My Possesive Husband

My Possesive Husband
116. BLOOD


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Sean terdiam dengan pikirannya sendiri. Setelah Mommy-nya berkata seperti itu, hal itu sukses membuat Sean untuk berfikir.


"Kamu harus kuat Sean. Kamu harus kuat demi istrimu. Kamu harus tegar demi istrimu. Jika kamu ikut terpuruk, lantas siapa yang akan menguatkan istrimu? Siapa yang mengjibur istrimu? Istrimu jauh lebih membutuhkanmu Sean."


Iya, Sean harus kuat demi istrinya. Sean tidak boleh terpuruk terlalu jauh karena ada istrinya yang akan sangat membutuhkannya.


Digenggamnya jemari istrinya yang tampak pucat itu.



Tangan mungil dan putih mulus yang selalu ia rindukan.


Bangun sayang, cepat bangun, aku disini butuh kamu sayang. Aku memerlukanmu.


Dikecupnya dengan sayang jemari istrinya.


"I love you sayang." Lirihnya pelan.


Ditatapnya wajah cantik itu. Wajah cantik yang selalu menyapanya di setiap pagi. Wajah cantik yang selalu ia tatap ketika akan tidur.


Namun sekarang? Sean bisa apa? Selain berdoa dan berharap akan kesembuhan istrinya.


Lexa menatap punggung lebar anaknya yang teelihat sedikit bergetar.


Ya, Lexa tau jika Sean, anaknya sekarang tengah menangis lagi.


Lexa juga ikut merasakan apa yang anaknya rasakan sekarang. Hati seorang ibu mana yang tidak ikut sedih jika melihat anaknya sendiri mengalami kejadian naas seperti ini? Bahkan Lexa ikut menangis setiap melihat Dara dan Sean yang seperti ini.


Untuk kedua kalinya dalam sepanjang hidupnya, Lexa melihat keadaam anaknya yang seperti ini.


Ditinggalkan oleh orang yang sangat disayang. Bahkan ini lebih parah dari yang sebelumnya.


Dulu ditinggalkan Raya, sekarang ditinggalkan kedua malaikat kecilnya yang ia nanti-nanti akan kehadirannya.


Lantas, Lexa memutuskan untuk keluar dalam kamar inap. Memberikan ruang untuk anajnya bersama istrinya.


Perasaan kecewa, teepukul, menjadi satu. Sean benar-benar seakan dibuat gila oleh keadaannya sekarang.


Jika Sean mengetahui akan terjadi hal seperti ini, Sean memilih tidak akan pernah hadir dalam rapat kerja diperusahaanya. Sean memilih tidak akan pulang larut malam seperti kemarin. Sean pasti akan memilih menemani istrinya seharian. Menjaganya dan bersama istrinya.


Namun, nasi telah menjadi bubur. Sean tidak bisa mencegahnya. Sean tidak bisa melakukan apapun selain rasa penyesalan dan rasa bersalah yang melingkupi dirinya.


Setelah dirasa cukup tenang, lantas Sean bangkit dari tempat duduknya. Mengusap pelan wajahnya yang lagi-lagi basah akan air mata. Rasanya ini lebih menyakitkan daripada ditinggalkan Raya.


Ceklek


Pintu terbuka. Disana ada dua perawat yang akan mengecek kondisi istrinya.


"Permisi tuan, saya akan mengecek keadaan istri tuan." Ucap perawat itu dengan sopan.


Sean hanya diam dan menatap tajam perawat tersebut.


Sedangkan Lexa segera masuk kedalam ruangan.


"Iya silahkan."Jawab Lexa mewakili anaknya.


Setelah itu perawat tersebut mengecek keadaan Dara.


"Bagaimana, apa ada kemajuan?" Tanya Lexa pada perawat tersebut.


Perawat tersebut menggeleng. "Sepertinya belum. Keadaannya masih tetap seperti semalam. Tapi, nanti akan ada dokter Ricky yang akan datang untuk melakukan pengecekan lebih lanjut." Ujar perawat tersebut dengan sopan.


"Baiklah, terimakasih." Kata Lexa dengan tersenyum.


"Sama-sama nyonya. Saya permisi dulu." Pamit perawat tersebut dengan sopan.


Setelah kepergian perawat tersebut, Lexa mengusap pelan lengan anaknya. "Yang sabar Sean. Semuanya membutuhkan proses. Jangan sedih, oke?" Ucap Lexa dengan menatap wajah kacau anaknya.


"Iya mom." Jawab Sean singkat. "Aku ke kamar mandi dulu mom."


Lexa mengangguk.


Ditutupnya pelan pintu kamar mandi itu.


Iya. ini mungkin menjadi balasannya karena pernah menyiksa istrinya dulu. Pernah melempar istrinya ke kaca bahkan pernah mematahkan kaki istrinya waktu itu. Pernah menjadikan istrinya bayang-bayang dari masa lalunya. Sungguh, Sean benar-benar menyesalinya sekarang. Apa yang ia lakukan dulu sekarang telah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


"Brengsek! Sialan! Sialan!" Umpatnya beberapa kali dengan memukul kaca kamar mandi hingga pecah. Menimbulkan bunyi nyaring yang langsung membuat Lexa merasa khawatir.


"Sean, kamu ngapain?" tanya Lexa dengan khawatir.


Pintu terkunci dari dalam. Diketuknya beberapa kali pintu kamar mandi itu.


"Sean, jawab Mommy." Ucap Lexa dengab khawatir.


Sean menarik nafasnya pelan. Berusaha mengatur deru nafasnya yang tidak beraturan ketika emosi dirinya mulai menguasi tubuhnya.


Darah mulai keluar menghiasi tangannya. Bukti, jika Sean mumukul kaca itu dengan menggunakan seluruh tenaganya. "Aku tidak apa mom." Jawab Sean.


Lalu, dibasuh wajahnya beberapa kali agar tidak terlihat jika dirinya telah menangis. Ingat, Sean tak akan pernah menunjukkan sisi kerapuhannya ke orang lain.


Dibukanya pintu kamar mandi itu dan terlihat mommy-nya yang tengah berdiri didepan pintu kamar mandi dengan khawatir.


Dipeluknya tubuh mommy-nya dengan erat. "Maafkan Sean mommy. Maafkan Sean yang telah membuat mommy khawatir." Lirih Sean.


"Tidak apa sayang." Ucao Lexa dengan mengusap punggung lebar anaknya.


Dilepasnya pelukan itu. Lalu, Lexa melihat darah yang berada di tangan anaknya.


Ya, Lexa sydah menduganya jika anaknya tadi memukul kaca dalam kamar mandi.


"Mommy akan mengobatimu sayang." Kata Lexa dengan buliran kristal yang membasahi kedua bola matanya. Hatinya seakan teriris pilu melihat keadaan anaknya yang sekarang.


Sean memilih diam dan pasrah mengikuti apa yang mommy-nya lakukan.


Sean duduk disofa. Sedangkan mommy-nya mengambil perban dan beberapa obat merah.


Dengan teliti Lexa mengobati tangan anaknya yang terluka.


Lexa jadi teringat ketika Elden dulu pernah seperti ini dan sekarang Lexa juga melihat anaknya yang seperti ini.


"Jangan kamu lakain diri kamu sendiri Sean. Jika Dara melihatnya sekarang, Dara pasti akan sedih." Ucap Lexa pelan dengan mengusap tangan anaknya yang terluka yang telah ia perban.


Sean hanya diam, membisu.


Drrtt


Ponselnya berdering.


Lalu dengan cepat Sean mengangkatnya ketika nama Damian yang tertera disana.


"Kumpul di markas 3.1 sekarang. Kita telah mengetahui apa yang terjadi Sean. Akan ada Nick, Darren dan aku. Jadi, kau bisa ikut kumpul juga. Akan ada informasi penting yang perlu kau ketahui."


"Aku kesana." Ucap Sean final.


Dimatikannya sambungan telfonnya. Dimasukkannya ponselnya kedalam saku jasnya.


"Mom, aku akan pergi ke markas. Ada hal penting yang akan kami bicarakan." Ucap Sean. "Tolong jaga Dara untukku mom."


Lexa mengangguk. "Hati-hati." Ucap Lexa.


Sean mengangguk dan segera bangkit dari duduknya. Dikecupnya dengan sayang kening mommy-nya.


"Aku pergi mom."


Dengan cepat Sean bergegas untuk menuju markas.


Disisi lain, Elden tengah menyeringai tipis. "Jadi, apa kau ikut andil juga Roy?"


***


Kira-kira apa yang akan Elden lakukan? Apa yang akan mafia Crowned Eagle lakukan?


500 KOMENTAR + 2300 pengikut instagram untuk UP Lagi HARI INI!


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤