My Possesive Husband

My Possesive Husband
60. PEMBUNUH BERDARAH DINGIN


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Nb: BACA SAMBIL DENGARKAN LAGU MELLOW AGAR FEELNYA SEMAKIN DAPAT!


Sean duduk di kursi kebesarannya dengan menikmati segelas wine ditangannya. Wajahnya yang datar dan dingin menatap perempuan yang telah disiksa nya selama kurang lebih setengah jam.


Liya, dengan badan yang telah mulai melemah, jatuh kelantai begitu saja. Wajahnya dipenuhi dengan air mata karena harus merasakan cambukan beberapa kali ditubuhnya. Tubuhnya tampak memar dan mengeluarkan darah karena cambukan kuat yang dilakukan oleh salah satu bodyguard Sean.


"Ampun tuan. Ampuni saya." Lirihnya pelan. Liya seakan tak sanggup untuk menopang berat badannya. Liya ingin segera mengakhiri hidupnya daripada disiksa terus seperti ini. Sean, seakan-akan membuatnya mati dengan secara perlahan-lahan.


Sedangkan Roy, hanya diam ditempatnya. Tangannya mengepal erat. Ingin membantu Liya, tapi sayang, itulah akibat yang harus Liya terima karena telah menentang dan mengkhianati Sean, sang Bos Mafia Crowned Eagle.


Sean tersenyum miring ketika mendengar suara permohonan dari Liya dengan sesekali menyesap minumannya.


"Tuan, saya mohon ampuni saya." Lirihnya pelan dengan suara yang terputus-putus. Sesak. Sakit. Perih. Campur menjadi satu. Namun, tak digubris sama sekali oleh Sean.


Perlahan wajahnya mendongak, menatap kedua bola mata yang Liya rindukan. Roy, laki-laki yang ia cintai selama kerja di mansion milik Sean. Liya tak kuasa menahan tangis ketika menatap wajah itu yang tengah menatapnya dengan pandangan yang tak terbaca.


Aku mohon tolong aku Roy.


Deg


Roy yang melihat tatapan itu, hanya terdiam kaku.


Liya semakin menangis histeris ketika melihat tubuh Roy yang tak meresponnya. Memori ingatannya langsung berputar saat kebersamaanya bersama Roy.


Di taman bagian belakang mansion. Roy sedang berdiri tak jauh darinya. Dengan perasaan bahagia, Liya datang menghampiri Roy dengan senyuman.


Dengan jahilnya, Liya menutup kedua mata Roy dengan menggunakan kedua tangannya dari belakang.


Roy langsung menyentuh kedua tangan yang menutupi kedua matanya. Roy, sudah bisa menebaknya, siapa lagi kalau bukan Liya?


"Liya." Ujar Roy dengan suara beratnya.


"Bukan." Jawab Liya dengan merubah suaranya.


"Oh benarkah?" Kata Roy, lalu langsung dipegang dan ditariknya badan Liya dengan cepat. Tubuh Liya yang tak seimbang langsung tertarik dan berhadapan dengan Roy.


"Hai tampan." Sapa Liya dengan senyuman cantiknya. Roy tak kuasa menahan senyumannya ketika mendengar sapaan itu.


"Hai juga cantik." Jawab Roy dengan mencubit gemas salah satu pipi Liya.


"Roy, jangan mulai usil lagi." Liya dengan wajahnya yang kesal, langsung melepaskan cubitan Roy di pipinya. Liya tidak suka kalau ada orang yang mencubit pipinya. Takut semakin melebar.


Roy langsung tertawa mendengar nada kesal dari Liya. Sungguh, ingin rasanya Roy menciumi seluruh wajah cantik itu. Dipegangnya wajah cantik itu dengan sayang. Liya tertegun dengan hal yang dilakukan secara tiba-tiba sama Roy. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Otak liarnya memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Roy selanjutnya.


Cup


Roy mengecup kening itu dengan sayang.


"I love you Liya." Ujar Roy tiba-tiba. Membuat tubuh Liya menegang, diam membisu.


Lamunannya langsung buyar ketika mendengar suara berat milik Sean.


"Kemana istriku pergi?" Tanya Sean dengan suara beratnya.


Liya menggeleng. Tidak ingin memberi tau keberadaan Dara sekarang. "Saya tidak tau tuan." Lirihnya pelan.


Ctar


"Arggh!!" Jeritnya pilu. Karena lagi dan lagi tubuhnya harus merasakan cambukan menyakitkan itu.


"Dimana istriku!!" Bentak Sean dengan suara yang menggelegar. Membuat maid dan para bodyguard lain hanya menunduk takut. Tak ingin menyaksikan siksaan Liya yang begitu menyakitkan.


Liya menggelengkan kepalanya. Tangisnya semakin pecah begitu saja.


Hiks, sakit Tuhan.


Ctar


"Argghh!!"


Liya menggeleng pelan. Kesadarannya seakan mulai terenggut.


Ctar


"Arghh!!"


Tuhan, ambil nyawaku. Aku tak sanggup Tuhan. Ini menyakitkan Tuhan.


"Baiklah. Tidak apa kau tidak mau memberi taunya. Aku bisa mencarinya sendiri. Karna apa? Sedari awal, Dara adalah milikku. Meskipun Dara lari dariku, maka cepat atau lambat akan aku temukan. Kenapa? Dara lari untuk ku kejar, Dara bersembunyi untuk ku temukan. Jadi, walaupun Dara lari, bersembunyi dengan sebaik apapun, pasti akan ku temukan. Karna aku akan menyeret dan membawa Dara pulang bahkan dengan cara kotor atau dengan cara keras sekalipun." Ujarnya dengan sebuah seringai yang menakutkan. Membuat tubuh Liya menegang ketakutan. Begitupun juga maid dan bodyguard yang lain yang dapat merasakan auara menakutkan itu.


"Pertanyaan terakhir, apa kau menceritakan tentang Raya ke istriku?" Tanya Sean dengan suara tegasnya. Menatap rendah kearah Liya.


Liya mengangguk pelan. Sontak saja hal itu sukses membuat iblis yang tertidur di tubuhnya terbangun. Aura menakutkan langsung sangat kental terasa.


"Kata terakhir yang ingin kau ucapkan?" Ujar Sean dengan seringai tipisnya. Salah satu tangannya telah mengeluarkan pistol kesayangannya.


Liya teringat janjinya dengan Dara.


Dara mengangguk dan tersenyum. "Iya Liya, aku janji. Liya juga harus berjanji harus hidup dengan sebaik mungkin."


Liya tersenyum. "Iya nona. Saya janji." Jawab Liya.


Liya semakin menangis mengingat janji itu.


"Maaf nona, saya tidak bisa menepati janji itu."


Setelah itu Liya menatap wajah Roy dengan pandangan sendunya. Liya tersenyum.


Roy terdiam dengan senyuman cantik. Hatinya seakan tercabik-cabik melihat senyuman itu. Senyuman tulus yang diiringi dengan derai air mata yang membasahi kedua bola mata cantiknya.


"I love you too Roy." Kata Liya tanpa suara. Hanya bibir mungilnya yang bergerak.


Dor


Tembakan langsung melesat menebus jantungnya. Tubuhnya langsung jatuh tak berdaya. Nafasnya tersendat. Kedua bola matanya yang indah langsung tertutup.


Liya, telah tiada.


Roy terdiam kaku.Tubuhnya membeku menyaksikan tubuh Liya yang telah jatuh ke lantai dengan darah yang mulai mengalir. Roy jelas tau dengan gerakan bibir itu.


"I love you too Roy."


Sean dengan pandangan dinginnya menatap tubuh Liya yang jatuh ke lantai.


"Bersihkan mayat itu. Aku tidak ingin ada bekas darah menjijikan di lantai mansionku. Dan kau Roy, kau cari jejak istriku."


Lantas, Sean berjalan menaiki tangga. Sean ingin menuju kamarnya. Ingin membersihkan tubuhnya. Sedangkan barang yang telah ia beli untuk istrinya ia tinggalkan begitu saja.


"Baik tuan." Jawab Roy. Jantungnya berdetak tidak beraturan saat melihat tubuh lemas itu. Kedua kakinya melangkah dengan berat.


Apa itu Liya? Bukankah baru saja tadi Liya bersama dirinya? Makan bersama dirinya. Bercanda dan menjahilinya. Katakan bahwa ini semua bohong! Ini hanya mimpi!


Tubuh Roy jatuh terduduk didepan tubuh Liya yang telah tak bernyawa. Buliran kristal jatuh membasahi kedua mata Roy. Digenggamnya tangan itu. Direngkuhnya tubuh mungil itu yang selalu memberinya kehangatan.


Roy melihat sebuah kertas yang digenggam di tangan Liya. Dibukanya dengan perlahan tangan itu.


Setelah itu dibukanya kertas itu. Dibacanya sebuah surat yang baru saja ditulis oleh Liya.


Tangisnya langsung pecah begitu saja setelah membaca surat itu. Dipeluknya dengan erat.


Maid dan bodyguard disana hanya diam tak ingin menenangkan. Mereka tau betul, jika Liya dan Roy sangatlah dekat sedari dulu.


Terimakasih Roy karena telah memberikan warna dihidup ku. Jujur, saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah tertarik denganmu. Wajah dingin mu, datar mu. Membuatku tertarik untuk mendekatimu. Kau tau? Sejak saat itu aku ingin mempercantik diriku agar aku bisa tampak cantik di hadapanmu. Ingin tampil sempurna di matamu. Tapi apalah dayaku yang hanya maid disini? Sedangkan kau adalah orang kepercayaan Tuan Sean. Pasti kau akan memprioritaskan pekerjaanmu. Oh iya, Terimakasih untuk hadiah yang kau beri padaku saat usiaku menginjak 25 tahun beberapa bulan yang lalu. aku sangat menyukainya. Akan aku jaga dengan sebaik mungkin. Roy, aku juga menyayangimu. Aku ingin hidup bersamamu. Tapi apakah itu terlalu berlebihan? Maafkan aku, akulah penyusup itu. Akulah yang membantu nona Dara kabur dari mansion. Karna aku tau apa yang dirasakan nona Dara. Aku tau seberapa sakitnya. Tapi, setidaknya aku merasa tenang sekarang. Kau menerima ciumanku. Ciuman perpisahan kita. Hiduplah dengan baik. Kau tampan. Kau laki-laki yang baik. Banyak yang menyukaimu, termasuk aku. Jangan telat makan dan jaga kesehatanmu Roy. Aku menyayangimu selalu.


-Liya-


Dipergelangan tangan Liya, terdapat gelang yang ia selalu pakai setiap hari. Gelang pemberian Roy, laki-laki yang ia cinta.


***


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤