
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. ππ
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku π€
dan jangan lupa beri bintang 5 ya π
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata π€
Happy Reading
***
Hari telah berganti. Pagi telah menjelang.
Dimansionnya kini telah berkumpul maid dan bodyguardnya. Semua tampak menunduk takut, tak ada yang berani menegakkan kepalanya sama sekali.
Sedangkan Sean tengah duduk dikursi kebesarannya. Tampak gagah dengan tatapannya yang tajam. Untuk yang kedua kalinya mereka dikumpulkan seperti ini.
"Dimana Afi?" Tanya Sean dengan suara yang dingin.
Hening. Semua hanya terdiam membisu.
"Apa kalian tidak mempunyai mulut hingga tak ada yang mau menjawabnya?" Ujar Sean menggerakkan segelas minuman di tangannya. "Ataukah aku perlu merobek mulut kalian satu persatu agar kalian mau berbicara?"Ujarnya dengan seringai tipis dibibirnya.
Lantas, salah satu di antara mereka memberanikan diri untuk melangkah maju. "Maaf tuan. Kami benar-benar tidak ada yang mengetahuinya. Setelah kejadian kemarin malam, kami tidak melihatnya sama sekali." Ucapmya dengan suara yang sedikit bergetar takut.
Sebuah senyuman tipis terukir dibibirnya. "Aku meminta kalian untuk menjaga istri dan anakku, lalu apa yang kalian lakukan kemarin hah?!" Bentak Sean dengan suara yang menggelegar.
"Maafkan kami tuan." Ucap mereka serempak dengan menunduk, takut.
Sean menggeleng pelan. "Kalian tau bukan, resiko kalian jika lalai menjaga istriku?" Aura menyeramkan dan dominant langsung keluar dari tubuh Sean. Hal itu sukses membuat seisi ruangan itu merinding ketakutan.
"Temukan Afi dalam keadaan hidup-hidup atau nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya." Titahnya dengan suara yang tegas tak terbantahkan.
"Baik tuan." Jawab mereka dengan serempak. Setidaknya mereka diberi kesampatan untuk hidup lebih lama daripada langsung ditembak mati sekarang.
Lalu, dari arah belakang Roy datang berjalan menghampirinya. "Tuan, pemakaman akan dilakukan." Ujar Roy dengan menunduk hormat.
Setelah itu Sean segera bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan. Membuat maid dan bodyguard yang berada disana sedikit bernafas lega.
***
Pemakaman berlangsung.
Kedua tangannya mengepal kuat. Sean benar-benar berharap jika ini hanyalah sebuah mimpi buruknya semata. Berkali-kali dirinya berharp ingin bangun dari tidurnya dalam keadaan istri dan anaknya yang baik-baik saja. Tapi ternyata tidak. Ini semua memanglah nyata telah terjadi.
Maafkan Daddy yang telah lalai dalam menjagamu dan mommy-mu.
Setelah memakamkan kedua anaknya di taman mansionnya, Sean segera kembali ke rumah sakit. Sean memberi nama Kenzi dan Meira pada kedua anaknya. Sesuai dengan permintaan istrinya waktu itu.
Ya, anak kembar mereka adalah laki-laki dan perempuan. Malaikat kecilnya yang telah ia nanti-nanti akan kehadirannya kini telah berpulang ke rumah-Nya. Bahkan Tuhan tidak mengijinkannya untuk melihat kedua anaknya. Tidak mengijinkannya untuk merasakan genggaman tangan mungil bayi mereka. Lantas, apa yang harus ia katakan jika istrinya sadar nanti?
Pemakaman itu hanya dihadiri oleh Sean, Roy dan Elden, daddy-nya.
Elden bisa merasakan apa yang anaknya rasakan sekarang. Sakit, sedih dan kecewa tercampur menjadi satu.
"Aku akan pergi kerumah sakit dulu dad.." Ujar Sean dengan tenang.
"Iya son. Kau hati-hati. Sampaikan pada Mommy mu kalau Daddy akan mengurusi beberapa hal penting sebentar."
"Iya Dad. Akan aku sampaikan ke Mommy."
Setelah itu, Sean segera berbalik dan berjalan meninggalkan taman untuk menuju garasi mobilnya.
Tidak ada binar keceriaan yang selalu ia jumpai disetiap pagi.
Tidak ada kecupan dan usapan halus yang ia rasakan dilengannya disetiap dirinya terbangun dari tidurnya.
Tidak ada ucapan dan tatapan penuh cinta yang ia lihat disetiap kedua matanya terbuka.
Yang Sean rasakan sekarang hanyalah kekosongan dan kesunyian semata.
Dengan wajahnya yang datar dan dingin, Sean segera berjalan dan masuk kedalam mobil sport mewahnya.
Setelah mengetahui penyebab keguguran istrinya, Sean benar-benar dibuat murka. Sean bersumpah akan menemukan mereka yang telah mencelakai istri dan kedua anaknya. Sean bersumpah akan ia habisi dengan menggunakan tangannya sendiri.
Tak ada lagi senyuman yang terukir dibibir tipisnya. Tak ada lagi binar keceriaan di kedua bola matanya. Yang ada sekarang hanyalah wajah dingin dengan tatapan yang tajam yang menghiasi wajahnya.
Dua puluh lima menit kemudian Sean telah sampai dirumah sakit.
Dengan cepat Sean segera berjalan masuk kedalam rumah sakit untuk menuju ruang inap istrinya.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka. Disana ada Lexa, mommy-nya yang menemani istrinya.
"Sean." Panggil Lexa ketika melihat anaknya yang terlihat kacau.
"Mom." Lirih Sean dengan suara yang bergetar. Dan lagi, buliran kristal langsung jatuh membasahi kedua bola matanya.
Lantas Lexa langsung berdiri dan memeluk anaknya.
Dan inilah Sean.
Sean langsung menangis dipelukan mommy-nya. Wajah datar dan dingin selama hari ini yang ia pasang kini berganti.
Tangisnya langsung pecah dipelukan mommy-nya.
Lexa tak kuasa melihat keadaan anaknya yang seperti ini. Diusapnya dengan sayang punggung anaknya. Sean yang terkenal dingin dan menakutkan tampak lemah didepan mommy-nya.
Setelah merasa sedikit tenang, Sean melepas pelukannya.
"Lihat mommy sayang." Ujar Lexa dengan menangkup wajah anaknya.
Lantas, Sean menatap wajah Mommy-nya.
"Kamu harus kuat Sean. Kamu harus kuat demi istrimu. Kamu harus tegar demi istrimu. Jika kamu ikut terpuruk, lantas siapa yang akan menguatkan istrimu? Siapa yang mengjibur istrimu? Istrimu jauh lebih membutuhkanmu Sean." Ucap Lexa dengan mengusap wajah anaknya dengan sayang. Lexa tak pernah menyangka jika hal semenyakitkan ini terjadi pada anaknya.
"Jangan sedih, oke? Ada mommy disini." Tambahnya.
Sean mengangguk. "Iya Momm." Jawab Sean.
Lexa tersenyum mendengarnya.
"Apa kamu sudah sarapan?" Tanya Lexa dengan menarik pergelangan tangan anaknya agar ikut duduk disofa yang tersedia disana.
"Tidak mom. Aku tidak lapar sama sekali." Ucap Sean.
Lexa tersenyum. Memilih untuk mengalah.
"Apa sahabatmu tau kejadian ini?" Tanya Lexa dengan menatap Dara yang tetbaring lemah disana.
Sean mengangguk. "Tau mom. Mereka pasti tau meskipun aku tidak memberi taunya."
Lexa mengangguk. "Daddy mu pergi kemana?" Tanya Lexa ketika baru menyadari tidak melihat suaminya.
"Daddy ada beberapa urusan penting yang harus dilakukan mom." Jawab Sean dengan bangkit dan berjalan mendekati istrinya.
Deg
Perasaan Lexa tidak enak. Apakah Elden yang akan menghabisi pelakunya?
Lexa benar-benar tak membayangkan apa yang akan Elden lakukan jika menemukan pelakunya itu. Terlebih lagi jika Elden, suaminya adalah seorang psycolath dan posssesive terhadap keluarganya.
***
Kira-kira apa yang Elden lakukan? Apa yang sedang Mafia Crowned Eagle rencanakan? Dan apa yang akan Sean lakukan selanjutnya?
500 Komentar + 2200 pengikut di instagram akan double UP hari iniπ€
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya π
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga π
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana π
Aku tunggu notif dari kalian ya π Terimakasih teman-teman.. β€