My Possesive Husband

My Possesive Husband
62. JERITAN DARA


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Malam telah mejelang. Pukul tujuh malam Dara telah bersiap dengan pakaian dan barang-barangnya. Tadi Dara memimpikan Liya. Memimpikan Liya yang tengah tersenyum dan memeluknya erat. Seperti pelukan sebuah perpisahan. Akan tetapi, Dara berusaha membuang pikiran negatifnya itu. Tidak mungkin kan Liya telah tiada? Sean tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu. Tidak mungkin.


Setelah semuanya telah siap. Dara segera berjalan menuju pintu keluar. Pemandangan indah yang akan selalu ia rindukan disini. Tempat yang biasanya menjadi tempat perkumpulan keluarganya dulu. Rasa rindu terbesit dihatinya. Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk bersedih karena masa lalunya. Ditutupnya pintu rumah dengan pelan. Pintu itu akan otomatis terkunci jika tertutup.


Dara menghembuskan nafasnya. Menghirup dalam-dalam udara segar yang ada disini. Menikmati sejenak udara segar yang membuatnya sedikit merasa lebih baik.


"Indonesia, tunggu aku." Ujarnya pelan.


Dengan semangat empat lima, Dara segera berjalan ke sebuah taxi yang telah berhenti didepannya. Dibukannya pintu mobil taxi itu, dan Dara masuk, duduk dikursi penumpang.


"Mau kemana nona?" Tanya sopir itu.


"Ke bandara internasional." Jawab Dara sambil merogoh tas ransel miliknya. Mencoba untuk mencari sesuatu.


"Baik nona."


Mobil itupun langsung berjalan menuju bandara internasional dengan kecepatan sedang. Membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk menuju bandara internasional.


Setelah menemukan apa yang telah ia cari, Dara segera mengeluarkannya. Uang yang berhasil ia ambil dari almari milik Sean.


Namun tanpa Dara sadari, dibelakangnya terdapat sebuah mobil warna hitam yang setia mengikutinya sedari tadi.


🐓🐓🐓


Sean telah siap dengan pakaian formalnya. Setelah mendapatkan informasi dari Roy jika istrinya sedang berjalan menuju ke bandara, maka Sean segera bersiap. Sean akan menyusul istrinya.


"Sudah cukup menghirup udara bebasnya sayang. Saatnya kembali pulang." Ujarnya pelan sambil menatap pantulan dirinya didepan cermin.


Setelah itu, dengan langkah tegasnya Sean segera berjalan menuju garasi mobilnya dan masuk kedalam mobil sport mewah miliknya.


Sean mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata untuk menuju tempat yang telah Roy informasikan.


"Tunggu aku sayang. Aku akan menjemputmu pulang." Ujarnya dengan sebuah seringai tipis.


🐙🐙🐙


"Nona sepertinya kita diikuti." Ujar Pak Sopir sambil sesekali menatap spion mobilnya.


Deg


Dara sungguh terkejut dengan perkataan pak sopir. Reflek badannya langsung berbalik dan melihat dua mobil warna hitam yang mengikutinya. Dara tau betul mobil itu. Mobil milik bodyguard milik Sean.


"Pak percepat kecepatannya. Itu orang jahat." Kata Dara dengan sedikit membentak karena panik. Tidak. Dara tidak mau tertangkap lagi. Dara harus pergi jauh dari jangkauan Sean meskipun dirinya masih berstatus menjadi istri Sean.


Pak Sopir itu lantas mempercepat kecepatan mobilnya. Dan benar saja dua mobil hitam itu juga semakin mempercepat kecepatannya.


Pak Sopir berfikir, apa mungkin gadis dibelakangnya ini merupakan anak dari seorang pejabat?


"Nona apa kita berhenti saja?" Tanya pak Sopir.


Dara menggeleng kuat. "Tidak pak! Jangan! Kalau bisa lewat jalan pintas!" Ujar Dara dengan sedikit membentak karena rasa panik yang melanda.


Pak Sopir lantas menurut keinginan Dara. Melewati sebuah jalan pintas.


Dara mengernyit heran.


"Pak kenapa jalannya sepi?!" Bentak Dara. Tidak mungkinkan jika sopir taxi ini Roy yang menyamar seperti waktu itu.


"Kata Nona lewat jalan pintas. Ini jalan pintas nona." Jawab Pak Sopir. Bukannya tadi gadis ini yang memintanya untuk lewat jalan pintas?


Dor


Dor


Sebuah tembakan melesat di salah satu ban mobil milik taxi yang dinaiki Dara. Membuat mobil itu langsung oleng dan terhenti begitu saja ditengah jalan yang sepi.


Deg


Mobil dibelakangnya langsung berhenti dibelakangnya. Membuat Dara panik dan ketakutan. Apa Dara akan tertangkap?


Para bodyguard langsung keluar dari dalam mobil. Bodyguard yang berjumlah enam orang itu langsung datang menghampiri mobilnya.


"Keluar!" Bentak salah satu bodyguard. Pak sopir lantas keluar dari dalam mobil dengan ketakutan.


"Maaf tuan. Ampun." Ujar Pak Sopir itu dengan ketakutan ketika badannya diseret paksa.


Sedangkan Dara terdiam didalam mobilnya. Mengunci rapat pintu mobilnya.


Derap langkah terdengar dipendengarannya. Hawa dingin dan menakutkan menyelimuti dirinya.


Tap


Tap


Tap


"Hai sayang."


Sean menyeringai. "Kau mau keluar sendiri atau aku yang mengeluarkanmu?" Tanya Sean yang berdiri tepat didepan kaca mobil tempat istrinya duduk.


Namun, hening tidak ada jawaban.


"Baiklah kalau itu kemauanmu."


Sean lantas memecehkan pintu mobil itu dengan sebuah tongkat yang telah ia bawa. Membuat Dara reflek menunduk dan menjerit histeris


"Aaaaa.." Tubuhnya merunduk. Takut jika terkena serpihan kaca yang pecah.


Lalu Sean membuka kunci mobil dari dalam dan membuka pintu mobilnya dengan kasar.


"KELUAR!" Bentak Sean.


Dara menggeleng takut, semakin merapatkan tubuhnya.


Sean yang geram lantas menarik paksa tubuh mungil itu hingga keluar.


Disana Dara dapat melihat tubuh Pak Sopir yang tengah terduduk takut.


"Ampuni saya pak. Saya punya istri dan anak yang harus saya biayai. Saya tidak tau apa-apa." ujar Pak Sopir yang terdengar di telinga Dara.


"Kau tau sayang, aku sudah cukup bersabar menghadapimu dari kemarin. Tapi ini yang kau balas?"


Dara menoleh dan melihat tubuh Sean yang berdiri dihadapannya.


"Aku yang sudah bersabar menghadapimu Sean!" Bentak Dara. "Aku tak ingin bersama mu. Aku mau cerai!" Jerit Dara dengan membentak Sean.


Tubuh Sean menegang kuat. Tangannya mengepal erat ketika mendengar perkataan dari sang istri.


"Katakan lagi." ujar Sean dingin.


Hawa dingin langsung menguar begitu saja. Dara takut, tapi Dara juga tidakk mau terlihat lemah dihadapan laki-laki yang telah menyakitinya.


"Aku mau kita cerai!" Jerit Dara.


Dor


Tubuh Dara menegang kuat.


"Dua nyawa melayang karnamu sayang."


Dara menoleh. Disana tubuh Pak Sopir telah tergelatak di atas jalan.


Dara menjerit histeris. Dara langsung berlari menghampiri tubuh Pak Sopir.


Digoyangnya beberapa kali tubuh Pak Sopir itu beberapa kali.


"Pak bangun! Pak!" Jerit Dara histeris dengan derai air mata yang telah membasahi kedua bola mata cantiknya.


"Kau iblis Sean!" Bentak Dara.


Sean menyeringai tipis.


"Iya sayang. Aku memang iblis. Dan iblis ini adalah suamimu." jawab Sean dengan tenang. Tanpa rasa bersalah.


"Hiks. Hiks. Pak bangun. Jangan mati." Ujar Dara yang terus berusaha menyadarkan pak Sopir itu. Namun, nihil. Tidak ada deru nafas sama sekali. Dara semakin menangis histeris.


Kedua matanya menatap nyalang mata Sean yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya.


"KAU IBLIS SEAN! KAU MANUSIA BIADAP!" Bentaknya keras.


Lalu, Dara berdiri dihadapan Sean dengan menatap penuh kebencian.


"AKU TAK SUDI MENJADI ISTRIMU"


Perkataan itu sontak saja membuat Sean geram.


"Sedari awal, aku sudah bilang bahwa kau adalah milikku. Larilah. Maka aku akan menemukanmu. Karna apa? Kau lari untuk ku kejar, kau bersembunyi untuk ku temukan. Jadi larilah, bersembunyilah dengan baik. Karna aku akan menyeretmu pulang bahkan dengan cara kotor sekalipun" Ujar Sean dingin.


Dara lantas berjalan mundur dan akan segera berlari. Sean yang mengerti itu, langsung mencekal kuat pergelangan tangan istrinya dan didorongnya dengan kasar tubuh mungil itu ke jalan. Membuat Dara jatuh tersungkur. Bahkan para bodyguard hanya diam menatapnya. Tak berniat untuk ikut campur.


Sean berjalan mendekati Dara dengan membawa tongkat di tangan kanannya.


Tubuh Dara reflek mundur melihat Sean yang tampak menyeramkan.


"Karena kau telah lari dariku. Maka aku akan menghukummu sayang." Ujar Sean dengan menyeringai. Membuat tubuh Dara bergetar ketakutan.


"Karena kedua kakimu, kau malah lari dariku. Mungkin dengan mematahkan salah satu kakimu maka kamu tidak akan bisa lari dariku."


Dara menggeleng takut. "Jangan Sean." Lirihnya pelan.


Namun seakan tuli, Sean langsung mengerahkan tongkat kayunya ke arah salah satu istrinya dan dipukulnya dengan kuat.


"AAARGHHH" Jeritan kesakitan langsung keluar dari bibir mungil itu


Bahkan bodyguard yang mendengar jeritan piku dari istri tuannya merasa ngilu.


***


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤