My Possesive Husband

My Possesive Husband
108. KAMU GEMESIN, AKU SUKA


Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Pagi telah menjelang. Mentari terbit di ufuk timur. Sinar mentari masuk melalui cela-cela jendala. Membuat salah satu sosok yang tengah tertidur itu langsung terbangun karena merasa terusik.


Direnggangkan tubuhnya pelan tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Dara, begitu berhati-hati untuk malakukannya. Karena, Dara tidak ingin membuat suami tercintanya terbangun karenanya.


"Masih jam 5 pagi ternyata." Ucapnya pelan.


Lalu, di tatapnya wajah tampan suaminya yang sedang tertidur pulas disebelahnya. Diusapnya dengan sayang puncak kepala suaminya. Rambut halus dan lebat itu membuat Dara menyukainya. "Good morning hubby." Sapa Dara dan dikecupnya kening suaminya itu. Akan tetapi, Dara masih merasa kurang dengan apa yang dilakukannya. Dara ingin lebih dari srkedar ciuman di kening. Setelah itu, dengan gerakan cepat, Dara langsung mengecup pelan bibir suaminya.


Deg


Deg


Deg


Jantungnya seakan dibuat gila setelah apa yang ia lakukan. Tanpa ia sadari, Sean tersenyum simpul di balik tidurnya.


Dara mendengus pelan. Jantungnya seakan berdetak lebih cepat daripada biasanya. Alhasil, Dara memutuskan untuk segera turun dari tempat tidur. Rambutnya yang terurai indah langsung Dara ikat menjadi satu dan ia cepol dengan rapi.


Leher jenjang, putih dan mulus itu langsung terpampang indah. Mungkin, jika Sean melihatnya sekarang akan langsung menciumnya hingga meninggalkan bekas kemerah-merahan disana. Sebuah tanda kepemilikan yang akan membuat orang lain geleng kepala.


Dengan langkahnya yang mungil itu, Dara langsung berjalan keluar kamar. Tempat yang ingin Dara tuju sekarang adalah dapur. Tempat yang akan memberikan kebahagiaan dan kesenangan tersendiri ketika ia berada disana.


Btw, Dara sudah lama tidak memasak. Sepertinya hari ini Dara akan memasak makanan spesial yang penuh dengan cinta. untuk suaminya. Apalagi Dara juga sudah tidak sabar menanti untuk kelahiran anak pertamanya dengan Sean. Dara benar-benar sudah tidak sabar untuk menjadi srorang Ibu.


Sesampainya di dapur Dara langsung menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan ia masak sekarang. Mulai dari sayur, keju, roti, daging dan lain-lain, kini telah tertata rapi di meja.


"Selamat pagi nona." Sapa Afi dengan membungkuk memberikan hormat pada Dara.


Dara tersenyum dengan kedatangan Afi yang begitu tiba-tiba. "Selamat pagi juga Afi." Kata Dara menanggapi sapaan hangat itu.


Kening Afi mengerut, heran. Tidak biasanya sang nona bangun pagi-pagi buta untuk berada di dapur. "Apa yang sedang nona Dara lakukan di pagi buta seperti ini?." Tanya Afi yang berdiri tidak jauh dari Dara.


Dara tersenyum cantik. "Aku ingin memasak sarapan spesial untuk suamiku. Sudah lama sekali aku tidak melakukan hal semacam ini. Jadi, aku ingin melakukannya sekarang." Jawab Dara dengan memulai memotong-motong kecil bawang bombay dan beberapa tomat.


Afi mengangguk mengerti. Tampak tenang seperti biasa. "Apa nona perlu bantuan?" Tanya Afi dengan sopan. Kedua bola matanya fokus melihat apa yang Dara tengah lakukan sekarang.


Dara menggeleng pelan. "Tidak perlu Afi. Aku ingin melakukanya sendiri. Terimakasih atas tawaranmu."


"Sama-sama nona. Jadi, saya permisi dulu. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan sekarang." Ijin Afi dengan sopan.


"Iya Afi. Semangat untuk bekerja hari ini." Ujar Dara dengan semangat empat lima.


Lantas, dengan langkah ringannya Afi langsung berjalan meninggalkan dapur. Afi mulai bergabung dengan maid dan bodyguard yang lain untuk melakukan pekerjannya.


45 menit telah berlalu.


Dara masih berkutat dengan peralatan dapur dengan dua porsi makanan yang telah jadi dan siap untuk di makan bersama.


Jam telah menujukkan pukul 6 pagi. Semuanya telah beres dan tertata rapi.


Dara langsung melepas celemek yang ia gunakan ketika memasak. Tidak lupa juga untuk mencuci kedua tangannya terlebih dahulu. Ingat, Dara tipe perempuan yang sangat menyukai kebersihan dan kerapian.


"Baiklah, semua telah jadi. Saatnya untuk membangunkan suami tercinta." Kata Dara pada dirinya sendiri. Maid yang mendengar perkataan Dara tadi hanya tersenyum geli. Mereka benar-benar tidak menyangka jika majikan mereka menikahi seorang gadis yang berbeda umur 7 tahun.


Sean yang mendengar perkataan istrinya itu juga ikut tersenyum geli.


Sedari tadi, Sean telah bangun dari tidurnya dan segera berjalan ke dapur ketika maid dirumahnya bilang jika istrinya sekarang tengah sibuk berkutat di dapur.


Dengan hanya memakai celana kain selutut tanpa memakai atasan, dengan santainya Sean berjalan ke arah dapur. Tanpa memperdulikan tatapan memuja dari maid yang melihat pahatan sempurna dari tubuh tegapnya.


Saat istrinya akan berbalik ke arahnya. Sean sudah berdiri tak jauh dari tempat istrinya.


"Omg!" Kata Dara dengan spontan. Dara begitu terkejut ketika melihat suaminya berdiri tidak jauh darinya. "Sejak kapan kamu berada disana? Bukankah kamu tadi tertidur?" Ucapnya dengan kening yang mengerut, heran.


Sean tersenyum tipis mendengarnya. Apalagi saat melihat wajah cantik, menggemaskan ketika istrinya terkejut melihatnya. "Aku baru saja bangun, sayang. Kenapa kamu tidak membangunkanku?" Tanya Sean seraya berjalan mendekati istri tercintanya.


Dengan memasang wajah galaknya, Dara melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Kenapa aku harus membangunkanmu? Bukankah hari ini adalah hari cuti kerjamu?"


"Oh jadi istriku sekarang sudah berani memarahi suaminya." Ucapnya dengan suara yang terkesan tegas.


Tentu saja Dara tak mau mengalah dengan suaminya itu. "Tentu saja aku berani. Akukan istrimu. Jadi, aku berhak untuk memarahimu." Ujarnya dengan menahan tawanya. Ternyata asik juga, menjahili suaminya.


Sean yang mendengar perkataan istrinya itu hanya tersenyum simpul. Dengan gemas, Sean langsung mengacak pelan puncak kepala istrinya. "Kamu gemesin. Aku suka."


Semburat merah merona langsung menghiasi wajah Dara. Sungguh, perkataan suaminya tadi membuatnya sakah tinkah. "Sean, stop. Jangan menggodaku."


"Aku tidak menggodamu sayang. Itu memang kenyataan. Kamu memang cantik dan menggemaskan."


Dara yang sudah tidak kuat diperlakukan seperti itu, langsung mencubit gemas lengan suaminya. "Dasar ngeselin!"


"Kok ngeselin sayang? Kan memang faktanya seperti itu."


"Sean, kalau kamu bilang seperti itu lagi, aku akan ngambek sama kamu!" Ancam Dara dengan galak. Sungguh hatinya lemah jika diperlakukan seperti itu.


🦋🦋🦋


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤