawa mendengar perkataan Sean. Dipendengarannya, Sean seperti sedang membual sekarang. Dara tertawa di iringi dengan buliran kristal yang mulai membasahi kedua matanya. Entah kenapa rasanya sangat sakit sekali melihat laki-laki yang ia cinta membohongi dirinya. Diusapnya dengan kasar buliran kristal itu. Dara tidak ingin terlihat lemah dihadapan laki-laki yang telah menghianatinya. “Di mata negara kamu memang suamiku Sean." Lalu Dara menggeleng lemah. Mencoba untuk menerima kenyataan pahit yang harus ia terima. "Tapi tidak dengan hatimu. Aku sama sekali tidak memiliki itu.” Jawab Dara dengan menatap lekat iris mata Sean. "Untuk apa aku memiliki ragamu tapi hatimu saja bukan milikku? Hubungan yang dijalani tanpa adanya hati itu akan percuma."
“Kau yakin dengan perkataanmu itu? Apa kau tidak sedang membual sekarang?”
Langkahnya langsung terhenti ketika mendengar perkataan istrinya. “Apa maksudmu Dara?”
“Tidak perlu berpura-pura bodoh Sean. Aku tau semuanya”
Sean terdiam ditempatnya. Jantungnya berdetak tidak beraturan.
“Raya, mantan kekasihmu bukan? Raya Beatrix." Ujar Dara. Dara masih mengingat dengan jelas perkataan pria bertato itu. Bahkan Dara masih ingat betul bagaimana foto Sean dan Raya.
Deg
Bagaimana bisa istrinya tau nama panjang Raya? Padahal hanya orang terdekat dari Raya lah yang tau nama panjang Raya.
Dara tersenyum tipis melihat keterdiaman dan keterkejutan suaminya itu. Dara yakin, berarti memang benar tebakannya. Bahkan lukisan yang berada di dinding tangga itu berarti lukisan hadiah dari Raya untuk Sean. Karena Raya waktu itu mengajaknya untuk membeli hadiah itu. "Kebetulan sekali, Raya adalah sahabatku. Dan sekarang, Raya sudah tiada. Bukankah itu sebuah takdir? Aku bertemu mantan kekasih sahabatku sendiri. Bahkan sekarang aku menjadi istri dari mantan kekasih sahabatku sendiri. Itu sangat hebat sekali."
Rahang Sean mengetat. Ketakutan yang ia alami beberapa hari ini apa akan terjadi?
"Lalu?" Tanya Sean dengan tatapan dingin yang menusuk.
Dara menatap lekat iris mata itu. Sungguh berat untuk mengatakannya. Pergi atau bertahan adalah sebuah pilihan tersulit untuknya. Tapi, Dara lebih baik memilih..
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Dara menatap sendu wajah itu.
Ada yang retak tapi bukan kaca. Ada yang berdarah tapi bukan luka.
"Kenapa kau tega melakukan ini? Apa salahku? Kamu bilang padaku jika kamu akan selalu menjagaku. Berjanji untuk membuatku tersenyum. Lantas kemana pergi janji itu? Tolong lepaskan aku. Jika bahagiaku tidak bersama mu, aku ikhlas menerimanya."
Tatapannya menajam mendengar perkataan istrinya yang seperti itu.
"Tolong lepaskan aku. Aku ingin pulang." Lirih Dara.
"Disini rumahmu. Kamu milikku. Aku milikmu." Jawab Sean dingin.
Dara menggeleng lemah. "Bukan. Kamu yang membawa paksa diriku kesini. Ini bukan rumahku dan aku bukan milikmu. Kamu bukan milikku. Jika kamu ingin aku berbalas budi padamu karena telah menyelamatkan aku, aku akan membayarnya. Sedari awal hubungan kita salah Sean."
Hal itu sukses membuat Sean emosi. Ditariknya dengan kasar lengan tubuh mungil itu hingga terbangun dari tempatnya.
"Auu-" Ringisnya pelan ketika Sean mencengkram tepat dilukanya kemarin. Lukanya mulai terbuka lagi ketika cengkraman tangan Sean semakin menguat.
Sebuah seringai tipis yang tampak menakutkan membuat Dara merinding. "Sedari awal, aku sudah bilang bahwa kau adalah milikku. Larilah. Maka aku akan menemukanmu. Karna apa? Kau lari untuk ku kejar, kau bersembunyi untuk ku temukan. Jadi larilah, bersembunyilah dengan baik. Karna aku akan menyeretmu pulang bahkan dengan cara kotor sekalipun." Ujar Sean dengan dingin.
Tubuh Dara menegang.
Tuhan, bantu aku. Ayah, bunda..
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤