
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Sepergian Sean tadi, Dara sudah merasa lebih baik dan lebih tenang. Luka yang ada dilengannya juga telah diobati oleh Liya. Kini Dara sedang berada di dalam kamarnya. Pikirannya sedang berkelana jauh, mengingat kebersamaannya bersama Sean selama satu bulan lebih.
"Dara, ijinkan aku menjadi alasan mu tersenyum. Ijinkan aku menjadi tempat mu bersandar jika kau merasa lelah. Ijinkan aku mengisi tempat kosong berada di hatimu."
Dara terdiam. Lantas tersenyum hangat. Dan mengangguk.
"Jangan kecewakan aku." ujarnya.
Sean yang mendengar tidak ada penolakan langsung tersenyum senang. Bahagia.
"Tentu saja. aku tidak akan mengecewakanmu." Jawabnya semangat. Diberikannya bunga tulip itu Dara dan tentu saja, dengan senang hati Dara menerima bunga tulip itu.
Dara masih mengingat betul malam itu. Bagaimana cara Sean tersenyum padanya, menatapnya dan mengatakannya. Semuanya masih terekam jelas di ingatannya. Dara tidak akan pernah melupakannya. Karena dalam sejarah hidupnya, untuk pertama kalinya Dara diperlakukan seperti itu oleh seorang pria. Dan saat itu juga untuk pertamakalinya Sean memberikan kejutan dan memperlakukan dirinya seperti itu. Dara tidak akan pernah melupakan itu semua. Hal itu terlalu indah untuk dilupakan.
Sebuah senyuman terukir dibibirnya yang mungil ketika semua kebersamaannya bersama Sean selama satu bulan lebih ini berputar di otaknya. Namun, kenapa semua kandas begitu cepat?
Raya. Dara akan mencari tau hubungan Sean dengan Raya. Dara akan menyelidiki itu.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Disana ada Liya yang sedang berdiri dan berjalan menghampirinya.
"Nona, Tuan sekarang sedang pergi ke markasnya. Ada perkumpulan penting dengan tuan Darren, Nick dan Damian. Jadi, aku yakin pasti tuan akan pulang larut malam ini." Kata Liya sambil duduk disisi Dara.
"Terimakasih Liya." Kata Dara sambil tersenyum hangat. "Liya apa aku bisa keluar dari sini?" Tanya Dara dengan pandangan bertanya-tanya.
Liya mengangguk mantap dan memegang kedua tangan mungil yang tampak rapuh itu. "Bisa nona. Pasti bisa. Akan aku usahakan nona keluar dari tempat ini." Jawab Liya.
Dara tersenyum mendengar jawaban dari Liya. Liya, sudah menjadi temannya selama ini. Dara juga telah menganggap Liya sebagai orang terdekatnya selama di mansion ini.
"Liya, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?"
Liya mengangguk ragu. "Boleh nona. Apa itu?"
Dara menatap lekat kedua bola mata Liya. "Apa kau tau tentang Raya Beatrix?"
Deg
Liya terkejut dengan pertanyaan Dara yang begitu tiba-tiba.
Liya menatap wajah Dara dengan tatapan yang bertanya-tanya. "Kenapa nona bisa tau nama itu?"
Dara menarik nafasnya perlahan. Mencoba untuk mempersiapkan dirinya. "Aku tau karena waktu di supermarket ada pria yang menghampiriku. Pria itu memiliki tato dilengan dan lehernya. Dan dia juga mengatakan padaku jika Sean pernah memiliki kekasih yang bernama Raya. Bahkan, aku diberi tau foto Sean bersama Raya."
Liya mendengarkannya dengan serius. "Lalu?"
"Raya, itu sahabatku."
Oke fix. Liya merasa sedang senam jantung sekarang.
"Sungguh?!" Kata Liya dengan nada yang sedikit membentak.
Dara mengangguk. "Iya Liya. Sungguh." Jawab Dara. "Apa aku boleh meminta bantuanmu lagi?"
"Saya akan membantu nona selama saya mampu melakukannya nona. Jadi nona ingin meminta bantuan apa?" Tanya Liya.
"Bolehkah kamu ceritakan tentang Raya?"
Deg
Liya menelan ludahnya kasar.
Liya mengangguk, ragu. Apa dirinya sudah melakukan sesuatu hal yang benar atau telah melakukan sesuatu hal yang salah?
Dara yang melihat keraguan Liya, hanya terdiam. "Jangan kau paksakan Liya, tidak apa jika tidak bisa."
Liya menggeleng pelan. "Tidak nona. Aku bisa melakukannya. Tapi aku tidak bisa menceritakan jika tanpa adanya bukti. Jadi aku akan mengajak nona kesuatu tempat dimana hal itu akan menjadi bukti nyatanya." Ujar Liya.
"Baik Liya. Kita akan pergi kemana?"
Setelah itu Liya bangkit dari duduknya dan membantu Dara untuk berdiri. "Ikuti saya Nona."
"Iya Liya." Dara mengikuti Liya dibelakang.
Dibukanya pintu kamarnya dengan perlahan. Tanpa menimbulkan suara apapun. "Saya akan mengecek aman apa tidak nona. Nona tunggu disini dulu."
Setelah itu Liya dan Dara mulai berjalan menuju tempat tersebut.
Kedua bola matanya, bergerak lincah memandangi interior mansion milik Sean. Cantik dan mewah. Itulah yang ia pikirkan setiap melihat interior mansion milik Sean. Dara berjalan secara pelan-pelan. Tidak ingin terlaku buru-buru. Rasa sakit dikakinya sudah lebih baik. Tidak terlalu sakit seperti tadi pagi.
Liya berhenti, begitupun juga Dara yang ikut berhenti dibelakang Liya.
Kening Dara mengkerut, heran.
"Apa ini jalan keluarnya Liya?" Tanya Dara.
Liya menggeleng pelan. "Bukan nona." Jawab Liya. Liya tidak tau, apa yang ia lakukan ini sudah benar atau tidak. Tapi, menurutnya Dara harus tau ini. Cepat atau lambat Dara pasti akan mengetahui.
"Kalau bukan jalan keluarnya, lalu ini apa?" Tanya Dara pada dirinya sendiri.
Dengan perlahan, dibukanya pintu tersebut.
Kriet..
Dara langsung masuk kedalam ruangan tersebut yang diikuti oleh Liya. Lalu, Liya menutup dan mengunci ruangan itu. Takut jika ada bodyguard atau maid yang lain memergokinya.
"Ruangan ini kenapa gelap sekali Liya?"
"Sebentar nona."
Klik
Lampu menyala.
Dan terlihatlah sebuah kamar perempuan didepannya.
Deg
"Liya ini kamar siapa?" Tanya Dara. Kedua bola matanya menelusuri semua ruangan ini. Sedangkan kedua kakinya membeku, terpaku ditempatnya.
Liya menghela nafasnya. Mencoba untuk menimalisir keresahannya.
"Ini kamar milik Raya, kekasih tuan, nona."
Deg
"Ini kamar Raya?" Ujar Dara. Dara terkejut dengan semuanya. Semua terlalu mendadak.
"Iya nona. Selama Raya masih hidup, Raya terkadang menginap di mansion milik tuan."
Deg
Kenapa sakit sekali rasanya?
Kedua kakinya melangkah perlahan. Mencoba untuk melihat lebih dalam.
"Semua ini milik Raya? Baju? Make-up, tas bahkan sepatu. Ini semua milik Raya?" Kata Dara dengan lirih. Tak menyangka jika Sean yang telah menjadi suami sahnya masih menyimpan semua ini.
Buliran kristal di kedua bola matanya mulai terjun bebas membasahi kedua matanya.
Ada yang retak tapi bukan kaca. Ada yang berdarah tapi bukan luka.
"Iya nona. Ini semua milik Raya."
Langkahnya terhenti tepat di sebuah dinding yang telah terpajang puluhan foto Raya bersama Sean. Foto kebersamaan Raya dan dan Sean. Dar mencoba untuk memperjelas penglihatannya. Dan ternyata benar, itu Raya sahabatnya.
Dipandanginya setiap foto yang terpajang di dinding kamar itu. Mulai dari foto berciuman, saling memeluk, berenang bersama, dinner dan foto intim yang lain. Semuanya tidak luput dari penglihatannya.
"Hiks." Dara menangis ditempatnya. Sedangkan Liya diam ditempatnya. Tidak tau harus berbuat apa.
Namun pandangannya melihat sebuah kaset yang diberi tanda love dengan tulisan "Ciuman panas" dan Dara yang mengerti akan hal itu, langsung memasukkan kaset tersebut. Ternyata didepannya, dinding kamar itu telah tersedia sebuah layar tancap.
Kata hatinya menyuruhnya untuk memutar kaset tersebut. Ditekannya tombol tersebut dan berputarlah sebuah video. Video Raya bersama Sean yang tengah berciuman panas yang mengarah ke adegan panas.
Ternyata aku bukan yang pertama untukmu Sean.
Tubuhnya jatuh begitu saja ke atas lantai. Tangisnya langsung pecah begitu saja tanpa isakan. Dara mencoba untuk meredam suara tangisannya.
Sakit Sean. Sakit. Jadi, aku hanya kau jadikan bayang-bayangmu?
"Liya, bantu aku lari dari tempat ini Liya."
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤