
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Malam telah menjelang. Kini Sean dan Dara telah terlelap di tidurnya. Dengan possesive Sean terus memeluk tubuh mungil istrinya yang tidur memunggunginya.
Di pintu gerbang mansion terdapat suara kegaduhan.
Srak
Srak
Srak
Dengan kegilaannya dan beberapa bawahannya Derrick menyerang bodyguard Sean.
Roy yang sedang duduk termenung di dalam kamarnya tidak menaruh kecurigaan sama sekali.
"Habisi mereka semua." Titah Derrick.
Disana ada Alice yang memegang sebuah pistol. "Akan aku balaskan kematian keluargaku terhadap mu Sean." Ucapnya.
Bawahan Derrick yang berjumlah 100 orang langsung menghabisi bodyguard Sean.
Suara tembakan memenuhi mansion. Sontak saja hal tersebut membuat maid yang berada di penginapan segera berlari ke arah persembunyian. Tempat persembunyian yang telah disiapkan Sean sedari dulu jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Roy yang merasa tidak beres dengan suara kegaduhan itu, lantas langsung memutuskan untuk segera keluar dari dalam kamarnya. Tidak lupa juga menyiapkan dua pistol yang telah terisi penuh.
Baru saja keluar dari dalam kamarnya, Roy langsung dikejutkan dengan salah satu temannya yang tengah berlari ke arahnya. Kedua bola matanya membulat sempurna ketika mendapati temannya yang tertembak di bagian perutnya. "Apa yang sedang terjadi?!" Tanya Roy ke temannya.
Tubuhnya merosot ke lantai. Nafasnya terengah-engah. "Ada Derrick, musuh tuan Sean. Disana juga ada perempuan gila yang membawa pistol." Ujarnya dengan wajah yang mulai memucat. "Segera beritahu tuan Sean. Sepertinya mereka mengincar nona Dara." Tambahnya lagi.
Setelah mengatakan hal itu temannya langsung tidak sadarkan diri.
"Setengah dari kalian cepat bantu dia. Bawa ke ruang rahasia. Siapkan tembakan dan bom rahasia. Setengahnya lagi, lindungi aku untuk menuju kamar tuan Sean." Titah Roy ke beberapa teman yang sesama bodyguardnya.
"Baik Roy." Jawab mereka. Mereka segera melakukan apa yang diperintahkan Roy.
Dengan cepat Roy segera menuju kamar Sean dengan beberapa temannya yang melindunginya dari tembakan musuhnya.
Suara tembakan memenuhi penjuru mansion. Pertarungan sengit antar sesama bodyguard sedang terjadi di halaman mansion, tidak bisa terelakkan.
Sedangkan di kamar Sean, Sean tengah mempersiapkan senjatanya. Tidak lupa juga menghubungi Daddy dan sahabat-sahabatnya. Namun, sayangnya yang hanya bisa di hubungi hanyalah Darren. Setidaknya Sean bisa menghubungi salah satu sahabatnya.
Tubuh Dara bergetar hebat. Dipegangnya perutnya dengan khawatir. Buliran kristal jatuh membasahi kedua bola matanya. Kepalanya menggeleng pelan. "Sean bagaimana jika bayi kita tidak selamat? Bagaimana jika aku.." Ujarnya dengan suara yang tercekat di tenggorokannya.
"Sayang dengarkan aku." Digenggamnya kedua tangan istrinya. Tubuhnya bersimpuh dihadapan istrinya. "Aku janji bayi kita akan selamat. Kamu juga pasti akan selamat. Kamu percaya padaku saja, oke?" Ucap Sean dengan tersenyum. Meskipun Sean kini sebenarnya juga merasa takut. Musuhnya menyerang tanpa Sean ketahui gerakannya. "Percaya padaku? Hm?" Ucap Sean lagi. Di usapnya buliran kristal yang membasahi kedua bola mata istrinya.
Dara mengangguk lemah. "Lalu bagaimana dengan kamu Sean?" Tanya Dara dengan khawatir.
"Aku akan menghadang mereka. Kamu bisa segera berlari lewat pintu rahasia."
Dara menggeleng lemah. "Aku pergi kamu juga harus pergi. Hiks!" Isaknya lirih. Tangisnya semakin pecah. Pikiran negatif menggentayanginya. Apalagi setelah melihat kondisi di luar mansion melalui jendela besar kamarnya. Terlihat sangat brutal bahkan lebih brutal daripada pembantaian di keluarganya dulu.
"Hei, jangan menangis sayang. Ingat janjiku bukan?" Ditatapnya wajah istrinya dengan penuh cinta. Hatinya juga terasa remuk melihat keadaan istrinya yang sekarang.
Dara mengangguk lemah.
"Aku Sean Crishtian, berjanji pada istriku Andara Claire Crishtian, bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan istriku apapun yang terjadi." Ucapnya dengan menatap serius wajah istrinya.
Tangis Dara semakin pecah setelah mendengar janji suaminya. Janji yang sama yang di ucapkan di satu tahun yang lalu. Bahkan di tempat yang sama.
Dipeluknya tubuh istrinya. "Aku janji akan selalu sama kamu. Aku janji saat anak kita lahir di dunia aku akan berada disamping kamu. Menemani kamu di ruang persalinan. Dan nanti setelah aku membereskan mereka, apapun yang kamu minta aku akan menurutinya." Ujar Sean dengan melapas pelukannya. Kini jari kelingking mereka saling tertaut satu sama lain. Melakukan janji kelingking seperti anak kecil.
"If you have promised then hubby must keep. If you break it I will be angry." Kata Dara dengan menahan isak tangisnya.
"You can trust me honey." Dengan tersenyum Sean mengatakannya.
Dor
Dor
Dor
Bunyi nyaring tembakan mulai masuk kedalam mansion.
Kilasan tragedi malam pembantaian itu lagi-lagi datang memenuhi ingatannya. Trauma masa lalu datang menghantuinya. Tubuhnya bergetar kuat.
Hati Sean teriris pilu melihat kondisi perempuan yang ia cintai. Dipeluknya dengan erat tubuh mungil yang bergetar takut.
Brak
Pintu kamar terbuka secara paksa. Dengan sigap Sean langsung bangkit dan menodongkan pistolnya. Lalu, tubuh mungil istrinya ia sembunyikan di belakang tubuhnya yang kekar.
"Ini saya tuan." Ujar Roy.
Jantung Sean seakan keluar dari tempatnya. Namun, setidaknya bukan musuhnya yang datang menemuinya sekarang.
"Situasi sekarang sudah sangat membahayakan tuan." Lapor Roy. Pandangannya tertuju ke Dara yang bersembunyi di balik tubuh Sean.
"Aku tau Roy. Kau cepat pergi dari sini dengan istriku. Bawa dia ketempat aman. Bawa ke mansion Nick. Aku sudah menghubungi Derrick. Di mansion Daddy ternyata di kepung juga oleh anak buah Derrick."
"Baik tuan." Jawab Roy dengan patuh.
Setelah itu Sean berjalan mendekat ke arah Roy. "Lindungi istriku Roy. Apapun yang terjadi lindungi dia. Tolong lindungi istri dan bayi ku. Jika aku tidak kembali tolong jaga istri dan anak ku." Bisik Sean. "Aku titipkan mereka sementara pada mu dan aku percayakan pada mu."
Roy tertegun dengan permintaan Sean yang begitu ambigu. Namun sekali lagi Roy hanya bisa mengangguk dan menjalankan sesuai perintah. "Baik tuan. Saya mengerti." Jawab Roy.
"Cepat lakukan sekarang." Titah Sean.
Dengan cepat Roy segera menghampiri Dara dan membantu Dara untuk berjalan.
"I love you Sean Crishtian. Aku akan menunggumu." Ujar Dara dengan buliran kristal yang semakin deras membasahi kedua bola matanya.
"I love you too Dara. Aku akan pulang. Selamat atau tidak aku akan pulang untuk kembali bersama mu. Tunggu aku sayang." Jawab Sean.
Lantas Roy dan Dara segera keluar dari dalam kamar. Di ikuti oleh lima bodyguard yang akan membantu Roy.
Sean menghela nafasnya pelan. Diusapnya air mata yang jatuh membasahi kedua bola matanya tadi. Sungguh biasanya Sean tidak pernah selemah ini. "Habisi mereka lalu kembali ke istrimu." Kata Sean pada dirinya sendiri.
(Kalau mau tau janjinya bisa baca di Part 155/146. Janji Sean)
JANGAN LUPA TONTON SPOILER PART SELANJUTNYA DI CHANEL YOUTUBE AKU YA 😔
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
@nickalbertreal
@raraagathareal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤